
Arga terbangun setelah sinar matahari menyengat kulitnya. Matanya masih sebelah terbuka dan langsung menutupnya kembali ketika dia melihat cahaya matahari. Arga merubah posisinya dari gulingan menjadi duduk.
"Harus kemana aku mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa itu. Aih, Nila! Tunggu aku, aku pasti akan menyelamatkanmu apapun resikonya." Arga mengepalkan tangannya dan rautnya wajahnya sangat kesal.
Arga mencoba menggerakkan tubuhnya, dia sudah bisa bergerak dengan lincah, tubuhnya yang semalam masih sakit sekarang sudah sembuh sepenuhnya.
Arga berdiri dan mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa walaupun belum tahu harus kemana.
*****
Di hutan yang sama terlihat tiga orang pria paruh baya sedang berjalan menyusuri hutan itu. Ketiganya menggunakan pakaian yang sama, berwarna putih-putih dan menggunakan ikat kepala berwarna hitam pula. Ketiganya adalah Tiga Pendekar Macan Putih.
Tiga Pendekar Macan Putih adalah pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Ketiganya adalah saudara seperguruan. Diberi gelar Tiga Pendekar Macan Putih karena ketiganya adalah pendekar tingkat tinggi yang hanya menggunakan tangan kosong untuk bertarung.
Yang pertama adalah Macan Gila, dia berbadan gemuk dan gempal, usianya sekitar lima puluh tahun dan rambutnya pendek. Dia memiliki kumis berbentuk aneh seperti tanduk kerbau yang mana kedua ujung kumisnya lancip ke arah atas.
Macan Liar adalah yang kedua, dia berbadan kekar dan berotot. Rambutnya panjang sekitar sebahu dan terurai. Usianya sekitar empat puluh lima tahun.
Sedangkan yang terakhir adalah Macan Ngamuk, dia berbadan kurus dan tinggi. Rambutnya diikat dan usianya sekitar empat puluh tahun.
Tidak banyak yang mengetahui nama asli mereka bertiga sebenarnya. Dari awal mereka memasuki dunia persilatan, ketiganya sudah dikenal dengan nama itu. Nama Tiga Pendekar Macan Putih sangat terkenal di dunia persilatan, mereka adalah pendekar aliran hitam yang suka merampok, membunuh dan memperkosa.
Jika orang mendengar nama mereka, maka orang itu akan ketakutan bahkan sampai pingsan.
__ADS_1
Saat ini ketiganya terus menyusuri hutan bukit Duri. Ketiganya berniat mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa.
Di perjalanan mereka di hadang oleh setan-setan dan siluman-siluman, tetapi mereka bertiga dengan mudahnya melenyapkan mereka.
"Kakang, kemana lagi kita harus mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa itu?" Macan Liar bertanya kepada Macan Gila yang merupakan kakak tertua dari mereka.
"Aku juga tidak tahu adik, kita cari saja di daerah bukit ini." Balas Macan Gila sambil terus berjalan.
*****
Di sisi lain, masih di hutan bukit Duri terlihat seorang pendekar muda sedang duduk bersila di atas sebuah batu besar di dekat sungai yang ada disana. Pendekar muda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Seta. Dia juga sedang mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa. Saat ini dia sedang bermeditasi untuk mencari petunjuk tentang keberadaan kitab pusaka Ajian Serap Jiwa dan memulihkan kondisinya.
Tak lama kemudian Seta membuka matanya, dia sudah selesai melakukan meditasinya. Seta berdiri sebelum berkata dalam hati, "Aku akan masuk lebih jauh ke dalam hutan ini!" Begitu tegasnya.
*****
Arga terus mencari keberadaan Nilawati yang di bawa sosok misterius itu, dia tidak tahu harus kemana lagi. Dia tidak bisa berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa. Arga sangat mengkhawatirkan keadaan Nilawati, tetapi yang dia yakini adalah sosok misterius itu tidak akan mencelakai ataupun melakukan hal buruk kepada Nilawati. Sebab dari omongan sosok misterius itu, terlihat dia ingin menukar Nilawati dengan kitab pusaka Ajian Serat Jiwa.
Arga terus berjalan tanpa henti, walaupun tidak mengetahui kemanakah dia harus mencari kitab pusaka itu dia terus melangkahkan kakinya. Arga percaya, semua sudah di atur oleh sang penguasa dan pencipta alam semesta ini. Dalam pencariannya, sesekali Arga berteriak dan memanggil nama Nilawati tetapi tidak ada jawaban sedikitpun.
Waktu berjalan terasa begitu cepat, sekarang matahari hampir tenggelam dan hari mulai gelap. Matahari hampir digantikan oleh sang rembulan. Pandangan Arga sedikit gelap, tetapi karena dia sudah terbiasa dengan kegelapan jadi hal itu terlihat biasa-biasa saja baginya.
Saat hari sudah begitu gelap sekali Arga terbang ke atas sebuah pohon, dia memutuskan untuk beristirahat disana dan melanjutkan perjalanannya besok.
__ADS_1
Hari demi hari Arga mencari dan menyusuri hutan bukit Duri itu. Sekarang adalah genap seminggu pencariannya, tetapi belum ada hasil sedikitpun. Arga sedikit kesal dan hampir putus asa. Disaat hampir keputus asaannya itu, Arga menemukan sebuah gua. Gua itu terlihat sudah sangat lama tidak ada yang memasukinya terlihat dari kondisinya yang dipenuhi tanaman liar dan akar-akar.
Arga tanpa pikir panjang mencoba masuk ke dalam gua itu. Dia sangat penasaran dengan gua tersebut.
Arga berjalan perlahan-lahan, dia melangkahkan kakinya menuju gua itu, tetapi sebelum dia memasuki gua tersebut, tiba-tiba ada sosok misterius yang tiba di hadapannya.
"Siapakah kau anak muda?" Sosok misterius itu berbicara pelan, tetapi karena dialiri tenaga dalam yang cukup besar maka terdengar jelas di telinga Arga.
Sosok misterius berbadan gelap dan Hitam, di sekitar matanya berwarna hitam dan bibirnya pun juga hitam. Hanya giginya yang berwarna beda yaitu berwarna kekuning-kuningan.
Arga mengira bahwa sosok di hadapannya itu bukanlah manusia melainkan setan atau dedemit dan bisa jadi juga seorang Siluman.
Sosok itu tidak memakai baju sedikitpun, dia hanya menggunakan penutup ******** dengan kulit pohon.
Arga mengerutkan dahinya, dia meningkatkan kewaspadaannya saat sosok itu muncul, dia mematung sebentar dan terkejut akan kehadiran sosok itu sebelum berkata, "Maafkan aku, aku hanya ingin memasuki gua itu untuk memeriksa sesuatu." Begitulah jawaban Arga dengan tegas dan sopan.
Kali ini sosok itu yang mengerutkan dahinya sebelum berkata, "Aku tidak akan mengizinkan kau masuk dan mengganggu tempat tinggalku." Dia berkata lantang, tidak ada ketakutan dari wajahnya walaupun Arga sudah mengeluarkan Ajian Ginengnya. Arga dapat mengira bahwa sosok itu bukanlah siluman karena jika dia adalah siluman maka sosok itu akan sedikit takut dan menurut kepadanya. Arga mengira sosok itu adalah setan yang menjaga gua itu.
"Maafkan aku, tetapi aku tetap harus memeriksa tempat itu." Arga tersenyum, tetapi senyumannya sudah dingin dan bersiap untuk menyerang sosok itu.
"Baiklah kalau begitu, aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk memberi tahumu." Setelah berkata demikian, sosok itu langsung menyerang Arga dengan tangan kosong.
Arga menyambut serangan itu dengan tangan kosongnya juga, dia menggunakan Jurus Cakar Besi Mengoyak Langit. Arga mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar untuk menangkis serangan sosok itu.
__ADS_1
Tapak demi tapak keduanya berbenturan dan menghasilkan suara keras serta ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.