
Seorang pemuda yang tidak dikenali banyak orang akhirnya mendarat di atas arena. Dia berdiri tegak dengan gagahnya sambil tersenyum lebar ke arah semua orang. Setelah itu dia berkata dengan lantangnya, "Aku mau menantang semua peserta yang ada di Turnamen ini. Sekalian juga para pendekar muda yang sedang menonton." Suaranya meninggi, alisnya menaik, tidak ada ketakutan terlihat diwajahnya setelah berkata demikian.
"Siapa yang ingin maju terlebih dahulu?" Dia kembali menantang dengan percaya dirinya.
Semua orang menaikkan alisnya, tidak mengira akan ada pemuda yang cukup gila ingin mengacau di acara Turnamen terbesar di dunia persilatan kawasan kerajaan Kalingga dan kerajaan Medang Kemulan.
"Siapa yang ini maju terlebih dahulu diantara kalian?" Pemuda itu kembali mengulang pertanyaannya.
"Siapa Kau? Berani-beraninya ingin mengacau di tempat ini. Kau kira dengan ilmu kanuraganmu yang tidak seberapa itu bisa mengalahkan kami?" Akhirnya ada seseorang yang mengangkat suaranya. Dia adalah Abimanyu, dengan karakternya yang sedikit bermasalah tentu saja dia tidak ingin direndahkan. Selama ini dia terkenal dengan kemampuannya yang tidak, tetapi sekarang ada seorang pemuda yang datang sendirian dan menantang para peserta, bukankah itu memalukan bila tidak melawan, begitu pikir Abimanyu.
"Siapa Aku?" Pemuda itu menaikkan alisnya, tatapan menjadi dingin dan tersenyum lebar.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa kalian?" Dia menunjuk ke arah Abimanyu. Tentu saja bukan hanya untuk Abimanyu, tetapi untuk seluruh yang ada disana.
Ketua dari perguruan Bambu Kuning geram, dia tidak bisa menyaksikan muridnya di hina. Tetapi saat dia hendak bangkit dari tempat duduknya, pemuda yang menantang itu menunjukkan ke arahnya.
"Bukankah memalukan, seorang ketua perguruan tinggi aliran putih ikut campur urusan para junior?" Pemuda itu berkata lantang dan tersenyum tipis menandakan kemenangan.
"Siapa Kau? Kenapa Kau datang kesini dan mengacau Turnamen ini?" Akhirnya ketua perguruan Bambu Kuning yang berniat membela Abimanyu hanya bisa menanyakan hal tersebut.
"Sudah ku katakan sebelumnya, Aku adalah malaikat pencabut nyawa para pendekar muda aliran putih dan netral." Suara pemuda itu menggema-gema lantang di udara. Pemuda itu terlihat sangat gagah dan garang, tidak lupa juga ditambah sebuah pedang tersarung di punggungnya menambah kegagahannya.
__ADS_1
"Cih..." Abimanyu yang mendengar hal itu meludah, "Kalau begitu lawan Aku! Biarkan Aku yang mengujimu layak tidaknya untuk membunuh Kami." Abimanyu langsung memasang kuda-kudanya. Tidak lupa juga ditangannya sudah menggenggam sebuah tongkat bambu.
"Baiklah, jangan salahkan Aku jika harus membunuhmu." Balas pemuda itu, dia langsung membuat kuda-kudanya.
Melihat pertarungan tidak bisa dielakkan lagi, Pendekar Pedang Sunyi dan Yasha yang ada diatas arena pun turun dari tempat itu. Memang sebagai pendekar sejati, dan dari aliran putih, mereka tidak akan ikut campur dalam pertarungan itu. Mereka memegang prinsip satu lawan satu.
Melihat kedua orang itu sudah turun dari arena, Abimanyu tidak menunggu waktu lama lagi. Dia maju menyerang ke arah pemuda itu.
Tongkat Bambu yang digunakannya membentur tangan dari pemuda itu, bukannya merasakan kesakitan, tetapi pemuda itu tidak merasa kesakitan sedikitpun.
Serangan demi serangan tercipta diantara keduanya, suara ledakan-ledakan kecil tercipta disekitar mereka.
Menjadi seorang murid dari perguruan besar aliran putih ternyata bukanlah omong kosong belaka, Abimanyu memang terdengar seperti kabarnya. Serangan dari tongkat bambu pemuda itu sangat cepat dan lincah. Tubuhnya bergerak bagaikan seorang penari, lentur dan gesit. Selain itu, serangan tongkat bambu Abimanyu sangat sulit untuk di tebak.
Keduanya mundur beberapa langkah untuk mengatur nafas mereka. Dari sepuluh pertukaran jurus, keduanya sudah bisa saling mengukur kemampuan satu sama lain.
"Tidak buruk! Tetapi masih dibawahku." Pemuda itu berkata dalam hatinya, dia sudah mengetahui kemampuan dari Abimanyu.
"Luar biasa, omongannya sebelumnya bukanlah omong kosong belaka. Aku yakin tidak akan ada Pendekar muda disini yang bisa mengalahkannya." Abimanyu membatin, dia tidak menyangka, kekuatan pemuda yang misterius itu jauh berada diatasnya.
Abimanyu yang pada awalnya semangat dan yakin bisa memenangkan pertarungan ini, akhirnya mengerutkan dahinya. Tubuhnya sedikit bergetar, tetapi masih bisa ditahannya.
__ADS_1
Di sisi lain, para penonton ada yang takjub dan kagum melihat kemampuan pemuda misterius itu. Tidak sedikit yang memujinya. Walaupun pemuda itu berniat membunuh mereka semua, tetapi sebagai pendekar tentu mereka mengakui kehebatan pemuda itu. Dan mati ditangannya bukanlah hal yang buruk. Mereka para pendekar, bila mati ditangan musuh yang lebih kuat daripadanya akan merasakan senang yang luar biasa.
Tidak sedikit juga yang menunjukkan hormat kepada pemuda itu. Memang dalam dunia persilatan, yang kuatlah yang disegani, yang ditakuti, yang dihormati dan yang bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
Itulah yang membuat banyak orang ingin menjadi kuat dan rela melakukan apa saja demi mencapai hal tersebut.
Sementara itu, di bagian para ketua perguruan. Mereka hanya bisa mengepalkan tangan sekuat-kuatnya. Mereka tidak bisa bergerak untuk membantu, karena mereka sudah berjanji akan memegang teguh ciri khas dari aliran putih, yaitu bertarung dengan adil.
Sebenarnya, aliran hitam juga demikian, mereka juga menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran. Yang membedakan hanyalah aliran hitam lebih kejam dan melakukan apa saja sesuai keinginannya.
Yang paling geram adalah Ketua Perguruan Bambu Kuning, dia bisa melihat ilmu kanuragan pemuda misterius itu berada jauh diatas ilmu muridnya. Dia hanya bisa pasrah dan menoleh saat nyawa muridnya itu dalam bahaya.
Di sisi lain, Arga membatin, "Kekuatannya meningkat dibandingkan pertemuan terakhir kami." Arga berdecak kagum dan tersenyum pahit.
Arga kemudian melirik ke arah Nilawati, ternyata gadis itu sedang melamun.
"Apa yang kau pikirkan, Nila?" Arga memegang pundak gadis itu dan memecah lamunannya.
Nilawati terkejut, dia melirik Arga dan berkata, "Arga, dia datang kesini pasti ingin mencari dan membuat perhitungan denganmu. Aku tahu kau sangat kuat, tetapi kau harus berhati-hati saat berhadapan dengannya. Aku merasakan Kekuatannya meningkat dengan pesat dibandingkan terakhir bertemu." Nilawati menjelaskan apa yang dipikirkannya. Dia takut, walaupun Arga bisa mengalahkan pemuda misterius itu, Arga juga akan mendapatkan luka parah dan bukan tidak mungkin Arga juga bisa mati.
Arga yang mendengar penjelasan dari kekasihnya itu hanya tersenyum tipis, dia berusaha untuk memuat wanita itu tidak memikirkan apa yang baru saja dia pikirkan.
__ADS_1
Sebenarnya Arga setuju dengan yang disampaikan Nilawati. Walaupun dia menang, tetapi setidaknya dia akan terluka parah.
Arga kemudian kembali mempokuskan dirinya ke arah pemuda misterius itu. Dia ingin mempelajari dulu lebih jauh kemampuan dan kekuatan dari pemuda itu.