Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Jurus Pemikat Hati


__ADS_3

Penderitaan Pandan Wangi ternyata tidak hanya sampai disitu. Setelah keperawanannya diambil, dia dibawa ke dekat sebuah jurang yang bernama Jurang Kematian. Dalam keadaan terikat, dia hanya bisa pasrah akan nasibnya.


"Satu... Dua... " Ucap dua orang pria sambil mengayun-ayunkan tubuhnya sedangkan yang lainnya tertawa terbahak-bahak dan pada hitungan ketiga, tubuhnya dilempar ke dalam Jurang Kematian itu.


Pandan Wangi memejamkan matanya, dia pasrahkan dirinya. Tetapi saat dia berpikir dia akan mati, tiba-tiba ada sosok wanita yang tidak dikenalnya, wanita itu terbang dan menangkap tubuhnya sebelum menyentuh dasar jurang. Lalu sosok wanita itu membawanya ke sebuah gubuk kecil yang ada di dasar Jurang Kematian.


Wanita itu melepaskan ikatannya dan berkata, "Sungguh malang nasibmu ndok." Pandan Wangi baru bisa melihat wajah wanita itu sepenuhnya. Dia berusia sekitar 40 tahunan, tetapi wajahnya masih cantik dan anggun. Kulitnya putih dan rambutnya menjuntai sampai ke pinggang. Pakaian serba biru dan dipunggungnya tersarung sebuah pedang.


"Luar biasa, cantik sekali." Pikir Pandan Wangi.


"Siapakah namamu?" Sambung wanita itu.


Pandan Wangi tersadar dari pikirannya dan segera membungkukkan badannya memberi hormat dan berterima kasih kepada wanita itu.


"Namaku Pandan Wangi, Nyi." Jawab Pandan Wangi, "Kalau boleh tahu, siapakah Nisanak sebenarnya? Bagaimana Nisanak bisa tinggal disini?" Pandan Wangi memberanikan dirinya untuk bertanya demikian.


"Namaku, Semidang Rindu." Jawabnya, "Aku sudah sepuluh tahun tinggal disini, setelah aku mengalami nasib yang sama sepertimu." Sambungnya.


"Sepertiku!?" Pandan Wangi menaikkan alisnya, "Berarti Nyi Semidang Rindu juga pernah diperkosa seperti saya? Dan dilemparkan ke dalam Jurang ini?" Pandan Wangi tidak bisa menyembunyikan penasarannya.


"Ya, kau benar." Balas singkat Semidang Rindu.


"Lalu, bagaimana dengan para pelakunya? Apakah Nyi Semidang membalas dendam kepada mereka?" Lagi-lagi Pandan Wangi tidak bisa berhenti bertanya, dia sangat penasaran dengan Semidang Rindu.


"Ya, aku membunuh mereka semua. Kalau kau ingin membalas dendam kepada mereka, aku bisa menjadi gurumu dan mengajarkanmu Jurus Pemikat Hati." Jawab Semidang Rindu.


"Jurus Pemikat Hati?" Tanya Pandan Wangi lagi.


"Ya, sesuai dengan namanya. Jurus itu dapat memikat hati pria dan menuruti semua kata-katamu. Dengan itu kau tidak usah susah payah bertarung dengan mereka, kau cukup mengedipkan matamu saja, maka mereka akan berada dalam kendalimu." Jelas Semidang Rindu.

__ADS_1


Pandan Wangi terlihat berpikir sebentar, sebelum berkata, "Aku... Aku bersedia Nyi." Jawabnya, Pandan Wangi bersujud tiga kali menandakan dia mengakui Semidang Rindu adalah gurunya, "Terimalah hormat saya, guru." Ucapnya.


"Baiklah, aku terima Ndok. Berdirilah, besok kita akan memulai latihannya." Semidang Rindu berjalan keluar gubuk meninggalkan Pandan Wangi sendirian. Dia tersenyum menakutkan dan menyeramkan. Entah apa yang dipikirkannya hanya dia yang tahu itu.


"Awas saja kalian, akan kubunuh!" Tangan Pandan Wangi terkepal dan matanya memancarkan sorotan membunuh. Sejak saat itu Pandan Wangi dan Semidang Rindu resmi menjadi murid dan guru.


Hari demi hari Pandan Wangi berlatih Jurus Pemikat Hati dengan dibaluti rasa benci dan dendam. Pada akhirnya setelah selama sebulan lamanya, dia berhasil juga menguasai Jurus itu.


"Hormat Guru." Pandan Wangi membungkukkan badannya.


Semidang Rindu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya menerima penghormatan dari Pandan Wangi.


Keesokan harinya, Pandan Wangi mulai melakukan aksi yang telah lama dia tunggu. Pandan Wangi terbang keluar dari Jurang Kematian dan mulai mencari tahu keberadaan orang-orang yang telah memperkosanya beberapa waktu lalu.


Setelah dia mencari beberapa hari, akhirnya dia mengetahuinya, ternyata mereka adalah warga dari Desa Telogosari. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Pandan Wangi mendatangi rumah mereka satu persatu.


Pandan Wangi juga mencari tahu nama mereka masing-masing dan akhirnya dia mengetahuinya.


"Jono, bangun Jono aku memanggilmu." Suara Pandan Wangi masuk ke telinga Jono dan memasuki alam tidurnya.


Seketika itu juga Jono bangkit dari tidurnya dan mengikuti arah suara itu dengan mata yang tertutup.


Tak lama kemudian, Jono sudah berada dihadapan Pandan Wangi. Pandan Wangi menjentikkan jarinya seketika itu juga Jono membuka matanya. Saat dia melihat Pandan Wangi, "Ka..." Tidak sempat Jono menyelesaikan kata-katanya, Pandan Wangi sudah mengedipkan matanya.


Kemudian Pandan Wangi membawanya ke tepi sungai Telogosari dan membunuhnya disana. Hal itu dilakukannya juga kepada empat orang yang lainnya.


Tetapi entah mengapa, setelah dia berhasil membunuh semua orang yang memperkosanya, hati dan jiwanya terus ingin melakukan hal itu. Dia tidak bisa menghentikannya. Maka dari itu dia terus menggangu warga Telogosari dan membunuhnya.


Setelah cerita Pandan Wangi selesai, Sekar Wangi langsung memeluknya, "Kakak, maafkan Sekar yang tidak bisa menolong Kakak. Pasti perasaan Kakak sangat hancur." Sekar Wangi terasa sakit di dadanya setelah mendengar cerita dari kakak kandungnya itu.

__ADS_1


"Ayo kembali ke perguruan, Kakak. Hentikan semua ini, aku akan membantumu berbicara kepada guru." Sekar Wangi melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Sekar Wangi.


Saat Pandan Wangi ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba datang seorang wanita yang tidak lain ada Semidang Rindu


"Apa yang kau katakan gadis kecil, Pandan Wangi tidak akan kemana-mana, dia akan tetap bersamaku dan melakukan hal seperti ini terus-menerus." Serunya kepada Sekar Wangi.


"Tidak... Aku akan membawa Kakakku." Balas Sekar Wangi.


"Bocah kurang ajar..." Semidang Rindu langsung menyerang Sekar Wangi sedangkan Pandan Wangi masih mematung dan tidak bergerak dari tempatnya.


Ilmu kanuragan Semidang Rindu sangat tinggi, Sekar Wangi bukanlah tandingannya. Terbukti, tidak butuh waktu lama untuk Semidang Rindu berhasil memojokkan Sekar Wangi dan mendaratkan beberapa pukulan kepadanya.


Disaat Semidang Rindu ingin melepaskan pukulan terakhirnya dan membunuh Sekar Wangi, tiba-tiba ada dua orang bergerak menuju kearahnya dan menghadangnya. Kedua orang itu adalah Arga dan Nilawati.


*****


Arga dan Nilawati sudah memperhatikan Sekar Wangi dan Pandan Wangi dari awal pertemuan keduanya.


Arga dan Nilawati bersembunyi diatas sebuah pohon dan mendengarkan percakapan mereka.


"Ternyata mereka berdua adalah adik dan kakak, Arga." Nilawati melirik ke arah Arga dan Arga menjawab, "Iya Nila, gadis yang bernama Pandan Wangi itu, kasihan sekali dia sepertinya dia juga terkena semacam ilmu sihir." Arga dapat melihat ada pancaran aneh berwarna putih di kepala bagian ubun-ubun Pandan Wangi.


Nilawati tidak mengetahui hal itu dan terlihat kebingungan dengan perkataan Arga. Disaat Nilawati hendak membuka mulutnya, tiba-tiba mereka melihat kedatangan satu orang wanita lagi.


"Itu dia Nila, dia orangnya." Arga menunjuk ke arah sosok wanita yang baru tiba.


"Maksudmu?" Nilawati menaikkan alisnya.


"Maksudku, wanita itu yang memberikan sihir kepada wanita yang bernama Pandan Wangi itu." Jelas Arga.

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Nilawati, "Kita pelajari dulu situasinya. Jika memang mendesak, kita akan turun tangan membantu wanita bernama Sekar Wangi itu." Jawab Arga.


Akhirnya mereka berdua menyaksikan pertarungan antara Sekar Wangi dan Semidang Rindu, saat Semidang Rindu hendak melakukan serangan terakhir kepada Sekar Wangi, Arga berkata kepada Nilawati, "Sekarang, Nila." Keduanya langsung melompat dan terbang menghadang Semidang Rindu.


__ADS_2