
Lasmini terus memacuh kudanya, dia sudah berjalan selama 4 hari lebih tanpa henti. Sekarang dia sudah berada di kawasan kerajaan Kalingga.
Lasmini memutuskan untuk singgah di sebuah Desa untuk beristirahat, karena dia belum mengisi perutnya semenjak berpisah dengan Arga dan Nilawati.
Lasmini sampai di Desa Sukorojo, Desa itu adalah Desa yang kecil, terletak di dekat perbatasan kerajaan Kalingga dan kerajaan Medang Kemulan.
"Ki, saya pesan satu kamar, siapkan juga makanan dan arak untuk saya santap." Lasmini masuk dan memberikan 5 keping perak kepada Pemilik Penginapan untuk memesan satu kamar untuknya. Memang hari masih siang, tetapi dia juga butuh istirahat.
"Ni, ini kebanyakan. Silahkan ambil kembaliannya." Balas Pemilik Penginapan sambil memandangi Lasmini dengan kebingungan.
"Tidak apa-apa Ki, ambil saja kembaliannya. Aku tidak terlalu membutuhkannya." Lasmini menggelengkan kepalanya dan meminta Pemilik Penginapan untuk mengantarkannya ke kamar yang di pesannya.
Pemilik Penginapan mengangguk, dia menjadi lebih sopan lagi kepada Lasmini.
Saat Lasmini ingin masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan laki-laki dari luar penginapan. Suara itu terdengar seperti suara laki-laki yang sudah tua.
"Tolong... tolong ada perampok." Bunyi teriakan itu.
Lasmini langsung berlari keluar, dia melihat banyak warga sudah berkumpul mengerumuni laki-laki yang berteriak tadi. Dia mendekat dan berkata, "Apa yang terjadi Ki?" Tanya Lasmini kepada laki-laki tua yang berteriak itu.
"Perampok Ni, ada 5 orang perampok yang mengambil semua harta saya dan istri." Balasnya sambil sedih dan mengeluarkan air matanya.
Para warga yang menyaksikan hal itu merasakan ketakutan, mereka takut perampok itu akan kembali lagi dan mengambil harta mereka.
Tidak ada dari mereka yang berniat membantu, mereka pergi ke rumahnya masing-masing dan mengamankan harta benda mereka ke tempat yang lebih aman.
__ADS_1
"Kemana mereka pergi Ki, aku akan mencoba mengambilnya kembali." Lasmini memegang pundak pak tua itu.
"Mereka pergi kesana Ni." Pak tua itu menunjuk ke arah Barat Desa Sukorojo.
"Baiklah, aku akan mengejar mereka dan mengambil harta bapak kembali." Lasmini mengalihkan pandangannya ke depan, dia langsung bergegas terbang menyusul para perampok itu.
Tak lama kemudian dia melihat 5 orang yang sedang berjalan sambil tertawa-tawa. Dua di antara mereka memikul karung yang cukup besar. Lasmini menduga itu adalah harta pak tua yang berada di Desa tadi.
"Berhenti, serahkan harta itu kepadaku." Ucap Lasmini dingin, dia menatap ke arah kelima orang itu dengan tatapan yang ingin membunuh.
"Peduli apa kau. Ini bukan hakmu." Salah satu pria maju, dia berusia sekitar 40 tahunan dengan kumis panjang dan tebal.
"Ambil sendiri kalau kau bisa." Salah satu pria lagi maju dan mengangkat goloknya diarahkan kepada Lasmini.
"Baiklah, aku akan mengambilnya secara paksa, jika itu yang kalian inginkan." Lasmini maju dan menyerang kelima orang itu dengan selendangnya.
Tidak lama pertarungan itu berlangsung, Lasmini terpojok oleh serangan kelima orang itu. Dia terkena masing-masing satu pukulan dari kelima orang itu. Perampok itu juga menaburkan racun kepada Lasmini dan membuat pandangannya menjadi kabur dan tidak lama kemudian dia pingsan tidak sadarkan diri. Tetapi sebelum pingsan dia mendengar suara laki-laki yang menghentikan perampok itu.
"Berhenti," Ucap pria itu. Dia terlihat seperti berusia 25 tahun dan membawa sekitar 10 prajurit kerajaan Kalingga bersamanya.
Kelima perampok itu mengerutkan dahi, mereka menyadari pria itu adalah orang yang penting di kerajaan Kalingga, terlihat dari pakaiannya. Tetapi mereka tentu tidak akan menyerahkan begitu saja harta dan gadis yang sudah mereka dapatkan dengan susah payah.
"Cih..." Pria berkumis tebal yang merupakan pemimpin kelompok perampok itu meludah, "Enak saja, kau harus tahu ini bukan di kawasan istana. Kalau kami membunuhmu dan prajuritmu itu, tidak akan ada yang tahu siapa pelakunya." Jawab ketus pemimpin kelompok perampok itu dan tersenyum sinis kepada pemuda yang berasal dari kerajaan Kalingga itu. Jelas-jelas dia meremehkannya.
Pria itu juga menyadari bahwa dia berada jauh dari daerah istana, memang benar kalau dia terbunuh disana tidak akan ada yang tahu siapa pelakunya. Tetapi dia begitu murka karena dia diremehkan.
__ADS_1
"Kalau begitu kami akan mengambilnya secara paksa. Prajurit serang 4 orang anak buahnya, biar aku yang menghadapi orang besar kepala itu." Pemuda itu berteriak lantang, sambil menunjuk ke arah perampok-perampok itu.
Lima orang prajurit berhadapan dengan dua orang dari pihak perampok, sedangkan Pemuda itu maju menyerang pemimpinnya.
Gadis yang tidak lain adalah Lasmini dan harta yang perampok itu bawa sebelumnya sudah diletakkan di tanah. Mereka memang menyadari bahwa pertarungan tidak akan bisa di elakkan lagi.
Pertarungan pun terjadi dengan cukup sengit, tombak-tombak para prajurit berbenturan dengan golok-golok milik perampok itu. Suara keras terdengar dari hasil Benturan-benturan senjata mereka.
Di sisi lain, Pemuda itu menggunakan pedangnya untuk menghadapi Pemimpin perampok itu.
Tidak lama pertarungan terjadi, perampok-perampok itu sudah mulai terpojok akibat serangan pemuda itu dan prajuritnya.
Empat orang dari perampok itu memang sama seperti prajurit yang dibawa pemuda itu, mereka hanyalah manusia biasa yang belajar sedikit ilmu beladiri, tidak seperti pemuda dari kerajaan Kalingga itu ataupun pemimpin perampok yang mempunyai tenaga dalam dan ilmu kanuragan. Dalam waktu singkat, empat orang perampok tewas ditangan para prajurit.
Di sisi lain Pemuda dari kerajaan Kalingga itu berhadapan sangat sengit dengan pemimpin perampok, tetapi bisa dikatakan ilmu kanuragan dan tenaga dalamnya lebih tinggi daripada pemimpin perampok itu. Benar saja, akhirnya pemimpin perampok itu tewas di tangan pemuda itu dengan luka tusuk di dada dan kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Pemuda itu menghela nafas, dia lalu bergegas berlari ke arah Lasmini yang dibawa para perampok. Dia meminumkan ramuan obat yang didapatkannya dari kerajaan Kalingga kepada Lasmini.
"Uhuk... Uhuk..." Lasmini terbangun dan terbatuk-batuk, dia juga merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian dia memuntahkan darah berwarna hitam dari mulutnya.
"Pelan-pelan Nisanak, kau terkena racun." Tiba-tiba dia mendengar suara laki-laki berjalan ke arahnya. Dia mendongak dan melihat laki-laki itu sedang tersenyum kepadanya.
"Si... Siapa kau?" Lasmini bertanya sambil waspada, dia juga langsung mengingat bahwa dia tadi berhadapan dengan perampok dan dia berhasil dikalahkan. Lasmini langsung memeriksa pakaian dan tubuhnya, takut telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya. Tetapi setelah itu dia bernafas lega, karena kekhawatirannya tidak terjadi.
Pemuda itu hanya tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Lasmini, kemudian dia menjawabnya.
__ADS_1
"Perkenalkan, aku..."