
Di Kerajaan Kalingga
Seminggu sudah berlalu dari kelahiran anak pertama dari Jagad Kelana dan Ayu Ratih permana, Aji Putra Kelana. Saat ini kerajaan Kalingga sedang mengadakan acara meriah guna menyambut kelahiran anak tersebut. Selain itu acara ini diadakan untuk menyambut kedatangan Arga dan Nilawati yang sudah tiba sekitar se jam yang lalu.
Memang perjalanan Arga dan Nilawati bisa dikatakan mulus, karena selain bertemu dengan para perampok yang sudah dilenyapkan oleh Nilawati, keduanya hanya bertemu dengan beberapa kelompok Perampok lainnya yang bisa dengan mudah mereka lenyapkan.
"Selamat datang saudara Arga, saudari Nila." Raja Jatmiko menyambut kedatangan Arga dan Nilawati di ruang tamu. Memang sebelumnya Raja Jatmiko tidak menyambut Arga dan Nilawati di depan pintu gerbang istana karena dia sendiri sedang mengerjakan tugas penting.
"Terima kasih Yang Mulia," Arga berdiri dari tempat duduknya dan diiringi oleh Nilawati.
"Maaf sudah merepotkan Yang Mulia." Sambung Arga sambil memberi hormat.
"Bilang apa kau saudara Arga, tidak perlu sungkan begitu. Nikmati pesta ini, ini khusus untuk menyambut kedatangan kalian dan kelahiran putra pertama dari Saudara Jagad dan Saudari Ayu." Raja Jatmiko tersenyum lebar dan langsung duduk di singgasananya.
"Terima kasih Yang Mulia." Arga dan Nilawati kembali duduk ke tempat mereka sebelumnya.
Setelah berbincang-bincang sedikit, tidak lama para pelayan berdatangan menyajikan bermacam-macam makanan. Tidak lupa juga para pemain musik dan penari juga langsung menghibur mereka.
Suara dari gemelan, kendang, suling dan aneka ragam alat musik mengalun menjadi satu. Menciptakan suara-suara yang merdu dan juga indah. Tidak lupa juga para penari yang menari melenggak-lenggok indahnya. Membuat para penonton menjadi sangat terhibur dan menyaksikan pertunjukan itu.
Tidak lama kemudian Jagad Kelana dan Ayu datang dengan menggendong Aji Putra Kelana. Keduanya langsung menemui Arga dan Nilawati. Tetapi tentu saja mereka memberi hormat terlebih dahulu kepada Raja Jatmiko.
"Kakang, Kak Nila! Akhirnya kalian resmi menjadi sepasang suami-istri. Ayu sangat senang mendengarnya." Memang Ayu sudah mendengar hal itu dari cerita Lasmini yang sebelumnya datang menemui mereka untuk memberitahukan kedatangan Arga dan Nilawati.
"Iya adik, Kakak iparmu itu yang terus memaksa Kakang untuk segera menikah." Arga mendorong Pipinya dengan lidah ke arah Nilawati yang ada disebelahnya.
"Hey... Hey... Aku tidak pernah memaksamu ya. Kan Kau sendiri yang mengatakan ingin menikahiku." Balas Nilawati sambil mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Arga menanggapi hal itu dengan terkekeh-kekeh karena melihat dia berhasil memprovokasi istrinya itu.
__ADS_1
"Sudah... Sudah... Kak Nila, Kakang. Malu kalau kalian bertengkar disini. Sebaiknya selesaikan di kamar saja nanti." Jagad Kelana ikut menimpali perbincangan mereka sambil tersenyum lebar.
Arga yang mendengar hal itu langsung berkata, "Kau benar Jagad, kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Lihat saja nanti di kamar kau akan kubuat kewalahan." Arga tersenyum penuh arti dan melirik ke arah Nilawati. Sedangkan Nilawati tersedak ludahnya, dia mengutuk dalam hatinya atas perkataan Jagad yang membuatnya dalam bahaya besar. Wajah Nilawati langsung berubah menjadi merah seperti tomat.
Melihat hal itu baik Arga, Ayu, Jagad maupun orang-orang yang ada disana tertawa-tawa. Walaupun suara mereka pelan, tetapi tetap saja bisa didengar oleh semua orang.
"Sudah... Sudah... Jagad Kau membuat Kak Nila malu." Ayu menengahi mereka, "Kakang apakah kau mau menggendong keponakanmu ini?" Ayu menyodorkan tangannya yang sedang menggendong Aji.
"Tentu saja! Sini kakang gendong." Tetapi sebelum Arga berhasil mengambil Aji, Nilawati sudah terlebih dahulu menggendong bayi itu.
"Biar aku yang lebih dulu menggendongnya." Nilawati menjulurkan lidahnya, meledek ke arah Arga.
"Keponakan Bibi cepat besar ya. Tapi ingat jangan seperti pamanmu yang suka jelalatan kalau melihat wanita." Nilawati berbicara kepada Aji dan menyindir suaminya itu tanpa melihat ke arahnya.
"Huft..." Arga berhenti berbicara, dia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum pahit karena semua orang memandanginya.
Setelah sampai di ruangan itu Arga langsung memegang pundak Nilawati dan berkata, "Kau ingat perkataanku tadi siang bukan. Bersiaplah untuk menerimanya." Arga terkekeh-kekeh dan langsung membaringkan tubuhnya ke ranjang. Sedangkan Nilawati hanya bisa tersenyum pahit dan pasrah menerima 'serangan demi serangan' yang akan Arga lakukan kepadanya. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Keduanya.
Keesokan harinya, Raja Jatmiko meminta Arga dan Nilawati untuk menemuinya. Dia ingin berbincang-bincang dengan keduanya terutama dengan Arga.
Setelah Arga dan Nilawati sampai di ruang pribadi Raja Jatmiko keduanya langsung dipersilahkan duduk karena Raja Jatmiko memang dari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
Ketiganya berbincang dengan penuh semangat, terutama Raja Jatmiko karena dia sudah sering sekali mendengar sepak terjang dari Arga dan Nilawati. Raja Jatmiko meminta keduanya menceritakan perjalanan mereka setelah meninggalkan kerajaan Kalingga. Tentu saja Arga tidak keberatan, dia langsung menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.
Yang paling menarik dari cerita Arga di mata Raja Jatmiko kali ini ada dua yaitu Arga berhasil menemukan kitab pusaka Ajian Serat Jiwa dan mempunyai seorang musuh yang kuat dan menguasai Jurus Lembu Sekilan.
Tentu saja Raja Jatmiko mengetahui jurus-jurus itu dari perpustakaan istana yang sering dibacanya. Dia sampai tidak bisa bernafas beberapa kali saking terkejutnya.
__ADS_1
"Beruntung sekali Saudara Arga bisa mengalahkan Pendekar yang bernama Seta itu. Kalau tidak dia tentunya akan menjadi ancaman yang sangat serius di Maya Pada ini."
"Aku memang sudah sering mendengar kelakuan orang itu yang sering menyengsarakan semua orang yang bertemu dengannya." Raja Jatmiko terpesona dan berdecak kagum dengan kemampuan Arga sekarang. Sangat jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Hanya satu yang bisa Raja Jatmiko katakan tentang Arga, bahwa pemuda itu sangat menakjubkan!
*****
Arga dan Nilawati hanya menetap selama seminggu di kerajaan Kalingga, keduanya kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Ambar.
"Jangan lupa berkunjung ke Gunung Ambar Yang Mulia. Aku dan Nila akan menetap disana." Arga dan Nilawati kali ini sudah berada di depan pintu gerbang istana.
"Tentu saja, aku akan sering mengunjungi kalian disana. Jaga diri kalian baik-baik. Sebenarnya aku lebih suka kalian tinggal di istana ini saudara Arga." Raja Jatmiko hanya bisa pasrah dengan keputusan dari Arga dan Nilawati, sebenarnya dia sangat ingin Arga dan Nilawati menetap di istana, tetapi dia juga tidak bisa memaksa bila itu sudah keputusan mereka.
"Ayu, Jagad, jaga keponakanku dengan baik. Jika dia sudah cukup besar, kalian bisa membawanya ke Gunung Ambar. Aku yang akan menjadi guru silatnya."
"Tentu saja Kakang! Siapa lagi yang bisa mengajari anak kami selain dirimu." Ayu dan Jagad tersenyum puas.
"Saudara Bedul, Kau harus segera menikahi saudari Lasmini sebelum dia jamuran." Arga tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengejek teman lamanya itu.
Bedul dan Lasmini hanya menanggapinya dengan senyuman dan saling melirik satu sama lain.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Arga dan Nilawati langsung terbang meninggalkan istana.
*****
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.
__ADS_1