
Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya Arga dan Nilawati menemukan sebuah Desa. Keduanya memutuskan untuk singgah, karena hari sudah mulai gelap.
Biasanya keduanya akan lebih memutuskan untuk beristirahat di hutan, tetapi karena pengantin baru, jadi mereka memutuskan untuk memesan Penginapan saja.
Saat tiba di Desa, akhirnya Arga dan Nilawati menemukan sebuah penginapan. Penginapan itu cukup besar dengan memuat tiga lantai.
Lantai pertama di khususkan untuk makan dan minum. Sedangkan lantai dua dan tiga di khususkan untuk penginapan. Arga dan Nilawati sendiri memesan kamar di lantai 3, karena lantai 2 sudah terisi penuh.
Setelah memasuki kamar, Arga memutuskan untuk membersihkan dirinya. Dia memang selalu mengambil inisiatif untuk mandi terlebih dahulu dari Nilawati.
Setelah selesai mandi dia memutuskan untuk duduk bersila dan memejamkan matanya. Dia memusatkan pikirannya, tak lama kemudian "Nenek Mawar Bidara... Nenek Mawar Bidara..." Arga menggunakan telepati untuk berkomunikasi dengan Mawar Bidara yang tidak lain adalah Gurunya.
*****
Mawar Bidara sendiri sedang bertapa di atas sebuah batu besar di halaman depan gubuknya.
Saat dia sedang fokus dengan semedinya, tiba-tiba ada sebuah suara masuk ke dalam pikirannya. Ternyata suara itu berasal dari suara Arga yang memanggil namanya. Langsung saja dia mengalihkan pikirannya kepada Arga dan menjawab panggilan itu.
"Ada apa Arga? Kenapa Kau memanggil Nenek? Apakah Kau sedang dalam kesulitan?" Mawar Bidara menjawab panggilan Arga dengan sejumlah pertanyaan. Karena tidak biasanya muridnya itu mengirim pesan telepati kepadanya.
"Tidak Nek, Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memberitahukan kepada Nenek kalau aku akan kembali ke Gunung Ambar."
"Kenapa tiba-tiba sekali? Apakah ada masalah yang tidak bisa Kau selesaikan? Atau kau sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia persilatan?" Mawar Bidara kembali memberikan Arga sejumlah pertanyaan.
"Tidak Nek, Aku akan kembali karena ingin memberikan Nenek sebuah kejutan." Arga tertawa kecil.
"Kejutan?!" Ucap Mawar Bidara.
"Iya Nek, tunggu saja kedatanganku."
"Baiklah, Nenek akan menunggu kedatanganmu. Oh iya, bagaimana dengan adikmu Ayu?" Mawar Bidara mengalihkan pertanyaannya untuk membahas Ayu.
"Ah dia baik-baik saja. Apakah Ayu dan Jagad belum pernah menemui Nenek?" Kini giliran Arga yang bertanya kepada Mawar Bidara.
"Ah itu, mereka berdua pernah datang satu kali kesini." Jawab Mawar Bidara.
"Baiklah Nek, sampai jumpa." Arga memutuskan sambungan telepatinya dengan Mawar Bidara.
*****
Setelah mengobrol dengan Gurunya, Arga membuka matanya. Dia menelusuri ruangan dengan matanya, tetapi tidak menemukan Nilawati.
__ADS_1
"Ah, Aku sampai lupa. Dia kan kalau sudah mandi pasti lama." Arga kemudian tertawa kecil karena mengingat istrinya itu.
Arga kemudian bangkit dari tempat duduknya,.tetapi saat hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba ada sebuah suara, "Kriuuukkkk." Ternyata suara itu berasal dari perutnya yang sudah lapar. Mendengar hal itu Arga hanya tertawa-tawa kecil.
"Sebaiknya Aku memesan makanan dulu." Arga kemudian melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah untuk memesan makanan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Arga berhasil memesan makanan, dia kemudian kembali ke kamarnya karena ada pelayan yang akan mengantarkan makanannya.
*****
Akhirnya makanan yang sebelumnya Arga pesan datang juga bersamaan dengan Nilawati selesai mandi.
"Lama sekali Kau mandi. Hahaha..." Arga tertawa mengejek Istrinya itu.
"Mari sini, kita makan bersama seperti biasa." Sambung Arga sambil mengangkat tangannya menandakan dia memanggil istrinya itu.
Nilawati mengangguk, dia duduk disamping Arga dan mulai seperti biasa, dia mengambilkan makanan untuk pemuda yang sekarang menjadi suaminya itu.
Selesai makan, akhirnya keduanya memutuskan untuk beristirahat karena besok akan melanjutkan perjalanan.
*****
Keesokan harinya keduanya kembali berangkat. Mereka ingin cepat-cepat sampai di Gunung Ambar. Tetapi, saat Arga dan Nilawati ingin melangkahkan kaki keluar penginapan tiba-tiba ada sebuah suara masuk ke dalam pikirannya.
*****
Di Kerajaan Kalingga
Terlihat seseorang pemuda sedang berdiri di ruang tamu sebuah rumah yang cukup besar. Dia adalah Jagad Kelana, saat ini dia sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
Tidak lupa juga disana sudah ada Raja Jatmiko, Mahapatih Angga Reksadana, Para Tumenggung dan Lasmini.
"Sudahlah Saudara Jagad, Kau tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Ayu dan calon anakmu pasti selamat." Raja Jatmiko mencoba menenangkan Jagad agar pemuda itu tidak panik.
"Yang Mulia benar saudara Jagad." Kali ini Tumenggung Bedul yang mengangkat suaranya.
"Sebaiknya Kau mengabari Saudara Arga untuk memberitahukan kepadanya bahwa adiknya akan segera melahirkan keponakannya." Sambung Tumenggung Bedul sambil menepuk pundak Jagad untuk menenangkannya.
"Kau benar!" Balas Jagad, kemudian dia langsung duduk bersila untuk mengirim pesan telepati kepada Arga.
"Kakang Arga... Kakang Arga..." Jagad akhirnya berhasil memusatkan pikirannya dan langsung memanggil nama Arga.
__ADS_1
"Ada apa, Jagad? Apakah terjadi sesuatu?"
"Iya Kakang, Saya ingin mengabarkan bahwa Ayu sebentar lagi akan segera melahirkan." Jagad tidak menunda-nunda, dia langsung bicara pada intinya.
"Sungguh? Kau tidak berbohong bukan?" Arga kembali bertanya.
"Tidak Kakang,"
"Baiklah, Aku dan Nilawati akan segera berkunjung ke Kerajaan Kalingga." Arga sangat senang mendengar hal itu, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang paman.
Setelah selesai, akhirnya Arga membuka matanya. Dia kemudian melihat ke arah Nilawati yang dari tadi menunggunya.
"Ada apa Arga? Apa yang terjadi?" Nilawati yang dari tadi menunggu Arga selesai tidak bisa menahan dirinya dari rasa penasaran.
"Ah ini Nila. Ada kabar baik datang dari Ayu dan Jagad. Ayu sekarang sedang menjalani proses persalinan." Jawab Arga.
"Sebaiknya kita bergerak lebih cepat lagi. Aku sudah tidak sabar untuk melihat keponakanku." Arga melangkahkan kakinya ke luar penginapan.
"Bukan hanya keponakanmu, tapi keponakanku juga."
"Iya... Iya keponakanmu juga. Gitu saja kalo marah." Arga tertawa kecil, karena dia berhasil membuat istrinya itu emosi.
Keduanya akhirnya terbang dengan kecepatan tinggi dan berharap bisa segera sampai di Kerajaan Kalingga.
*****
"Bagaimana saudara Jagad?" Tumenggung Bedul penasaran.
"Ah itu, aku sudah mengirim pesan telepati kepada Kakang Arga. Dia mengatakan akan segera kesini." Balas Jagad.
"Kalau begitu kita harus mempersiapkan sambutan yang besar untuk kedatangan saudara Arga." Raja Jatmiko menyeletuk.
Walaupun Raja Jatmiko adalah seorang penguasa dari Kerajaan Kalingga tetapi saat bersama teman-temannya dia akan bersifat sama dengan mereka. Raja Jatmiko juga tidak membeda-bedakan status dan kedudukan.
"Tentu saja Yang Mulia." Jawab Tumenggung Bedul sambil tertawa girang.
"Aku sudah lama ingin bertemu dengan Saudara Arga. Aku ingin melihat sendiri kemajuan ilmu kanuragannya seperti yang kau bicarakan sebelumnya." Memang Bedul dan Lasmini menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Arga dan Nilawati di perguruan Bambu Kuning saat menghadari Turnamen Pemuda Putih.
Sebenarnya setelah mendengar cerita Bedul bahwa Arga berada disana, Raja Jatmiko sedikit menyesal tidak memutuskan untuk dirinya sendiri yang datang ke Turnamen itu.
*****
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.