Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih VII


__ADS_3

Terlihat di atas arena seorang gadis sedang berdiri tegak dan kokoh. Dia sedang memandangi seorang gadis lainnya yang sedang terbaring di lantai arena tetapi masih bisa mempertahankan kesadarannya.


"Terima kasih petunjuknya saudari Pandan." Gadis itu memberi hormat, dia tidak lain adalah Nilawati.


Pandan Wangi tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena seluruh tubuhnya merasakan kesakitan yang luar biasa. Memang ketika bertarung, Nilawati tidak sedikitpun memberikan belas kasih, tetapi itu Nilawati lakukan untuk memberikan petunjuk dan semangat kepada Pandan Wangi.


Pandan Wangi hanya bisa tersenyum dan berkata pendek, "Terima kasih." Selain itu tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Melihat hal itu Pendekar Pedang Sunyi mengumumkan Nilawati adalah pemenangnya.


Pertarungan demi pertarungan terjadi pada hari itu, ada yang menarik ada yang monoton, ada yang lama dan ada juga yang cepat.


Pertandingan yang paling seru pada hari itu adalah pertarungan antara Sumitra melawan Lembu Ireng, seorang pemuda murid dari perguruan Pedang Sakti, yang tidak lain adalah murid dari Pendekar Pedang Sunyi. Pertandingan keduanya menjadi penutup pada hari itu.


Lembu Ireng sendiri adalah pemuda yang berusia 17 tahun, senyumnya manis, kulitnya sawo matang dengan hidung mancung yang membuat mata memandang akan takjub.


Pertarungan keduanya dibumbui dengan gerakan-gerakan yang gesit dan lincah. Ditambah lagi dengan jurus-jurus yang dikeluarkan sangat tinggi dan dahsyat.


Bagaimana tidak, keduanya adalah Pendekar pengguna pedang, ditambah juga peguruan mereka yang terkenal di dunia persilatan.


Walaupun demikian, tentu ada yang menang dan ada yang kalah dalam pertarungan itu.


Benar kata banyak orang, pengalaman yang lebih akan membuat seseorang menjadi unggul. Hal itu juga terlihat pada pertarungan itu, Sumitra berhasil memenangkannya karena pengalaman bertarungnya lebih banyak daripada Lembu Ireng.


Meskipun demikian, banyak para penonton menganggap sebenarnya Lembu Ireng lebih unggul daripada Sumitra dari segi ilmu pedang. Banyak yang berpendapat jika keduanya seumuran maka dapat dipastikan Lembu Ireng yang akan memenangkan pertarungan itu.


Di sisi lain Arga yang juga mendalami ilmu pedang menjadi tertarik dan kagum dengan kemampuan pedang yang ditunjukkan oleh Sumitra maupun Lembu Ireng. Dan dia juga setuju dengan para penonton, Arga juga berpikir jika Sumitra dan Lembu Ireng seumuran, maka Sumitra bukanlah tandingan dari Lembu Ireng.

__ADS_1


*****


Hari demi hari terjadi pertarungan demi pertarungan antara para peserta Turnamen Pemuda Putih di babak kedua ini. Butuh 3 hari untuk menyelesaikannya.


Hari ini adalah sehari setelah babak kedua berakhir, yang mana adalah pelaksanaan babak ketiga.


Peserta yang tersisa hanyalah 16 orang lagi dengan 10 peserta dari Pendekar yang memiliki perguruan dan sisanya adalah pendekar tanpa perguruan, 6 orang.


Pada babak ketiga ini, peraturan kembali seperti semula yang mana wasit akan mengambil 2 gulungan nama yang akan bartarungan.


Arga dan Nilawati sendiri masih terus melaju ke babak ketiga setelah mengalahkan musuh-musuhnya.


Nama lainnya yang maju ke babak ketiga adalah, Sekar Wangi dari perguruan Lembah Perawan, Yasha dari perguruan Teratai Putih, Rara Murni dari perguruan Teratai Putih, Sumitra dari perguruan Elang Hitam, Rara Wulan dari perguruan Giok Hijau yaitu perguruan yang mengutamakan mempelajari ilmu pengobatan, Ayu Tantri dari perguruan Mawar Merah yaitu perguruan yang mempelajari senjata tombak, Abimanyu dari perguruan Bambu Kuning yang mempelajari senjata tongkat, Kelana Tantri seorang murid dari perguruan Rumah Anggrek, perguruan yang juga mempelajari ilmu pengobatan sebagai pelajaran utama, Gajah Sora murid dari perguruan Tameng Sakti, sesuai namanya perguruan yang mempelajari ilmu pertahanan dan Erlangga seorang murid dari perguruan Rajawali Sakti yang mempelajari senjata kapak.


Di sisi lain empat nama dari Pendekar tanpa perguruan yang maju ke babak ketiga adalah Salah Aji Winata Pendekar pengguna senjata Golok, Walang Jagad Pendekar pengguna senjata pedang, Amira Pendekar pengguna kipas dan Segoro Jaya Pendekar pengguna keris.


Pendekar Pedang Sunyi yang dari tadi sudah berdiri di atas arena akhirnya mengambil dua gulungan.


"Sumitra berhadapan dengan Segoro Jaya." Seru lantang Pendekar Pedang Sunyi setelah membuka kedua gulungan yang sebelumnya diambi.


Mendengar hal itu langsung saja dua orang pemuda terbang ke atas arena dan memberi hormat kepada Pendekar Pedang Sunyi dan satu sama lain.


Sumitra terlebih dahulu membuka suaranya, "Sumitra dari perguruan Elang Hitam memberi hormat kepada saudara Jaya." Sumitra membungkukkan badannya memberi hormat.


"Segoro Jaya, seorang pendekar muda pengelana memberi hormat kepada saudara Sumitra." Balas Segoro Jaya kepada Sumitra sambil tersenyum tipis.


Segoro Jaya sendiri adalah seorang pemuda yang berusia 25 tahun dengan tubuh pendek dan gempal. Rambutnya panjang terurai sampai ke bahu dan berwarna merah.

__ADS_1


Tak lupa juga sebuah keris pusaka terpasang di pinggangnya yang dilengkapi dengan sarungnya.


Setelah Pendekar Pedang Sunyi memulai pertandingan, baik Sumitra maupun Segoro Jaya langsung menggunakan senjatanya masing-masing. Tentu keduanya tidak meremehkan satu sama lain.


Pedang Sumitra memiliki sarung yang bercorak burung Elang. Tak lupa juga gagang pedangnya terukir kepala burung Elang. Panjangnya sekitar 1,5 meter dengan lebar 5 cm, dan terlihat sangat tajam.


Di sisi lain, Segoro Jaya juga mengeluarkan keris dari pinggangnya. Sarung dari keris itu terukir gambar ular yang melingkar-lingkar. Tak lupa juga gagangnya terukir kepala ular yang sedang membuka mulutnya.


Keduanya mencabut pusaka yang ada ditangan mereka masing-masing dan langsung saling menyerang satu sama lain.


"Tring... Trang... Tring..." Benturan-benturan dari kedua senjata itu menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.


Udara yang sebelumnya sejuk kini menjadi lebih dingin. Hal itu terjadi akibat tenaga dalam yang keduanya keluarkan sangat besar.


Serangan demi serangan tercipta, kadang senjata mereka yang berbenturan dan kadang juga tangan atau kaki mereka yang saling berbenturan. Tetapi itu tidak mengurangi keindahan pertarungan yang mereka tunjukkan.


Semua penonton yang menyaksikan pertarungan itu menjadi kagum, tak terkecuali para ketua-ketua perguruan.


Semuanya menikmati pertarungan yang ditunjukkan oleh Sumitra dan Segoro Jaya.


Tentu saja dari pertukaran puluhan jurus, keduanya saling terkena serangan satu sama lain.


Kadang tapak mereka masing-masing mengenai ke arah dada, kadang ke arah perut dan kadang juga senjata mereka yang mengenai tubuh dan membuat goresan-goresan.


Sekitar satu jam bertarung akhirnya salah satu dari mereka berhasil terpojok. Sumitra yang kali ini bisa memojokkan Segoro Jaya.


"Luar biasa, ilmu yang tinggi jika dipelajari orang yang berbakat pasti akan menuai hasil yang maksimal." Segoro Jaya berkata lantang sambil tersenyum pahit. Dia memegangi dadanya yang terkena pukulan Sumitra sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan merendah saudara Jaya. Kau juga memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi." Sumitra membalas perkataan Segoro Jaya. Dia tersenyum lebar karena bisa membuat Segoro Jaya terpojok. Memang sekarang keduanya sedang mengambil jarak untuk mengatur nafasnya masing-masing.


__ADS_2