Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Perang


__ADS_3

Seminggu kemudian, tepatnya di hutan dekat kawasan istana kerajaan Kalingga terlihat tenda-tenda perkemahan berdiri.


"Kita sudah mengepung istana kerajaan Kalingga Yang Mulia." Seorang pria tua membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada seorang wanita paruh baya dihadapannya. Sikapnya begitu hormat kepada wanita itu, bagaimana tidak wanita itu adalah Ratu dari kerajaan Jenggala. Sedangkan pria tua itu adalah Patih Ringkih.


Ternyata tenda-tenda itu adalah milik kerajaan Jenggala yang beberapa waktu lalu mengumumkan perang terbuka terhadap kerajaan Kalingga.


"Bagus Patih!" Ucap Ratu kerajaan Jenggala.


Ratu kerajaan Jenggala bernama Sri Dewi Wijaya, seorang wanita yang berusia 40 tahunan. Matanya tajam, alisnya tebal dan bibirnya tipis membuat Ratu Sri Dewi Wijaya terlihat sangat cantik.


Jika saat di istana Ratu Sri Dewi Wijaya menggunakan pakaian lengkap sebagai Ratu, mahkota indah yang terbuat dari emas murni dan dihiasi permata-permata berwarna biru, kali ini dia menggunakan pakaian yang biasanya di pakai oleh para pendekar. Ratu Sri Dewi Wijaya menggunakan pakaian berwarna kebiru-biruan dengan corak-corak bunga teratai yang sangat indah.


Alasannya memakai pakaian seperti itu hanya satu, yaitu kali ini dia akan berperang melawan kerajaan Kalingga.


"Hari ini adalah hari kebebasan untuk kerajaan kita dan keruntuhan kerajaan Kalingga." Ratu Sri Dewi Wijaya mengepalkan tangannya dan dari sorot matanya terlihat amarah yang begitu besar.


"Bagaimana dengan kerajaan Singaparna dan Kerajaan-kerajaan lain yang mendukung kita untuk memisahkan diri? Apa mereka sudah terlihat?" Ratu Sri Dewi Wijaya bertanya kepada Patih Ringkih.


"Maaf Yang Mulia, dari telik sandi yang kita kirim, mereka sedang berada dalam perjalanan." Jawab Patih Ringkih sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, siapkan semua pasukan, hari ini kita akan meniup terompet peperangan." Ratu Sri Dewi Wijaya mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Patih Ringkih segera melaksanakan tugasnya.


"Siap laksanakan Yang Mulia." Setelah berkata demikian, Patih Ringkih pergi meninggalkan Ratu Sri Dewi Wijaya.


*****


Di hutan, terlihat sekelompok orang-orang yang bergerak dalam jumlah yang sangat besar. Diperkirakan jumlah mereka mencapai sepuluh ribu pasukan. Kelompok itu adalah orang-orang dari Kerajaan Singaparna.


Di tengah-tengah mereka terlihat kereta yang besar dan megah yang ditarik menggunakan empat ekor kuda yang gagah.


Gerobak itu adalah milik Raja Jentalu, Raja dari kerajaan Singaparna.


Di depannya terlihat satu orang yang menunggangi kuda, yang tidak lain adalah Patih Trenggano.

__ADS_1


Sedangkan dibelakangnya terdapat enam orang laki-laki yang juga menunggangi kuda, yang tidak lain adalah para Tumenggung kerajaan Singaparna.


Mereka terus bergerak menuju lokasi yang telah ditentukan sebelumnya untuk mengepung istana kerajaan Kalingga.


*****


Di sisi lain di berbagai arah, pasukan yang cukup besar juga sedang bergerak. Mereka terdiri dari sekitar sepuluh kerajaan. Baik kerajaan menengah maupun kerajaan kecil. Mereka menuju lokasi yang telah ditentukan untuk membantu kerajaan Jenggala dan kerajaan Singaparna.


Satu kerajaan mereka mengirim setidaknya dua ribu pasukan untuk membantu kerajaan Jenggala dan kerajaan Singaparna.


*****


Di istana kerajaan Kalingga, terlihat seorang Pria dewasa yang berusia sekitar 28 tahun. Dia berpakaian seperti warga biasa. Tetapi sebenarnya dia adalah telik sandi/mata-mata dari kerajaan Kalingga.


Memang setiap kerajaan pasti memiliki telik sandi di setiap daerah. Hal itu untuk mengamati pergerakan dan perkembangan dari semua daerah-daerah yang ada.


Telik sandi itu baru saja sampai ke istana kerajaan Kalingga.


Setelah dia mengatakan kepada prajurit tentang informasi yang dibawanya, telik sandi itu segera diantar ke aula pertemuan kerajaan yang memang sedang berkumpul Raja Jatmiko dan Mahapatih Angga Reksadana serta yang lainnya.


*****


Semua orang mengerut dahi setelah mendengar penjelasan telit sandi beberapa waktu yang lalu.


Bagaimana tidak? Telik sandi itu mengabarkan bahwa istana kerajaan Kalingga sudah di kepung dari berbagai arah, di salah satu sisi terlihat bendera kerajaan Singaparna dan disisi lainnya terlihat bendera kerajaan Jenggala. Bukan hanya itu, di sisi lain juga terdapat bendera-bendera dari kerajaan-kerajaan dibawah kekuasaan kerajaan Kalingga.


"Tidak salah lagi, mereka akan menyerang kita." Raja Jatmiko bereaksi paling awal, ini adalah kali kedua kerajaan Kalingga akan menghadapi ambang kehancuran.


"Ini hampir sama dengan Pemberontakan yang dilakukan mendiang pangeran Andiko sebelumnya, tetapi kali ini lebih dahsyat karena lebih banyak pasukan yang bergerak." Mahapatih Angga Reksadana ikut mengangkat suaranya.


"Kau benar paman Patih! Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" Raja Jatmiko meminta saran.


"Tentu jelas sekali Yang Mulia! Kita akan membuat formasi seperti menghadapi pemberontakan sebelumnya." Mahapatih Angga Reksadana menghentikan perkataannya sebentar lalu melirik ke arah Arga dan yang lainnya, "Dengan Pendekar Arga dan yang lainnya ada disini, kemenangan masih cukup besar berada di pihak kita, apalagi ada pendekar yang sudah terkenal namanya dari puluhan tahun yang lalu, Pendekar Mawar Bidara." Mahapatih Angga menutup kalimatnya sambil tersenyum tipis ke arah Arga dan yang lainnya.

__ADS_1


Memang Mawar Bidara sudah sampai di kerajaan Kalingga beberapa hari yang lalu. Setelahnya juga sampai Dewa Obat karena panggilan dari Jagad Kelana.


"Yang Mulia," Telik sandi tadi mengangkat suaranya lagi yang membuat semua orang mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Aku juga melihat dari pasukan kerajaan Singaparna ada tiga orang sosok yang sepuh yang usianya hampir sama dengan Nyai Mawar Bidara. Sudah bisa dipastikan mereka adalah pendekar, karena aku melihat salah seorang dari mereka memegang pedang dan satunya lagi memegang tombak. Sedangkan satu-satunya wanita dari mereka adalah Nyai Parwati yang sebelumnya ikut memberontak." Telik sandi menjelaskan panjang lebar lagi yang dia ketahui.


"Apa? Nyai Parwati?" Raja Jatmiko yang pertama bereaksi.


"Apakah Kau tidak salah lihat." Sambung Raja Jatmiko.


"Ampun Yang Mulia, Hamba tidak salah lihat."


"Jika begitu demikian adanya, maka peperangan ini akan lebih besar dan merenggut nyawa yang lebih besar lagi." Arga akhirnya ikut dalam pembicaraan itu. Dia jelas-jelas mengetahui bagaimana kekuatan dari Parwati.


Sedangkan untuk dua orang lainnya, Arga tidak mengetahuinya tetapi yang jelas pasti dua orang itu adalah Pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Begitu pikir Arga.


Saat mereka sedang berbincang-bincang dan membahas strategi apa yang harus dipersiapkan, tiba-tiba terdengar suara terompet dari luar istana.


Semuanya mengerutkan dahi dan langsung bergerak karena tiupan terompet itu tidak lain adalah terompet perang.


*****


"Pooooommmm."


"Pooooommmm."


"Pooooommmm."


Tiga kali suara terompet yang terbuat dari tanduk kerbau itu dibunyikan oleh Patih Ringkih menandakan bahwa mereka memulai perang.


Setelah itu dia menghentikannya dan mencabut pedangnya dari sarungnya dan berkata, "Semuanya dengarkan aku! Serang kerajaan Kalingga dan kita akan bebas." Patih Ringkih mengangkat pedangnya dan digerakkan ke depan mengisyaratkan untuk pasukannya segera menyerang.


*****

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.


Terima kasih.


__ADS_2