
Tiga hari, Arga dan Nilawati terus berjalan, hanya berhenti untuk makan dengan mencari buah-buahan dan hewan-hewan yang ada di dalam hutan. Memang keduanya tidak menemukan Desa ataupun Kadipaten selama tiga hari ini.
Sepanjang perjalanan itu juga, Arga berlatih Ajian Serat Jiwa, selama tiga hari ini dia sudah menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat kedua dengan sempurna dan telah memasuki tingkat ketiga awal. Memang kecepatannya dalam berlatih patut diacungi jempol.
Nilawati sendiri tidak bermalas-malasan, dia juga sering melatih jurus-jurus yang belum ia kuasai dengan sempurna.
Terkadang saat keduanya sedang beristirahat, Nilawati pura-pura ingin mencari sesuatu di hutan dan menyuruh Arga untuk menunggunya.
Seperti sekarang ini, Nilawati sedang membujuk Arga untuk beristirahat, "Arga sebaiknya kita istirahat dulu, aku capek ingin mencari sesuatu disini." Begitu katanya sambil tersenyum kepada Arga, lalu pergi meninggalkannya.
Arga hanya membalas dengan tersenyum, kemudian Arga duduk di bawah sebuah pohon rindang.
Nilawati sendiri bukannya mencari sesuatu, tetapi menggunakan Ajian Malik Rupo dan berubah menjadi seorang perempuan.
"Tolong, tolong..." Nilawati yang sudah berganti wajah berlari ke arah Arga dan meminta bantuannya.
"Ada apa Ni?" Arga langsung berdiri dan menenangkan gadis itu. Sebenarnya dia tahu itu adalah Nilawati, tetapi Arga selalu pura-pura tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa itu adalah Nilawati, karena Arga ingin membuat gadis itu bahagia.
"Itu... Itu ada Harimau, Tuan. Tolong saya!" Nilawati yang sudah berganti wajah itu memegang tangan Arga dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang leher Arga. Seakan-akan gadis itu ingin menggoda Arga.
Karena Arga tahu bahwa gadis itu adalah Nilawati, dia berpura-pura meladeni permainannya. Arga juga memegang tangan Nilawati dan juga memegangi punggungnya.
"Tenang Ni, tenang saja, aku akan menolongmu." Arga tersenyum genit kepada gadis itu.
"Oh iya, siapakah nama Nisanak?" Arga kemudian pura-pura menanyakan identitas gadis itu agar Nilawati tidak curiga bahwa dia mengetahui permainan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Nama... Nama saya Putri, Tuan." Nilawati menjawab pertanyaan Arga.
__ADS_1
"Hem, dasar laki-laki! Setiap kali aku berubah seperti ini pasti dia akan melakukan hal ini. Apakah dia memang seperti ini sebenarnya." Nilawati membatin, setiap kali dia melakukan aksinya ini, dia sering berpikir-pikir bahwa kelakuan Arga memang seperti ini.
"Oh baiklah Putri, tenang Kakang akan menyelamatkanmu, tidak akan ada yang menyakitimu selama Kakang ada disini." Begitu Arga menanggapi gadis itu sambil tersenyum menggoda.
"Hahaha, rasain kamu ya. Siapa suruh pura-pura begini. Aku akan mengikuti permainanmu." Batin Arga sambil terus tersenyum.
Sementara itu, Nilawati berkata dalam hatinya, "Hem, dasar laki-laki ya, tunggu saja akan ku pukul kau nanti."
"Ah Tuan, Putri jadi lebih tenang. Putri percaya sama Tuan." Jawab Nilawati sambil tersenyum, padahal di dalam hatinya sedang marah besar.
"Jangan panggil Tuan, panggilan itu terlalu kaku. Panggil Kakang saja atau panggil sayang juga bisa." Arga terus menunjukkan senyuman yang sangat menggoda.
"Oh iya Putri, kemana Harimau nya, kenapa sampai sekarang belum kelihatan?" Arga bertanya seolah-olah dia kebingungan.
"Hem, mungkin saja telah pergi setelah melihat Tuan." Nilawati menjawab sedemikian rupa. Dia memasang wajah yang tersenyum.
"Baiklah, Tuan. Karena Harimau nya sudah pergi, aku pamit dulu ya. Jangan lupa cari aku." Nilawati yang menjadi Putri itu meninggalkan Arga, tetapi sebelum meninggalkan Arga, dia mendaratkan satu ciuman di pipi pemuda itu.
Setelah punggung wanita itu tidak lagi kelihatan, Arga langsung tertawa terbahak-bahak saat mengingat betapa pandainya dia mengikuti permainan Nilawati.
Tidak lama kemudian Nilawati kembali dengan membawa buah-buahan, dia mencarinya setelah meninggalkan Arga.
"Hem, kenapa kau tersenyum seperti itu? Kelihatannya kau senang sekali." Nilawati mengangkat alisnya, dia masih berpura-pura sedemikian rupa.
"Tidak... Tidak ada apa-apa." Jawab Arga.
"Tidak ada apa-apanya? Aku melihat kau tadi bersama seorang perempuan, mesrah lagi. Dan sebelum dia pergi, dia malah mencium mu. Kau keterlaluan." Begitulah perkataan Nilawati yang ini memojokkan Arga dan mencari kesalahannya, agar Nilawati bisa memukul Arga dan melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1
Benar saja, setelah berkata demikian, Nilawati langsung mendaratkan satu pukulan ke perut pemuda itu.
"Uhuk... Uhuk... Nila. Kau tega sekali kepadaku." Arga memegangi perutnya sambil terlihat kesakitan yang sebenarnya tidak. Pukulan itu hanya seperti pukulan dari angin biasa yang mengenai perutnya, karena tubuhya sudah sangat kuat dan keras setelah berhasil menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat kedua dengan sempurna. Tetapi Arga pura-pura begitu karena ingin menyenangkan kekasihnya itu. Arga sangat senang melihat wajah Nilawati saat marah.
"Itu belum seberapa! Siapa suruh kau bermain-main dengan perempuan lain saat aku sedang pergi." Balas Nilawati sambil mendaratkan pukulan keduanya yang sama di bagian perut Arga.
"Uhuk... Uhuk... Nila, bukankah gadis itu adalah kau?" Arga tersenyum lebar penuh arti kepada Nilawati.
"Bisa-bisanya ya kau mengatakan wanita itu adalah aku. Apakah kau buta? Kau tidak melihat wanita itu jauh dari mirip denganku!" Nilawati mengangkat alisnya dan mengangkat tangan kanannya untuk menambah sandiwaranya itu lebih sempurna.
"Nila sayang, bukankah kau menggunakan Ajian Malik Rupo." Kali ini Arga memeluk Nilawati dan mencium pipinya.
Nilawati menjadi terkejut dan terheran-heran, bagaimana kekasihnya itu tahu bahwa wanita tadi adalah dia. Begitulah pikirnya.
"Darimana kau tahu itu. Apakah kau mengikuti aku saat aku pergi?" Akhirnya Nilawati mengaku juga, karena percuma dia ingin berbohong lagi, tidak akan bisa membohongi Arga pikirnya.
"Ah, sebenarnya aku sudah tahu kalau itu kau dari pertama kali ada wanita yang bertemu denganku beberapa hari yang lalu. Saat pertama kali kau menggunakan Ajian Malik Rupo itu." Balas Arga sambil terus memeluk Nilawati.
"Jadi, kau sudah mengetahuinya dari awal?" Nilawati kembali terkejut, bukankah Ajian Malik Rupo sangat sulit untuk dikenali, begitulah pikirnya.
Tapi setelah Nilawati pikir-pikir lagi, bukankah kekasihnya itu adalah manusia yang spesial, manusia yang luar biasa.
"Tentu saja dari awal. Makanya aku bersikap seperti itu. Aku ingin membuatmu senang, agar kau berpikir aku tidak mengetahuinya dan aku masuk dalam permainanmu. Selain itu, aku senang melihat wajahmu saat marah, kau sangat terlihat cantik."
"Hahaha..." Arga tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Lalu Arga kembali berkata, "Kalau itu bukan kau. Aku tidak akan pernah bersikap seperti itu. Yakinlah kepadaku, aku tidak akan pernah mengkhianati cinta dan kepercayaanmu kepadaku." Arga berkata dengan serius sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku percaya kepadamu Arga. Sebab itulah aku sangat mencintaimu. Terima kasih!" Jawab Nilawati sambil tersenyum lebar.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka.