Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Tidak Berpikir Dua Kali


__ADS_3

"Sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Nanti aku akan menceritakan semua yang ku ketahui tentang Bunga Mawar Hitam." Widura mengajak Arga pergi, karena perasaannya tidak tenang.


"Baiklah kalau begitu."


Widura memutuskan mengajak Arga ke kerajaan Samudra, karena wilayah itulah yang terdekat.


Tetapi keduanya memutuskan akan menggunakan topi caping agar tidak menimbulkan masalah yang tidak diperlukan.


Di perjalanan Widura juga menceritakan semua yang terjadi kepadanya dan perguruannya, karena Arga yang memintanya.


Dari cerita itu, Widura mengatakan bahwa perguruan Bunga Matahari dihancurkan beberapa hari yang lalu oleh perguruan Sanca Hitam.


Saat itu Widura sedang mengerjakan misi yang diberikan kepadanya.


Tidak disangka saat dia kembali, dia mendapati Gurunya sudah terbaring tak berdaya.


Dari gurunya, Widura mengetahui bahwa semua anggota perguruannya diracuni, jadi bisa dibilang mereka kalah sebelum bertanding.


Sebelum meninggal itulah, Guru Widura memberikan kitab pusaka perguruannya dan mempercayakan kepada Widura untuk membangun kembali perguruan Bunga Matahari.


Dari cerita Widura juga Arga mengetahui bahwa kitab pusaka itu bernama, "Kitab Pedang: Seribu Bunga."


Kitab Pedang : Seribu Bunga adalah kitab pusaka yang cukup tinggi, diyakini kitab itu termasuk sepuluh besar kitab pedang tertinggi di dunia persilatan.


"Menarik... Sungguh menarik." Arg cukup terkesan mendengar cerita Widura, terutama pada bagian Kitab Pedang: Seribu Bunga itu.


"Saudara Arga, apakah kau tahu dimana kitab itu disimpan?" Widura bertanya demikian karena menurutnya setinggi apapun kemampuan Arga akan sulit mengetahuinya.


"Hahaha..." Arga membalasnya dengan tawa.


"Kenapa kau tertawa saudara Arga, apakah ada yang lucu?"


"Tidak, aku sudah mengetahuinya saat pertama kali aku melihatmu. Bukankah kitab itu tersimpan di cincin yang ada di jarimu." Arga menunjuk jari manis tangan kiri Widura yang terpasang cincin.


Widura menghentikan langkahnya, dia tidak bisa menahan keterkejutannya. Widura menggigit bibirnya dan memandangi cincin yang ada ditangannya.


"Saudara Arga, aku belum membalas kebaikanmu, apakah kau berminat dengan kitab ini." Widura hendak melepaskan cincin yang ada ditangannya itu. Widura berpikir Arga akan mengambilnya dan bisa jadi membunuhnya. Hal itu wajar, bagaimanapun juga pertemuan Widura dan Arga adalah singkat. Jadi tentunya, Widura harus selalu waspada.


Hanya saja, satu hal kesalahan Widura, karena menanamkan pemikiran itu kepada Arga, seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana serta selalu membantu orang yang dalam kesulitan.

__ADS_1


"Kenapa kau berkata demikian saudara Widura. Kau membuat hatiku terluka." Arga tersenyum tetapi senyumannya sangat dingin yang berhasil membuat Widura mengucurkan keringatnya.


"Bukan begitu maksudku saudara Arga, mohon jangan salah paham dengan hal ini." Widura mencoba membuat suasana menjadi tenang seperti sebelumnya.


"Ah sudahlah." Arga mengalihkan pandangannya sejenak.


"Yang pertama, jangan pernah kau berpikir aku akan merebut atau mengambil kitab pusaka itu darimu. Kalau aku mau, aku sudah melakukannya dan kau tidak akan bisa menghalangiku.


Yang kedua, bagiku kitab pusakamu itu tidak ada apa-apanya, aku memiliki Jurus Pedang yang jauh lebih tinggi daripada itu, bahkan jurus pedangku ini diyakini nomor satu di dunia persilatan.


Yang ketiga, aku bukan seorang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan." Arga sedikit tersinggung dengan perlakuan Widura.


"Maafkan Aku saudara Arga, aku hany ingin membalas kebaikanmu." Tubuh Widura bergetar hebat, jika dia bisa memutar waktu maka dia tidak akan berani mengatakan hal itu.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan."


Suasana menjadi hening dan canggung untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah Desa.


"Saudara Arga, ini adalah Desa Kembang, Desa perbatasan antara kerajaan Kawah Putih dengan kerajaan Samudra." Widura memberanikan dirinya untuk berbicara kepada Arga. Sementara Arga hanya mengangguk dan mengikuti Widura masuk ke dalam Desa.


"Sebaiknya kita mencari warung makan, aku sudah lapar." Arga melirik Widura dan menepuk-nepuk perutnya.


"Baiklah, mari ikut aku."


"Mari masuk, saudara Arga." Widura berjalan menuju pintu masuk warung makan itu.


Arga mengangguk dan mengikuti Widura masuk ke dalam warung makan.


"Saudara Arga, warung makan ini bukan warung sembarangan. Ini adalah warung makan khusus untuk para pendekar." Widura menjelaskan.


Arga mengangguk, dia memang melihat semua orang yang berada di dalam sini adalah Pendekar, terlihat dari senjata yang mereka bawa.


Sesampainya di dalam, keduanya disambut oleh seorang gadis pelayan.


"Eh, Tuan Pendekar." Pelayan itu langsung mengenali Widura, karena memang Widura sudah beberapa kali kesini, saat dia dalam pelarian.


"Pesan apa Tuan?" Pelayan itu bersikap hati-hati dan sopan kepada Arga dan Widura.


"Hidangan yang paling murah seharga satu keping emas per porsi, sedangkan yang terbaik senilai lima keping emas per porsi.

__ADS_1


"Hidangkan makanan terbaik kalian dan juga arak. Apakah ini cukup?" Arga mengeluarkan lima puluh koin emas.


"Ten... Tentu Tuan. Kami akan segera menyiapkannya." Pelayan itu sedikit terkejut melihat Arga seolah-olah tidak berpikir dua kali dalam mengeluarkan keping emas itu.


Sebenarnya keterkejutan pelayan itu tidaklah berlebihan, satu keping emas saja sanggup menghidupi satu keluarga sederhana selama satu tahun.


Walaupun itu pendekar sekalipun tidak akan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk makan.


Biasanya murid dari perguruan kecil saja hanya membawa paling banyak sepuluh keping saat mengerjakan misi ataupun dia keluar perguruan.


Sedangkan perguruan menengah biasanya membawa paling banyak dua puluh keping emas, dan perguruan besar paling banyak membawa lima puluh keping emas.


Melihat Arga mampu membayar lima puluh keping emas dalam sekali makan, tentunya membuat pelayan itu terkejut bukan main.


Sebenarnya bukan hanya pelayan itu, tetapi Widura yang berada disampingnya pun tidak bisa menahan keterkejutannya.


"Saudara Arga ini, tentunya masih banyak keistimewaan darinya." Ucap Widura dalam hatinya sambil tersenyum kecut.


Pendekar-pendekar yang berada di dalam warung makan itu pun sama terkejutnya.


Ada yang berpikir bahwa Arga memiliki identitas yang istimewa dan ada juga yang gelap mata, mereka berpikir untuk merampok Arga saat keluar dari warung makan nanti.


Arga hanya tersenyum tipis melihat keterkejutan orang-orang yang melihatnya.


"Apakah aku terlalu berlebihan?" Gumam Arga dalam hatinya.


Kejadian itu hanya terjadi beberapa menit saja, setelah itu semua orang melanjutkan makan mereka.


*****


"Kakang, kelihatannya dua orang pemuda itu membawa harta yang banyak." Salah satu dari Pendekar yang ada di dalam warung berbisik kepada satu orang yang lainnya.


"Kau benar, sebaiknya kita tidak melepaskan mereka berdua. Aku yakin, kita bisa makan kenyang, tidur nyenyak dan menikmati banyak wanita penghibur selama beberapa hari setelah merampok mereka."


Setelah berkata demikian, sepuluh orang Pendekar itu pergi dari warung makan dan merencanakan sesuatu.


*****


**Hallo Guys, Author lagi bikin novel baru nih, genre romance, judulnya DEMI CINTA jangan lupa di hampiri ya.

__ADS_1


Tenang aja, walaupun demikian, hal itu tidak akan menghambat rilis novel ini. Jadwal rilis novel ini masih sama seperti sebelumnya.


So Enjoy, selamat menikmati karya Author ya dan jangan lupa dukungannya**.


__ADS_2