
Perjalanan Arga dan Nilawati bisa di bilang mulus, tidak ada gangguan sedikitpun di dalam perjalanan. Setelah sekitar tiga hari berjalan tanpa henti akhirnya mereka sampai di gerbang perbatasan wilayah kerajaan Kalingga.
Keduanya kembali memacuh kuda, kali ini mereka memacuh kuda agak sedikit lambat daripada biasanya.
Keduanya bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang memikul kayu diatas pundaknya. Keduanya menghentikan kuda mereka untuk bertanya kepada kakek tua itu.
"Maaf Kakek, apakah Desa masih jauh dari sekitar sini?" Arga turun dari kudanya dan bertanya sambil tersenyum tipis ke arah kakek tua itu.
Sang kakek tua menghentikan langkahnya, dia berbalik menghadap ke arah Arga dan Nilawati berada.
"Oh kalian pengembara toh, Desa disekitar sini ada di depan sana, saya juga berasal dari sana." Kakek tua itu menunjuk ke arah jalan yang akan menuju ke Desa.
"Ah baiklah kek, terima kasih atas bantuannya." Arga dan Nilawati memberi hormat kepada kakek tua itu.
Setelah beberapa saat menunggangi kuda, akhirnya Arga dan Nilawati sampai di pintu masuk Desa. Keduanya melihat nama yang ada di atas pintu masuk Desa dan mengetahui nama Desa itu adalah Desa Mojosari.
Keduanya masuk dan berhenti di salah satu warung makan. Keduanya ingin mengisi perut yang sudah cukup lama tidak diisi.
Arga dan Nilawati menambatkan kudanya di sebuah pohon di depan warung makan itu.
Arga dan Nilawati sampai di depan warung, aroma makanan dan bau arak segera tercium dari hidung mereka.
"Ki..." Arga dan Nilawati duduk di sebuah meja yang disediakan untuk para tamu.
"Iya den, tunggu sebentar." Seorang pria paruh baya mendekati meja Arga dan Nilawati.
"Mau pesan apa Den." Sambung pria paruh baya itu sambil tersenyum lebar dengan sopan.
"Nasi putih, lauknya daging, ikan dan ayam, sertakan juga sayur-sayuran. Jangan lupa juga satu guci arak dan air putih, Ki."
"Baik Den, tunggu sebentar! Kami akan segera menghidangkannya."
Selama menunggu makanan dihidangkan, Arga dan Nilawati mendengar percakapan dari tiga orang pemuda yang duduk di meja disamping mereka.
__ADS_1
Isi dari percakapan mereka adalah sebuah sayembara yang diadakan pihak kerajaan Medang Kemulan. Sayembara itu dilakukan untuk menyembuhkan putri Anandita yaitu putri dari raja Sungsang Geni. Putri Anandita diyakini diganggu oleh sosok siluman yang sangat kuat.
Jika yang bisa menyembuhkan itu adalah pria maka hadiahnya akan dinikahkan dengan putri Anandita itu sendiri. Dan jika yang bisa menyembuhkan itu adalah perempuan maka akan dijadikan saudari dari putri Anandita.
Tentu saja ini menarik bagi orang-orang, siapa yang tidak mau menjadi menantu ataupun putri angkat dari seorang raja? Ya begitulah kehidupan di dunia ini, setiap orang akan melakukan apa saja untuk menjadi kuat, terhormat dan kaya.
"Bukkk..." Nilawati tiba-tiba memukul kepala Arga sambil mendengus kesal.
"Kenapa kau memukulku, Nila." Arga memegangi kepalanya dan bertanya kepada Nilawati alasan pemukulan itu.
"Oh kau masih bertanya!! Kau tertarikkan pada sayembara itu bukan?". Nilawati mengangkat kedua alisnya sambil terlihat wajah yang marah.
"Iya, sebetulnya..." Belum sempat Arga menyelesaikan kata-katanya, pukulan kedua kembali mendarat di tubuhnya, kali ini di pipi kanannya.
"Jadi, kau memang tertarik untuk menjadi suami dari putri yang bernama Anandita itu?" Nilawati menaikkan suaranya, orang-orang disekitar mereka hanya memandang keduanya dengan tatapan heran.
Saat Arga ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba pesanan mereka sampai. Pemilik warung itu langsung menghidangkannya di meja.
"Silahkan disantap Den dan Nini."
"Nila, ayo makan. Kita sudah beberapa hari tidak mengisi perut, pasti kamu lapar!?" Arga berusaha membujuk Nilawati, yang sebenarnya Arga juga tidak tahu apa alasan Nilawati bersikap seperti itu.
"Hem aku tidak lapar, perutku tiba-tiba kenyang." Nilawati memalingkan wajahnya, dia masih menahan emosinya.
Arga bangkit dari tempat duduknya, dia duduk disebelah Nilawati.
"Nila, aku ingin membantu putri Anandita itu karena kasihan dengannya. Kita juga tidak tahu siluman apa yang mengganggunya, jadi mungkin saja aku gagal membatunya. Dan jikapun berhasil aku tidak akan menerima hadiahnya. Aku hanya ingin membantunya saja." Arga menenangkan Nilawati dan mengelus rambutnya. Arga juga tidak lupa mencium gadis itu untuk membuatnya tenang.
"Arga!!!" Nilawati jadi salah tingkah karena Arga menciumnya. Wajahnya merah padam seperti tomat. Dia juga langsung memalingkan wajahnya dan memasang wajah malu.
"Baiklah, kita bantu dia. Tapi janji kau tidak akan menerima hadiahnya jika berhasil." Nilawati menjadi bersikap manja kepada Arga.
"Aku janji..." Arga mencolek hidung Nilawati dan kembali menciumnya.
__ADS_1
"Makan dulu, kau pasti lapar." Arga tersenyum pahit karena melihat sikap gadis dihadapannya itu. Dia menghela nafas lega karena bisa menenangkannya.
"Baiklah kalau begitu." Nilawati mengambil piring dan langsung mengambil nasi dan lauknya.
Nilawati makan dengan lahap, karena memang dia dan Arga sudah beberapa hari tidak makan.
"Nila, pelan-pelan! Tidak akan ada yang merebutnya darimu kok. Baik makananmu maupun aku." Arga menggoda Nilawati yang sedang makan dengan lahap.
Nilawati tersendak, sampai- sampai nasi yang ada di mulutnya keluar kembali saat mendengar perkataan Arga yang menggodanya itu, "Arga..." Nilawati memasang wajah yang malu lagi. Sikapnya itu menambah kecantikan dan keimutannya.
"Uhuk...uhuk..." Nilawati batuk, Arga langsung menuangkan secangkir air putih, "Kan sudah aku bilang makannya pelan-pelan." Arga memberikan air minum itu kepada Nilawati. Dia juga membersihkan nasi yang menempel di sekitar mulut Nilawati.
Nilawati hanya tersenyum kaku, perasaannya bergejolak dan jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya.
"Habiskan makanannya, lalu kita lanjutkan perjalanan." Arga menghentikan tangannya membersihkan nasi yang menempel di sekitar mulut Nilawati.
Nilawati mengangguk, kali ini dia sangat bersemangat dan berbahagia. Ini adalah saat yang paling romantis yang pernah Arga lakukan untuknya.
Senyum lebar terus menghiasi wajah Nilawati setelah selesai makan. Dia larut dalam pikirannya yang hanya dia sendiri yang tahu. Arga sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku gadis yang ada di sampingnya itu.
Keduanya mengambil kuda dan memberikan beberapa keping emas kepada penjaga kuda sebagai imbalannya.
"Den, ini sangat banyak, aku tidak punya kembaliannya. Lagipula biasanya aku diberi 2 keping perak saja untuk satu kuda." Penjaga kuda itu ragu menerima pemberian Arga. Dia adalah seorang pria sepuh yang terlihat berusia sekitar 70 tahunan.
"Tidak Ki, terima saja pemberianku itu. Kau lebih membutuhkannya daripada kami." Nilawati meyakinkan pria sepuh itu untuk menerima pemberian mereka.
"Oh iya Ki, arah ke kerajaan Medang Kemulan kemana ya?" Nilawati bertanya kepada penjaga kuda itu.
"Oh itu Nini dan Raden terus saja mengikuti jalan itu....." Penjaga kuda itu menjelaskan panjang lebar kepada Arga dan Nilawati.
Arga dan Nilawati mengangguk dan berterima kasih kepada penjaga kuda itu. Di sisi lain penjaga kuda juga berterima kasih atas pemberian Arga dan Nilawati.
"Terima kasih Ni, Den. Terima kasih." Pria sepuh itu tidak bisa menahan kegembiraannya setelah menghitung pemberian Arga dan Nilawati adalah 5 keping emas. Baginya itu sudah sangat berharga.
__ADS_1
Di sisi lain bagi Arga dan Nilawati itu jumlah yang kecil. Mereka masih banyak lagi simpanan dari hasil pemberian raja Jatmiko sebelumnya.
Akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan ke kerajaan Medang Kemulan.