Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Menyambung Pertarungan Lama


__ADS_3

"Pendekar Pencabut Nyawa!?" Suara Nyai Mawar Bidara mengisi udara membuat semua orang yang berada di dekatnya mengalihkan pandangan ke arahnya. Tetapi hal itu hanya sebentar, karena mereka memprioritaskan musuh yang mereka hadapi.


"Mawar Bidara!?" Gading Koneng membalas teriakan Nyai Mawar Bidara.


Pandangan keduanya bertemu sesaat sebelum Nyai Mawar Bidara mengalihkannya ke arah pertarungan Arga dan Sembada.


"Kenapa Mawar Bidara?" Gading Koneng tersenyum kecut melihat Nyai Mawar Bidara mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Nyai Mawar Bidara akhirnya kembali menatap ke arah Gading Koneng dan berkata, "Sudah lama kita tidak bertemu, ternyata bukannya moksa dan membersihkan dosa, Kau malah ingin menambah dosamu lagi." Nyai Mawar Bidara mengerutkan dahinya dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kau memang tidak bisa lagi berubah." Sambung Nyai Mawar Bidara.


Menanggapi hal itu, raut wajah Gading Koneng berkedut, keningnya mengerut, karena perkataan Nyai Mawar Bidara.


"Kenapa kau harus peduli dengan hidupku!?" Gading Koneng mendengus kesal.


"Sebenarnya aku tidak peduli dengan hidupmu, aku hanya tidak habis pikir saja." Nyai Mawar Bidara menggelengkan kepalanya pelan.


"Bagaimana jika kita bermain-main sebentar. Aku sudah lama tidak merenggangkan otot-ototku.


Tadi saat berhadapan dengan Yang Mulia Ratu Sri Dewi Wijaya, hanya sebagian kecil saja otot-ototku yang renggang." Nyai Mawar Bidara tersenyum lebar ke arah Gading Koneng.


"Hanya kau yang berani bersikap demikian kepadaku." Gading Koneng tertawa lantang, "Kau memang tidak pernah berubah." Sambungnya.


Memang sebenarnya hanya Mawar Bidara yang berani menantang Gading Koneng seperti itu. Banyak Pendekar-pendekar yang seangkatan dengan mereka, contohnya Pendekar Pengemis, Pendekar Penidur, Sembada dan Parwati sekalipun tidak berani bersikap seperti yang dilakukan Nyai Mawar Bidara kepada Gading Koneng.


Mendengar jawaban dari Gading Koneng, Nyai Mawar Bidara hanya tertawa dan terkekeh. Namun setelah itu tawa itu seketika menghilang dan berganti dengan tatapan yang dingin ke arah Gading Koneng.

__ADS_1


"Tunjukkan perkembanganmu selama beberapa puluh tahun ini, Pendekar Pencabut Nyawa!" Selesai berkata demikian, Nyai Mawar Bidara maju menyerang ke arah Gading Koneng.


Nyai Mawar Bidara menyerang menggunakan tangan kosong, tetapi itu bukanlah sekedar serangan biasa, tangannya sudah dialiri tenaga dalam yang cukup besar.


Nyai Mawar Bidara bergerak menyerang ke arah bagian vital dari Gading Koneng, tangan kanannya menyongsong ke arah bagian leher sedangkan tangan kirinya menyodor ke arah perut. Gerakan itu sangat cepat, sampai-sampai jika yang melihat itu manusia biasa maka mereka hanya akan melihat bayangan saja sedangkan untuk para pendekar yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata mereka akan melihat seperti gerakan yang dipercepat. Hanya Pendekar tingkat tinggi yang bisa menyaksikan pertarungan itu dengan jelas.


Gading Koneng menyambut serangan Nyai Mawar Bidara juga dengan tangan kosong, dia menangkis semua serangan dilancarkan oleh Nyai Mawar Bidara.


Sekitar satu menit lamanya mereka bertarung dan sudah bertukar hampir sepuluh jurus, akhirnya keduanya memutuskan untuk sama-sama mundur untuk mengambil jarak.


"Tidak buruk!" Nyai Mawar Bidara yang pertama mengangkat suaranya.


"Kau juga, walaupun kau sudah lama tidak berurusan dengan duniawi dan bertarung seperti dulu, kemampuanmu masih sangat terjaga dan bahkan meningkat pesat." Gading Koneng tersenyum canggung, dia tidak menutupi rasa kagumnya.


"Walaupun begitu, aku tahu pengalamanmu dalam bertarung lebih banyak daripada diriku." Nyai Mawar Bidara menanggapi ketus pujian Gading Koneng itu.


Nyai Mawar Bidara tidaklah salah, memang Gading Koneng saat ini lebih banyak pengalaman bertarung daripada dirinya. Hal itu terjadi karena Nyai Mawar Bidara sudah puluhan tahun tidak ikut campur dalam dunia persilatan sedangkan Gading Koneng di sisi lain, walaupun tidak aktif seperti dulu tetapi dia cukup banyak melakukan pertarungan-pertarungan.


"Dengan senang hati." Setelah berkata demikian, Gading Koneng juga membentuk kuda-kudanya.


Keduanya tidak menunggu waktu lama, mereka sama-sama maju menyerang satu sama lain, tidak ada niat dari mereka untuk bertahan.


Pukulan demi pukulan mereka menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil karena dialiri tenaga dalam.


Sama-sama cepat, sama-sama lincah dan sama-sama berkemampuan yang tinggi, itulah yang dapat digambarkan dari pertarungan antara Nyai Mawar Bidara dan Gading Koneng.


Tidak hanya bertukar jurus di atas tanah saja, keduanya sesekali bertukar jurus di udara, kadang juga atas pohon, tetapi sudah sekitar satu jam keduanya bertarung belum ada satupun diantara keduanya yang terkena serangan.

__ADS_1


Selesai bertukar tapak, keduanya melanjutkan untuk bertukar pukulan jarak jauh.


Nyai Mawar Bidara menggunakan jurus Pukulan Penghancur Langit, sedangkan di sisi lain Gading Koneng mengeluarkan jurus Pukulan Penghancur Sukma.


Pukulan Penghancur Langit Nyai Mawar Bidara mengeluarkan cahaya berwarna kebiruan sedangkan Pukulan Penghancur Sukma Gading Koneng mengeluarkan cahaya berwarna kehitaman.


"Bummm..." Kedua cahaya itu berbenturan, setelah itu berbelok arah ke arah batang pohon yang ada disekitar mereka, membuat batang pohon itu seketika tumbang dan hancur.


Tidak sampai disitu, keduanya kembali melakukan hal yang sama sampai sepuluh kali lagi dan masih sama dengan yang pertama, batang pohon yang ada disekitar keduanya yang menjadi korbannya.


"Luar biasa!?" Nyai Mawar Bidara bergumam pelan, dia kemudian mengingat terakhir kali dia bertarung demikian hebatnya seperti ini sekitar 40 tahun yang lalu.


Di sisi lain, Gading Koneng tersenyum kecut, dia sudah menduga bahwa Nyai Mawar Bidara masih sama seperti dulu, memiliki kemampuan yang sangat hebat dan dahsyat.


"Bagaimana mau lanjut?" Mawar Bidara berteriak ke arah Gading Koneng, karena posisi keduanya sekarang cukup jauh.


"Tentu saja." Kali ini Gading Koneng mengeluarkan pedangnya, Pedang Pencabut Nyawa.


"Akhirnya kau mengeluarkan benda tua itu juga." Mawar Bidara tersenyum tipis, setelah itu dia mengambil bunga mawar yang ada di balik telinganya.


Tidak sangka oleh Gading Koneng, ternyata Mawar itu bisa menjadi sebuah kipas yang bermotifkan bunga mawar. Tidak lupa juga di pinggir-pinggirnya terpasang rapih besi-besi tajam yang runcing.


"Kau terkejut?" Mawar Bidara melihat reaksi Gading Koneng yang terkejut melihat hal itu.


Sementara itu Gading Koneng mengangguk, dia memang terkejut karena ini pertama kalinya dia melihat Mawar Bidara merubah bunga mawar nya menjadi kipas.


"Ini memang pertama kali aku merubah bunga mawar ku ini menjadi kipas. Kau adalah orang pertama yang melihatnya." Mawar Bidara mengatakan bahwa ini adalah senjata rahasianya. Memang benar, selama dia aktif di dunia persilatan tidak pernah sekalipun dia menggunakannya, karena dia biasanya hanya menggunakan bunga mawar itu menjadi semacam baling-baling yang bisa kembali kepada tuannya.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya Gading Koneng, bahkan Arga yang murid dari Nyai Mawar Bidara sekalipun terkejut melihatnya.


Memang di selah-selah berhadapan dengan Sembada, Arga juga melirik-lirik ke arah pertarungan Nyai Mawar Bidara dengan Gading Koneng yang menurutnya sangat menarik dan sangat dahsyat.


__ADS_2