
"Duar... Duar... Duar..." Hasil dari benturan pedang Arga dan Seta mengeluarkan ledakan-ledakan yang sangat dahsyat di sekeliling mereka. Keduanya terus bertukar serangan dan mengayunkan pedang mereka dengan nafsu yang membara.
"Bukkk..." Arga berhasil mendaratkan satu pukulannya kepada Seta dan membuat Seta mundur beberapa langkah.
"Keparat... Pedangnya bisa mengimbangi pedangku, bahkan lebih kuat daripada pedangku." Seta membatin, "Darimana Arga mendapatkan pedang itu, setahu yang aku dengar dari guru, Mawar Bidara adalah pendekar pengguna bunga mawar sebagai senjatanya." Sambung batin Seta, dia tidak mengira bahwa Arga memiliki pedang yang tinggi daripada miliknya.
Seta memegangi dadanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang pedang yang ditancapkan ke tanah untuk membantu dia tetap berdiri.
Dadanya terasa sangat sakit oleh pukulan Arga. Seta memuntahkan darah yang cukup banyak.
"Sialan, aku tidak akan bisa mengalahkannya sekarang." Batin Seta.
Akhirnya dia mengeluarkan guci kecil dan membukanya, lalu menyemburkannya ke arah Arga. Arga langsung refleks menutup wajahnya, dia tahu bahwa serbuk itu adalah racun.
Saat Arga membuka matanya kembali ternyata Seta sudah tidak ada lagi ditempatnya. Bahkan Nilawati dan Gendis yang dari tadi memperhatikan pertarungan mereka juga tidak bisa melihat kemana arah pergi Seta.
Tiba-tiba ada suara keluar tetapi tidak ada raganya, "Ini belum berakhir Arga!!! Ini adalah awal dari permusuhan kita. Aku akan datang lagi menemuimu." Ternyata suara itu adalah suara dari Seta.
Arga menghela nafasnya, kemudian dia mendekati Nilawati dan Gendis.
Gendis memperkenalkan dirinya dan berterima kasih kepada Arga telah menolongnya.
Arga tidak menjawab, dia hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
Arga kemudian mengajak Nilawati dan Gendis meninggalkan tempat itu, tidak lupa juga mereka membawa semua tumpukan karung yang ada di dalam gubuk milik Seta untuk dikembalikan kepada para warga.
Arga dan Nilawati terbang, sedangkan Gendis digendong Arga.
Nilawati sedikit cemburu, dia memanyunkan bibirnya, tetapi dia menyadari bahwa dia tidak cukup kuat untuk menggendong wanita itu.
Gendis yang melihat Nilawati cemburu menjadi tidak nyaman dan merasa bersalah, "Pendekar Arga, sebaiknya aku turun saja, aku bisa berjalan kembali ke Desa." Ucapnya.
__ADS_1
"Tidak... Kau tidak perlu mengkhawatirkan Nila, dia adalah orang yang baik. Dia pasti memakluminya." Arga menggeleng, dia ingin cepat sampai di Desa, karena itu dia membawa Gendis terbang.
Tidak lama kemudian, ketiganya sampai di Desa. Para warga masih berkumpul di tempat mereka sebelumnya.
Orang tua Gendis melihat kedatangan Arga dan Nilawati serta putrinya. Keduanya langsung berlari menghampiri mereka setalah Arga mendarat ke tanah.
"Ndok..." Teriak Ayah dan Ibu Gendis secara bersamaan. Keduanya langsung memeluk Gendis, ibunya menangis sedangkan ayahnya bernafas lega.
"Syukurlah kau selamat, Ndok." Ucap Ayah Gendis sambil mengelus rambut gadis itu. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan bersujud kepada Arga dan Nilawati, kemudian di susul oleh istrinya.
"Terima kasih pendekar... Terima kasih." Ucap Ayah dan Ibu Gendis secara bersamaan.
Arga dan Nilawati menjadi salah tingkah, keduanya tidak mengira bahwa orang tua Gendis akan bersikap seperti itu lagi. Akhirnya Arga dan Nilawati menyuruh orang tua Gendis untuk berdiri dan mengatakan, "Tidak perlu sungkan Paman, Bibi." Arga dan Nilawati memberi hormat kepada orang tua Gendis.
Akhirnya, untuk membalas kebaikan Arga dan Nilawati, Gendis dan orang tuanya mengajak Arga dan Nilawati untuk mampir ke rumah mereka. Sedangkan para warga langsung membubarkan diri setelah melihat Gendis baik-baik saja.
Arga dan Nilawati mengangguk, mereka tidak ingin membuat Gendis dan orang tuanya kecewa. Mereka kemudian mengikuti Gendis dan orang tuanya sambil memikul karung-karung yang tadi mereka bawa.
*****
Seta duduk di atas sebuah pohon yang sudah tumbang sambil bergumam, "Kurang ajar... Ilmu Arga ternyata memang sangat tinggi. Aku akan kembali kepada guru dan memintanya menurunkan jurus pamungkasnya." Ucap Seta sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
Akhirnya dia bangkit dan kembali berjalan menuju Bukit Sikunir.
*****
Gendis dan kedua orangtuanya sangat sibuk menyambut Arga dan Nilawati. Mereka menghidangkan makanan dan minuman sebagai jamuan pertama.
"Pendekar Arga, pendekar Nila, silahkan di cicipi." Gendis menghidangkan makanan.
"Tidak perlu repot-repot, Dis." Balas Nilawati, sedangkan Arga hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kau juga tidak perlu memanggil kami pendekar, panggil saja sesuai nama. Kelihatannya kau juga lebih tua daripada kami." Sambung Nilawati.
Memang Gendis lebih tua daripada Arga dan Nilawati. Umurnya saat ini 25 tahun, kulitnya putih, rambutnya panjang terurai sampai ke pinggang dan senyumannya manis membuat orang tergoda.
Rumah mereka cukup besar, terlihat orang tua Gendis adalah orang yang kaya di Desa ini. Arga dan Nilawati diberikan kamar masing-masing untuk beristirahat, mereka meminta Arga dan Nilawati untuk bermalam disana. Memang hari sudah terlihat mulai gelap lebih awal dan langitpun menunjukkan mendung. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras, Arga dan Nilawati akhirnya menerima tawaran dari Gendis dan orang tuanya.
Keesokan harinya, Arga dan Nilawati memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, mereka memilih untuk berjalan kaki. Keduanya meninggalkan kuda mereka di rumah Gendis sebagai kenang-kenangan.
"Terima kasih Paman, Bibi dan juga Gendis sudah memperbolehkan kami menginap disini. Terima kasih juga untuk makanannya." Nilawati tersenyum kepada Gendis dan kedua orang tuanya dan diikuti Arga disampingnya.
Arga memang tidak banyak bicara, dia ingin menjaga hati dari Nilawati. Dia tidak ingin karena dia banyak bicara, Nilawati akan menganggapnya menyukai Gendis.
Dia tidak banyak mengetahui tentang wanita, tapi yang Arga ketahui bahwa wanita tidak pernah salah. Jadi dia tidak mau membuat Nilawati marah kepadanya.
Akhirnya Arga dan Nilawati meninggalkan Gendis dan kedua orang tuanya, keduanya melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Jangan lupa mampir lagi Nila, Arga." Teriak Gendis sambil membalas lambaian tangan.
Arga dan Nilawati mengangguk, kemudian mereka melesat terbang dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah tidak terlihat lagi.
Gendis dan kedua orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah, dan terus berterima kasih kepada Arga dan Nilawati di dalam hati mereka.
*****
"Kemana lagi kita Nila?" Tanya Arga yang sudah cukup jauh dari Desa.
"Terserah kau saja Arga. Kemanapun kau pergi aku akan selalu disampingmu." Balas Nilawati sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kita melanjutkan perjalanan menumpas kejahatan dari muka bumi ini. kita akan mendatangi tempat dimana ada terdengar kejahatan."
"Baiklah sayang, ayo kita lakukan bersama-sama."
__ADS_1
Keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk menumpas kejahatan yang ada.