Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Membantu Warga Desa Wonosari


__ADS_3

Arga dan Nilawati sampai di sebuah Desa. Desa itu bernama Desa Wonosari. Saat Arga dan Nilawati memasuki Desa, terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan. Desa itu sunyi senyap, bahkan tidak ada terlihat seorangpun berada di jalanan ataupun di tempat-tempat berkumpul yang lainnya. Pintu-pintu dan Jendela-jendela rumah-rumah warga pun tidak ada yang terbuka.


"Nila, kenapa tempat ini sepi sekali. Apa yang terjadi kepada warga Desa ini?" Arga menghentikan langkah kudanya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melirik ke arah Nilawati.


"Entahlah Arga, aku juga tidak tau. Sebaiknya kita mencari warga dan bertanya." Nilawati mengangkat bahunya menandakan dia juga tidak mengerti dengan situasi yang seperti ini.


"Hem, baiklah!! Ayo kita bergerak." Arga memacu kudanya pelan-pelan sambil melirik ke arah kiri dan kanan. Nilawati juga mengikuti dibelakangnya.


Keduanya melihat seorang pria tua yang berumur sekitar 70 tahunan, janggutnya panjang dan rambutnya putih ubanan serta wajahnya terdapat banyak kerutan. Pria tua itu langsung bergegas berlari sekuat tenaga untuk menjauhi mereka dengan wajah ketakutan dan cemas.


"Kakek tunggu!" Arga melirik ke arah Nilawati sebelum melompat dan terbang menghadang pria tua itu.


Tak butuh waktu lama, dengan ilmu meringankan tubuhnya dia bergerak cepat bagaikan angin. Arga sekarang sudah berada di depan pria tua itu. Tak lama kemudian Nilawati menyusul dibelakangnya.


"Tunggu kek! Sabar... Kami tidak bermaksud jahat kok." Arga mencoba menenangkan pria tua itu. Dia mengangkat kedua tangannya menandakan untuk menghentikan pelarian kakek itu.


"Si...siapa kalian?" Kakek tua itu memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Arga dan Nilawati.


Arga melirik ke arah Nilawati, Nilawati mengangguk, mereka maju mendekati kakek tua itu.


Kakek tua kembali ketakutan melihat Arga dan Nilawati mendekatinya.


"Jangan tuan, aku tidak punya apa-apa lagi. Hartaku dan cucuku pun sudah kalian ambil." Kakek tua itu mengibaskan tangannya dan memohon kepada Arga dan Nilawati.


Nilawati memegang pundak kanan kakek tua itu sedangkan Arga dari pundak kirinya. Hal itu membuat kakek tua menjadi tambah pucat dan terus memohon ampun.

__ADS_1


"Tenang kek, kami tidak berniat jahat. Kami juga tidak mengerti apa yang kakek katakan. Kami tidak mengambil cucu kakek." Nilawati menyakinkan kakek tua itu.


Akhirnya setelah beberapa menit, kakek tua itu bisa lebih tenang dan tidak ketakutan lagi.


Arga dan Nilawati meminta maaf karena telah membuat kakek tua itu takut. Mereka juga memperkenalkan diri. Sang kakek juga memperkenalkan dirinya, nama kakek tua itu Sudarsono. Dia adalah salah satu warga Desa Wonosari. Ki Sudarsono juga meminta maaf karena sikapnya sebelumnya.


"Ki, apa yang terjadi pada Desa ini sebenarnya?" Nilawati bertanya dengan lembut kepada Ki Sudarsono.


Ki Sudarsono yang merasa Arga dan Nilawati adalah orang baik, kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Desa ini.


Desa Wonosari adalah Desa yang cukup maju. Hasil panen ladang dan sawah mereka setiap tahunnya sangat besar dan berlimpah. Tetapi seminggu yang lalu Desa ini didatangi oleh 3 orang berkuda dengan memakai pakaian berwarna merah dan golok di pinggangnya. 2 orang adalah laki-laki dan satunya perempuan. Ketiga orang itu terlihat seperti berusia sekitar 30 tahunan. Mereka mengatakan identitas mereka adalah Tiga Setan Dari Gua Sangkar. Selain mengambil harta-harta milik warga, mereka juga membawa 2 gadis dari desa Wonosari. Mereka mengatakan akan kembali lagi 2 Minggu lagi yang artinya seminggu dari sekarang. Salah satu dari gadis yang diculik adalah cucu dari Ki Sudarsono dan yang satunya lagi adalah anak dari Kepala Desa. Jadi Ki Sudarsono mengira bahwa Arga dan Nilawati adalah bagian dari ketiga orang itu.


Arga dan Nilawati mengerutkan dahi mereka saat mendengar cerita dari Ki Sudarsono, mereka iba dan berjanji akan membantu warga Desa Wonosari menyelesaikan masalah itu.


"Be... benarkah itu? Kisanak dan Nisanak mau membantu kami." Ki Sudarsono langsung gembira setelah mendengar perkataan Arga. Tetapi kegembiraannya tidak berlangsung lama, Ki Sudarsono langsung kembali menunduk.


"Maaf Nak Arga dan Nak Nila, sebaiknya urungkan saja niat kalian. Tidak apa-apa, aku tidak mau membiarkan kalian dalam bahaya. Ketiga orang itu sangat kuat dan berilmu tinggi." Ki Sudarsono kembali murung dan bersedih. Sebenarnya dia sangat menginginkan Arga dan Nilawati membantu Desa nya, tetapi dia juga tidak mau menempatkan Arga dan Nilawati dalam masalah.


Tapi Ki Sudarsono kembali bersemangat setelah Nilawati berkata, "Tidak usah khawatirkan kami Ki, kami akan melenyapkan 3 Setan dari Gua Sangkar itu."


"Sebaiknya Ki Sudarsono mengantarkan kami bertemu dengan Kepala Desa kalian." Arga berdiri dan kembali ke kudanya.


"Baik nak Arga, tapi sebaiknya kalian menginap dulu di rumah saya. Besok kita ke rumah Kepala Desa." Arga dan Nilawati setuju, karena memang hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi matahari akan tenggelam diganti dengan bulan.


Rumah Ki Sudarsono sangatlah sederhana, pondasinya batu dan dindingnya menggunakan papan serta atapnya sebagian menggunakan genteng dan sebagian lagi menggunakan rumbia.

__ADS_1


Seorang perempuan tua sedang duduk di depan pintu rumahnya. Saat dia mendengar ada suara langkah kaki, dia langsung melirik ke arah itu.


"Oh bapak toh, ibu kira siapa!?" Perempuan tua itu kemudian melihat ke arah Arga dan Nilawati, "Mereka berdua sopo toh pak?".


"Ini buk, mereka tamu bapak, katanya mereka ingin membantu Desa kita dan membebaskan Seruni serta anak Kepala Desa.


"Ini Arga dan perempuan disebelahnya Nilawati. Mereka sepasang pendekar." Ki Sudarsono memperkenalkan diri Arga dan Nilawati.


"Nak Arga, Nak Nila, iki istri bapak namanya Siem."


"Salam Nyi..." Arga dan Nilawati memberi salam kepada istri Ki Sudarsono, Nyi Siem.


"Tidak perlu sungkan Nak Arga, Nak Nila. Mari masuk..." Nyi Siem mengajak Arga dan Nilawati masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf toh Nak, rumah kami kecil, semoga kalian betah." Sambung Nyi Siem sambil tersenyum pahit ke arah Arga dan Nilawati.


"Tidak apa-apa Nyi, kami berterima kasih, Ki Sudarsono dan Nyi Siem mau memberikan tempat untuk kami beristirahat." Nilawati menjawab dan tersenyum lebar untuk menyenangkan hati Nyi Siem.


"Yo wes, sekalian saja kita langsung makan, soalnya Nyai sudah masak tadi."


Arga dan Nilawati mengangguk, mereka menerima ajakan dari Nyi Siem. Nilawati membantu Nyi Siem menghidangkan makanan, sedangkan Arga dan Ki Sudarsono sudah duduk untuk bersiap makan.


"Hem, wanginya enak sekali Nyi." Arga memuji masakan Nyi Siem.


"Istriku memang pintar masak Nak Arga. Masakannya tidak kalah sama di warung, bahkan lebih enak." Ki Sudarsono menggoda Nyi Siem.

__ADS_1


Akhirnya mereka berempat makan dengan lahap, terutama Arga dan Nilawati. Memang benar apa yang dikatakan Ki Sudarsono, masakan Nyi Siem sangatlah enak.


Setelah selesai makan, Arga dan Ki Sudarsono memutuskan untuk bercerita, sedangkan Nilawati belajar memasak dari Nyi Siem.


__ADS_2