
Setelah melihat pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya pergi, Dewa Obat langsung bergegas membawa Nilawati menuju ke dalam istana. Dia membaringkannya di sebuah ranjang yang ada di ruangannya.
Dewa Obat duduk di dekat Nilawati berbaring dan langsung meracik ramuan untuk memperlambat proses penyebaran racun itu dan membekukan jaringan serta saraf-saraf yang ada di tubuh Nilawati.
"Aihhh," Dewa Obat menghela nafas panjang, "Beruntung Kau memiliki suami yang begitu sayang padamu, kalau tidak kau pasti terbunuh di tempat." Dewa Obat seperti berbicara kepada Nilawati, tetapi tentu saja dia berbicara sendiri, karena Nilawati tidak sadarkan diri.
Dewa Obat terus menerus mengulek tumbuhan-tumbuhan yang menjadi obat untuk Nilawati.
*****
Sementara itu, Raja Jatmiko dan para bawahannya langsung kembali ke dalam istana, mereka berkumpul di aula pertemuan.
Disana juga sudah duduk Jagad Kelana yang sedang meracik obat-obatan.
Jagad Kelana sendiri memang tidak ikut bertarung dalam pertempuran sebelumnya, dia diminta Raja Jatmiko untuk membuat ramuan dan pil untuk mendukung pihak kerajaan Kalingga.
"Saudara Jagad, sebaiknya Kau obati para Tumenggung terlebih dahulu, mereka yang mengalami luka yang parah. Tetapi sebelumnya kau obati dulu Nyai Mawar Bidara yang ada disana." Raja Jatmiko meminta Jagad Kelana untuk membantu Nyai Mawar Bidara dan para Tumenggungnya, karena dia sendiri tidak terlalu parah lukanya.
Raja Jatmiko tidaklah salah, memang para Tumenggungnya lah yang mengalami luka parah, hal itu dikarenakan mereka menghadapi dua sampai tiga orang sekaligus.
Walaupun ilmu kanuragan mereka cukup tinggi, tetapi lawan mereka juga memiliki kekuatan yang sama bahkan ada yang lebih tinggi daripada mereka.
Sedangkan untuk Nyai Mawar Bidara, dia terluka karena menghadapi Gading Koneng yang mempunyai ilmu kanuragan setingkat dengannya.
Satu-satunya Tumenggung yang tidak terluka para adalah Bedul. Hal itu dikarenakan, Lasmini selalu berada disampingnya untuk membantunya. Dan Tumenggung Bedul lah yang membawa Nyai Mawar Bidara ke aula pertemuan itu.
Jagad Kelana mengangguk, dia langsung berjalan ke arah Nyai Mawar Bidara dan memeriksanya.
Setelah beberapa saat, dia menghela nafas dan berkata, "Luka Nyai Mawar Bidara cukup parah, beruntung aku mempunyai bahan-bahan untuk membuat obatnya."
__ADS_1
"Tampaknya, memang dari awal, Pendekar sepuh yang bernama Gading Koneng itu tidak berniat melukai Nyai Mawar Bidara." Jagad Kelana mengungkapkan pemikirannya.
Tebakan Jagad Kelana memanglah tepat, memang Gading Koneng tidak berniat melukai Nyai Mawar Bidara karena jika dia ingin, saat Nyai Mawar Bidara terluka parah, dia sudah melakukannya. Bahkan untuk membunuhnya pun dia bisa.
Jagad Kelana pun larut dalam pikirannya sendiri, dia menebak-nebak apa alasan Gading Koneng melakukan hal itu.
Tetapi tidak berapa lama dia mengalihkan pikirannya dan langsung membuat ramuan obat untuk orang-orang yang terluka.
*****
Di sisi lain, Gading Koneng, Nyai Parwati dan Sembada sudah jauh dari tempat pertempuran. Kali ini keduanya berhenti di bawah sebuah pohon rindang di dalam hutan.
"Pemuda itu sangat tinggi tenaga dalamnya, bukan hanya itu, kemampuan bertarung tangan kosongnya juga mumpuni." Sembada mengangkat suaranya di tengah-tengah peristirahatan mereka.
"Kau benar Sembada, selain itu, Kemampuan bermain pedangnya di atasku. Tidak salah dia dikatakan Pendekar jenius." Gading Koneng setuju dengan pendapat Sembada.
Tetapi yang menjadi perhatian Nyai Parwati adalah, Arga memiliki ilmu baru yang tidak kalah dahsyatnya.
Nyai Parwati larut dalam pikirannya sendiri, dia berjanji dalam hatinya tidak akan mencari masalah lagi dengan Arga ataupun dengan orang yang seperti Arga.
Akhirnya dia memantapkan pilihannya, dan berkata kepada Gading Koneng dan Sembada, "Kakang Gading, Kakang Sembada, kelihatannya perkumpulan kita cukup sampai disini saja. Aku akan memulai kehidupanku yang baru dimulai dari sini." Parwati berdiri dsn memberi hormat kepada keduanya, setelah itu dia meninggalkan Gading Koneng dan Sembada yang tidak sempat untuk berkata-kata.
Memang hal itu Nyai Parwati lakukan karena dia tidak ingin mendengar perkataan kedua orang itu, karena dia sudah mengetahui apa yang akan mereka katakan, yaitu membujuk Nyai Parwati untuk tetap bersama mereka.
Tebakan Nyai Parwati memanglah tepat, itulah yang ingin dikatakan Gading Koneng dan Sembada, tetapi keduanya tidak sempat karena Nyai Parwati dengan cepat meninggalkan mereka.
Gading Koneng dan Sembada hanya bisa saling berpandangan dan menatap punggung Nyai Parwati yang perlahan-lahan menghilang.
Setelah Nyai Parwati tidak terlihat lagi, Gading Koneng mengalihkan pandangannya ke arah Sembada dan menanyakan pilihan juniornya itu.
__ADS_1
Sembada dengan mantapnya mengatakan, "Aku akan kembali ke puncak gunung Lawu dan moksa disana. Aku tidak akan ikut campur lagi urusan duniawi ini. Tampaknya memang dunia ini bukan untukku lagi." Setelah berkata demikian, Sembada balik bertanya kepada Gading Koneng, "Bagaimana denganmu Kakang?"
"Aku sendiri akan kembali ke gua selongsong dan menambah kekuatan. Setelah itu aku akan kembali berhadapan dengan murid Mawar Bidara itu.
Tetapi kali ini bukan untuk membalas dendam kematian muridku, tetapi karena aku ingin mati ditangan Pendekar yang kuat sepertinya.
Kau sendiri juga mengetahui, bagi pendekar, mati ditangan Pendekar yang lebih kuat daripadanya adalah suatu kehormatan." Gading Koneng menjelaskan langkah yang akan diambilnya.
Sembada menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata, "Baiklah, kalau begitu sampai disini saja perkumpulan kita Kakang. Aku berharap setelah kita berdua mati ataupun moksa nanti, akan dibangkitkan menjadi orang yang lebih baik." Setelah berkata demikian, Sembada memberi hormat kepada Gading Koneng dan memeluknya lalu pergi kembali ke gunung Lawu.
Gading Koneng menghela nafasnya, kemudian dia pun kembali ke gua selongsong.
*****
"Sialan-sialan..." Di tengah hutan lebat seseorang sedang memukuli pohon yang ada dihadapannya. Orang itu tidak lain adalah Raja Jentalu, Raja Kerajaan Singaparna.
"Padahal aku sudah membuat Ratu sialan itu menjadi kambing hitam, ternyata semuanya gagal." Dia mendengus kesal kepada orang yang ada dibelakangnya, yaitu Patih Trenggano.
Memang sebenarnya, ide menyerang kerajaan Kalingga adalah dari Raja Jentalu, dia meminta kerajaan Jenggala untuk mengumumkan perang terbuka dengan kerajaan Kalingga sedangkan mereka sendiri bergerak dari belakang layar.
Tetapi benar, kejahatan tidak akan pernah menang dan berjaya.
Raja Jentalu meminta kerajaan Jenggala mengumumkan perang terbuka itu bukanlah tidak memiliki maksud.
Raja Jentalu sudah membuat siasat, bahwa jika kerajaan Kalingga berhasil ditaklukkan maka mereka akan menyerang kerajaan Medang Kemulan, setelah itu baru mereka akan menyerang kerajaan Jentalu untuk menjadi satu-satunya kerajaan adikuasa di daerah itu.
Raja Jentalu hanya bisa berdecak kesal karena semua rencananya gagal, hanya ada satu orang yang bisa ia salahkan dalam kegagalan ini, yaitu Arga. Karena keberadaan Arga lah semuanya tidak sesuai dengan rencana Raja Jentalu.
Dia berjanji dalam hatinya, akan membunuh Arga bagaimanapun caranya.
__ADS_1