Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih VI


__ADS_3

Yasha berdiri dengan setengah membungkuk, tubuhnya penuh dengan luka-luka. Baju yang sebelumnya berwarna putih kini sudah berubah menjadi merah. Pertarungannya dengan Arya sebelumnya sudah selesai dengan Arya sekarang terbaring pingsan.


Kondisi Arya sendiri lebih buruk daripada Yasha. Selain tubuhnya yang memiliki banyak luka, wajahnya juga demikian serta bajunya juga sudah berubah menjadi merah.


Yasha memberi hormat kepada wasit dan langsung berjalan ke arah tim pengobatan untuk diobati. Sedangkan Arya harus ditandu karena masih pingsan. Pertandingan keduanya sangat dahsyat dan seru.


Sementara itu, di arena Pendekar Pedang Sunyi kembali mengeluarkan sebuah gulungan, gulungan itu berisi nama peserta. Dan ternyata nama yang keluar adalah Pandan Wangi.


Yasha sedikit menghela nafas lega, dia sangat bersyukur karena nama yang keluar adalah Pandan Wangi, jika orang lain maka Yasha harus bersiap-siap mungkin saja dia yang ditantang. Tetapi Pandan Wangi, dia yakin Pandan Wangi tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Sebenarnya pikiran Yasha tidak salah, karena dalam peraturan ini semua peserta harus siap-siap bertarung, sekalipun itu dia baru saja selesai bertarung. Karena setiap peserta yang ditantang harus menerima tantangan itu kecuali dia memiliki gulungan yang memiliki tulisan AMAN.


Mendengar namanya dipanggil, Pandan Wangi segera terbang ke atas arena. Dia memberi hormat sebentar sebelum maju dan mengambil gulungan yang akan menentukan pilihannya.


Tak butuh waktu lama, Pandan Wangi sudah mengambil satu gulungan. Saat dibukanya gulungan itu bertuliskan BEBAS MEMILIH. Yang artinya Pandan Wangi bebas untuk memilih bertarung atau tidak.


Tetapi karena Pandan Wangi adalah seorang pendekar dan juga dia sudah lama ingin menguji kemampuannya, tentu saja dia memilih untuk bertarung.


Pandan Wangi diberi waktu semenit untuk menentukan siapa yang akan menjadi lawannya.


Tanpa diduga oleh siapapun, Pandan Wangi menunjukkan seseorang yang menggunakan topeng di wajahnya.


"Kau... Saudari Gendis, aku menantangmu." Teriak Pandan Wangi yang terdengar oleh semua orang.


*****


Arga dan Nilawati yang baru saja datang tidak bisa untuk berbincang-bincang karena semenit kemudian Turnamen babak kedua dimulai.


Arga dan Nilawati memperhatikan dengan seksama. Keduanya sudah bersiap-siap jika saja salah satu diantara mereka berdua yang harus bertarung.

__ADS_1


Setelah Pendekar Pedang Sunyi membuka gulungan dan meneriakkan nama Pandan Wangi, Arga dan Nilawati tersenyum tipis.


Tapi tidak mereka sangka, ternayata Pandan Wangi mendapatkan gulungan yang bertuliskan BEBAS MEMILIH, dan yang membuat keduanya mengerutkan dahinya karena Pandan Wangi memilih bertarung dan menunjuk Nilawati sebagai lawannya.


Arga yang melihat Pandan Wangi menantang Nilawati hanya terbatuk-batuk pelan. Dia menyadari bahwa Pandan Wangi memang sudah memperhatikan mereka dari awal Turnamen. Arga yakin, Pandan Wangi menantang Nilawati untuk membuktikan tebakan gadis itu benar atau tidak bahwa Raga dan Gendis adalah Arga dan Nilawati yang menyamar.


Sebenarnya tebakan Arga tidaklah meleset, memang tujuan Pandan Wangi menantang Gendis adalah untuk membuktikan tebakannya.


*****


"Aku...!?" Jawab Nilawati, "Baiklah kalau begitu aku tidak keberatan." Sambungnya.


Setelah berkata demikian, Nilawati langsung terbang ke atas arena.


"Gendis memberi hormat kepada Ketua, Pendekar Pedang Sunyi dan saudari Pandan Wangi." Ucap Nilawati sambil membungkukkan badannya ke arah Pendekar Pedang Sunyi dan setelah itu ke Pandan Wangi.


"Tidak perlu sungkan saudari Gendis. Pandan Wangi dari perguruan Lembah Perawan juga memberi hormat. Saudari ini harap, saudari Gendis bisa memberikan petunjuk." Pandan Wangi membalas penghormatan Nilawati.


Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan dari keduanya yang menandakan siap.


"Kalau begitu, mulai!" Teriak Pendekar Pedang Sunyi.


Setelah mendengar teriakan itu, baik Nilawati maupun Pandan Wangi langsung bersiap-siap dan membentuk kuda-kuda mereka masing-masing.


Pandan Wangi sendiri langsung menggunakan pedangnya, karena jika tebakannya benar Gendis ini adalah Nilawati, maka dia harus mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Sementara itu, Nilawati masih bersikap tenang. Dia juga memilih untuk menggunakan tangan kosong saja.


Setelah saling mengamati beberapa saat, Nilawati maupun Pandan Wangi bergerak maju dan saling menyerang.

__ADS_1


Serangan dari pedang Pandan Wangi disambut dengan tapak kosong dari Nilawati. Serangan keduanya menciptakan gelombang kejut disekitar mereka.


Saat sedang bersambut serangan, sesekali Nilawati berbisik kepada Pandan Wangi.


"Bagus, saudari Pandan. Kemampuanmu meningkat dibandingkan saat kita bertemu sebelumnya." Itulah bisikan dari Nilawati yang membuat Pandan Wangi mengambil jarak diantara keduanya.


Nilawati maupun Pandan Wangi mendarat dengan sempurna, keduanya mengatur nafas mereka masing-masing.


Pandan Wangi yang mendengar bisikan dari Nilawati tadi langsung mengerutkan dahinya dan berkata, "Kau... Berarti benar kau adalah..." Kata-katanya tidak selesai setelah melihat anggukan dan senyuman dari Nilawati.


"Berarti benar dia adalah saudari Nila." Batin Pandan Wangi. Dia sekarang hanya bisa tersenyum pahit karena akan menghadapi pertandingan yang sangat berat.


"Baiklah, tolong berikan petunjuk kepada saudari ini." Pandan Wangi kembali maju untuk menyerang Nilawati.


Di sisi lain, Pendekar Pedang Sunyi yang dari tadi melihat pertandingan keduanya menaikkan alisnya ketika mendengar Pandan Wangi mengenal Nilawati atau yang sekarang bernama Gendis.


Pendekar Pedang Sunyi menjadi penasarannya dengan identitas Gendis karena bisa membuat Pandan Wangi sedikit takut dan tubuhnya bergetar.


Walaupun Pendekar Pedang Sunyi adalah ketua perguruan, tetapi tetap saja dia masih cukup muda daripada ketua perguruan lainnya. Dia sering mendengar bahwa Pandan Wangi adalah salah satu pendekar wanita yang kuat. Melihat Pandan Wangi sedikit takut dan hormat kepada Gendis, tentu saja membuat Pendekar Pedang Sunyi penasaran. Tetapi pada akhirnya dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, karena bagaimanapun nantinya dia juga akan mengetahuinya.


*****


Nilawati kembali menyambut serangan dari Pandan Wangi. Walaupun serangan pedang Pandan begitu cepat, tetapi Nilawati di sisi lain tidak kalah cepatnya bahkan lebih cepat daripada Pandan Wangi.


"Bukkkkk." Akhirnya Nilawati berhasil mendaratkan satu pukulannya kepada Pandan Wangi. Pukulan itu menggunakan setengah dari tenaga dalamnya yang tentu saja akan membuat musuhnya kesakitan hebat. Tetapi tidak dengan Pandan Wangi, dia hanya terpental dan meneteskan darah segar dari bibirnya.


"Kekuatan kami terpaut terlalu jauh." Pandan Wangi hanya bisa pasrah dan menerima hasilnya. Tetapi dia tetap ingin bertarung, dia tidak ingin menyerah.


Di sisi lain, seorang wanita paruh baya yang dari tadi menyaksikan pertarungan antara Nilawati dan Pandan Wangi hanya tersenyum tipis dan berkata dalam hatinya, "Pilihan bagus Pandan, semoga setelah ini kau bisa berlatih lebih giat lagi." Wanita paruh baya itu tidak lain adalah ketua perguruan Lembah Perawan.

__ADS_1


Dia dari awal sudah mengetahui identitas dari Arga dan Nilawati. Memang bila bertemu dengan Arga dan Nilawati tidaklah sulit untuk mengenalinya walaupun mereka menggunakan topeng seperti sekarang.


__ADS_2