
Dua hari sudah berlalu dari saat Arga dan Widura melarikan diri dari anggota perguruan Sanca Hitam. Selama itu juga keduanya sering menceritakan tentang kehidupan masing-masing.
Widura yang pertama kali menceritakan tentang kehidupannya. Darinya lah Arga mengetahui bahwa pemuda itu sama dengannya, yatim piatu. Perbedaannya adalah Widura tidak tahu Ayah dan Ibunya, dia ditemukan gurunya tidak jauh di depan gerbang perguruan Bunga Matahari.
Menurut cerita gurunya, saat itu gurunya sedang pulang dari menyelesaikan misi, ketika di jalan, gurunya mendnegar suara tangisan seorang bayi yang tidak lain adalah Widura.
Karena penasaran, guru Widura mendatangi lokasi itu, ternyata menemukan Widura dengan kondisi tidak memakai benang sehelai pun. Guru Widura menduga bahwa Widura dibuang setelah satu atau dua bulan di lahirkan.
Melihat hal itu guru Widura menjadi kasihan dan iba, beliau membawa Widura ke perguruan Bunga Matahari.
Hari demi hari berlalu, Widura dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang layaknya anak kandung oleh gurunya, Widura juga saat itu sudah berusia sepuluh tahun. Tetapi ada keanehan darinya, Widura berbakat dalam belajar ilmu silat. Pada usianya itu dia sudah dua tingkat diatas anak se usianya, hal itu menambah kebahagiaan gurunya, perguruan Bunga Matahari tidak tanggung untuk memberikan sumber daya kepadanya untuk menambah kekuatannya.
Saat Widura berusia dua belas tahun, dia menjadi murid paling terpandang di perguruannya, dia merupakan teladan bagi murid segenerasi dengannya.
Baik prilaku maupun keahlian beladirinya nomor satu untuk murid segenerasi dengannya.
"Dulu aku berpikir akan mendapatkan kehidupan yang baik, dengan guruku yang menyayangiku dan anggota perguruan Bunga Matahari sudah menjadi keluargaku, aku tinggal mencari pendamping saja." Widura tersenyum, tetapi senyumannya mengandung luka yang mendalam.
"Ternyata semesta begitu kejam padaku, beberapa waktu yang lalu guruku tewas ditangan anggota perguruan Sanca Hitam bukan hanya beliau tetapi seluruh anggota perguruan Bunga Matahari." Sambung Widura sambil menampakkan wajah yang sangat sedih.
"Sekarang Kau bisa menganggapku keluargamu!" Arga mencoba menghibur Widura.
Menurutnya mengembara bersama Widura tidaklah buruk, sebab itu dia sudah menganggap Widura saudaranya seperti Tumenggung Bedul sebelumnya.
Arga tahu betul bagaimana perasaan yang dirasakan oleh Widura, karena Arga sendiri sudah pernah berada dalam posisi yang sama.
"Kau bisa ikut denganku ke kerajaan Kalingga, tepatnya ke Gunung Ambar setelah ini." Ucap Arga sambil tersenyum tipis ke arah Widura.
Widura menanggapinya dengan senyuman dan anggukan menandakan dia setuju dengan hal itu.
"Sebentar lagi kita sampai di pelabuhan Saudaraku." Ucap Widura setelah berdiam cukup lama.
"Itu dia!" Sambungnya sambil menunjuk ke satu arah.
Arga mengikuti arah yang ditunjuk itu, benar sja Arga melihat keramaian.
__ADS_1
Widura menjelaskan bahwa itu adalah sebuah Kota, Kota Pelabuhan.
Tanpa pikir panjang, keduanya melesat pergi ke lokasi itu, saat jarak hanya kurang lebih seratus meter, keduanya memilih untuk berjalan kaki.
"Berhenti!" Saat di depan pintu gerbang, keduanya dihentikan oleh dua orang pria yang memakai pakaian prajurit lengkap dengan tombak dan perisai di kedua tangannya.
Baik Arga maupun Widura menghentikan langkah mereka, "Maaf Tuan, kami hanya ingin memasuki kota." Ucap Arga setelahnya.
"Darimana asal kalian?" Memang setiap penduduk baik di kerajaan Kalingga maupun kerajaan lainnya memiliki identitas masing-masing.
Misalnya di kerajaan Kalingga, semua penduduk kerajaan itu diberikan sebuah tanda pengenal dengan motif singa menghiasinya. Atau Kerajaan Medang Kemulan, tanda pengenalnya berupa motif Kayu Medang yang begitu indah. Atau Kerajaan yang ditempati Arga dan Widura sekarang, Kerajaan Samudra, tanda pengenalnya bermotifkan laut yang bergelombang.
Antara warga biasa dan pihak bangsawan berbeda warnanya, warga biasa berwarna kuning sedangkan bangsawan berwarna hijau. Ada satu lagi warna, yaitu warna merah untuk penguasa Kerajaan itu sendiri.
Arga mengeluarkan tanda pengenalnya sementara Widura juga demikian.
"Hem kau berasal dari Kerajaan Samudra, kau boleh masuk!" Salah satu penjaga menunjuk kepada Widura.
"Sedangkan Kau berasal dari kerajaan Kalingga, jika kau ingin tetap masuk kau harus membayar sejumlah uang." Tegasnya.
Arga mengangguk, dia tersenyum tipis, memang sudah diperkirakan olehnya hal itu akan terjadi.
Saat Arga ingin memasuki kerajaan Kawah Putih, dia sudah pernah mengalami hal yang sama.
"Berapa yang harus saya bayar Tuan."
"Lima keping emas!" Jawab Prajurit itu tanpa ragu.
"Lima keping emas?!" Tanya Widura sambil melotot.
"Yang benar saja, kau ingin memeras kami?" Sambungnya, kali ini tatapannya menjadi dingin.
Arga sendiri juga cukup terkejut mendengar jawaban prajurit itu, menurutnya prajurit ini keterlaluan ingin memerasnya.
Memang baik Arga maupun Widura hanya berpenampilan seperti warga biasa, sebab itu Prajurit itu berpikir untuk meminta bayaran tinggi.
__ADS_1
Bayaran yang sebenarnya adalah hanya dua keping perak. Mengatakan lima keping emas bukankah sangat keterlaluan? Bahkan untuk mengatakan sepuluh keping perak saja sudah keterlaluan.
Kedua prajurit itu mematung sejenak saat melihat tatapan Widura ke arah mereka. Tetapi setelahnya, keduanya kembali menenangkan diri.
"Kalau tidak mau tidak masalah, tapi jangan harap bisa lewat!" Dua prajurit itu menyilangkan kedua tombak mereka.
"Maaf Tuan, tetapi saya tidak mempunyai uang sebanyak itu." Ucap Arga, dia tidak berniat untuk membayar karena hal itu akan sangat menguntungkan dua prajurit itu.
Sebenarnya dia bisa saja membuat kedua prajurit itu bertekuk lutut dengan mengeluarkan aura bertarungnya, tetapi setelah dipikir akan mendapatkan masalah yang tidak perlu. Arga ingin cepat ke pulau seberang, sebab itu dia tidak ingin mencari masalah jika bisa dihindari.
"Kalau begitu silahkan pergi!" Salah satu prajurit mengangkat tangannya dan menandakan mengusir Arga.
Arga melirik Widura dan menyuruhnya untuk masuk, Arga mengirim pesan lewat telepati, "Saudara Widura, kau duluan saja masuk. Aku akan masuk dengan cara yang tidak biasa." Ucap Arga dalam telepati itu.
Widura tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan segera pergi.
Sementara Arga sendiri membalik badannya dan pergi dari pintu gerbang itu.
Di sisi lain, dua prajurit itu memandanginya tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun.
Tak pernah mereka duga, tiba-tiba Arga menghilang dari pandangan keduanya.
*****
Saat Arga berjalan beberapa langkah menjauhi pintu gerbang, dia melompat dan bertengger di atas tembok gerbang itu.
Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Arga masuk ke dalam sambil tersenyum lebar penuh kemenangan.
Di sisi lain, kedua prajurit itu mencari-cari keberadaan Arga, keduanya terlalu penasaran kemana perginya pemuda itu.
Tetapi setelah beberapa saat keduanya kembali untuk berjaga, karena menyadari satu hal.
"Pemuda itu pasti Pendekar!" Ucap salah satu prajurit. Keduanya adalah seorang prajurit yang kuat, tetapi dihadapan Pendekar, mereka tidak lebih daripada seekor semut.
Keduanya menghela nafas lega karena Arga tidak berusaha membuat masalah dengan mereka.
__ADS_1