
Arga dan Nilawati sekarang sudah berdekatan sedangkan Tiga Pendekar Macan Putih juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama sudah memiliki gambaran kekuatan masing-masing.
"Kekuatan pemuda itu sangat tinggi, kita bertiga menjadi lawan dia seorangpun tidak akan bisa mempertahankan nyawa, apalagi ditambah temannya itu." Tubuh Macan Gila bergetar hebat, dia tidak menyangka perbedaan kekuatan mereka akan sejauh ini.
"Kau benar Kakang! Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Macan Liar menanggapi hal yang sama.
"Apa kita minta maaf saja? Bukankah mereka masih muda jadi masih bisa untuk bernegosiasi." Macan Ngamuk memberi saran.
"Baiklah, biar aku coba." Macan Gila memajukan satu langkahnya.
"Maafkan kelancangan kami Pendekar Muda, tetapi kami tidak ingin melanjutkan pertarungan ini. Ada hal yang ingin kami lakukan di tempat lain." Begitulah perkataan dari Macan Gila. Dia berpura-pura ingin mengerjakan sesuatu padahal kenyataannya mereka ketakutan menghadapi Arga dan Nilawati.
"Hem, jika aku melepaskan kalian, pasti kalian akan melakukan pekerjaan yang biasanya kalian lakukan. Setelah kalian menghadang jalan kami, kalian pikir kami akan melepaskan kalian. Benar-benar tidak tahu diri." Arga tertawa terbahak-bahak diikuti Nilawati tertawa-tawa kecil.
Tiga Pendekar Macan Putih tentu murka, tetapi mereka seolah-olah tidak begitu. Wajahnya mereka dibuat tenang sedemikian rupa.
"Bagaimana jika kedua Pendekar melepaskan kami. Kami akan memberikan kompensasi yang besar." Macan Gila masih terus berusaha membujuk Arga dan bernegosiasi dengannya.
"Tidak... Kami cukup banyak harta. Kami tidak akan melepaskan kalian, hari ini adalah hari terakhir kalian bertiga melihat matahari." Arga menggelengkan kepalanya, dia tidak tertarik dengan tawaran itu. Baginya keselamatan manusia lebih penting.
"Setan alas!!!" Tiga Pendekar Macan Putih kembali menjadi murka.
"Bagus, kalian sudah menampakkan kembali diri kalian yang sebenarnya." Arga terkekeh-kekeh, mengejek ketiga orang itu.
"Begini saja, bagaimana jika kalian bertiga melawanku. Jika kalian bisa mengalahkanku maka kami akan melepaskan kalian." Sambung Arga sambil melirik ke arah Nilawati dan menyuruh Nilawati untuk beristirahat dan menyaksikan pertarungannya.
Nilawati mengerti dan mengangguk, dia menuruti perintah Arga. Nilawati mengambil jarak yang cukup jauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian bertiga yang maju menyerang dulu, jika aku yang menyerang duluan, maka kalian tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menyerangku." Arga berkata demikian untuk membuat Tiga Pendekar Macan Putih emosi.
"Bedebah, sombong sekali!" Setelah berkata demikian, Tiga Pendekar Macan Putih langsung menyerang Arga secara bersamaan.
Arga menyambut serangan ketiganya dengan tangan kosong seperti sebelumnya, dia tidak kesulitan mengimbangi gerakan ketiganya. Bahkan setelah bertarung beberapa saat, Arga berhasil mengungguli mereka bertiga.
Serangan demi serangan tercipta menghasilkan ledakan-ledakan besar. Arga berhasil menangkis serangan dari ketiganya.
Serangan Tiga Pendekar Macan Putih bukanlah serangan biasa melainkan serang teratur dan berpola.
Ketiganya menyerang ketiga bagian vital dari Arga. Satu orang menyerang kebagian kepala, satu lagi kebagian perut dan satu lagi kebagian kaki. Tetapi Arga bisa menangkis semuanya tanpa kesulitan, bahkan dia bisa mendaratkan pukulan kepada ketiganya.
Pertarungan antara Arga dengan Tiga Pendekar Macan Putih berlangsung selama beberapa jam, sebelum akhirnya Arga berhasil membunuh ketiganya. Dia menggunakan jurus Pukulan Penghancur Langit yang membuat ketiga tubuh orang itu hancur tiada sisa.
Arga menghela dan mengatur nafasnya. Kemudian dia menghampiri Nilawati yang dari tadi menyaksikan pertarungannya.
"Bagaimana pertunjukannya, sayang? Apakah kau menyukainya?" Arga tersenyum lebar kepada Nilawati dan tidak lupa menggoda gadis itu.
"Hadiah? Hadiah apa kiranya yang akan diberikan kepadaku?" Arga memasang wajah yang semakin bahagia.
"Sini nunduk sedikit, akan aku bisikkan." Arga menurutinya, dia langsung menundukkan kepalanya.
Tidak Arga duga sedikitpun, bahwa hadiah yang Nilawati maksud adalah menjewer telinganya sambil berkata, "Apakah kau tidak berpikir bahwa yang kau lakukan terlalu berlebihan?" Itulah yang Nilawati katakan sambil terus menjewer telinga Arga.
"Ah Nila, lepaskan!" Arga hanya bisa pasrah karena ingin menyenangkan pujaan hatinya itu. Dia berteriak berpura-pura kesakitan agar Nilawati tertawa.
Setelah beberapa saat, Nilawati melepaskan tangannya dari telinga Arga. Tetapi tanpa diduga kini giliran Arga yang menjahilinya. Kali ini Arga memeluk tubuh Nilawati setelah itu diangkatnya lah tubuh gadis itu tinggi-tinggi lalu dia memutar-mutar. Bila ada orang yang melihat hal tersebut, pasti mereka akan kagum melihat kemesraan kedua muda-mudi itu.
__ADS_1
Setelah bercanda beberapa saat, akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan. Tidak lupa juga Nilawati mendaratkan satu ciuman kepada Arga sebagai hadiah yang sebenarnya. Hal itu membuat Arga tersenyum bahagia selama perjalanan.
*****
Hari mulai gelap, Arga dan Nilawati masih terus melangkah melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi saat hari semakin gelap, akhirnya keduanya memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang ada di dekat mereka.
Arga tertidur sambil duduk bersender di pohon, sedangkan Nilawati tertidur di pangkuan Arga. Kepalanya berada di paha Arga. Sepasang kekasih itu tertidur dengan lelap dan pulas.
Keesokan harinya, Arga terbangun terlebih dahulu. Dia memandangi wajah kekasihnya itu dengan seksama, kakinya tidak bergerak sedikitpun karena takut akan membangunkan Nilawati.
Arga menemukan ada kalajengking yang hendak menyengat Nilawati, tetapi langsung diambilnya kalajengking itu dan digenggamnya dengan erat sampai mati.
Setelah itu Arga mengelus-elus rambut Nilawati, dia juga mencium kening dari Nilawati.
"Aku sangat mencintaimu dan tidak akan kubiarkan tubuhmu terluka sedikitpun saat bersamaku." Arga berkata seperti berbisik.
Dia tetap bersender di pohon dan menunggu Nilawati bangun dengan sendirinya.
Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya Nilawati terbangun dari tidurnya. Dia duduk dan mengangkat tangannya ke atas sambil mematahkan lehernya ke arah kiri dan kanan.
Kemudian Nilawati melihat ke arah Arga dan berkata, "Kau sudah lama bangun?" Pertanyaan itu ditanggapi Arga dengan senyuman sebelum berkata, "Tidak, aku baru saja terbangun."
"Tidak usah berbohong, aku tahu kau sudah lama terbangun." Nilawati memeluk Arga, "Terima kasih sudah menjagaku selama ini. Aku sangat mencintaimu." Sambung Nilawati sambil memeluk Arga dengan erat.
"Apapun akan aku lakukan untukmu." Jawab Arga sambil mengelus rambut Nilawati dan kemudian mencium keningnya.
"Aku bahagia memilikimu." Nilawati membalas perkataan Arga. Entah kenapa setiap kali bersama Arga, Nilawati merasakan kehangatan dan ketenangan.
__ADS_1
"Aku pun begitu. Sebaiknya kita mencari sungai terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan." Akhirnya Keduanya mencari sungai yang ada di sekitar situ. Tidak lama kemudian mereka menemukannya, keduanya mandi disana.
Setelah cukup, keduanya akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju ke puncak gunung Mahameru untuk menyaksikan Turnamen Pemuda Putih.