Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Aji Putra Kelana


__ADS_3

Kerajaan Kalingga


Suasana begitu ramai dan gembira di salah satu kediaman yang ada di istana tepatnya di kediaman sang tabib istana, Jagad Kelana.


Bagaimana tidak? Sekarang istrinya, Ayu sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang rupawan.


Tak hanya Jagad Kelana yang gembira, tetapi semua orang yang ada disana ikut gembira melihat kelahiran bayi laki-laki itu.


"Kakang, apa kau sudah menentukan nama untuk bayi kita ini?" Ayu yang sebelumnya terbaring di ranjang kini mengganti posisinya dengan menyenderkan diri di bantalnya.


"Aku sudah memikirkannya." Jawab Jagad Kelana.


"Bagaimana kalau Aji Putra Kelana? Apakah Kau setuju, Dinda?" Sambung Jagad Kelana sambil mengelus-elus rambut tipis bayinya itu.


"Aku setuju, Kanda." Balas singkat Ayu sambil tersenyum puas.


Seperti mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya, bayi kecil itu tersenyum dan memegang jari Jagad Kelana menandakan dia juga menyukai nama itu.


"Anak pintar! Semoga kelak Kau bisa menjadi manusia yang berguna, Aji." Jagad Kelana mencolek-colek pipi bayinya itu.


"Apakah Kau mau menggendongnya, Dinda?" Tanya Jagad Kelana kepada Ayu yang masih terlihat lemah dan kelelahan.


"Tentu saja, Kanda." Ayu langsung menyodorkan tangannya menandakan bahwa dia ingin menggendong bayinya tersebut.


"Baiklah, ini!" Jagad memberikan Aji kepada Ayu.


"Aku akan menemui tamu di luar." Sambung Jagad dan setelah itu dia langsung keluar untuk mengobrol bersama Raja Jatmiko, Mahapatih Angga Reksadana, Para Tumenggung dan Lasmini.


Jagad Kelana tidak berhenti melepas senyumannya sampai tiba di ruang tamu.


Raja Jatmiko dan yang lainnya yang sudah menunggu dari tadi akhirnya berdiri dan mengucapkan selamat kepada Jagad Kelana.


"Selamat saudara Jagad, Kau sudah resmi menjadi seorang Ayah." Raja Jatmiko yang pertama kali mengangkat suaranya.


"Terima kasih Yang Mulia." Balas singkat Jagad Kelana sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu bersifat formal. Kita adalah saudara." Raja Jatmiko tersenyum lebar kepada Jagad Kelana.


"Tidak Yang Mulia! Walaupun Anda menganggapku saudara tetapi tetap saja Anda adalah penguasa Kerajaan Kalingga ini."


"Hahaha..." Raja Jatmiko tertawa lepas.


"Inilah yang membuatku menjadikan kalian sebagai saudaraku." Raja Jatmiko kembali tertawa puas.


Setelah Raja Jatmiko memberi selamat akhirnya disusul oleh Mahapatih Angga Reksadana dan setelah itu para Tumenggung. Yang terekam memberi selamat adalah Tumenggung Bedul dan Lasmini.


"Selamat saudara Jagad!" Tumenggung Bedul mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Jagad Kelana sambil berkata, "Kau dan Lasmini kapan akan menyusul?" Pertanyaan Jagad itu membuat Bedul dan Lasmini menjadi salah tingkah sedangkan Raja Jatmiko dan yang lainnya tertawa-tawa kecil.


"Sebentar lagi! Bukankah begitu Dinda?" Bedul menjawab pertanyaan Jagad sambil mencolek dagu dari Lasmini.


Lasmini yang melihat Bedul menggodanya hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Pipinya memerah seperti tomat.


Setelah berbincang beberapa saat lagi, Raja Jatmiko dan yang lainnya akhirnya pamit undur diri.


"Sekali lagi selamat untukmu saudara Jagad. Sampaikan juga kepada saudari Ayu. Sekarang kami akan kembali ke istana untuk menyiapkan sambutan kedatangan saudara Arga dan saudari Nilawati." Setelah berkata demikian, Raja Jatmiko pergi meninggalkan kediaman Jagad dan disusul oleh yang lainnya. Hanya Tumenggung Bedul dan Lasmini yang memutuskan untuk tinggal karena Bedul ingin menemani Jagad mengobrol sedangkan Lasmini ingin menemani Ayu.


*****


Sebelumnya keduanya juga sudah membeli topi caping untuk menyamarkan identitas mereka.


"Keponakanku, tunggu Paman datang ya!" Arga bergumam dalam hatinya dan tersenyum tipis.


"Aku juga ingin anak. Setelah sampai di gunung Ambar aku akan membuatnya dengan cepat bersama Nila." Arga kembali bergumam dalam hatinya dan melirik ke arah Nilawati. Jika Nilawati tahu apa yang Arga pikirkan maka dia akan mengutuk keras pikiran suaminya itu.


Entah mengapa tubuh Nilawati tiba-tiba menjadi sedikit merinding dan bergetar tanpa dia ketahui sebabnya. Nilawati hanya mengerutkan dahinya dan menggosok-gosok leher bagian belakangnya.


Melihat hal itu, Arga menjadi semakin tersenyum lebar tanpa Nilawati ketahui.


Perjalanan keduanya terhenti tiba-tiba saat ada sekitar 50 orang menghadang jalan mereka. Dari penampilan dan cara mereka, Arga maupun Nilawati menebak mereka bukanlah orang yang baik.


"Ada apa para Kisanak sekalian menghadang jalan kami?" Arga bersikap sopan, dia seolah-olah adalah manusia biasa yang lemah.

__ADS_1


"Bisa dibilang hari ini kalian sedikit sial karena bertemu dengan kami. Kami adalah kelompok perampok terkenal di daerah ini." Jawab salah satu pria dari kelompok itu dengan bangga.


"Perkenalkan aku Jelenggono, Pemimpin dari kelompok Perampok ini." Sekali lagi, pria itu berkata dengan bangga, sombong dan penuh keangkuhan.


Arga yang mendengar hal itu masih bersikap tenang. Dia melirik ke arah Nilawati untuk memberi isyarat kepada istrinya untuk mengikuti permainannya.


"Maaf Tuan, kami hanyalah warga kecil tidak punya harta ataupun yang bisa kalian ambil." Arga memasang ekspresi wajah sedih diikuti oleh Nilawati.


"Kalau begitu serahkan saja wanita yang bersamamu. Kami akan meminjamnya untuk malam ini saja. Selepas itu kau boleh kembali membawanya." Tidak mendengarkan lagi jawaban dari Arga, pemimpin kelompok perampok itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Arga dan Nilawati.


Tetapi tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya bahwa dua muda-mudi yang bersikap seperti manusia biasa itu adalah Pendekar tingkat tinggi.


"Bukkk..." Salah satu Perampok yang hendak menyentuh tubuh Nilawati tiba-tiba terbang membentur pohon yang ada di dekatnya.


"Perampok yang tidak tahu diri. Sudah kami ampuni nyawa tetapi bukannya kabur malah sok hebat." Nilawati berkata dengan lantang.


"Jangan meminta untuk diampuni setelah ini. Karena tidak akan ada lagi ampun untuk kalian semua." Nilawati mengubah ekspresinya menjadi dingin. Seketika itu juga udara disekitarnya menjadi lebih lambat.


"Bersiaplah, ini adalah hari terakhir kalian melihat matahari di dunia ini." Setelah berkata demikian Nilawati maju menyerang gerombolan perampok itu sedangkan Arga? Dia tidak perlu ikut turun tangan hanya untuk membunuh mereka. Arga hanya menjadi penonton saja, dia menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon rindang yang ada di dekatnya.


Pemimpin kelompok perampok itu menyadari bahwa mereka salah tangkap mangsa. Tetapi hal itu tentu saja sudah terlambat untuk disesali. Dia hanya berdecak kesal dan kemudian menyerang Nilawati.


Tetapi siapa Nilawati? Dia adalah salah satu Pendekar wanita yang memiliki kemampuan tinggi. Tentu para perampok ini bukanlah tandingannya. Hal itu dibuktikan dengan Nilawati hanya butuh waktu kurang dari 3 menit untuk membunuh semua perampok itu termasuk pemimpinnya yang sebelumnya bersikap angkuh dan sombong.


"Kau terlalu berlebihan, Nila." Arga terkekeh-kekeh melihat istrinya mengamuk.


"Siapa suruh mereka ingin melecehkanku." Balas Nilawati dengan ekspresi datar.


"Iya... Iya.. Mari kita lanjutkan perjalanan." Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka.


*****


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2