Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Rencana


__ADS_3

Setelah sekitar sebulan lamanya berada di perguruan Bambu Kuning, kini Arga dan Nilawati bersiap melanjutkan perjalanan mereka.


Keduanya sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami-istri, karena seminggu yang lalu keduanya melangsungkan pernikahan di perguruan Bambu Kuning yang di hadiri ketua perguruan Bambu Kuning dan para muridnya serta beberapa perguruan yang berada di dekat perguruan Bambu Kuning.


Memang Arga sebelumnya sudah berjanji untuk menikahi Nilawati setelah dia sembuh.


"Maaf sudah merepotkan senior Lodaya dan semua yang ada di perguruan Bambu Kuning. Suatu saat nanti kami akan membalasnya." Arga memberi hormat kepada Lodaya dan beberapa Tetua yang juga ikut mengantar mereka di depan pintu gerbang perguruan.


"Tidak perlu sungkan, sebelumnya Pendekar Arga sudah menolong saya dan muridnya saya dari maut." Lodaya tersenyum lebar, memang perkataan tidak salah. Jika saja Arga tidak langsung turun tangan maka ada kemungkinan Lodaya dan Abimanyu tidak ada lagi sekarang. Walaupun tidak tewas tetapi paling tidak Lodaya akan terluka parah.


"Kalau begitu kami pergi dulu. Semoga ketua Lodaya panjang umur." Arga sekali lagi memberi hormat dan diikuti oleh Nilawati disampingnya.


Setelah itu baik Arga maupun Nilawati membalikkan badannya dan mulai berjalan meninggalkan perguruan Bambu Kuning.


Setelah Arga dan Nilawati tidak terlihat lagi, Lodaya menghela nafas panjang, "Pendekar Arga memang ditakdirkan untuk berkelana menumpas kejahatan. Tidak akan lama lagi pasti dia akan membuat heboh Maya Pada lagi." Lodaya tersenyum tipis dan membalikkan badannya untuk kembali ke dalam perguruan.


Nama Arga dan Nilawati menjadi sangat terkenal dan dihormati di perguruan Bambu Kuning.


Lodaya sendiri memerintahkan kepada semua muridnya jika bertemu dengan Arga dan Nilawati di perjalanan saat menyelesaikan misi, mereka harus menghormati keduanya dan membantu mereka ketika mereka dalam masalah.


*****


"Gimana Nila, apakah Kau senang karena kita sudah resmi menjadi sepasang suami-istri?" Arga melirik ke arah Nilawati, saat ini keduanya sedang duduk di bawah pohon rindang di dalam hutan. Memang keduanya memutuskan untuk beristirahat karena telah menempuh perjalanan selama sekitar enam jam setelah meninggalkan perguruan Bambu Kuning.


"Tidak ada yang tidak bahagia jika sudah menikah. Apalagi menikah dengan seseorang yang sangat dicintainya." Nilawati membalas pertanyaan Arga. Dia menyenderkan kepalanya ke bahu Arga.


Memang benar, salah satu kebahagiaan yang tidak ternilai di muka bumi ini adalah bersatunya dua insan yang mengikat janji suci dan disaksikan oleh banyak orang. Berjanji untuk saling menyayangi sampai maut yang memisahkan.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya!" Arga tersenyum lebar dan memeluk istrinya itu, "Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan dan menumpas kejahatan yang ada di muka bumi ini."


"Apakah Kau tidak terpikir untuk membuat rumah untuk kita dan menetap disana. Bermain dan melatih anak-anak kita, melindungi mereka dan menjaga mereka?" Pertanyaan Nilawati itu disambut dengan senyuman tipis dari Arga.


"Sebenarnya Aku sudah memikirkannya. Apakah Kau mau tinggal di Gunung Ambar? Disana ada Nenek Mawar Bidara yang bisa membantumu." Arga memang sebelumnya sudah memikirkan tentang hal ini. Dia akan membawa Nilawati ke gunung Ambar dan menitipkannya kepada Nenek Mawar Bidara, sedangkan Arga akan mengembara seorang diri.


Tetapi hal itu hanya disimpannya di dalam hatinya. Tentu dia tidak ingin mengatakannya sekarang, karena pasti Nilawati tidak akan setuju.


Sebenarnya, Arga hanya ingin membuat istrinya dan calon anak-anaknya nanti hidup dengan tenang. Bagaimanapun juga Arga memiliki banyak musuh terutama dari aliran hitam.


Arga tidak ingin hal yang menimpa kedua orang tuanya juga menimpanya.


"Tentu saja Aku senang!" Akhirnya Nilawati berdiri dan berjalan dengan penuh semangat, "Baiklah, ayo berangkat! Tunggu apa lagi!?"


Akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk menemui Mawar Bidara dan menetap disana.


*****


Keduanya terlihat sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.


"Jadi gimana menurutmu Kakang? Apa yang harus saya lakukan?" Wanita tua itu bertanya langkah apa yang harus dia lakukan kedepannya.


"Tentu saja kita akan mencari semua musuh Arga itu yang masih hidup. Dan kita juga akan mencari tahu keberadaan guru-guru dari Pendekar yang Arga bunuh. Kita ajak mereka untuk membalas dendam." Gading Koneng tersenyum lebar dan matanya merah penuh dendam.


"Baiklah, Aku setuju dengan idemu Kakang. Dendamku kepada pemuda itu tidak pernah akan terlupakan sampai diantara kami ada yang mati. Dia sudah menghancurkan hidupku, membuatku harus hidup disini dalam beberapa waktu terakhir ini." Wanita itu mengepalkan tangannya, dia murka setelah mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Wanita tua itu adalah Parwati, mantan ketua perguruan Racun Pembasmi Iblis yang sebelumnya ikut andil dalam pemberontakan yang dilakukan pangeran Andiko kepada kerajaan Kalingga yang berhasil digagalkan.

__ADS_1


Parwati menaruh dendam kesumat kepada Arga, karena pemuda inilah yang sangat berperan besar dalam kegagalan mereka.


Bukan hanya gagal, tetapi Parwati juga banyak mengalami kerugian. Diantaranya, murid-muridnya banyak yang tewas, perguruannya musnah dan terlebih lagi dia mendapatkan luka dalam yang cukup parah yang sampai sekarang belum sembuh dengan sempurna.


"Kalau begitu, Kita akan mulai bergerak besok. Suruh anak buahmu yang masih tersisa untuk mencari tahu keberadaan musuh-musuh Arga. Jika mereka sudah menemukannya, suruh untuk melapor, kita berdua yang akan menemui mereka dan bernegosiasi." Gading Koneng berkata dengan serius sambil mengelus-elus janggutnya. Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.


Sementara Parwati hanya diam dan berkata dalam hatinya, "Kakang Gading Koneng masih kuat seperti dulu. Bahkan bertambah kuat. Coba saja dulu dia tidak bertemu dengan Mawar Bidara, pastinya dia akan menjadi milikku." Parwati kemudian mengingat masa mudanya. Bagaimana pertemuannya dengan Gading Koneng dan berakhir dalam penolakan dari pria itu.


*****


Beberapa puluh tahun silam, Parwati yang masih muda mengembara seorang diri. Dia meninggalkan perguruannya untuk mencari pengalaman.


Saat itu Parwati muda sedang berhadapan dengan seseorang Pendekar dari aliran putih. Parwati yang masih minim pengalaman bertarung akhirnya berhasil dikalahkan.


"Aku beri Kau kesempatan untuk mengubah haluan hidupmu menjadi orang yang lebih baik lagi." Itulah ucapan yang dikatakan oleh Pendekar aliran putih itu sebelum meninggalkan Parwati.


Parwati yang diselimuti amarah, sebenarnya ingin melanjutkan pertarungan mereka, tetapi dia tidak berdaya, dia tidak bisa berdiri karena luka yang di dapatkannya.


Saat itu dia bertemu Gading Koneng. Gading Koneng menyelamatkan hidupnya dengan menolongnya.


"Kenapa kau bisa dalam keadaan seperti ini Ni?" Gading Koneng menaikkan alisnya. Dia terpanah dengan wajah Parwati yang cantik. Sebab itu Gading Koneng memutuskan untuk membantu wanita itu.


"Aku terluka parah setelah bertarung dengan Pendekar aliran putih Tuan."


"Oh jadi kau musuh dari aliran putih?! Berarti kita sama!" Sejak itulah keduanya saling mengenal. Gading Koneng mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka Parwati.


*****

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.


Terima kasih.


__ADS_2