
Pertarungan terus terjadi dimana, bau amis segera mengisi udara dan mayat-mayat pun sudah bertebaran.
Tumenggung Bahurekso sedang memegangi kerisnya sambil menatap Mahesa Semar. Keduanya sama-sama mundur untuk mengatur kembali nafas setelah bertarung puluhan jurus.
Tidak jauh dari mereka Tumenggung Jenggala sedang berhadapan dengan Katiwanda. Benturan-benturan antara golok dan tongkat dari keduanya pun menghasilkan suara-suara yang keras.
Di sisi lain terlihat dua orang pemuda-pemudi sedang berhadapan dengan empat orang paru baya. Dua orang itu adalah Nilawati dan juga Bedul.
Nilawati bergerak dengan cepat dan lincah, melawan tiga orang, sedangkan Bedul melawan satu orang.
Kipas Nilawati dapat mengeluarkan hembusan-hembusan angin yang sangat dahsyat. Dia berhasil mengalahkan seseorang di antara ketiga orang itu dan langsung membunuhnya.
Bedul dengan perutnya yang buncit tidak mau kalah, dia menyerang musuhnya dengan cukup baik.
"Hei pak tua, ayo maju lagi." Ucap Bedul dengan tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit.
Merasa diremehkan, pak tua itu kembali maju menyerang Bedul, tetapi Bedul sudah bersiap menyambut serangannya. Tapak keduanya bertemu di udara, lalu Bedul menyundul dada pak tua itu dengan kepalanya yang botak.
"Hehehe, ternyata kepalaku kuat juga." Ucap Bedul sambil mengelus-elus kepalanya.
Bedul joget-joget sambil tertawa-tawa melihat dia bisa mengalahkan musuhnya.
Musuhnya yang geram kembali maju, tetapi karena sudah dibaluti amarah, akhirnya pak tua itu salah langkah dan dia tewas ditangan Bedul.
Bedul melihat ke arah Nilawati, dia langsung menolongnya.
Setelah selang beberapa menit, akhirnya Nilawati dan Bedul dapat membunuh dua orang yang tersisa.
Keduanya melihat ke arah lautan manusia, keduanya menemukan pertarungan-pertarungan yang dahsyat.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk melawan ketua-ketua dari perguruan aliran hitam yang masih hidup yang sedang membantai para prajurit.
Nilawati kembali mengambil tiga orang untuk menjadi lawannya sedangkan Bedul melawan satu orang saja.
Arga yang melawan Suryawi dan Saksono akhirnya dibantu oleh adiknya, Ayu.
Setelah selesai melawan empat orang bersama Jagad, Ayu langsung pergi membantu kakaknya itu.
Suryawi dan Saksono mundur untuk mengatur nafas mereka kembali, walaupun keduanya telah bekerja sama tetapi masih sulit mengalahkan Arga.
Keduanya menyipitkan mata setelah melihat kedatangan Ayu.
__ADS_1
"Siapa lagi ini, melawan pemuda itu saja aku dan Suryawi hanya berimbang, apalagi jika berhadapan dengan mereka berdua. Situasinya sangat tidak mendukung pihak kami." Batin Saksono sambil terus melirik ke arah Arga dan Ayu.
Hari pun sudah hampir berganti gelap. Peperangan antara pihak kerajaan dan pemberontak terus dilanjutkan. Sampai tiba-tiba terdengar suara aba-aba dari pangeran Andiko.
"Mundur! Mundur!" Teriak pangeran Andiko dengan keras terdengar oleh semua orang.
Akhirnya pihak pemberontak mundur dari pertempuran.
Di pihak kerajaan tersisa 20.000 prajurit. Sedangkan di pihak pemberontak tersisa 25.000 orang selain petinggi-petingginya.
Pihak kerajaan tidak mengejar pangeran Andiko dan sekutunya yang mundur, karena mereka juga kewalahan dan banyak yang terluka parah.
Raja Kertikeyasinga hanya memerintahkan untuk terus bersiaga, karena pihak pangeran Andiko bukan mundur dan pergi, melainkan untuk mengatur strategi yang baru.
Pangeran Andiko berkumpul dengan petinggi-petinggi perguruan dan pendekar tingkat tinggi untuk membahas serangan yang akan dilakukan keesokan harinya.
Mereka tidak menyalahkan sikap yang diambil pangeran Andiko, karena mereka juga ingin memulihkan kondisi mereka.
Saat Pagi tiba, ayam berkokok menandakan hari mulai siang. Semua orang tidak ada yang tertidur, untuk bersiap melanjutkan pertempuran.
Pimpinan pemberontak kembali di pimpin pangeran Andiko, dia mengerahkan semua orang untuk langsung menyerang lewat pintu gerbang utama istana.
Sedangkan dari pihak kerajaan sudah bersiap untuk menyambut kedatangan mereka.
Akhirnya pasukan pemanah melepaskan serangan mereka ke arah pasukan musuh.
Prajurit-prajurit yang di garis depan akhirnya maju bentrokan dengan pasukan musuh.
Pertempuran di hari kedua akhirnya kembali terjadi.
*Trang
Tring
Treng*
Suara benturan senjata terdengar dimana-mana.
Tak berselang lama, sudah banyak mayat yang bergeletakan di tanah. Baik itu dari pihak kerajaan maupun pihak pemberontak.
Semua pendekar-pendekar tingkat tinggi dari pihak pemberontak juga maju untuk menghabisi nyawa para prajurit.
__ADS_1
Mahesa Semar kembali berhadapan dengan Tumenggung Bahurekso sedangkan Katiwanda berhadapan dengan Tumenggung Jenggala.
"Mari kita lanjutkan pertarungan kita, hehehe..." Seru lantang Mahesa Semar kepada Tumenggung Bahurekso sambil mengangkat tombaknya.
Sedangkan Tumenggung Bahurekso hanya diam tanpa suara. Dia menyambut tombak dari Mahesa Semar dengan kerisnya.
Katiwanda juga langsung bergerak dengan tongkatnya menyerang Tumenggung Jenggala.
Raja Kertikeyasinga dan Patih Angga kembali berhadapan dengan Parwati. Keduanya hanya berimbang melawan wanita paruh baya itu.
Pangeran Jatmiko kembali dibantu Jagad menghadapi pangeran Andiko dan Kelabang Hitam.
Tumenggung Giriwara kini ditugaskan untuk melawan Suryawi, sedangkan Tumenggung Suropati menghadapi Saksono.
Sedangkan Arga menghadapi Topeng Setan, dia ingin membalas kematian kedua orangtuanya.
Ayu, Nilawati dan Bedul sendiri di perintahkan untuk membantu prajurit melawan ketua perguruan aliran hitam lainnya.
Tentu saja mereka bertiga menolak perintah Arga, tetapi setelah Arga meyakinkan mereka bertiga, mereka akhirnya menuruti kemauan Arga.
Arga berdiri sekitar sepuluh meter dari Topeng Setan, keduanya belum bergerak sedikitpun.
"Ternyata kau menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya anak muda. Sebenarnya aku kagum padamu, tetapi sayangnya hari ini tidak ada pengampunan untukmu seperti beberapa waktu yang lalu." Ucap Topeng Setan sambil tersenyum tipis kepada Arga.
Arga tidak menjawab ataupun berkata sedikitpun, dia langsung menyerang Topeng Setan dengan pedangnya.
Dia tidak mau membuang waktu lagi dengan menghadapi Topeng Setan dengan tangan kosong.
Dia menarik pedang tujuh naga dari sarungnya, seketika itu juga pedang itu mengeluarkan cahaya kebiruan, angin-angin berhembus kencang, hari yang masih siang berubah menjadi gelap seperti malam, petir-petir pun menyambar disana-sini.
Topeng Setan yang berniat maju pun memundurkan langkahnya, dia mengamati terlebih dahulu situasi dan kekuatan pedang yang Arga keluarkan.
"Pusaka apa itu." Semua orang yang belum pernah melihat pedang Arga mengeluarkan pertanyaan yang sama di benak mereka.
Sedangkan di sisi lain, pihak kerajaan bernafas lega karena mereka sudah melihat kekuatan dari pedang Arga.
"Hati-hati Topeng Setan, senjata itu sangat berbahaya." Ucap Parwati yang memecah keheningan. Memang setelah Arga menarik pedangnya dari sarungnya, semua orang berhenti sejenak bertarung untuk melihat ke arah Arga.
"Aku tau, tetapi aku mau lihat apakah bisa membunuhku yang menggunakan ilmu Rawa Bening." Balas Topeng Setan kepada Parwati sambil terus melirik ke arah Arga.
Arga maju menyerang Topeng Setan, Topeng Setan juga menggunakan pedang untuk menyambut serangan Arga.
__ADS_1
Di sisi lain, semua orang juga melanjutkan pertarungannya.