Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Jurus Membelah Diri


__ADS_3

Pemuda itu mendekati Lasmini dan memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan Nisanak, namaku Bedul." Dia memberi hormat kepada Lasmini, "Jangan takut, kami akan menolongmu." Bedul tersenyum dengan ramah dan sopan sambil menggaruk kepalanya yang botak itu.


Lasmini tampak terkejut ketika mendengar nama itu, perasaannya mengatakan pernah mendengar nama itu. Lasmini mengingat-ingat lagi dan akhirnya dia mengingatnya.


"Bukankah, teman Arga dan Nilawati juga bernama Bedul? Mungkin dia adalah orang yang sama. Jika benar berarti dia adalah seorang Tumenggung dari kerajaan Kalingga." Lasmini larut dalam lamunannya.


Bedul yang melihat hal tersebut menundukkan badannya dan memiringkan kepalanya menatap ke arah Lasmini.


"Ni, Nisanak...Kau tidak apa-apa?" Bedul melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah gadis yang terlihat beberapa tahun lebih muda darinya itu.


Lasmini tersadar dari lamunannya, dan mendongakkan kepalanya ke arah Bedul.


"Hmp... Maafkan aku Kisanak, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Oh iya apakah Kisanak adalah seorang Tumenggung?" Lasmini memberanikan dirinya untuk bertanya begitu kepada Bedul, "Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa." Sambungnya dan memalingkan wajahnya.


Lasmini lalu berdiri dan memberi hormat kepada Bedul, dia sangat berterima kasih karena telah membantunya.


"Ni... Jangan banyak bergerak dulu. Kau masih terkena efek racun dari serangan para perampok itu. Kalau Nini mau, aku bisa mengajak Nini ke kerajaan Kalingga untuk berobat. Kebetulan temanku seorang tabib disana." Bedul menghentikan Lasmini yang hendak melangkah meninggalkan tempat itu.


"Berarti benar Kisanak adalah Tumenggung Bedul dari kerajaan Kalingga?" Lasmini kebali bertanya, Bedul tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Senang, bertemu dengan Tuan. Berarti benar perkataan Arga dan Nilawati, Kisanak adalah orang yang baik. Aku sangat beruntung bisa bertemu Tuan disini." Lasmini menjadi senang, karena dia telah menemukan orang yang dicarinya.


Di sisi lain Bedul mengerutkan keningnya saat mendengar Lasmini menyebutkan nama Arga dan Nilawati. Bedul kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya, "Apakah Nini kenal dengan Arga dan Nilawati?" Begitu pertanyaannya.


"Iya, aku pernah bertemu dengan mereka. Saat itu..." Lasmini menjelaskan bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Arga dan Nilawati. Bagaimana dia bisa sampai ke daerah kerajaan Kalingga pun karena Arga dan Nilawati.

__ADS_1


Bedul mendengar semua cerita Lasmini, dia mempercayainya karena dia tidak menemukan adanya kebohongan dari perkataan Lasmini.


Bedul mengangguk ketika Lasmini mengatakan dia di utus oleh Arga dan Nilawati untuk menemui Bedul, Jagad, Ayu serta Raja Jatmiko.


"Baiklah kalau begitu Nisanak boleh ikut kami. Kebetulan saya ditugaskan untuk mengecek perkembangan Desa-Desa di sekitar sini." Ucap Bedul sambil tersenyum dengan ciri khasnya yang kegenitan itu. Lasmini akhirnya setuju untuk mengikuti Bedul menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.


*****


Cahaya matahari sudah terletak di atas kepala menandakan hari sudah beranjak siang. Arga dan Nilawati masih duduk bersila di kamar penginapan yang mereka sewa sebelumnya. Keduanya sedang mencari petunjuk mengenai wasiat yang ditinggalkan pendekar pelukis di dalam lukisannya itu.


Tak lama kemudian Arga membuka matanya, tidak berselang lama, Nilawati juga membuka matanya.


"Bagaimana, Nila? Apakah kau menemukan petunjuknya?" Arga membuka lebih dulu percakapan.


Nilawati hanya menggelengkan kepalanya, dia kemudian balik bertanya kepada Arga, "Bagaimana denganmu Arga? Apa kau menemukannya?"


Keduanya kembali memandangi lukisan dihadapan mereka itu dan membolak-balikkannya.


Disaat mereka sudah mulai pasrah dan menyerah, tiba-tiba muncul cahaya berwarna putih dari lukisan itu dan muncul sosok yang mereka kenal. Sosok itu adalah Pendekar Pelukis yang mereka temui sebelumnya.


"Kakek Pelukis!?" Arga dan Nilawati berkata serempak. Mereka terkejut karena kemunculan Pendekar Pelukis secara tiba-tiba.


Pendekar Pelukis mengangguk dan berkata, "Kalian tidak akan bisa menemukan apa yang aku simpan di dalam lukisan ini, jika kalian tidak memusatkan pemikiran kalian. Kalian harus menutup mata dan menggunakan batin dan hati untuk melihatnya." Dia tersenyum lebar kepada Arga dan Nilawati.


"Kek, bolehkah kami mengetahui identitas kakek sebenarnya?" Nilawati menatap ke arah Pendekar itu dan terlihat dari wajahnya memelas.


Pendekar Pelukis mengangguk, dia kemudian menceritakan identitasnya kepada Arga dan Nilawati.

__ADS_1


Pendekar Pelukis memiliki nama asli Mahasura, dia adalah Pendekar aliran netral yang cukup terkenal pada masanya. Dia satu generasi dengan guru Arga dan Nilawati.


Waktu kecil Mahasura memang sudah memiliki kemampuan untuk melukis, tetapi bakatnya itu terhenti karena kedua orang tuanya menginginkan Mahasura menjadi seorang ahli beladiri bukannya seniman.


Mahasura akhirnya menuruti kemauan kedua orang tuanya, dia belajar ilmu kanuragan dari ayahnya, tetapi dia sangat sulit mempelajarinya. Di samping belajar ilmu kanuragan, Mahasura tetap melukis dengan sembunyi-sembunyi dari kedua orang tuanya.


Kesulitannya dalam mempelajari ilmu kanuragan juga berdampak pada tenaga dalamnya. Dia tidak bisa memusatkan pikirannya untuk meningkatkan tenaga dalamnya. Hal itu membuat ayahnya murka dan marah kepadanya.


Ayahnya lalu mengusirnya, karena dinilai tidak bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.


Mahasura saat itu berusia 15 tahun. Dia pergi meninggalkan rumahnya dan berkelana.


Kehidupan Mahasura berubah ketika dia bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi gurunya. Sosok itu mengetahui kelebihan dari Mahasura dan terus melatihnya. Setelah usianya sekitar 25 tahun, dia turun gunung dan memulai pengembaraannya. Dengan dibekali sebuah kuas, dia menjadi sosok yang sangat terkenal dalam waktu singkat dan dikenal dengan sebutan Pendekar Pelukis karena setiap dia bertarung selalu menggunakan lukisan sebagai senjatanya. Lukisan Mahasura akan menjadi nyata jika dia menginginkannya.


Mahasura mengatakan bahwa di dalam lukisan itu tersimpan sebuah jurus bernama 'Jurus Membelah Diri'. Jurus itu bisa membelah diri penggunanya menjadi 7. Itu adalah jurus andalan dari Pendekar Pelukis.


Selesai berkata demikian, roh Pendekar Pelukis menjadi transparan dan tidak lama kemudian menghilang dari pandangan Arga dan Nilawati.


Arga dan Nilawati memberi hormat dan berterima kasih kepada Pendekar Pelukis. Keduanya kembali bersemangat setelah mendengar jurus yang ada di balik lukisan itu. Mereka memusatkan pikiran dan menutup semua indera mereka.


Akhirnya setelah 7 hari lamanya Arga dan Nilawati bersemedi, mereka membuka mata. Keduanya telah menemukan petunjuk tentang 'Jurus Membelah Diri'. Mereka berdua berdiri dan mulai belajar mempraktekkannya.


Sementara itu selama Arga dan Nilawati mempelajari Jurus Membelah Diri, Seta murid dari Gading Koneng sedang gencar-gencarnya membuat keributan.


Dia tidak segan-segan menculik gadis Desa, merampok harta warga dan bahkan membakar rumah-rumah warga. Seta mengatasnamakan dirinya adalah Arga.


Warga Desa percaya dengan hal itu, karena mereka belum pernah melihat secara langsung wajah dari Arga. Nama Arga mulai terkenal, warga-warga mulai menyebutnya pendekar kejam dan tak berperikemanusiaan. Tentu saja bagi orang yang mengenalnya dan telah dibantunya tidak percaya dengan berita itu.

__ADS_1


__ADS_2