Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Kelompok Topeng Ungu


__ADS_3

"Nila? Apakah kau tidak ingin mengabari gurumu tentang kita." Arga bertanya kepada Nilawati, kali ini keduanya sedang beristirahat di salah satu pohon besar yang ada di dalam hutan.


"Baiklah, Aku akan mengabari guru." Nilawati kemudian duduk bersila, dia memusatkan pikirannya untuk mengirim pesan telepati kepada gurunya.


"Guru... Guru..." Nilawati sudah berhasil mengirim pesan telepati.


*****


Dewa Tidur sedang bersender di atas sebuah pohon yang ada di dalam hutan. Pria tua itu sedang asyik menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Dia memejamkan matanya sambil sesekali tersenyum. Memang itu adalah kebiasaan yang sering dilakukannya.


Saat dia sedang asyik-asyiknya menikmati suasana itu, tiba-tiba ada sebuah suara muncul dari pikirannya. Dia langsung duduk bersila di atas pohon itu dan menyambut suara itu yang ternyata dari murid kesayangannya, Nilawati.


"Guru... Guru..." Itulah panggilan dari Nilawati.


"Ada apa Nila?" Dewa Tidur menjawab sambil menguap.


"Guru, Nila hanya ingin memberitahukan kepada guru kalau Nila baik-baik saja. Nila juga sudah resmi menikah dengan Arga, seorang pemuda yang pernah bertemu dengan guru sebelumnya." Nilawati menyampaikan maksudnya mengirim pesan kepada Dewa Tidur.


"Baiklah Nila, Guru sangat senang mendengarnya. Dimana guru bisa menemui kalian, bila guru merindukanmu."


"Guru pergi saja ke Gunung Ambar, karena kami akan menetap disana." Balas Nilawati.


"Baiklah kalau begitu guru akan sering-sering menjenguk kalian." Setelah itu Nilawati dan Dewa Tidur memutuskan telepati mereka.


*****


Nilawati membuka matanya, dia melihat kiri kanan sekitarnya dan menemukan Arga sedang duduk di atas sebuah pohon sambil memakan buah.


"Maaf membuatmu lama menunggu sayang." Nilawati langsung melompat juga ke atas pohon tempat Arga bersantai.


"Itu sebabnya aku mencari buah-buahan. Ini ambil!" Arga menyodorkan sebuah apel yang cukup besar. Keduanya makan dengan lahap di atas pohon itu sambil ditemani kicauan burung dan hembusan angin sepoi-sepoi.

__ADS_1


Sebenarnya Arga merasakan ada yang memata-matai mereka dari jarak jauh. Tetapi Arga tidak terlalu memikirkannya. Dia juga memilih untuk tidak menceritakannya kepada Nilawati, karena dia berpikir siapapun dan jika maksudnya jahat, tidak akan mudah untuk menaklukkan Arga dan Nilawati. Keduanya akhirnya melanjutkan lagi perjalanan mereka.


*****


Di dalam hutan yang sama dengan tempat Arga dan Nilawati, dua orang pria paruh baya sedang berlari dengan nafas tersengal-sengal. Keduanya seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang bisa membunuh mereka.


Setelah cukup jauh, akhirnya keduanya memutuskan untuk beristirahat dan mengatur nafas mereka.


"Misi ini sungguh gila. Walaupun kita hanya ditugaskan untuk mematai-matainya dari jarak jauh tetapi sudah membuat kita dalam bahaya besar." Salah seorang pria paruh baya berbicara kepada pria lainnya.


Pria paruh baya itu memiliki badan yang cukup tinggi dan besar. Sedangkan pria paruh baya lainnya memiliki badan tinggi dan kurus.


"Kau benar! Ilmunya sangat tinggi. Dia bisa merasakan keberadaan kita walau dari jarak yang sangat jauh." Pria kurus tinggi itu mengingat bagaimana tatapan dingin Arga menelisik ke arahnya.


Memang kedua pria paruh baya itu adalah orang yang ditugaskan oleh Parwati dan Gading Koneng untuk mengikuti perjalanan Arga dan Nilawati.


"Jika bukan karena Nyai Parwati sudah berperan besar dalam hidupku, maka aku lebih baik pergi daripada melakukan misi ini." Pria berbadan gemuk mengutarakan isi hatinya. Dia adalah salah satu Tetua dari perguruan Racun Pembasmi Iblis yang berhasil kabur mengikuti Parwati saat pertempuran melawan kerajaan Kalingga.


"Kau benar!" Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi sesegera mungkin dan mengikuti jejak Arga dan Nilawati lagi.


*****


Beberapa jam pun berlalu, Arga dan Nilawati terus melanjutkan perjalanan mereka. Kadang keduanya terbang kadang juga berjalan santai tergantung keadaan di sekitar mereka.


Perjalanannya keduanya terhenti setelah melihat sebuah Desa kecil yang tidak jauh dari depan mereka. Keduanya tidaklah ingin beristirahat di Desa itu, tetapi mereka berhenti karena melihat banyak mayat warga tergeletak di sembarang tempat.


Arga dan Nilawati maju dengan cepat, berharap bisa menemukan warga yang masih hidup dan benar saja masih ada seorang warga yang bersimbah darah terbaring dengan nafas terputus-putus. Dia adalah seorang pemuda, wajahnya tidak lagi bisa dikenali karena sudah tertutup semua oleh darah.


"Apa yang terjadi Kisanak?" Arga mengerutkan dahinya, walaupun pemuda itu masih bisa mempertahankan kesadarannya tetapi dilihat dari lukanya, tidak ada lagi kesempatannya untuk bertahan hidup lebih lama.


"To... Tolong Tuan... To... Long..." Suara pemuda itu semakin melemah.

__ADS_1


"Tolong balaskan dendam Kami." Suara pemuda itu semakin lama semakin melemah.


"Kelompok Topeng Ungu." Selesai mengatakan itu, pemuda itu langsung menghembuskan nafas terakhirnya.


Arga langsung menutup mata pemuda itu, bibirnya bergetar, tidak! Bukan hanya bibirnya yang bergetar tetapi seluruh tubuhnya yang bergetar.


Walaupun dia sudah banyak mengalami pertempuran tetapi ini baru kali keduanya dia melihat banyak sekali nyawa orang yang tidak bersalah harus menjadi korban keserakahan.


Di sisi lain, Nilawati mendongakkan kepalanya ke atas. Dia tidak sanggup menahan air matanya melihat jasad-jasad para warga itu.


Bau amis segera memenuhi tempat itu, ada juga bau busuk yang mulai merembes. Arga dan Nilawati menduga ini terjadi tadi pagi.


Keduanya mengepalkan tangannya dan berjanji di depan ratusan mayat itu, akan membalaskan dendam mereka.


Sebelum pergi, Arga dan Nilawati memutuskan untuk membakar mayat para warga agar tidak menimbulkan penyakit ataupun hal yang tidak diinginkan lainnya.


"Tampaknya perjalanan kita harus tertunda lebih lama, Nila. Kau tidak keberatan bukan?" Arga memasang wajah yang sangat buruk. Dia mengutuk keras kelakuan kelompok Topeng Ungu seperti yang pemuda tadi katakan.


"Tentu saja, sayang. Bukankah itu adalah tugas kita. Kali ini jangan biarkan satupun dari mereka yang selamat. Kita lenyapkan sampai ke akar-akarnya." Nilawati langsung berdiri, dia lebih murka lagi dibandingkan Arga.


"Baiklah! Mari Kita selesaikan ini dengan cepat." Arga juga langsung berdiri dan ingin melanjutkan langkahnya. Tetapi tiba-tiba terhenti dan Arga berkata, "Tapi Nila, bagaimana cara kita menemukan mereka? Sedangkan kita sendiri belum pernah mendengar tentang mereka?" Arga jadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Begini saja, Kita pantau dulu di daerah sini. Mungkin ada Desa lain yang berdiri. Nah, kita cari tahu dari mereka saja." Nilawati menjelaskan semua rencananya.


"Baiklah, Kau terlihat lebih pandai sedikit kali ini." Arga tertawa lepas, sebenarnya suasana hatinya sangat buruk setelah melihat mayat-mayat itu. Karena itulah dia mencoba untuk membuat suasana hatinya sedikit membaik, tetapi tetap saja ada kesedihan yang luar biasa terpancar dari wajah kedua muda-mudi itu.


"Ayo, kita cari mereka." Keduanya langsung meninggalkan Desa itu setelah membakar habis mayat-mayat para warga.


*****


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.

__ADS_1


Terima kasih.


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏


__ADS_2