
"Kau!" Teriak Widura, suaranya berhasil di dengar oleh semua orang yang ada disana dan menarik perhatian mereka.
"Kenapa kau marah? Yang kukatakan benar bukan? Tempat ini bukan untuk orang seperti kalian!" Bentak prajurit itu.
"Apa yang salah, apa karena kami seorang warga biasa maka kami tidak boleh kesini?" Arga masuk ke dalam perdebatan antara Widura dan prajurit itu.
"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?!" Balas prajurit itu dengan ketus.
"Aku baru melihat ada seorang prajurit sepertimu. Begitu arogan dan sombong padahal dirimu tidak lebih baik daripada kami. Kau hanyalah seekor anjing peliharaan kerajaan!" Balas Widura dengan geram, dia tentu saja emosi saat mendengar perkataan prajurit itu.
Mendengar Widura menghinanya, tentu saja membuat prajurit itu begitu murka. Dia adalah prajurit kerajaan Samudra yang begitu ditakuti oleh warga biasa. Melihat dua orang di depannya menghinanya bahkan mengatakannya anjing, sungguh tak bisa diterimanya walaupun dia mengetahui bahwa dirinya yang terlebih dahulu menghina mereka.
Prajurit tersebut naik pitam dan mengangkat tombaknya lalu menyerang Widura.
"Tidak kusangka ada prajurit sepertimu. Marah saat di hina tetapi suka menghina orang." Ucap Widura sambil menyambut serangan itu. Di matanya serangan itu tidak jauh daripada serangan anak kecil, karena sangat lambat.
Widura hanya menangkisnya dengan satu jarinya.
"Kau! Kau seorang pendekar!" Kali ini raut wajah prajurit itu terkejut dan takut menjadi satu.
"Kenapa? Anjing peliharaan seperti kalian tidak akan mengerti dan menyadari kesalahan sebelum diberi pelajaran!" Widura maju dan mencekik leher prajurit yang sedang membeku tidak bergerak itu.
"Maaf! Maafkan aku Tuan Pendekar. Aku baru menyadari nama besar Tuan Pendekar!" Prajurit itu meronta-ronta kesakitan dan terus memohon maaf.
Saat Widura hendak mematahkan lehernya, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mendekat dan menghentikan aksinya, pria paruh baya itu tidak lain adalah Tumenggung Aling.
Tumenggung Aling sedang asik minum bersama para prajurit, tiba-tiba dia mendengar keributan yang disebabkan prajurit yang diperintahkannya sebelumnya.
Saat dia mendengar bahwa dua orang itu adalah warga biasa dia mendiamkannya dan tidak menegur cara prajurit itu. Tetapi beberapa saat kemudian dia melihat prajurit itu berteriak dan setelahnya salah satu dari dua orang itu sedang mencekik leher prajurit tersebut. Tentu saja Tumenggung Aling tidak bisa tinggal diam, dia berdiri dan menghentikan aksi pemuda itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan Pendekar, tolong lepaskan prajuritku. Ini hanyalah kesalahpahaman." Tegas Tumenggung Aling yang terlihat berwibawa.
"Kesalahpahaman?" Widura menaikkan alisnya karena ketidaktahumaluan yang di perlihatkan Tumenggung Aling.
Tumenggung Aling mengerutkan dahinya, dia tidak menduga setelah mendengar namanya, pemuda itu tidak melepaskan prajuritnya. Dia mengira bahwa pemuda itu akan melepaskannya.
Sebenarnya Widura cukup terkejut, memang dia sering mendengar nama besar Tumenggung Aling, tetapi ini pertama kali keduanya bertemu, karena Tumenggung Aling jarang keluar dan lebih sering berada di kerajaan, sekaligus menjadi guru dari para pangeran maupun putri kerajaan Samudra.
Tetapi terlepas itu semua, Widura tidak takut sedikitpun, karena dia berada di pihak yang benar.
"Mohon lepaskan saudaraku. Kau tentunya tidak ingin menjadi musuh kerajaan karena hal sepeleh seperti ini bukan?" Tumenggung Aling mengancam secara halus.
Baik Arga maupun Widura tentu saja mengetahui hal itu, tetapi sebenarnya keduanya tidak takut.
Widura bisa saja menghadapi kerajaan Samudra sendirian, walaupun dia terbunuh tetapi tetap saja akan banyak korban.
Sementara Arga di sisi lain, dia bisa melenyapkan pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya sebelumnya. Tentu saja dia juga bisa melakukan hal itu kepada pasukan kerajaan Samudra jika dia mau.
Tumenggung Aling menaikkan alisnya, tentu saja dia geram dan murka mendengar jawaban dari Widura. Karena pemuda itu sama sekali tidak memberinya muka.
"Siapakah gerangan yang Tuan maksud?" Tumenggung Aling mencoba mengajak Widura berkomunikasi lebih jauh, karena dia penasaran dengan guru Widura yang dikatakan berhubungan baik dengan Raja mereka.
"Aku murid dari perguruan Bunga Matahari, murid langsung dari mendiang Guru Tunggul Wulung." Ucap Widura dengan lantang, sedikit kebanggaan terlihat saat dia mengatakan hal itu.
Tumenggung Aling tidak bisa berkata-kata, dia tentu saja mengetahui Tunggul Wulung, seorang pendekar tingkat tinggi yang ada di kerajaan Samudra, sekaligus memiliki hubungan erat dengan Raja mereka.
"Aiyo, maafkan kelancanganku Tuan Widura. Tolong Anda jangan memasukkan ke dalam hati." Tumenggung Aling menjadi lebih sopan kepada Widura.
"Tidak perlu berbasa-basi! Kami hanya ingin bermalam disini, selama kalian tidak mempersulit kami, kami juga tidak akan mengganggu kalian!" Widura tidak berniat memberi muka sedikitpun kepada Tumenggung Aling, karena dari percakapan singkat keduanya, Widura sudah bisa menebak bahwa Tumenggung Aling ini penuh tipu muslihat dan arogan.
__ADS_1
Sebenarnya tebakan Widura tidaklah meleset, Tumenggung Aling begitu murka terhadap sikap Widura, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Karena dia mengetahui bahwa kekuatan pemuda dihadapannya itu lebih tinggi daripada dirinya.
Akhirnya Tumenggung Aling hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menatap prajurit yang membuat keributan itu dengan tajam, menurutnya karena prajurit itu dia dalam kondisi seperti ini.
'Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!' Ucap Tumenggung Aling di dalam hati.
Setelah itu dia pergi meninggalkan Arga dan Widura. Dia kembali ke kamarnya.
Sedangkan para prajurit tidak ada yang berani lagi menyinggung Widura dan Arga, bahkan menatapnya pun mereka takut.
Sementara Arga dan Widura duduk kembali dan menunggu makanan mereka dihidangkan.
Tidak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu keduanya datang juga. Jaraknya masih sekitar sepuluh meter tetapi aromanya sudah menusuk ke hidung Arga maupun Widura.
"Silahkan Tuan!" Pelayan yang mengantarkan makanan itu bersikap sopan, dia sudah melihat sendiri bagaimana Widura mempermalukan Tumenggung Aling.
"Maaf Tuan Pendekar membuat kalian menunggu. Sebenarnya makanan sudah siap beberapa saat yang lalu, tetapi melihat Tuan sedang berbincang dengan Tumenggung Aling, kami memilih untuk kalian menyelesaikannya terlebih dahulu." Sambung pelayan itu dengan hati-hati.
"Tidak apa-apa! Terima kasih!" Balas Arga, sedangkan Widura tidak berkata apa-apa. Hatinya masih kurang baik setelah berbincang dengan Tumenggung Aling.
Pelayan itu tidak menunggu lama, dia langsung bergegas pergi meninggalkan Arga dan Widura.
Sementara itu, Arga mengajak Widura untuk menyantap makanan mereka sebelum dingin.
Akhirnya keduanya menyantap makanan itu dan setelah selesai mereka pun meminum arak yang sudah di pesan sebelumnya.
"Bersulang!"
"Bersulang!"
__ADS_1
Arga dan Widura meminum arak secara bersamaan. Menurut keduanya, memang arak lebih nikmat saat di minum dengan orang lain dibandingkan sendirian.
Keduanya menghabiskan malam itu dengan banyak meminum arak tanpa ada seorangpun yang menggangu.