Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Kerajaan Bulan Sabit


__ADS_3

Kabar munculnya dua pendekar yang memiliki kemampuan tinggi sudah tersebar luas di daerah pulau Dewata. Terutama ke telinga para perguruan yang ada di daerah itu. Selain itu juga, kabar tentang itu sudah terdengar di telinga Raja Mandolo, Raja Kerajaan Bulan Sabit yang merupakan salah satu kerajaan besar di pulau Dewata.


Mendengar kabar hal tersebut, Raja Mandolo mengadakan rapat tertutup dengan para petinggi-petinggi kerajaannya.


"Cari tahu siapa mereka? Cari tahu juga apa tujuan mereka datang kemari!" Raja Mandolo memerintahkan bawahannya untuk menggali informasi tentang kedua pemuda itu.


Hal itu dilakukan untuk menjaga nama baik Kerajaan Bulan Sabit di mata Kerajaan Samudra.


"Siap laksanakan paduka!" Jawab orang yang diberi perintah itu.


Setelah itu, rapat pun di tutup dan Raja Mandolo membubarkan para bawahannya. Dia sendiri memilih untuk menemui calon menantunya, pangeran Rendra dari kerajaan Samudra.


*****


Pangeran Rendra sedang beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh pihak kerajaan Bulan Sabit untuknya. Saat dia sedang bersantai dan menikmati buah-buahan yang disuguhkan. Tiba-tiba saja Tumenggung Aling menemuinya.


Kedatangan Tumenggung Aling itu bertujuan untuk memberitahukan berita yang sedang hangat dibicarakan di kerajaan Bulan Sabit. Yaitu munculnya dua orang Pendekar yang masih muda tetapi memiliki kemampuan tinggi.


Saat Tumenggung Aling mengatakan itu, pangeran Rendra tersenyum tipis, karena dia menduga dua pemuda yang dimaksud tidak lain adalah Arga dan Widura.


'Apa yang dilakukan Saudara Arga dan Saudara Widura sampai-sampai membuat berita besar seperti itu.' Gumam Pangeran Rendra dalam hatinya sambil tersenyum tipis.


Tetapi senyumannya segera menghilang saat Tumenggung Aling menyampaikan berita selanjutnya yang mengatakan bahwa Kerajaan Bulan Sabit sudah menugaskan beberapa orang untuk mencari keberadaan dua pemuda itu.


"Apa yang mereka inginkan?" Tanya pangeran Rendra, tidak ada lagi senyuman di bibirnya.


"Ku dengar mereka ingin menghukum dua pendekar itu karena mengacau di daerah kekuasaan kerajaan Bulan Sabit." Jawab Tumenggung Aling.


Mendengar hal itu, pangeran Rendra menjadi sedikit panik dan takut. Dia bukan takut jika pihak kerajaan Bulan Sabit ingin mencari dan menghukum dua pendekar itu.


Yang ditakutkannya adalah, jika benar dua pemuda itu adalah Arga dan Widura maka bukan hanya utusan yang di kirim kerajaan Bulan Sabit akan mati, tetapi bisa-bisa kerajaan Bulan Sabit musnah.


Tentu saja pangeran Rendra tidak menginginkannya. Bagaimanapun pujaan hatinya berada di kerajaan ini!

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, Pangeran Rendra memutuskan untuk menemui Raja Mandolo dan ingin mendiskusikannya lebih jauh.


Saat dia hendak melangkah, ternyatq ada dua orang prajurit yang mendatangi kamarnya.


"Maafkan kelancangan kami pangeran, tetapi Yang Mulia Raja meminta untuk bertemu dengan Anda di ruangannya." Dua orang prajurit itu menundukkan kepalanya tidak berani menatap pangeran Rendra dan Tumenggung Aling.


Mendengar Raja Mandolo memanggilnya, segera saja pangeran Rendra menyetujuinya. Memang itu yang akan dilakukannya.


"Terima kasih, kalian boleh pergi!" Titah pangeran Rendra. Setelah dua prajurit itu pergi pangeran Rendra mengalihkan pandangannya kepada Tumenggung Aling.


"Paman Aling, cari tahu lebih lanjut dua orang pemuda itu!" Setelah memberikan perintah demikian, Pangeran Rendra meninggalkan Tumenggung Aling.


*****


"Calon Ayah! Anda memanggilku?" Pangeran Rendra sudah berada di ruangan Raja Mandolo.


Raja Mandolo yang sedang berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya ke belakang dan menatap ke arah jendela mengalihkan pandangannya ke pangeran Rendra.


"Oh iya, maafkan aku yang tidak menyambut kedatanganmu dengan baik!" Sambungnya sambil berjalan ke arah pangeran Rendra dan menepuk pundak pemuda itu.


"Ayah mertua tidak perlu sungkan. Jangan seperti orang luar!" Balas pangeran Rendra sambil tersenyum tipis.


Keduanya memutuskan untuk berbincang-bincang sejenak sambil duduk dan minum teh.


Disaat itulah pangeran Rendra mulai membahas tentang kabar dua orang pemuda yang dikabarkan membuat kekacauan di wilayah kerajaan Bulan Sabit.


"Oh ternyata kabar tersebut sudah terdengar di telinga Nanda Rendra. Maafkan Ayah mertua ini yang membuat tidak nyaman Nanda Rendra dan yang lain!"


"Ayah mertua, jika aku boleh memberikan saran, maka tidak perlu mengutus orang untuk mencari kedua pemuda itu. Jika tebakanku benar, kedua orang itu bukanlah pemuda yang sanggup dihadapi!" Pangeran Rendra mengingatkan.


Mendengar hal itu, Raja Mandolo mengerutkan dahinya. Dia adalah orang yang cerdas, tentu memahami apa maksud perkataan pangeran Rendra. Tetapi yang menjadi Pertanyaannya adalah apa yang mendasari pangeran Rendra berbicara demikian.


Karena penasaran, Raja Mandolo menanyakannya.

__ADS_1


"Apa maksud Nanda Rendra. Apakah Nanda mengenal kedua Pendekar ini?" Alasan satu-satunya Pangeran Rendra berkata demikian, pastinya pangeran Rendra mengenal mereka.


"Ayah mertua, Nanda tidak mengetahui siapa mereka. Tetapi jika kedua orang itu adalah saudara angkat Nanda, sebaiknya kerajaan Bulan Sabit tidak membuat masalah dengan mereka." Balas pangeran Rendra.


Jawaban dari pangeran Rendra ternyata di salah artikan oleh Raja Mandolo. Raja Mandolo menganggap bahwa pangeran Rendra ingin melindungi kedua orang itu dan mengancam kerajaan Bulan Sabit.


"Nanda Rendra, walaupun kau putra dari Raja kerajaan Samudra sekalipun. Jikapun kedua orang ini adalah orang yang Nanda maksud. Ayah mertua tidak akan melepaskan mereka. Mereka membuat kekacauan di wilayah kerajaan Bulan Sabit, tentu saja mereka harus mendapatkan hukuman." Raut wajah Raja Mandolo menjadi sedikit memburuk.


Melihat hal tersebut, Pangeran Rendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menduga perkataannya akan di salah artikan.


"Ayah mertua, dengarkan aku. Aku bukan bermaksud melindungi dua orang itu. Justru aku melindungi kalian.


Jika keduanya adalah orang yang aku kenal. Maka Kerajaan Bulan Sabit akan mengalami kerugian." Pangeran Rendra mencoba menjelaskan baik-baik.


Dia juga menceritakan bahwa jika dua orang itu benar orang yang pangeran Rendra kenal. Maka kekuatan mereka bukanlah tandingan Kerajaan Bulan Sabit sekalipun.


Pangeran Rendra menjelaskan juga, bahwa orang yang dimaksud oleh pangeran Rendra bernama Arga dan Widura.


Pangeran Rendra menjelaskan bahwa Arga di juluki Pendekar Pedang Tujuh Naga di pulau Jawa. Seorang pemuda yang mampu meratakan pasukan aliansi kerajaan Jenggala dan sekutunya dengan mudah.


Sementara Widura, dia juga memiliki kemampuan tinggi dan terkenal di daerah kerajaan Samudra.


Menyinggung keduanya, tentu saja tidaklah keputusan yang bijak.


Pangeran Rendra juga mengatakan bahwa Arga dan Widura tidak akan bersikap sembarangan jika mereka tidak di usik.


Pangeran Rendra menyarankan untuk pihak kerajaan Bulan Sabit mencari tahu dulu apa motif kedua pemuda itu mengacau di wilayah kerajaan Bulan Sabit.


Setelah mendengar penjelasan pangeran Rendra, Raja Mandolo menjadi diam dan mengerutkan keningnya. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu.


'Jika benar kedua pemuda itu yang dimaksud Nanda Rendra. Kerajaan Bulan Sabit tidak bijak mengganggu mereka. Sebaiknya aku mengikuti saran Nanda Rendra saja.' Gumam Raja Mandolo di dalam hatinya.


Dia akhirnya mengangguk dan menyetujui saran Pangeran Rendra. Setelah itu, keduanya melanjutkan berbincang-bincang biasa.

__ADS_1


__ADS_2