
Selama tiga hari Arga tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Memang salah satu dari efek racun Ular Hijau adalah melumpuhkan saraf dan peredaran darah seseorang yang terkena.
Beruntung sebelumnya dia sudah meminum Penawar dari Dewa Obat,jika terlambat sedikit saja maka dia akan lumpuh seumur hidupnya.
Selama tiga hari itu juga Nilawati tidak meninggalkan Arga, dia selalu berada disamping pemuda itu untuk berjaga-jaga jika ada yang Arga inginkan.
Arga hanya bisa tersenyum di dalam hatinya telah mendapatkan wanita yang sangat menyayanginya dan rela melakukan apa saja untuknya.
Dia hanya bisa menggerakkan bola matanya, untuk berterima kasih kepada Nilawati karena bicara pun dia tidak bisa. Efek dari racun Ular Hijau ini sangat mematikan.
Selama tiga hari itu juga Dewa Obat selalu datang tiga kali sehari untuk memberikan penawar racun itu kepada Nilawati untuk diminumkan kepada Arga. Hal itu membuat keadaan Arga semakin membaik dari hari ke hari.
Selama itu juga, banyak orang yang membesuknya. Diantaranya adalah Tumenggung Bedul dan Lasmini. Keduanya membesuk Arga pada hari pertama, selain membesuk mereka pamit untuk kembali ke istana dan tidak lupa mengingatkan Arga serta Nilawati untuk berkunjung karena mungkin sebentar lagi Ayu, adiknya Arga akan melahirkan. Hal itu dijawab dengan anggukan oleh Nilawati.
Setelah kedatangan Bedul dan Lasmini, datang lagi dua orang yang dikenali Nilawati, yaitu Pandan dan Sekar Wangi. Keduanya membesuk Arga dan juga berpamitan kembali ke perguruannya. Selain itu juga Pandan Wangi berterima kasih dan meminta maaf kepada Nilawati untuk pertandingan yang dilakukan keduanya.
Setelah kepergian Pandan dan Sekar Wangi, datang juga dua orang pria. Satu pria tua dan satu lagi pemuda yang lebih tua beberapa tahun daripada Arga.
Kedua orang itu adalah Lodaya, ketua perguruan Bambu Kuning dan Abimanyu. Kedua orang itu datang untuk memeriksa keadaan Arga dan berterima kasih atas pertolongan Arga sebelumnya.
Pada hari kedua, giliran Pangeran Wirang Geni dan Putri Anandita yang mendatangi kamar Arga. Keduanya juga membesuk Arga dan berpamitan kembali ke istana.
Selama tiga hari itu banyak orang yang berdatangan untuk membesuk dan mengetahui keadaan Arga. Beruntung tidak ada yang berniat jahat, kalau ada maka Nilawati akan kerepotan mengurusnya.
Pada hari keempat akhirnya Arga dapat menggerakkan sedikit tubuhnya. Dia juga sudah bisa berbicara walaupun masih terbata-bata.
Hal yang pertama diucapkannya adalah berterima kasih kepada Nilawati, "Te... Terima kasih Nila, Ka... Kau su... sudah merawatku. A... Aku janji, se... Setelah Aku sembuh. Ki... Kita berdua akan menikah!"
"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya, Arga." Nilawati tentu saja sangat senang dengan perkataan Arga. Dia langsung memeluk pemuda yang masih terbaring lemah itu. Dia juga meneteskan air mata bahagianya. Bagaimana tidak? Pernikahan memang adalah salah satu yang sangat diharapkan dan dinantikan oleh setiap insan. Dengan mengadakan acara pernikahan maka pria dan wanita akan berjanji selalu hidup bersama dalam keadaan suka maupun duka.
__ADS_1
Butuh waktu setengah bulan untuk Arga sembuh total dari efek racun Ular Hijau itu. Setelah Arga sembuh, Dewa Obat memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
"Terima kasih Paman." Arga memberi hormat kepada Dewa Obat. Dia tidak akan melupakan kebaikan dari Dewa Obat itu dan suatu saat nanti akan mencoba menebusnya walaupun tidak akan senilai dengan yang dilaksanakan Dewa Obat kepadanya.
Dewa Obat hanya tersenyum tipis dan mengangguk dengan perkataan Arga. Bagaimanapun juga Arga sudah dianggapnya sebagai keponakannya sendiri.
Tidak lupa juga Dewa Obat berpamitan kepada Lodaya, ketua perguruan Bambu Kuning.
"Terima kasih Saudara Lodaya, Kau sudah memberikan jamuan terbaik yang pernah Aku rasakan. Aku berhutang satu padamu." Dewa Obat memberi hormat kepada Lodaya, tetapi sebelum dia menundukkan kepalanya Lodaya dengan segera mengangkat kepala pria paruh baya itu, "Bicara apa Kau saudara Ageng. Tidak perlu sungkan. Selama ini Kau juga membantuku. Jadi jamuan ini hanyalah hal yang kecil." Lodaya tersenyum lebar dan segera memeluk Dewa Obat. Memang keduanya sangat akrab dan seperti saudara walaupun usia keduanya terpaut jauh.
Setelah berpamitan, Dewa Obat langsung segera meninggalkan perguruan Bambu Kuning.
Perguruan Bambu Kuning memang sudah sepi dari tamu karena semua orang sudah kembali ke perguruan mereka masing-masing. Sedangkan para pendekar pengembara yang mengikuti Turnamen juga sudah lama meninggalkan tempat itu.
*****
Setelah duduk beberapa saat akhirnya pria tua itu memanggil pemilik warung untuk memesan sesuatu.
"Kisanak..." Suaranya sedikit berat, "Aku mau memesan sesuatu." Sambung pria tua itu.
"Tunggu... Tunggu sebentar Tuan." Pemilik warung langsung bergegas menuju pria tua itu, setelah mendengar suaranya, pemilik warung maupun pengunjung yang ada disana sedikit ketakutan tanpa mereka ketahui penyebabnya.
"Mau pesan apa Tuan?" Pemilik warung dengan sopan bertanya kepada pria tua itu.
"Sajikan Aku nasi dan lauk pauknya. Daging, sayur dan juga lalapan. Jangan lupa juga sediakan seguci arak."
"Apa ini cukup?" Pria tua itu mengeluarkan satu keping emas.
"Ini... Ini terlalu banyak Tuan." Jawab pemilik warung sambil tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, Kau bisa mendapatkan koin emas ini jika kau bisa memberikan informasi yang aku cari." Pria tua itu tersenyum tipis. Tetapi senyumannya seakan-akan ingin menelan pemilik warung itu hidup-hidup. Hal itu membuat pemilik warung menjadi ketakutan dan bertekuk lutut tanpa ia ketahui penyebabnya.
"Apa yang bisa aku berikan Tuan?" Pemilik warung tidak bisa tenang, tubuhnya bergetar hebat.
"Berikan Aku informasi mengenai Pendekar Muda yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga." Ucap pria tua itu. Dia kembali menarik tekanannya. Memang yang membuat pemilik warung itu bertekuk lutut adalah tekanan yang diberikan oleh Pria tua itu.
"Hamba... Hamba tidak mengetahui banyak Tuan. Tetapi memang akhir-akhir ini nama itu sedang naik daun setelah berhasil mengalahkan seorang pendekar muda jahat yang sangat kuat." Pemilik warung mulai menjelaskan semua yang dia ketahui.
Pria tua yang mendengar penjelasan Pemilik warung mengangguk-anggukan kepalanya. Dia puas dengan jawaban pemilik warung, walaupun tidak banyak tetapi cukup untuknya.
Saat dia hendak menyuruh pemilik warung itu hengkang dari hadapannya, tiba-tiba ada seorang pria yang sepertinya berusia sekitar 30 tahunan mendekatinya dan berkata, "Tuan, Aku mengetahui banyak tentang Pendekar Pedang Tujuh Naga. Aku bisa memberitahukannya kepadamu."
"Tapi," Pria itu menggosok-gosok tangannya, "Setelah Kau memberikan koin emas kepadaku." Pria berusia 30 tahunan itu tersenyum lebar.
"Baiklah, ini ambillah." Pria tua itu melemparkan satu koin emas.
Langsung saja pria yang berusia 30 tahunan itu menjelaskan semua yang dia ketahui. Tetapi tidak pernah ia bayangkan, setelah dia selesai memberitahu pria tua itu tiba-tiba tubuhnya menjadi dingin. Dan setelah itu kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.
Semua orang yang berada disana menjadi panik dan histeris. Mereka tidak bisa melihat bagaimana pria tua itu bisa memotong kepada si pria yang berusia 30 tahunan itu.
"Aku tidak suka dimanfaatkan." Pria tua itu berbicara dengan lantang. "Pendekar Pedang Tujuh Naga, Gading Koneng akan segera datang untuk mengambil kepalamu." Pria tua itu tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan warung.
Orang-orang yang ada disana hanya bisa bernafas lega karena mereka tidak menjadi korban dari kemarahan pria tua itu.
*****
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.
__ADS_1