Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Pendaftaran


__ADS_3

Di Kerajaan Kalingga terdapat salah satu perguruan besar aliran putih yang terkenal. Perguruan itu perguruan Elang Hitam.


Perguruan Elang Hitam adalah perguruan yang menggunakan Pedang sebagai senjatanya. Perguruan ini terkenal juga dengan jurus pedangnya, Jurus Pedang Elang Menari. Salah satu jurus pedang paling terkenal dan paling tinggi di dunia persilatan.


Jurus Pedang Elang Menari termasuk dalam tiga besar jurus pedang paling kuat yang diketahui di dunia persilatan. Dua jurus yang lainnya adalah Jurus Pedang Seribu Bayang yang dimiliki oleh ketua perguruan Pedang Sakti, yaitu perguruan menengah aliran putih dan Jurus Pedang Pencabut Nyawa yang dimiliki oleh Gading Koneng, seorang pendekar yang aliran hitam yang tidak memiliki perguruan.


Sedangkan Jurus Pedang Tujuh Naga yang dimiliki oleh Arga adalah jurus Pedang yang masih misterius di dunia persilatan. Orang-orang yang mengetahui cerita tentang Pedang Tujuh Naga sendiri hanya menganggap pedang itu adalah pedang legenda.


Tetapi beberapa waktu yang lalu, dunia persilatan digegerkan dengan sosok Arga yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga. Hal itu membuat para pendekar menyematkan bahwa Jurus Pedang Tujuh Naga adalah Jurus Pedang paling tinggi diantara jurus pedang yang ada.


Tetapi banyak juga Pendekar-pendekar yang menganggap hal itu berlebihan dan malah mengatakan bahwa Arga berbohong tentang pedang yang dimilikinya.


*****


Saat ini sedang berdiri seorang pria tua dihadapan dua orang pemuda yang sedang menekuk lututnya bersujud kepada pria tua itu. Pria tua itu adalah Dimitra, ketua perguruan Elang Hitam sekaligus orang yang menguasai Jurus Pedang Elang Menari.


Sedangkan dua pemuda yang sedang bersujud dihadapannya itu adalah dua orang murid utama dari perguruan itu.


Yang pertama adalah Sumitra, pemuda yang berusia dua puluh tiga tahun itu adalah cucu dari Dimitra. Rambutnya panjang sekitar sebahu dan terurai, matanya tajam seperti mata elang, alisnya tajam dan wajahnya terlihat gagah serta tampan. Tingginya sekitar 180 cm dan berotot. Terlihat sebuah pedang terpasang di pinggangnya.


Sedangkan pemuda yang disebelahnya adalah Priamitra, adik kandung dari Sumitra. Pemuda itu berusia delapan belas tahun dengan perawakan yang lebih kecil dari Sumitra tetapi mempunyai otot-otot yang hampir sama dengan Sumitra.


Tingginya sekitar 170 cm dengan dada bidang dan wajah yang sama tampannya dengan Sumitra. Sebuah pedang juga terpasang di pinggangnya.


Saat ini keduanya tengah bersujud untuk pamit pergi ke perguruan Bambu Kuning mengikuti Turnamen Pemuda Putih.


"Kakek, Sumitra dan adik Priamitra ingin pamit pergi ke perguruan Bambu Kuning. Doakan kami supaya bisa menunjukkan hasil yang maksimal di Turnamen itu." Sumitra angkat bicara.


"Sumitra, Priamitra, doa kakek selalu ada untuk kalian berdua. Tunjukkan disana bahwa Jurus Pedang Elang Menari adalah Jurus Pedang yang terkuat diantara Jurus Pedang yang ada." Dimitra mengelus kepala Sumitra dan Priamitra, lalu memegangi pundak mereka dan menyuruh keduanya untuk berdiri.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sebentar, Dimitra mengantarkan Sumitra dan Priamitra ke depan pintu gerbang perguruan. Disana sudah berdiri dua orang pria paruh baya yang berusia sekitar empat puluh tahun. Keduanya adalah pendamping dari Sumitra dan Priamitra. Yang pertama bernama Braga dan yang kedua bernama Buana, keduanya adalah tetua dari perguruan Elang Hitam.


"Tetua Braga, Tetua Buana, tolong jaga dengan baik-baik Sumitra dan Priamitra. Saya percayakan keduanya kepada kalian berdua." Dimitra, ketua perguruan Elang Hitam melirik ke arah kedua Tetua itu.


"Anda bisa mempercayakan sepeunuhnya kepada kami, Ketua." Keduanya membalas perkataan Dimitra sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


Setelah bercengkrama sebentar, akhirnya keempatnya melanjutkan perjalanan.


*****


Di waktu yang sama, di Kerajaan Kalingga


Raja Jatmiko sedang berkumpul dengan para petinggi istana. Mereka sedang membahas mengenai undangan dari perguruan-perguruan untuk menjadi saksi sekaligus juri dari Turnamen Pemuda Putih.


"Tumenggung Bedul, gimana kalau kau dan Lasmini yang menghadiri undangan itu. Bawa juga seratus prajurit untuk mengawal kalian." Raja Jatmiko menatap ke arah Bedul dan tersenyum tipis.


"Baikalh kalau begitu sudah kita putuskan yang menghadiri undangan itu adalah Tumenggung Bedul dan kekasihnya Lasmini. Apakah ada yang keberatan?" Hadirin yang ada disana berdiam sejenak kemudian menggelengkan kepala mereka semua.


"Baiklah, pertemuan kali ini kita cukupkan sampai disini. Silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing."


"Baiklah Yang Mulia!"


*****


Di perguruan Bambu Kuning, di ruangan tempat pendaftaran terlihat dua orang muda-mudi yang sedang duduk di kursi tunggu.


Seorang pemuda yang cukup tampan dengan usia sekitar dua puluh dua tahun itu terlihat sedang mengobrol dengan seorang gadis cantik yang ada di sampingnya.


Keduanya adalah murid dari perguruan menengah aliran putih, perguruan Teratai Putih.

__ADS_1


Pemuda itu bernama Yasha, seorang pemuda berambut pendek dan ikal dengan potongan cepak. Pakaiannya berwarna putih-putih, pakaian itu adalah pakaian kebanggaan perguruan Teratai Putih. Sedangkan gadis di sebelahnya berusia tujuh belas tahun dengan memakai pakaian yang sama dengan Yasha. Gadis itu bernama Rara Murni. Wajahnya cantik dengan kulit berwarna putih. Rambutnya terurai panjang sampai ke punggungnya.


Terlihat tombak terletak di dekat keduanya. Memang perguruan Teratai Putih adalah perguruan yang mendalami tombak sebagai senjatanya.


Keduanya sedang menunggu antrian untuk mendaftar Turnamen Pemuda Putih.


"Adik, lihat disana!" Yasha menunjuk ke arah dua orang pemuda yang sedang duduk di kursi tunggu sama seperti mereka berdua.


"Dari pakaiannya, mereka adalah murid dari perguruan Rajawali Sakti." Sambung Yasha.


"Benar Kang," Jawab pendek Rara Murni.


Dugaan keduanya tidak meleset, dua orang yang sedang mereka perhatikan adalah perwakilan dari perguruan Rajawali Sakti. Salah satu perguruan menengah aliran netral.


"Lihat disana Kakang! Kelihatannya keduanya dari perguruan Giok Hijau." Kali ini Rara Murni menunjuk ke arah dua orang yang memakai pakaian berwarna hijau.


"Iya adik, kau benar!" Yasha mengangguk-anggukkan kepalanya.


Lalu keduanya melihat ke arah dua orang gadis yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. Keduanya mengetahui bahwa dua orang itu berasal dari perguruan Lembah Perawan. Yasha dan Rara Murni bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri perwakilan dari perguruan Lembah Perawan itu. Memang perguruan Teratai Putih dan perguruan Lembah Perawan memiliki hubungan yang cukup dekat.


"Hai saudari Pandan, saudari Sekar!" Yasha mengangkat tangannya menyapa dua orang gadis itu. Kedua gadis itu adalah Pandan Wangi dan Sekar Wangi. Memang keduanya adalah murid yang mewakili perguruan Lembah Perawan.


"Hai saudara Yasha, saudari Rara!" Pandan Wangi dan Sekar Wangi mengalihkan perhatian mereka ke tempat suara yang sebelumnya memanggil mereka.


"Senang bertemu kalian berdua disini." Kali ini Sekar Wangi yang angkat suara.


"Boleh kami duduk disini!" Yasha menunjuk ke kursi yang ada di sebelah Pandan dan Sekar Wangi.


"Silahkan! Cari posisi yang nyaman untuk kalian berdua." Akhirnya keempatnya duduk dan mengobrol.

__ADS_1


__ADS_2