Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Melawan Siluman Buaya Penunggu Danau


__ADS_3

Selepas pertarungan dengan Lima Pendekar dari Gua Rang Reng tidak ada lagi halangan bagi Arga dan Widura. Saat ini keduanya tengah berdiri menghadap ke arah laut yang akan mereka seberangi.


"Saudara Arga, jika kita ingin menunggu kapal atau perahu maka kita akan lebih lama disini. Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Widura.


"Kita tidak bisa menunggu lebih lama Saudara Arga. Waktu yang kumiliki terus bertambah sedikit!" Jawab tegas Arga.


"Kita akan menyeberangi laut ini menggunakan ilmu meringankan tubuh saja!"


Tanpa menunggu jawaban dari Widura, Arga langsung melesat terbang di atas air. Sesekali dia menginjakkan kakinya ke air, tetapi tidak tenggelam melainkan melayang di udara.


Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat lima : Ajian Serat Tatar Bayu.


Dalam beberapa tarikan nafas, Arga sudah berada cukup jauh dari daratan.


Sementara Widura menyaksikan hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Berkali-kali Arga berhasil mengejutkannya dan membuatnya kagum serta takjub.


Widura menghela nafas panjang lalu menggunakan jurus meringankan tubuhnya.


Aksi Arga dan Widura disaksikan oleh beberapa nelayan yang mereka lintasi membuat para nelayan itu berdecak kagum dan terpana.


Mereka sampai membuka mulut lebar-lebar dan lupa menutupnya kembali.


Melihat hal tersebut, Arga dan Widura hanya melambaikan tangannya ke arah mereka kemudian memfokuskan perhatiannya lagi ke depan.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah melihat daratan. Saat hampir sampai, baik Arga maupun Widura meloncat ke pinggiran tebing lalu menyeimbangkan tubuh mereka.


Cukup banyak tenaga dalam yang dikuras dengan melakukan hal tersebut.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Arga langsung mengajak Widura untuk bergerak kembali.


*****


Lembah Iblis Kematian sesuai dengan namanya. Begitu seram, kelam dan sunyi tampak banyak makhluk gaib yang menghuninya.


Di dasar lembah itu terdapat sebuah danau yang cukup besar. Arga dan Widura harus melewati danau itu terlebih dahulu untuk mencapai tujuan mereka.


Tetapi itu tidak mudah, konon kabarnya danau itu di huni oleh siluman buaya yang kuat dan haus darah.


Banyak manusia biasa maupun pendekar yang dikabarkan gugur saat hendak melewati danau tersebut.

__ADS_1


"Saudara Arga, apa yang harus kita lakukan untuk menyeberangi danau ini tanpa mengganggu penghuni di dalamnya?" Tanya Widura sambil melirik-lirik ke sekitarnya.


"Tidak... Kita tidak bisa melewati danau ini tanpa mengganggu penghuni di dalamnya. Siluman buaya ini memiliki insting yang tajam terhadap bau manusia ataupun bau yang bukan sebangsa dengan mereka." Jawab Arga pelan sambil menatap ke satu arah. Ke bawah pohon besar yang berada di pinggir danau dengan ditumbuhi semak-semak yang banyak.


"Maksud Saudara Arga?" Widura masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Arga. Menurutnya tidak mungkin siluman buaya itu akan mengetahui kedatangan mereka.


Mendengar hal itu, Arga memilih tidak menjelaskan lebih jauh. Tetapi dia melakukan sesuatu yang mengejutkan Widura.


Arga merapatkan kedua tangannya, lalu dia mengangkat tangan sebelah kanannya.


Seketika itu juga, tangan kanannya mengeluarkan cahaya berwarna kebiruan.


Tanpa menghiraukan keterkejutan Widura dengan apa yang dikatakannya, Arga melepaskan cahaya itu ke arah yang di tatapnya sebelumnya.


Boommm


Suara ledakan terdengar jelas oleh Arga dan Widura. Bukan hanya sekali, tetapi tepatnya tiga kali.


Saat Widura bermaksud ingin menanyakan maksud Arga, tiba-tiba sebuah gelombang air besar terangkat ke atas.


Setelah gelombang itu berhenti, terlihat seekor buaya berwarna keemasan berada di tempat gelombang air berasal sebelumnya.


Saat dia membuka mulutnya, terlihat gigi-gigi besar dan juga tajam.


"Apa maksudmu manusia?" Buaya itu begitu terkejut saat dia melihat tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kebiruan melaju ke arahnya.


Tidak ingin celaka, buaya itu langsung memilih untuk menenggelamkan tubuhya.


Setelah dia tidak mendengar lagi suara ledakan, buaya itu memilih untuk menemui Arga dan Widura.


"Apa maksudku?" Tanya Arga sambil menaikkan alisnya.


"Sudah jelas bukan? Maksudku untuk membuatmu keluar!" Sambung Arga sambil tersenyum tipis.


"Aku tidak mengerti maksudmu!" Siluman buaya itu berseru lantang sambil mengibaskan ekornya ke kiri dan ke kanan.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Bukankah kau sedang memantau pergerakan kami. Jika kami mulai melewati danau ini maka kau akan menyerang kami. Karena kemampuan terkuatmu saat berada di air." Jawab Arga sambil menatap siluman buaya dengan dingin.


Siluman buaya itu berhenti bergerak sejenak, dia tidak menduga manusia yang harus dihadapinya kali ini mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi.

__ADS_1


Memang kebanyakan pendekar-pendekar yang tewas di tangan siluman buaya itu sebelumnya diserangnya diam-diam saat mereka melewati danau.


"Sebaiknya kau membiarkan kami lewat. Kami tidak ingin mengganggu serta bangsamu!" Arga kembali berkata karena melihat siluman buaya tidak membalas perkataannya.


"Lewat? Aku akan membiarkanmu lewat jika berhasil mengalahkanku!"


Tanpa berlama-lama, siluman buaya itu langsung mengibaskan ekornya. Seketika itu juga gelombang air yang cukup besar melesat ke arah Arga dan Widura.


Melihat serangan itu cukup bahaya, Arga dan Widura memilih untuk menghindarinya.


Arga ke arah kanan sedangkan Widura ke arah kiri.


Tetapi siluman buaya itu tidak membiarkannya. Dia kembali mengibaskan ekornya untuk membuat dua buah gelombang air seperti sebelumnya. Masing-masing gelombang air itu melesat dengan cepat ke arah Arga dan Widura.


"Ckkk!" Arga berdecak kesal melihat siluman buaya itu terus menerus menembakkan gelombang air kepadanya.


"Tidak bisa seperti ini terus. Kita harus menyerangnya dari dekat." Seru lantang Arga kepada Widura. Menurutnya jika mereka terus menghindari gelombang air itu, lama-kelamaan stamina mereka juga akan terkuras.


Arga menduga, memang itu tujuan dari siluman buaya itu. Membuat keduanya terdesak dan kehabisan tenaga baru menyerang dengan kekuatan penuhnya.


Dugaan Arga sama seperti sebelum-sebelumnya. Tepat dan akurat!


Tujuan siluman buaya itu menembakkan gelombang air memang untuk menghabiskan tenaga Arga dan Widura. Setelah itu dia akan berubah menjadi seperti manusia dan menyerang dengan kekuatan penuhnya.


Tetapi kali ini dia hanya bisa berdecak kesal karena strateginya sudah diketahui.


"Jangan senang dulu!" Ucap siluman buaya itu. Setelah berkata demikian, dia membuka mulutnya, seketika itu juga keluar gelembung-gelembung kecil tetapi tidak terhitung jumlahnya melesat ke arah Arga dan Widura.


Arga mengamati gelembung-gelembung itu sejenak, setelah itu berteriak kepada Widura, "Hindari gelembung itu!" Arga cukup panik melihat Banyak gelembung mengarah ke arahnya dan Widura.


Tetapi dia tetap sanggup menghindarinya. Sementara Widura juga menghindari gelembung itu walaupun dia tidak mengerti mengapa Arga meminta demikian.


Tetapi kebingungannya tidak bertahan lama, saat keduanya melihat gelembung itu mengenai sebuah pohon, tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan keras.


Ternyata gelembung-gelembung itu bisa meledak!


Kali ini Widura bersyukur karena Arga memperingati sebelumnya. Jika tidak, dia berniat untuk menangkisnya.


Sementara itu, Arga menghela nafas panjang, karena tebakannya begitu akurat.

__ADS_1


Di sisi lain, Siluman buaya itu kembali berdecak kesal karena lagi-lagi serangannya berhasil dihindari.


__ADS_2