Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Mencari Bunga Mawar Hitam


__ADS_3

Setelah berbincang cukup lama, Arga akhirnya mengetahui maksud dan tujuan raja siluman buaya menemuinya, yaitu ingin meminta pertolongannya.


Melihat tidak ada niat dari dua orang itu, Arga menyanggupinya. Tetapi dia mengatakan ingin mengambil sesuatu dulu dari dalam gua ini.


Mendengar hal itu raja siluman buaya dan anaknya mengerutkan dahi, mereka tentu mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Bunga Mawar Hitam.


"Pendekar Arga, kami sudah hidup disini secara turun temurun. Tetapi kau tahu, kami tidak pernah menemukan ada bunga yang Anda maksud.


Kami memang pernah mendengarnya, tetapi itu dari cerita pendahulu kami. Aku tidak bermaksud melarangmu. Tetapi sebaiknya kau tidak mencari dan mengambilnya atau kau akan mendapatkan masalah yang besar.


Kami memang belum pernah bertemu dengan pelindung dari gua ini, tetapi kami pernah sesekali merasakan kekuatan yang dipancarkannya!" Raja siluman buaya mengingatkan Arga.


Melihat dari raut wajahnya, Arga bisa menebak bahwa semua yang dikatakan oleh Raja siluman buaya adalah kebenaran.


Yang menarik perhatian Arga lagi, saat Raja siluman buaya menyampaikan hal itu, dia tampak waspada dan sedikit ketakutan. Arga menduga itu karena kekuatan dari penjaga gua itu.


Arga kemudian mengangguk, dia mengatakan harus tetap menemukan Bunga Mawar Hitam itu apapun yang terjadi bahkan dengan mengorbankan nyawanya sekalipun.


Mendengar hal itu, Raja siluman buaya menghela nafas panjang. Dia hanya berharap Arga bisa segera menemukannya dan setelah itu bisa membantunya.


Sebenarnya Raja siluman buaya sebelumnya berpikir untuk memaksa Arga, tetapi setelah melihat Arga secara langsung, dia mengurungkan niatnya.


Sebenarnya alasannya cukup jelas, pertama karena Raja siluman buaya merasakan pancaran kekuatan dari Arga melebihinya.


Memang Arga selalu mengeluarkan aura bertarungnya untuk orang yang pertama kali ditemuinya. Hal itu untuk membuat mereka berpikir ulang untuk membuat masalah dengannya.


Yang kedua adalah karena Arga memiliki Ajian Gineng, tentunya semua siluman harus bersikap hati-hati dan hormat terhadapnya. Selain itu, Raja siluman buaya mengetahui betul bahwa orang yang memiliki Ajian Gineng bukanlah orang sembarangan.


Menurutnya tidak baik menyinggung dan menbuat masalah dengan manusia yang tidak diketahui sedalam apa kekuatannya.


Sementara yang terakhir karena Arga memiliki sebuah cincin di jari manisnya. Cincin itu bukanlah cincin biasa. Cincin itu merupakan cincin yang diberikan Raja siluman kerbau kepadanya sebelumnya. Yang menunjukkan kedudukan Arga cukup tinggi di dalam kaum siluman kerbau.


Hal itu membuat siluman buaya kembali berpikir, apa sebenarnya hubungan Arga dengan siluman kerbau.

__ADS_1


Karena tidak bisa menghentikan atau memaksa Arga lebih jauh, akhirnya Raja siluman buaya dan mengajak putranya untuk pergi meninggalkan gua itu dan memberikan Arga sebuah cincin. Cincin yang sama dengan cincin dari siluman kerbau. Hanya berbeda motifnya saja.


Raja siluman buaya mengatakan, jika Arga menggosok tiga kali cincin itu, maka Raja siluman buaya akan menemuinya.


Mendengar hal itu, Arga mengangguk dan berjanji akan membantu Raja siluman buaya.


Raja siluman buaya tersenyum lebar, menurutnya Arga adalah seorang pendekar yang selalu menepati janjinya. Dia bisa melihat hal itu dari wajah Arga.


"Kalau begitu sampai ketemu nanti Tuan Pendekar!" Raja siluman buaya dan putranya berubah menjadi dua butiran cahaya berwarna keemasan dan melayang. Tidak lama kemudian menghilang dari pandangan.


Setelah keduanya tidak terlihat, Arga menghela nafas lega dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem, kenapa aku menyanggupi permintaan Raja siluman buaya ya?" Arga tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya.


Tetapi Arga tidak ingin memikirkannya terlalu jauh karena menurutnya semua yang dilakukannya itu menuruti kata hatinya.


*****


Arga menatap lekat ke segala arah dari dalam gua yang dimasukinya.


Dia mengangkat satu tangannya dan memusatkan pikirannya. Hal itu dilakukannya untuk mengirim pesan telepati kepada Widura.


"Saudara Widura, jika kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu. Karena aku tidak yakin akan selamat dari hal ini. Jikapun berhasil, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama." Arga tidak ingin memberi harapan kepada Widura dengan menunggunya.


Di sisi lain, Widura langsung memusatkan pikirannya, dia kemudian menjawab pesan telepati dari Arga.


"Apa maksudmu saudara Arga. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menunggumu disini. Entah itu dalam waktu singkat ataupun lama, yang pastinya aku akan menunggu sampai dirimu kembali!" Jawab Widura dengan tegas.


Sebenarnya Widura tidak berlebihan, menurutnya Arga pasti bisa mendapatkannya dengan kemampuannya. Sebab itulah Widura akan menunggunya.


Selama menunggu Arga kembali, Widura memutuskan untuk bersemedi di salah satu batu besar yang ada di tempat itu.


Dia duduk bersila dan memejamkan matanya, setelah itu dia mengosongkan pikirannya dan memutuskan hubungannya dengan duniawi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

__ADS_1


*****


Arga hanya tersenyum tipis saat mendengar Widura bersikeras menunggunya. Tanpa Widura sadari, menurut Arga pemuda itu sudah memberikan doa dan dukungan kepadanya.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Arga melangkahkan kakinya perlahan-lahan mulai memasuki gua.


Arga menelusuri bagian demi bagian yang ada di dalam gua. Tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari sana.


"Aku tidak akan menyerah. Aku yakin Bunga Mawar Hitam ada disini!" Arga merapatkan bibirnya dan mulai kembali menyusuri gua itu.


Satu jam, dua jam, tiga jam bahkan sampai enam jam lamanya Arga berada di dalam gua itu. Tetapi tidak sedikitpun dia menemukan petunjuk tentang Bunga Mawar Hitam.


Semakin lama dia memasuki gua, tetapi dia juga belum mencapai dasar gua itu.


Arga terus menelusuri karena dia berpikir akan menemukan Bunga Mawar Hitam di dasar gua tersebut.


Waktu demi waktu terus berjalan, yang sebelumnya gua itu di sinari cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gua sekarang sudah tidak terlihat lagi. Arga menduga bahwa sekarang hari sudah malam.


Melihat hal itu, Arga memutuskan untuk beristirahat dan memulai mencari Bunga Mawar Hitam keesokan harinya.


Arga duduk di salah satu batu besar yang ada di dalam gua itu dan duduk bersila di atasnya.


*****


Keesokan harinya saat sinar matahari kembali memasuki gua, Arga membuka matanya. Dia menstabilkan tubuhnya sebentar sebelum kembali memutuskan untuk masuk ke tempat yang lebih dalam lagi.


Tidak terasa, Arga sudah berada di dalam gua itu selama beberapa hari. Tetapi selama itu juga, Arga belum menemukan dasar dari gua itu.


Arga mengerutkan dahinya, dia kemudian menyadari satu hal.


"Kenapa aku terus berjalan di sini saja! Aku rasa beberapa waktu lalu aku sudah melewati tempat ini!" Gumam Arga dalam hatinya.


Ingin memastikannya, Arga segera mengeluarkan Pedang Tujuh Naga dari udara. Setelah itu dia menariknya dari sarungnya dan menggoreskan beberapa sayatan ke dinding gua. Hal itu dilakukannya untuk membuat tanda.

__ADS_1


Setelah itu, Arga kembali melangkahkan kakinya dan menyusuri gua.


__ADS_2