Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Kekuatan Baru


__ADS_3

Saat ini Seta sedang duduk bersila di atas sebuah batu kecil yang ada di sekitar Gua, tetapi bagi Seta dia hanya melihat lapangan yang cukup luas. Ya, lapangan itu adalah tempat berdirinya Gua.


Seta memejamkan matanya, dia sudah dalam keadaan seperti itu seminggu lamanya. Dia sedang menunggu seseorang atau sesuatu keluar dari pagar gaib yang ingin dia buka sebelumnya karena dia yakin akan ada sesuatu yang keluar.


Dugaan Seta tidak meleset, saat terik matahari sudah berada diatas kepalanya. Tiba-tiba ada suara langkah kaki keluar dari pagar gaib itu. Seta membuka matanya, dia menjadi waspada karena melihat seorang pemuda yang keluar dari sana. Dia menyipitkan matanya dan setelah itu berkata, "Arga, Pendekar Pedang Tujuh Naga." Matanya melotot seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya, "Apakah dia yang membuat pagar gaib itu, kalau benar berarti ilmu kanurannya meningkat sangat pesat beberapa waktu ini." Seta membatin, dia tidak tenang, pikiran-pikiran buruk menghantuinya.


Setelah memperhatikan Arga beberapa waktu, Seta akhirnya memutuskan untuk menampak diri dihadapan Arga dan menghadangnya.


******


Arga meninggalkan gua secara perlahan-lahan. Dia waspada sepenuhnya, dan sudah bersiap-siap untuk bertarung. Benar saja, saat dia melangkahkan kaki pertamanya meninggalkan gua, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghadangnya. Ya, pemuda itu adalah Seta.


"Senang bertemu denganmu lagi, Pendekar Pedang Tujuh Naga." Begitulah kata pertama yang keluar dari mulut Seta , dia tersenyum lebar kepada Arga, tetapi senyuman itu adalah senyuman sinis, senyuman meremehkan, dan senyuman iri dengki.


"Aih... Ternyata dirimu yang sudah lama menungguku disini?" Arga sedikit terkejut, dia menaikkan alisnya karena tidak menyangka orang yang dikatakan oleh Brama Sakti adalah Seta.


"Aku tidak bisa berlama-lama, sebaiknya jika kau ingin bermain-main, kita mulai saja sekarang." Arga tidak ingin berbasa-basi terlalu jauh dengan Seta. Dia sudah memasang kuda-kudanya, karena dia sadar bahwa Seta akan mencari masalahnya dengannya.


Dugaan Arga memang tidak meleset sedikitpun, karena memang Seta sudah berjanji, dimana dia bertemu dengan Arga maka disitulah tempatnya akan bertarung. Memang Seta sampai sejauh ini masih penasaran dengan Arga walaupun setelah dikalahkannya beberapa waktu lalu, hal itu bukan menjadikan dia takut tetapi menjadikan Seta lebih penasaran lagi.

__ADS_1


Memang di dunia ini kebanyakan orang terus mencari hal yang baru, mencari tantangan baru dan berniat menaklukannya walaupun itu membahayakan nyawanya sendiri.


Bagi pendekar sendiri, bertarung sesama pendekar adalah hal yang sangat dinantikan apalagi bertarung dengan pendekar berilmu tinggi. Selain mendapatkan pelajaran baru juga bisa mendapatkan ketenaran bila bisa mengalahkan pendekar-pendekar yang terkenal. Tetapi hal itu tentu saja tidak mudah, selain bernyali, para pendekar memang sudah mempersiapkan nyawa mereka. Karena dalam dunia persilatan, semua pertarungan adalah hidup dan mati walaupun pertarungan persahabatan ataupun pertarungan bertukar petunjuk sekalipun. Karena kita tidak tahu pikiran dari orang, memang rambut sama putih tetapi hati siapa yang tahu?" Begitulah kira-kira pepatah yang tepat untuk menggambarkan hal itu.


Sebenarnya pertarungan antara murid dan guru saja harus saling waspada, terutama untuk guru, karena banyak murid yang menjadi besar kepala bahkan sampai membunuh gurunya sendiri setelah menguasai ilmu yang diturunkan terutama mereka dari aliran hitam.


Oleh karena itu, setiap orang pasti memiliki ilmu pamungkasnya yang tidak diturunkan kepada siapapun termasuk muridnya sendiri.


Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku di kalangan dunia persilatan, di kalangan manusia biasa tentu sama saja.


Seta memang juga tidak membuang-buang waktu lagi setelah dia mengetahui Arga tidak ingin berbincang lebih lama dengannya. Dia memasang kuda-kudanya setelah itu langsung melancarkan serangan-serangan kepada Arga.


Arga menyambut serangan Seta dengan tangan kosong, setiap kali tapak mereka bertemu maka akan terjadi ledakan di sekitar mereka dan gelombang kejut yang cukup besar.


"Hmph... Dia berlatih dengan keras beberapa waktu ini..." Gumam Arga di dalam hatinya.


Sementara itu, Seta mengangkat alisnya, dia sedang menenangkan dirinya. Karena walaupun tidak terlalu terlihat, sebenarnya dia terkejut sekaligus kagum dengan kecepatan peningkatan kekuatan Arga. Setelah bertukar beberapa serangan, dia dapat mengukur kekuatan Arga bertambah pesat. Bahkan kali ini tubuhnya lebih kuat dan keras daripada sebelumnya.


Memang setelah Arga menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat pertama, tenaga dalamnya bertambah sangat pesat sedangkan tubuhnya yang menjadi kuat dan keras adalah dampak dari mempelajari Ajian Serat Jiwa tingkat kedua. Walaupun baru setengah, tetapi Arga sudah merasakan hasilnya.

__ADS_1


Serangan demi serangan terus terjadi diantara kedua pemuda itu. Sampai akhirnya, "Bukkk..." Arga berhasil mendaratkan satu pukulannya ke dada Seta, hal itu membuat Seta terpental dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Ah..." Seta berteriak kesakitan, walaupun dia sudah mengeluarkan tenaga dalam yang cukup besar untuk menangkis pukulan Arga tetapi tetap saja dia merasakan kesakitan.


Sementara itu, Arga sedang berdecak kagum melihat perkembangannya. Dia tersenyum lebar, membayangkan bagaimana kekuatannya setelah menguasai Ajian Serat Jiwa sepenuhnya.


Seta yang melihat Arga tersenyum lebar menjadi murka, dia mengira Arga mengejeknya. Dia memukulkan tangannya ke tanah dan langsung berdiri lagi. Kali ini dia tidak menyerang Arga dengan tangan kosong saja. Seta mencabut pedangnya dan mulai melompat maju menyerang Arga.


Setelah melihat Seta menggunakan pedangnya, Arga tersenyum tipis, dia tidak ingin mengeluarkan pedangnya juga karena dia ingin menguji kekuatan tubuhnya.


Benar saja, pedang Seta bertemu dengan tangannya seketika itu juga tercipta gelombang kejut dan suara keras seperti pedang Seta bertemu dengan senjata Arga. Tulangnya menjadi sangat keras begitupun dengan kulitnya.


Seta tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bagaimanapun dia mempunyai perasaan, baik itu perasaan sedih, senang, maupun yang lainnya. Terlepas dia adalah orang yang jahat... eh sebenarnya bukan orangnya yang jahat, tetapi kelakuan dan pemikiran yang jahat.


"Kau... Bagaiman bisa kau meningkatkan kekuatan yang diluar nalar manusia. Kau... Kau bukan manusia." Seta tidak bisa tenang, dia sebenarnya sudah berlatih dengan giat, kekuatannya pun sudah bertambah banyak tetapi dibandingkan dengan Arga seperti satu berbanding sepuluh kecepatan peningkatan kekuatannya. Tentu saja Seta tidak bisa menerima hal itu.


Arga yang mendengar perkataan Seta, tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi hal itu.


Seta yang merasa diremehkan, kembali murka. Dia menyerang Arga dengan kekuatan penuhnya. Semua jurus dikeluarkannya tetapi tetap saja tidak bisa mengalahkan Arga.

__ADS_1


Di sisi lain, Arga sesekali menggunakan jurus Membelah Diri bahkan jurus Desendria. Hal itu membuat Seta sangat jauh dari kemenangan. Terbukti, setelah bertarung selama sekitar enam jam, akhirnya Arga bisa mengalahkan Seta dan membuat pemuda itu tidak sadarkan dirinya.


Arga tidak membunuh Seta, dia meninggalkan tempat itu dan kembali menemui Brama Sakti di dalam gua yang kali ini sudah berdiri bersama Nilawati dan Siluman Kera. Ketiganya memang sudah dari tadi menunggu Arga kembali, bahkan ketiganya menyaksikan pertarungan antara Arga dengan Seta melalui tangan Siluman Kera. Memang Siluman Kera bisa menggunakan sihir yang bisa mencari tahu keberadaan seseorang.


__ADS_2