Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga& Nilawati VS Tiga Pendekar Macan Putih.


__ADS_3

Brama Sakti dan Anuman meninggalkan Arga dan Nilawati, Brama Sakti ingin moksa sedangkan Anuman akan menemaninya.


Memang benar kata orang, bila kita sudah mempunyai sahabat sejati, maka akan bahagia lah kita karena dia akan menemani kita disaat senang maupun susah, disaat suka maupun duka, bahkan jika seluruh orang di dunia ini membencimu dan tidak ingin berteman denganmu maka sahabat sejati lah yang akan tetap berada disampingmu.


"Aih Siluman Tua, perjalanan kedua anak muda itu sangatlah panjang dan penuh dengan bahaya, semoga saja mereka bisa melewatinya." Brama Sakti menghela nafas panjang sambil mengerutkan dahinya.


"Kau benar Pak Tua, semoga saja keduanya mampu melewati jalan takdir itu." Balas Siluman Kera sambil tersenyum tipis.


"Aku akan melakukan semedi untuk moksa, bila aku sudah mencapai moksa kau boleh pergi dari sini." Brama Sakti berbicara sambil memejamkan matanya.


"Aku akan menunggu sampai hari itu tiba, setelah itu aku akan menjaga dua orang anak itu dari jauh." Anuman berdiri dan berjalan mengambil tempat untuknya menunggu dan menemani proses Moksa Brama Sakti.


*****


Arga dan Nilawati sudah keluar dari dalam gua, keduanya siap untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Brama Sakti sudah kembali ke tempat pertapaannya untuk moksa dan Anuman sudah pergi mengikuti Brama Sakti. Sebelum Brama Sakti dan Anuman meninggalkan mereka, Brama Sakti mengajarkan jurus yang bisa menyembunyikan sesuatu ke dalam tubuh penggunanya. Nama jurus itu adalah Ndhelikake Soko. Sebab itulah senjata Arga dan Nilawati tidak terlihat lagi. Keduanya sudah menggunakan jurus itu dan menyimpannya termasuk kitab pusaka Ajian Serat Jiwa.


Keduanya memutuskan untuk menyaksikan Turnamen Pemuda Putih yang akan dilaksanakan di puncak gunung Mahameru. Tetapi sebelum mereka melangkahkan kaki, tiba-tiba muncul tiga orang sosok yang tidak keduanya kenali.


*****


Tiga Pendekar Macan Putih terus menyusuri hutan bukit Duri,. ketiganya ingin mencari keberadaan Kitab Pusaka Ajian Serat Jiwa. Tidak banyak yang tahu bahwa kitab Pusaka itu sekarang sudah berada di tangan Arga.


Berhari-hari, bermalam-malam ketiganya mencari petunjuk tentang keberadaan kitab pusaka Ajian Serat Jiwa, pada akhirnya ketiganya menemukan sebuah kejanggalan. Ketiganya melihat lapangan yang cukup luas, tetapi anehnya ketiganya merasakan ada kekuatan yang cukup dahsyat dari tempat itu. Karena penasaran, ketiganya mendekat dan ternyata ada pagar gaib yang dipasang di tempat itu. Karena rasa penasaran mereka sangat tinggi, ketiganya memutuskan untuk menunggu apa yang akan terjadi pada pagar gaib itu.


Tidak lama kemudian, ketiganya melihat dua orang muda-mudi keluar dari pagar gaib itu, ketiganya langsung bergerak menghadang mereka. Dua orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arga dan Nilawati.

__ADS_1


"Berhenti! Perkenalkan diri kalian?" Macan Gila angkat bicara.


"Ya, setelah itu serahkan semua yang kalian miliki." Macan Liar menimpali.


"Jangan lupa juga tinggalkan gadis cantik itu untuk menemani kami." Macan Ngamuk memainkan lidahnya.


Ketiganya tidak berpikir dengan jernih, bagaimana dua orang muda-mudi bisa keluar dari pagar gaib yang tidak bisa mereka bertiga tembus sekalipun. Tentunya pasti memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.


Memang benar, keserakahan dapat membuat orang menjadi tertutup hati dan pikirannya serta tidak mengetahui batasannya.


Kebiasaan ketiganya merampok, membunuh dan memperkosa itulah yang akan membuat ketiganya dalam kesulitan.


*****


Arga dan Nilawati menjadi waspada karena kedatangan ketiga tamu yang tidak diundang itu. Keduanya sudah mengambil langkah untuk menyambut serangan mereka, bila ketiganya langsung menyerang.


Tetapi Arga tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan dari ketiga orang itu.


"Perkenalkan paman, namaku Arga dan ini teman perjalananku namanya Nilawati." Begitulah jawaban pertama yang dikeluarkan dari mulut Arga.


"Untuk permintaan paman bertiga menyerahkan yang kami bawa dan menyerahkan Nila, saya tidak bisa menyetujuinya." Sambung Arga.


Tiga Pendekar Macan Putih merasa familiar dengan nama itu, walaupun belum pernah bertemu tetapi mereka pernah mendengar nama Arga dan Nilawati.


Diingat-ingat lah sebentar oleh ketiganya, setelah itu ketiganya mengerutkan dahi dan melototkan mata sebelum berkata, "Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga dan Nilawati.si Dewi Kipas?"

__ADS_1


"Hm, kami tidak mengetahui jelas tentang hal itu, tetapi dari gelar yang disematkan, itu benar senjata yang kami miliki." Arga menjawab dengan ketus.


"Kalau begitu suatu kehormatan bagi Tiga Pendekar Macan Putih bertemu dengan pendekar besar seperti kalian berdua. Walaupun masih muda sudah begitu terkenal. Tetapi maafkan kami kalau terlalu lancang, biarkan kami menguji kehebatan kalian apakah besar sesuai berita yang tersebar." Macan Gila angkat bicara, setelah berkata demikian, Tiga Pendekar Macan Putih memasang kuda-kudanya dan bersiap untuk bertarung.


"Tiga Pendekar Macan Putih? Ternyata perampok keji dan kejam yang berada dihadapan kami. Kami sudah mengetahui sepak terjang kalian selama ini. Jadi, tidak ada salahnya menjadikan tempat ini kuburan untuk kalian." Arga dan Nilawati memasang kuda-kuda dan siap untuk bertarung juga.


"Keparat..." Macan Gila murka mendengar perkataan Arga.


"Bocah laknat..." Begitu juga dengan Macan Liar.


"Bocah tengik..." Macan Ngamuk pun bersuara. Ketiganya begitu murka mendengar perkataan Arga.


Langsung saja tidak menunggu waktu lama, Tiga Pendekar Macan Putih menyerang Arga dan Nilawati. Ketiganya menyerang dengan tangan kosong karena itulah keahlian mereka.


Di sisi lain, Arga dan Nilawati yang sudah bersiap, langsung menyambut serangan dari Tiga Pendekar Macan Putih. Arga menghadapi Macan Gila dan Macan Liar sedangkan Nilawati menghadapi Macan Ngamuk.


Arga menyambut serangan Macan Gila dan Macan Liar dengan tangan kosong juga. Dia menggunakan jurus Cakar Besi Mengoyak Langit dan digabungkan dengan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua yang membuat tubuhnya sangat kuat dan keras.


Benturan demi benturan terjadi antara ketiganya yang menghasilkan ledakan-ledakan yang besar dan gelombang kejut. Arga tidak begitu kesulitan menghadapi dua orang itu.


Setelah bertukar beberapa jurus, ketiganya melompat mundur dan mengatur nafas. Mereka juga sudah mendapatkan peta kekuatan masing-masing.


"Sesuai kabar yang beredar, tenaga dalamnya sangat dahsyat, tubuhnya juga keras. Kalau begini kami bertiga sangat sulit untuk selamat." Macan Gila membatin dan berpikir apa yang harus ia lakukan.


Di sisi lain, Macan Liar juga membatin dalam hatinya, "Luar biasa... sangat luar biasa."

__ADS_1


Sementara itu Arga tersenyum tipis, karena dia telah mengetahui kekuatan kedua lawannya itu jauh dibawanya.


Di sisi lain Nilawati berhadapan dengan Macan Ngamuk, keduanya saling bertukar serangan dengan apiknya. Benturan-benturan dari keduanya juga menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka. Setelah bertukar serangan keduanya melompat mundur dan mengatur nafas. Keduanya sudah sama-sama mengetahui peta kekuatan masing-masing.


__ADS_2