
Setelah membaca judul dari kedua kitab yang diberikan Nyi Rondo, dia terlihat kebingungan karena memang dia belum pernah mendengar tentang kedua kitab yang ada ditangannya sekarang.
"Nyi, kedua kitab ini?" Arga bertanya kepada Nyi Rondo.
"Kedua kitab ini adalah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dimiliki oleh Joko Samudro." Balas Nyi Rondo.
Kemudian Nyi Rondo mulai menceritakan kelebihan dari kedua ilmu itu.
Ajian Gineng adalah ilmu yang bisa membuat penggunanya berbicara dengan binatang, selain itu ajian Gineng dapat membuat penggunanya mengetahui letak makhluk gaib dan siluman yang tidak kasat mata sekaligus membuat siluman menghormatinya. Ajian Gineng juga membuat penggunanya terlihat lebih berwibawa dan membuat penggunanya terlihat cahaya keemasan mengelilingi sekujur tubuhnya.
Sedangkan jurus Desendria adalah ilmu yang membuat penggunanya bisa mempelajari dan meniru ilmu dari musuhnya. Ilmu ini juga bisa mengetahui gerakan-gerakan apa saja yang akan dilakukan oleh musuhnya bahkan lebih sempurna dari si pemilik jurus itu.
Ajian Gineng dan jurus Desendria adalah ilmu yang telah lama hilang, orang yang terakhir menguasai ilmu ini adalah Joko Samudro.
Selain menceritakan keistimewaan dari kedua jurus itu, Nyi Rondo juga menceritakan siapakah sosok Joko Samudro itu.
Ternyata Joko Samudro adalah pendekar nomor satu di dunia persilatan pada masanya.
Saat Joko Samudro berusia 10 tahun, kedua orangtuanya meninggal disebabkan oleh perguruan aliran hitam. Sejak saat itu dia diselamatkan oleh Nyi Rondo dan menjadi muridnya serta digembleng menjadi pendekar kuat.
Ajian Gineng sendiri diberikan oleh Nyi Rondo kepada Joko Samudro sedangkan ilmu Desendria didapatkannya saat Joko Samudro bersemedi di gunung Barisan.
Setelah menguasai kedua ilmu itu dan ditambah ilmu kanuragan yang lainnya, Joko Samudro berhasil menguasai puncak dunia persilatan. Joko Samudro membunuh banyak orang baik dari perguruan aliran hitam, putih maupun netral yang dianggapnya tidak sesuai dengan pemikirannya sampai-sampai dia menjadi buronan semua perguruan karena dianggap sesat. Dan dia dikenal dengan sebutan Pendekar Gila.
Pada usianya yang cukup tua, Joko Samudro kembali ke Gua Cengger untuk menemui Nyi Rondo dan menyerahkan pedang tujuh naga serta kitab-kitab ilmu tingkat tinggi yang ia pelajari.
Setelah menyerahkan semuanya, Joko Samudro pamit kepada Nyi Rondo dan mengatakan bahwa dia ingin moksa untuk menebus dosanya.
Arga yang mendengarkan cerita Nyi Rondo hanya diam dan sesekali mengangguk-angguk kepalanya.
Setelah Nyi Rondo selesai menceritakan tentang Joko Samudro, dia memulai bertanya kepada Nyi Rondo.
"Nyi, apakah yang menjadi alasan utama eyang Joko melakukan pembunuhan?" Arga memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Nyi Rondo karena memang dia penasaran.
"Joko melakukan hal itu karena dia ingin membuat dunia yang aman, tentram tidak ada kekerasan, pertumpahan darah maupun penyiksaan. Tetapi yang dilakukannya sangat berlebihan sehingga membuat semua perguruan membencinya dan menjadikannya buronan." Nyi Rondo menggelengkan kepalanya saat mengingat kehidupan dari muridnya itu.
__ADS_1
Arga diam sejenak dan mulai terlihat berpikir. Dia mengerti bahwa yang dilakukan Joko Samudro adalah karena penderitaan yang dialaminya saat kecil.
Arga mulai berpikir apakah jalan yang diambilnya benar untuk membalas dendam kepada topeng setan.
Dia juga memikirkan apakah hal yang terjadi kepada Joko Samudro juga akan terjadi kepadanya.
Karena dibalut rasa dendam dan kebencian yang akan mengakibatkan pikiran menjadi tertutup dan melakukan semua dengan nafsu.
Arga menggelengkan kepalanya, dia tidak mau mengikuti jejak dari Joko Samudro.
"Nyi, kalau eyang Joko saja sudah hilang selama ribuan tahun berarti Nyi Rondo sudah hidup lebih dari ribuan tahun?".
Nyi Rondo tersenyum canggung mendengar pernyataan dari Arga, kemudian dia menjawab pertanyaan itu "Aku sendiri sudah hidup lebih dari sepuluh ribu tahun di dunia ini."
Arga membuka mulutnya lebar-lebar mendengar pernyataan dari Nyi Rondo itu, sedangkan Nyi Rondo hanya batuk-batuk kecil melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Arga.
"Memang untuk anak muda dan manusia sepertimu itu terdengar mustahil, tetapi tidak untuk kami bangsa siluman."
Setelah itu Arga memutuskan untuk kembali ke tempat Nilawati dan Bedul karena sudah seharian dia belum keluar dari gua.
Setelah Bedul kembali ke tempat pengistirahatan yang mereka buat, dia melihat Nilawati sedang merenung. Nilawati sedang bersender di sebuah pohon besar yang ada dibelakangnya. Dia memikirkan sesuatu tentang Arga.
"Arga, kenapa kau masih belum keluar dari sana. Apakah ada masalah serius yang menimpahmu. Oh Jagat Dewa Batara selamatkanlah Arga, lindungilah dia." Nilawati berdoa dan memohon karena mengkhawatirkan keadaan dari Arga.
Bedul kemudian mendekati Nilawati dan bertanya apakah yang sedang Nilawati lamunkan.
"Nila kamu sedang melamunkan apa? melamunkan Arga ya?" Bedul mencolek-colek bahu Nilawati.
"Apaan sih Dul." Nilawati tersadar dari lamunannya dan memukul Bedul sampai terlempar.
"Adu sakit! Kamu kenapa si Nila, wong cuma bercanda kok di pukul." Bedul kembali mendekati Nilawati.
Nilawati merasa bersalah kepada Bedul, karena tidak seharusnya dia melampiaskannya kepada Bedul.
Nilawati berdiri dan meminta maaf kepadanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Dul, tadi pikiranku sedang kacau." Ucap Nilawati.
"Yo wes, rapopo."
Saat Nilawati dan Bedul sedang mengobrol, tiba-tiba Arga muncul di hadapan mereka.
Nilawati yang pertama kali menyadari kedatangan Arga dengan spontan berdiri dan memeluk Arga.
"Arga, ku kira kau takkan kembali, kau membuatku menjadi cemas." Nilawati tidak melepaskan pelukannya, dia terus memeluk erat Arga sambil menangis.
Arga tersenyum tipis menanggapi hal itu, dia mengelap air mata Nilawati dengan tangannya.
"Sudah jangan menangis, aku baik-baik saja."
Bedul lebih tertarik kepada pedang yang ada dipunggung Arga, karena terlihat berbeda dengan pedang yang dibawa nya waktu pertama kali memasuki hutan kematian.
"Arga, pedangmu itu?" Bedul menunjukkan pedang yang ada di punggung Arga, dia terlihat terpesona akan keindahan dari pedang itu.
"Ini adalah pedang tujuh naga, pedang inilah yang aku cari di gua Cengger itu." Arga menjawab pertanyaan dari Bedul.
"Oh ternyata ada pusaka toh, wajar saja gua itu di beri pagar gaib."
Arga kemudian mengajak Nilawati dan Bedul duduk, dia menceritakan semua yang dialaminya saat berada di gua Cengger.
Arga juga mengatakan bahwa besok dia akan mengajak Nilawati dan Bedul untuk masuk ke gua Cengger, karena dia harus mempelajari ilmu pedang yang baru dia dapatkan serta dua ilmu lainnya.
"Tapi, aku sama Bedul kan tidak bisa memasuki gua itu."
"Ya itu benar." Bedul menimpali perkataan Nilawati.
"Tenang saja, aku tahu caranya." Arga meyakinkan Nilawati dan Bedul bahwa dia bisa membuat keduanya masuk ke dalam gua Cengger.
Akhirnya Nilawati dan Bedul mengangguk setuju, karena mereka juga tidak aman untuk tinggal di tengah-tengah hutan kematian seperti ini.
Mereka memutuskan untuk bermalam disana dan besok akan kembali memasuki gua Cengger.
__ADS_1