
Benturan demi benturan keras terjadi antara Nilawati yang berhadapan dengan Rara Wulan, suara-suara ledakan keras terdengar saat kedua senjatanya mereka bertemu.
Nilawati bergerak dengan cepat bagaikan hembusan angin, gerakannya gesit dan lincah dengan menyerang ke bagian-bagian tubuh yang fatal Rara Wulan.
Di sisi lain, Rara Wulan menyambut serangan-serangan itu dengan cepat dan lincah juga, tetapi gerakannya tidak s cepat Nilawati sehingga ada satu, dua serangan dari Nilawati yang berhasil mendarat di tubuh Rara Wulan.
Pertarungan itu sangatlah dahsyat, para penonton terkagum-kagum melihat pemandangan yang ditunjukkan keduanya. Sorak-sorai terus dikumandangkan oleh para penonton.
"Rara Wulan...."
"Gendis..."
"Rara Wulan..."
"Gendis..."
Begitulah sorakan dari para penonton yang menggema di seluruh penjuru lapangan.
*****
Di salah satu sudut lapangan terdapat sebuah pohon besar yang berdiri kokoh. Pohon itu terlihat sudah tua, terlihat dari ukurannya yang berdiameter 1 meter.
Tanpa seorangpun sadari, ternyata ada seorang pemuda yang sedang menyaksikan pertarungan antara para pendekar muda aliran putih dan netral.
Kadang dia tersenyum kadang juga dia mengerutkan dahinya. Kadang dia menikmati jalannya pertandingan kadang juga dia merasa bosan menyaksikannya.
Pandangannya sekarang terpaku kepada seseorang, terpaku kepada salah satu peserta Turnamen Pemuda Putih yang tidak lain adalah Arga.
"Arga... Arga... Kau bisa menyembunyikan identitasmu dihadapan orang lain, tetapi di hadapanku? Tidak akan bisa." Dia bergumam kecil sambil tersenyum lebar.
"Tunggu aku, aku akan memperlihatkan kemampuan terbaruku kepadamu dan semua orang yang ada disini." Sambungnya dan kembali menyaksikan Turnamen Pemuda Putih.
Entah kenapa setelah pemuda itu berkata demikian, Arga merasakan bulu kuduknya berdiri dan merinding.
"Apa hanya perasaanku saja yang merasakan ada orang yang menatapku dari tadi?" Batin Arga sambil mengangkat tangannya dan mulai menggosok-gosok leher dan tubuhnya.
*****
Saat ini Nilawati sudah berhasil membuat Rara Wulan terpojok sambil memegangi dadanya yang merasakan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
Nilawati tidak memberikan kesempatan untuk Rara Wulan mengatur nafasnya, dia kembali menyerang gadis itu dengan gesit dan lincah.
"Bukkk... Bukkk..." Dua pukulan Nilawati mendarat di tubuh Rara Wulan kembali. Hal itu membuat Rara Wulan memuntahkan darah segar dan bertekuk lutut di hadapan Nilawati.
Rara Wulan tidak bisa bergerak lagi, dia sudah pasrah menerima serangan terakhir dari Nilawati. Pedangnya pun sudah terlepas dari genggaman tangannya.
"Hiyahhhhh...." Nilawati berteriak kencang dan mengangkat tangannya untuk membuat serangan terakhir kepada Rara Wulan.
Rara Wulan memejamkan matanya, dia sadar serangan itu dapat membuatnya tidak sadarkan diri. Tetapi sedetik, dua detik, tiga detik, serangan itu tidak tiba-tiba di tubuh Rara Wulan.
Rara Wulan memberanikan dirinya, dia membuka matanya dan melihat tapak Nilawati berhenti di depan wajahnya sekitar 1 cm sebelum mendarat di wajah Rara Wulan.
Dia menghela nafas, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tubuhnya pun bergetar hebat dan tidak bisa digerakkan lagi.
"Kenapa?" Itulah perkataan yang keluar dari mulut Rara Wulan.
Nilawati menanggapi hal itu dengan tersenyum lebar, kemudian berkata, "Maafkan aku saudari Wulan! Bukan aku meremehkanmu, tetapi aku selalu mengingat sebuah kata-kata yang harus dipegang pendekar, bahwa seorang pendekar tidak akan menyerang lawan yang sudah tidak berdaya dan tidak bisa lagi melawan." Nilawati memberi hormat dan membalikkan badannya.
Rara Wulan hanya bisa tersenyum pahit. Dia juga tidak bisa melanjutkan pertarungan itu.
Rara Wulan yang sadar bahwa Nilawati sudah tidak ingin lagi menyerangnya Akhirnya dia berteriak kencang, "Aku menyerah!!!" Itulah teriakan yang keluar dari mulut Rara Wulan.
Akhirnya Pendekar Pedang Sunyi mengumumkan bahwa Nilawati yang akan melaju ke babak selanjutnya.
"Dengan menyerahnya junior Rara Wulan, maka otomatis junior Gendis melaju ke babak selanjutnya."
Akhirnya pertarungan antara Nilawati dengan Rara Wulan selesai dan Pendekar Pedang Sunyi memutuskan untuk beristirahat sekitar sepuluh menit sebelum melanjutkan ke pertandingan selanjutnya.
Setelah sepuluh menit kemudian, Pendekar Pedang Sunyi kembali ke atas arena. Tidak menunggu waktu lama lagi, dia langsung mengambil satu gulungan dan membacanya.
"Yasha, dari perguruan Teratai Putih." Kemudian Pendekar Pedang Sunyi melanjutkan mengambil gulungan nama yang kedua. Setelah ia buka, ia kembali meneriakkan satu nama, "Abimanyu, dari perguruan Bambu Kuning."
Kedua pemuda itu langsung naik ke atas arena setelah nama mereka disebut.
"Yasha, dari perguruan Teratai Putih memberi hormat kepada saudara Abimanyu." Yasha memberi hormat terlebih dahulu kepada Abimanyu.
Abimanyu terlihat tersenyum tipis, dia seperti meremehkan Yasha. Entah mengapa watak dari pemuda itu sedikit bermasalah untuk seseorang yang berlatih dari perguruan aliran putih.
Abimanyu terkenal adalah salah satu Pendekar muda yang berbakat di generasinya. Dia memiliki kemampuan yang tinggi dibandingkan Pendekar muda lainnya baik di perguruan Bambu Kuning maupun di luar.
__ADS_1
Tetapi dibalik semua itu, Abimanyu adalah pemuda yang sombong, sering membuat onar dan menggunakan kemampuannya untuk dipertontonkan kepada orang-orang.
Di samping itu juga, Abimanyu juga sering bermain-main dengan wanita.
"Tidak usah berbasa-basi. Langsung serang saja." Balas Abimanyu dengan lantang kepada Yasha.
Yasha yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecut. Dia tidak mengira akan dipermalukan oleh Abimanyu.
Setelah itu, Yasha maupun Abimanyu tidak berkata-kata lagi.
Keduanya langsung membuat kuda-kuda mereka masing-masing dan menunggu Pendekar Pedang Sunyi memulai pertandingan itu.
Tetapi saat Pendekar Pedang Sunyi ingin membuka suaranya. Tiba-tiba udara menjadi sedikit lebih berat. Aura kuat mendekat ke arah mereka.
Baik Pendekar Pedang Sunyi, Yasha maupun Abimanyu mendongakkan kepalanya ke atas, terlihat sebuah bayangan mendekat ke arah mereka dan akan mendarat di arena.
*****
Pemuda yang dari tadi menyaksikan pertarungan-pertarungan babak ketiga itu akhirnya merasakan kebosanan. Dia tidak bisa menahan diri lagi untuk bertarung.
Setelah berpikir-pikir sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk bergerak sekarang.
Dia melompat dari atas pohon tempatnya sebelumnya dan terbang ke arah arena.
Sementara itu, para penonton yang melihat hal itu langsung mengerutkan dahi mereka.
"Siapa orang itu? Apa dia ingin mengacaukan Turnamen ini?" Seorang penonton bersuara.
"Yang benar saja, tentu orang itu gila jika ingin mengacaukan Turnamen ini." Balas penonton lain.
"Ya benar! Dia pasti sudah gila jika berpikir untuk mengacaukan Turnamen ini. Lihat disana, ketua-ketua perguruan sedang menyaksikan pertandingan." Penonton lain juga menyuarakan pendapatnya.
Di sisi lain para ketua perguruan bangkit dari tempat duduk mereka.
"Siapa pemuda itu?" Ketua perguruan dari Bambu Kuning yang terlebih dahulu bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak tahu, tapi dia terlihat masih muda." Balas ketua perguruan Elang Hitam.
"Siapapun dia, pasti dia berniat jahat." Balas ketua perguruan yang lain.
__ADS_1
Hanya Arga dan Nilawati yang tersenyum melihat pemuda yang terbang ke arah arena itu. Karena Arga dan Nilawati mengetahui identitas dari pemuda itu.