Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Sampai di Pulau Dewata


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu, selepas menghadapi Kelompok Paus Darah tidak ada lagi hambatan yang menghalangi perjalan Arga dan yang lainnya.


"Daratan?!" Ucap seorang prajurit kerajaan Samudra.


Melihat hal tersebut semua orang bersiap-siap untuk turun.


Di sisi lain, Arga, Widura, Pangeran Rendra serta sepuluh pengawalnya beristirahat di kamar mereka masing-masing.


*****


Arga sedang duduk bersila saat terdengar suara ketukan pintu di depan kamarnya, "Saudara Arga?!" Suara seseorang memanggil namanya. Arga mengenali suara itu yang tidak lain adalah Pangeran Rendra.


Arga membuka matanya dan berdiri lalu berjalan untuk membukakan pintu.


"Ada apa Saudara Rendra?" Tanya Arga sambil mempersilahkannya masuk.


Pangeran Rendra tersenyum tipis, "Aku ingin memberitahukan bahwa daratan seberang sudah terlihat!" Jawabnya.


"Begitukah?" Tanya Arga kembali sambil menaikkan sebelah alisnya.


Pangeran Rendra tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.


Lalu Pangeran Rendra kembali membuka suaranya, "Saudara Arga, terima kasih atas bantuannya. Aku berharap kau bisa ikut bersama kami untuk menyaksikan pernikahanku." Pinta Pangeran Rendra.


"Maafkan Aku saudaraku. Sebenarnya aku juga ingin menyaksikan pernikahanmu, tetapi waktunya kurang tepat. Aku harus segera menemukan Bunga Mawar Hitam secepatnya." Arga tersenyum pahit dan juga terasa bersalah telah menolak permintaan Pangeran Rendra.


Sementara Pangeran Rendra hanya tersenyum kecut dan mengangguk pelan.


"Kalau begitu, semoga kau berhasil. Semoga kita juga bisa berjumpa lagi." Ucap Pangeran Rendra.


"Semoga saja. Kau tenang saja, jika kita sama-sama berumur panjang, aku pastikan kita akan bertemu lagi!" Jawab Arga menyakinkan Pangeran Rendra.


Saat keduanya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datang Widura dan seprajurit dibelakangnya yang sedang membawa sebuah peti.


"Saudara Arga, Saudara Rendra!" Sapa Widura sambil tersenyum tipis.


"Saudara Widura!" Jawab Arga dan Pangeran Rendra bersamaan.


Pangeran Rendra yang melihat prajuritnya membawa peti tidak basa-basi lagi. Dia berjalan mendekat dan membuka peti itu.

__ADS_1


"Saudara Arga, Saudara Widura mohon terima sedikit pemberian dariku ini!" Pangeran Rendra menyuruh prajuritnya itu untuk membawa peti itu ke depan Arga dan Widura.


Arga dan Widura bisa melihat isi dari peti itu adalah emas.


"Di dalamnya adalah seratus ribu keping emas, jangan tolak karena kalian berdua berhak mendapatkannya."


Pangeran Rendra tidak salah, menurutnya nyawanya lebih berharga daripada uang seratus ribu keping emas tersebut.


Sebenarnya Arga maupun Widura ingin menolak, karena keduanya tidak begitu menginginkan harta. Tetapi saat melihat wajah pangeran Rendra yang sangat ingin Arga dan Widura menerima pemberiannya, akhirnya keduanya menerimanya.


"Terima kasih Saudara Rendra!" Arga dan Widura menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Pangeran Rendra dan Pangeran Rendra juga melakukan demikian.


Setelah berbasa-basi sebentar, Pangeran Rendra meninggalkan Arga dan Widura untuk berkemas dan mempersiapkan barang-barang untuk diturunkan.


Melihat Pangeran Rendra tidak ada lagi, Widura melirik ke arah Arga, "Saudara Arga, bagaimana kita akan membawa uang ini? Bukankah akan menyusahkan jika kita membawanya seperti ini?!" Widura menjadi bingung memikirkan cara membawanya.


Menurutnya jika membawanya, peti itu terlalu besar, tentu akan menyulitkan pergerakan keduanya.


Jika dimasukkan ke kantong juga akan sama. Pasti membutuhkan kantong yang besar.


Mendengar pertanyaan Widura membuat Arga tersenyum tipis lalu berkata, "Saudara Widura, jika kau percaya padaku maka aku bisa menyimpan semuanya!" Jawab Arga.


"Tentu saja aku percaya. Tapi ba-" Widura tidak menyelesaikan kata-katanya, dia tersedak nafas sendiri saat melihat Arga menggerakkan tangannya dan seketika peti yang ada di hadapan mereka hilang tanpa meninggalkan sisa.


Arga tidak menjawab ataupun menjelaskan bagaimana caranya dia menghilangkan peti itu. Dia hanya tersenyum lebar ke arah Widura sedangkan Widura tersenyum canggung sambil menelan ludahnya.


'Tidak heran dia menjadi pendekar yang amat terkenal dan memiliki kemampuan tinggi. Ilmu seperti ini saja dia miliki!' Widura tersenyum kecut saat memikirkan hal itu. Menurutnya menjadikan Arga sebagai teman bahkan sekarang Saudara adalah pilihan yang sangat tepat.


Tidak ingin memikirkannya lagi, Widura mengajak Arga ke bagian depan kapal untuk melihat daratan yang sebentar lagi akan mereka temui.


Arga mengangguk, dia juga sudah penasaran dari tadi.


*****


Para prajurit sedang sibuk mempersiapkan semua barang-barang yang dibawa Pangeran Rendra untuk mempersunting calon istrinya.


Arga dan Widura sedang berdiri di depan kapal dan menikmati suasana sejut serta angin sepoi-sepoi yang berhembus kencang ke arah keduanya.


Sementara Pangeran Rendra dan sepuluh pengawalnya tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


Hal itu berlangsung selama satu jam, setelah itu kapal mereka memasuki pelabuhan.


Terlihat beberapa orang sudah menunggu kedatangan kapal mereka. Arga menduga mereka ada pasukan dari calon istri Pangeran Rendra. Karena terlihat pasukan itu memakai pakaian lengkap prajurit dan membawa sebuah bendera berbentuk bulan sabit berwarna kuning terang.


Dugaan Arga sangat tepat, memang mereka adalah pasukan yang dikirim oleh Kerajaan Bulan Sabit untuk menyambut kedatangan Pangeran Rendra dan para pengikutnya.


Kerajaan Bulan Sabit sendiri merupakan salah satu kerajaan besar di pulau Dewata ini.


Arga juga melihat Pangeran Rendra dan sepuluh pengawalnya sudah keluar dari ruangannya.


Arga berjalan mendekat bersama Widura di belakangnya.


"Saudara Rendra, sekarang saatnya kita berpisah. Semoga kita bertemu lagi." Arga menundukkan kepalanya memberi hormat dan Widura pun melakukan hal yang sama.


"Aku menunggu saat itu tiba!" Pangeran Rendra membalas penghormatan dari Arga dan Widura.


Kemudian ketiganya berpelukan untuk perpisahan sejenak, setelah itu Arga dan Widura melompat terbang dari kapal sebelum kapal berhenti.


Keduanya berjalan di atas air membuat takjub prajurit kerajaan Samudra, bahkan prajurit kerajaan Bulan Sabit yang berada di darat pun ikut terkejut dan takjub.


"Siapa mereka?"


"Kemampuan mereka pasti sangat tinggi!"


"Apa yang mereka lakukan disini?"


Berbagai pertanyaan keluar dari mulut para prajurit kerajaan Bulan Sabit.


"Kalian tidak usah heran. Pangeran Rendra ini adalah putra bungsu dari Raja kerajaan Samudra. Tentu saja mereka akan menyewa para pendekar hebat untuk melindunginya. Kalian tahu sendiri bukan bahwa diperairan ini terdapat Kelompok Paus Darah yang terkenal?!" Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan dari yang lain.


Prajurit yang lain tidak membantah, mereka juga sepakat akan hal itu.


Berselang beberapa saat kemudian, kapal rombongan pangeran Rendra sudah berhenti, terlihat seorang pemuda yang diiringi sepuluh orang dibelakangnya.


Para prajurit kerajaan Bulan Sabit menduga bahwa pemuda itulah yang bernama Pangeran Rendra.


"Pangeran Rendra, kami dari kerajaan Bulan Sabit ditugaskan untuk menjemput Anda dan para pengikut Anda!" Ucap salah satu prajurit. Prajurit ini jugalah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan lain saat melihat Arga dan Widura.


Prajurit itu sendiri tidak lain adalah salah satu panglima perang kerajaan Bulan Sabit.

__ADS_1


*****


Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho


__ADS_2