
Saat Arga dan Nilawati sampai di tempat Turnamen, ternyata sudah banyak yang lebih dulu dari mereka. Bahkan mereka ada orang yang terakhir sampai disana. Hal itu ditunjukkan setelah Arga dan Nilawati mengatur nafas beberapa menit, babak kedua langsung dimulai.
Kali ini terlihat Pendekar Pedang Sunyi sudah berada di atas arena. Dia memang ditugaskan khusus untuk menjadi wasit pada babak kedua ini.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Pendekar Pedang Sunyi memanggil satu nama untuk maju ke depan. Yasha, itulah nama yang tertera di dalam gulungan yang diambil Pendekar Pedang Sunyi itu.
Pendekar Pedang Sunyi meminta Yasha untuk maju ke depan dan memberitahu aturan di babak kedua dengan Yasha sebagai peserta pertamanya.
Aturan babak kedua adalah, peserta maju ke atas arena setelah namanya dipanggil dan mengambil sebuah gulungan lain. Di dalam gulungan itu dijelaskan ada tiga tulisan, yang pertama adalah BERTARUNG, yang kedua adalah AMAN dan yang ketiga adalah BEBAS MEMILIH.
Maksud dari tulisan BERTARUNG adalah peserta diwajibkan untuk menantang satu peserta lainnya dan bertarung sampai ada yang menang. Tulisan AMAN adalah peserta bisa menyimpan dulu tulisan itu dan bisa digunakan saat ada peserta yang menantangnya, maka dia boleh menolak. Sedangkan untuk tulisan BEBAS MEMILIH adalah peserta bebas untuk bertarung ataupun tidak.
Setelah menjelaskan hal itu, Pendekar Pedang Sunyi mempersilahkan Yasha untuk mengambil satu gulungan.
Yasha mengangguk, dia maju dan mulai mengambil satu gulungan dan saat dia buka ternyata Yasha mendapatkan tulisan Bertarung, dengan demikian dia harus menantang satu peserta untuk menjadi lawannya dan peserta yang ditunjuk itu tidak boleh melawan.
Yasha melirik-lirik para peserta, setelah beberapa saat dia sudah menentukan siapa yang akan menjadi lawannya. Yasha menunjuk salah satu pemuda yang terlihat berusia sekitar 24 tahunan. Diketahui pemuda itu adalah salah satu pendekar tanpa perguruan.
Pemuda itu bernama Arya Wiguna, seorang pemuda bertubuh gemuk dan pendek. Kepalanya botak serta kumis tebal menghiasi wajahnya ditambah lagi brewokan, membuat wajahnya terlihat agak seram.
Arya Wiguna langsung maju ke arena dan memberi hormat kepada wasit dan Yasha, "Arya Wiguna, Pendekar tanpa perguruan memberi hormat kepada saudara Yasha. Semoga saudara Yasha bisa memberikan petunjuk kepada saudara ini." Arya tersenyum canggung ke arah Yasha.
Yasha yang melihat hal itu juga langsung membalas hormat Arya kemudian berkata, "Yasha dari perguruan Teratai Putih memberi hormat kepada saudara Arya. Tentu aku akan mengeluarkan segenap kemampuanku." Setelah berkata demikian Yasha maupun Arya mengambil jarak dan mengatur kuda-kudanya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama lagi, Pendekar Pedang Sunyi yang ditugaskan menjadi wasit akhirnya memulai pertandingan itu.
Setelah di mulai, baik Yasha maupun Arya langsung berinisiatif untuk menyerang. Keduanya sudah menggunakan senjata masing-masing pada awal pertandingan, menjelaskan bahwa keduanya tidak meremehkan satu sama lain.
Yasha sendiri menggunakan pedang berwarna putih dan gagang pedangnya terukir gambar bunga teratai. Panjang pedang itu sekitar 1,5 meter dan lebarnya sekitar 5 cm. Pedang itu adalah salah satu pusaka perguruan Teratai Putih yang dikenal dengan nama Pedang Teratai Putih sesuai nama perguruannya. Sementara itu, Arya adalah Pendekar pengguna senjata Golok. Panjang goloknya sekitar setengah meter dan lebar 5 cm meter. Golok itu dikenal dengan nama Golok Suci.
Serangan demi serangan tercipta dalam waktu relatif singkat diantara kedua pemuda itu. Dari setiap benturan senjata mereka menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.
Yasha menunjukkan sebuah permainan pedang yang gesit dan lincah, yang diiringi tubuh lembut dan lentur walaupun dia seorang laki-laki. Jika manusia biasa melihat apa yang ditunjukkan oleh Yasha, mereka tidak akan berpikir jika pemuda itu sedang mengeluarkan jurus pedang, mereka akan berpikir bahwa pemuda itu sedang menari dengan apiknya. Sedangkan untuk para pendekar, mereka sangat terpana melihat pertunjukan yang diperlihatkan Yasha. Mereka menyadari bahwa Yasha adalah Pendekar muda yang berbakat dalam menggunakan senjata pedang.
Bagi para ketua-ketua perguruan mereka juga terpana melihat pertunjukan kemampuan Yasha. Mereka mengetahui bahwa Jurus yang sedang dikeluarkan oleh Yasha itu adalah Jurus terbaik perguruan Teratai Putih yang bernama Jurus Pedang Teratai Putih. Jurus ini memiliki 15 tingkatan. Tingkatan jurus ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu, pada tingkat 1-5 jurus pedang ini digunakan untuk menyerang. Tingkat 6-10 digunakan untuk bertahan sedangkan tingkat 11-15 digunakan untuk menyerang sambil bertahan.
Yasha sendiri menggunakan tingkat 1-5 yang digunakan memang khusus untuk menyerang dan sesekali dia menggunakan tingkat 6-10 untuk bertahan. Sedangkan untuk tingkat 11-15 hanya boleh dipelajari oleh ketua perguruan Teratai Putih. Walaupun demikian tetap saja pertunjukan pedang Yasha sangat menarik. Yasha pun merasakannya, "Tingkat 1-10 saja sudah membuatku seperti ini, bagaimana jika aku menguasai sepenuhnya." Yasha membatin dan tersenyum tipis.
Jurus pertama disebut Golok Suci: Pembasmi Iblis, yang digunakan untuk menyerang lawan.
Jurus kedua disebut Golok Suci: Bertahan Dari Iblis, yang digunakan untuk bertahan dari serangan-serangan lawannya.
Dan yang terakhir disebut Golok Suci: Melenyapkan Iblis, jurus yang ketiga ini digunakan untuk menyerang lawan juga tetapi untuk menghadapi lawan yang lebih banyak.
Pertarungan kedua pemuda ini sangat menarik dan menghibur. Tidak sedikit penonton yang bertaruh atas pertarungan keduanya. Ada yang bertaruh untuk Yasha dan ada juga yang bertaruh untuk Arya.
Di sisi lain Kelompok Arga juga sedang menikmati pertandingan itu sambil berbincang-bincang hangat, karena Arga dan Nilawati sendiri sudah cukup lama tidak berjumpa dengan Lasmini.
__ADS_1
Sementara itu, Bedul yang duduk di kursi juri sebenarnya ingin menghampiri ketiganya, tetapi dia berpikir tidak ingin menimbulkan masalah dan kecurigaan yang tidak perlu.
Memang pada malam sebelumnya, Lasmini memberitahukan kepada Bedul bahwa Arga dan Nilawati ada disana.
Sebenarnya Bedul sudah menebak pada hari sebelumnya, karena itulah dia senang karena tebakannya benar.
Bedul hanya bisa memanyunkan bibirnya, dia sangat rindu berbincang dengan Arga dan Nilawati. Bedul kemudian memutuskan setelah Turnamen ini akan segera menemui Arga dan Nilawati.
Sikap Tumenggung dari kerajaan Kalingga itu sebenarnya diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi orang-orang tidak terlalu memperdulikannya. Karena mereka tahu bagaimana sifat dari Tumenggung Bedul.
Arga dan Nilawati juga menyadari bahwa Bedul dari tadi memperhatikan mereka. Keduanya hanya tersenyum-senyum tipis karena bisa kembali melihat wajah dari teman lama mereka itu. Keduanya berpikir untuk menemui Bedul setelah selesai Turnamen Pemuda Putih ini.
*****
**N.A
Hai Guys, Author sekarang selain menulis cerita Pendekar Pedang Tujuh Naga juga sedang mengerjakan projek cerita bergenre Romantis. Jangan lupa dikunjungi nanti ya kalo sudah terbit.
Tenang aja, Karya ini masih seperti biasanya terbit setiap hari.
Terus dukung Author ya dan jangan lupa StayAtHome.
Byebye**
__ADS_1