Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga& Nilawati VS Raja&Ratu Siluman Kerbau


__ADS_3

Tengah hari sekali, terik matahari sangat menyilaukan mata dan sinarnya membakar kulit. Terlihat dua orang muda-mudi sedang berjalan beriringan dengan santainya.


Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, saat keduanya akan memasuki sebuah Desa, tiba-tiba terlihat warga yang berlarian ke arahnya.


Semua warga membawa barang-barangnya, berlalu lalang seperti tak menghiraukan keberadaan muda-mudi itu. Ya muda-mudi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arga dan Nilawati.


Keduanya ingin beristirahat di Desa itu, tetapi setelah melihat warga berlarian meninggalkan Desa itu, mereka mengurungkan niatnya.


Karena penasaran, Arga menghentikan salah satu warga yang lewat dari hadapan mereka.


"Tunggu Ki!" Arga menghentikan seorang pria tua yang usianya sekitar 60 tahunan. Pria tua itu menghentikan langkahnya, wajahnya terlihat pucat dan takut.


"Apa yang terjadi disini Ki?" Arga melanjutkan pertanyaannya dan menaikkan sedikit alisnya.


"Anu... Itu... Den, ada... Ada 2 orang tua aneh yang mengobrak abrik Desa. Keduanya seperti siluman, siluman itu berwujud seperti kerbau, bertanduk panjang dan matanya berwarna merah serta memiliki taring yang panjang." Jawab Kakek tua itu dengan ketakutan dan terbata-bata. Saat ia hendak lanjut berkata, tiba-tiba ada suara keras yang terdengar.


"Gwahahaha... Gwahahaha... Jangan kabur, kalian akan ku jadikan santapanku." Ternyata suara itu berasal dari dua siluman yang disebutkan oleh Kakek tua itu.


Kakek tua itu langsung ketakutan dan berkata, "Maaf Den, saya harus pergi. Sebaiknya kalian ikut kami jika belum mau mati." Kakek tua itu langsung berlari dengan cepat.


Arga dan Nilawati hanya tersenyum dan menatap ke arah kedua siluman itu, lalu Arga membuka suaranya, "Berhenti!!!" Suaranya pelan tapi dialiri dengan tenaga dalam yang membuat suaranya terdengar di seluruh penjuru.


Kedua siluman itu berhenti tertawa, dia kemudian menatap ke arah Arga dan Nilawati. Keduanya terkejut, saat melihat Arga mengeluarkan cahaya berwarna hijau di seluruh tubuhnya.


"Suamiku, lihat pemuda disana, dia mengeluarkan cahaya berwarna hijau di seluruh tubuhnya." Dia menunjuk ke arah Arga berada.

__ADS_1


"Hem, kau benar! Berarti dia memiliki Ajian Gineng. Apakah itu orang yang sama dengan orang yang membunuh anak kita?" Tanya siluman pria itu dan dijawab dengan gelengan dari siluman wanita.


Ketika Arga dan Nilawati sudah melihat kedua siluman itu berhenti, Arga membuka suaranya lagi, "Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian melakukan semua ini?" Arga menaikkan alisnya dan mengajak Nilawati untuk maju. Kali ini jarak antara Arga dan Nilawati dengan kedua siluman itu hanya sekitar sepuluh meter saja.


"Hmph, apa urusanmu pendekar muda?" Siluman laki-laki itu membuka suaranya, disusul dengan senyuman sinis kepada Arga dan Nilawati.


"Apakah kau yang membunuh anak kami, Setan Kojer? Aku melihat kau memiliki ilmu Ajian Gineng! Anak buah kami berkata bahwa anak kami dibunuh oleh pendekar muda yang memiliki Ajian itu." Kali ini siluman wanita yang membuka suaranya.


"Oh, ternyata kalian orang tua dari Setan Kojer? Ya, aku yang membunuhnya, karena dia telah menyalahi aturan kehidupan dan mengganggu bangsa Manusia." Arga bersikap tenang dan tersenyum tipis kepada kedua siluman Kerbau itu. Sebenarnya dia memang sudah menduga bahwa kedua siluman itu memiliki hubungan dengan Setan Kojer, karena dia melihat kemiripan dari kedua Siluman tua itu dengan Setan Kojer.


"Kurang ajar!!! Kau manusia harus mati di tanganku!" Ucap siluman yang laki-laki, "Kau membunuh pangeran Kerajaan Siluman Kerbau!!!" Sambungnya.


Kedua siluman itu bernama Segunda dan Segundi. Keduanya adalah sepasang suami istri sekaligus Raja dan Ratu kerajaan Siluman Kerbau.


Keduanya sangat marah dan emosi saat mendengar pengakuan dari Arga.


Nilawati yang sejak tadi diam, mengangguk saat mendengar perkataan Arga itu. Arga dan Nilawati sudah bersiap menyambut serangan dari kedua Siluman Kerbau itu.


Dugaan Arga sangat tepat, setelah berkata tadi, kedua Siluman Kerbau itu langsung maju menyerang Arga dan Nilawati. Siluman laki-laki menyerang Arga sedangkan Siluman wanita menyerang Nilawati.


Tapak Arga dan tapak Siluman Kerbau itu bertemu, suara-suara keras terdengar dan ledakan-ledakan kecil tercipta dari keduanya.


Arga sudah mengeluarkan Ajian Ginengnya.


Sementara itu pertarungan antara Nilawati dan Siluman Kerbau wanita itu juga sangat dahsyat. Saat tapak keduanya bertemu juga menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil.

__ADS_1


Setelah bertukar beberapa jurus, Siluman laki-laki dan Arga sama-sama memundurkan langkahnya. Keduanya berhenti sejenak dan saling menatap satu sama lain.


"Luar biasa! Manusia yang luar biasa!" Batin Siluman laki-laki sambil menatap tajam ke arah Arga.


Sementara itu Arga juga berkata dalam hatinya, "Luar biasa! Dia memang pantas menyandang status Raja. Tenaga dalam dan ilmunya sangat tinggi."


Di sisi lain, Nilawati dan Siluman Kerbau wanita terus bertukar serangan. Serangan-serangan keduanya berimbang dan sangat sengit.


Tapi tak begitu lama, Nilawati berhasil mendaratkan satu pukulannya kepada Siluman Kerbau wanita itu. Kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal jika pertarungan berimbang.


Setelah berpikir dan saling menatap untuk menebak-nebak kekuatan lawan masing-masing. Arga dan Siluman Kerbau laki-laki itu kembali saling serang.


Tapak keduanya bertemu dan kembali menciptakan suara yang keras dan ledakan-ledakan kecil. Tetapi kali ini serangan keduanya bertambah cepat dan lincah. Tetapi gerakan Arga setingkat lebih cepat daripada siluman laki-laki itu karena dia menggunakan Ajian Gineng.


Hal itu terlihat tak begitu lama, Arga sudah berhasil membuat siluman laki-laki itu terpojok dan mendaratkan satu pukulannya ke arah dadanya. Siluman laki-laki itu terpental ke belakang, darah segar keluar dari bibirnya.


"Manusia kurang ajar!" Teriak siluman laki-laki.


Arga hanya tersenyum menanggapi teriakan siluman laki-laki itu. Kali ini dia bergerak duluan menyerang siluman laki-laki.


Gerakan siluman laki-laki itu melambat daripada sebelumnya karena ilmu yang Arga gunakan dan juga dadanya terasa sangat sangat sakit karena pukulan Arga sebelumnya.


Mamang walaupun Arga hanya menggunakan pukulan saja, tetapi dia mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar.


Sekitar se jam kemudian, siluman tua itu sudah babak belur karena serangan Arga. Luka-luka sudah terdapat di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Saat ini siluman laki-laki itu sudah terduduk di tanah. Wajahnya pucat dan terlihat ketakutan. Di matanya sekarang, Arga adalah malaikat maut yang sebentar lagi akan mengambil nyawanya.


Saat Arga hendak mendaratkan satu pukulan terakhirnya, tiba-tiba terdengar suara, "Tunggu pendekar!!!" Arga melihat ke arah suara itu, ternyata berasal dari siluman wanita.


__ADS_2