
Jurus demi jurus digunakan oleh Arga maupun Gading Koneng dan Sembada, tetapi hanya beberapa pukulan yang bisa mendarat di masing-masing tubuh ketiganya.
Arga memundurkan langkahnya, begitupun Gading Koneng dan Sembada, ketiganya nampak terngengah-engah dengan nafas yang sedikit memburu.
Tak lama kemudian, Arga memutuskan untuk mengeluarkan jurus yang dipelajarinya dari lukisan yang diberikan Pendekar Pelukis, "Jurus Membelah Diri."
Seketika itu tubuh Arga menjadi satu, selang beberapa detik menjadi dua dan seterusnya sampai menjadi tujuh bagian.
"Hem, Jurus Membelah Diri milik Pendekar Pelukis. Kau memang pantas dijuluki Pendekar jenius." Gading Koneng tidak bisa menutupi keterkejutannya, setiap kali Arga mengeluarkan jurusnya, ada kekaguman tersendiri dari Gading Koneng.
Sementara itu, Sembada menaikkan alisnya, dia tentu juga mengetahui jurus itu.
Sedangkan di sisi Arga, dia tidak menghiraukan pujian dan perkataan yang dilontarkan Gading Koneng, Arga maju menyerang Gading Koneng dan Sembada bersama keenam bayangannya.
Gading Koneng dan Sembada cukup kesulitan menahan serangan Arga dan keenam bayangannya, mereka harus bersusah payah mengeluarkan jurus dan tenaga dalam yang sangat besar untuk melenyapkan ke enam bayangan Arga.
Setelah itu, baik Gading Koneng maupun Sembada menelan pil untuk memulihkan kondisi mereka.
Di sisi lain, Arga berdecak kesal karena jurusnya sudah terpatahkan. Kemudian dia memutuskan untuk menggunakan jurusnya yang lain.
Arga mengangkat tangannya dan melepaskan sebuah kobaran api berwarna merah kebiru-biruan, itu adalah salah satu Ajian Serat Jiwa, yaitu Ajian Serat Jiwa tingkat ketujuh 'Ajian Tapak Saketi'.
Gading Koneng dan Sembada menghindarinya dengan cepat, tidak ada sedikitpun pemikiran mereka untuk menyambutnya dengan ajian juga. Karena keduanya mengetahui itu adalah Ajian Serat Jiwa.
Seketika itu juga, api itu mendarat di pohon yang berada di belakang Gading Koneng dan Sembada dan membuat batang pohon itu menjadi layu, dan setelah itu tumbang dan menghitam.
Gading Koneng dan Sembada berdecak kesal sekaligus menghela nafas, keduanya sangat bersyukur tidak terkena pukulan itu.
"Hati-hati Sembada, aku yakin dia masih banyak jurus-jurus yang belum ia keluarkan." Gading Koneng memperingatkan Sembada.
"Baik Kakang, kau juga harus berhati-hati." Keduanya sama-sama mengambil jarak dari Arga.
Melihat serangannya tidak berhasil mengenai targetnya, Arga dengan cepat mengeluarkan Ajian Serat Jiwa yang lain, kali ini dia menggunakan tingkat keenam, yaitu 'Ajian Serat Jiwa Buto Agni." Seketika itu juga tubuh Arga tiba-tiba membesar dua kali lipat, tiga kali lipat dan seterusnya sampai berbentuk seperti raksasa.
Melihat hal itu, Gading Koneng dan Sembada bersikap hati-hati, keduanya memilih untuk bertahan daripada menyerang.
Sementara itu Arga tidak menunggu waktu lama, dia mengangkat tangan kanannya dan kemudian di arahkan kepada Gading Koneng dan Sembada. Tetapi serangan itu berhasil dihindari, hanya membuat lekukan besar pada bagian yang terkena hantaman tangan Arga.
__ADS_1
Arga tidak membiarkan kedua lawannya itu untuk bernafas lega, kali ini dia menyemburkan api dari mulutnya, tetapi lagi-lagi serangannya bisa dihindari oleh Gading Koneng dan Sembada.
Saat Arga tengah serius menghadapi kedua pria sepuh itu, tiba-tiba saja suara yang dikenalinya memanggil namanya.
"Arga."
Arga menoleh dan ternyata Nilawati yang memanggil namanya.
*****
Sebelumnya Nilawati bertarung sengit dengan Nyai Parwati, keduanya bisa dibilang adalah lawan yang seimbang, karena Nyai Parwati sekarang hanya bisa mengeluarkan tiga perempat kekuatannya karena luka dalam yang dideritanya.
Tetapi nasib sial sedang melanda Nilawati, disaat dia lengah, tiba-tiba saja Nyai Parwati mendaratkan satu pukulan ke arah dadanya.
Pukulan itu bukanlah pukulan biasa, melainkan pukulan yang dialiri tenaga dalam yang cukup besar selain itu juga di tambah racun yang cukup mematikan.
"Arga." Seketika itu juga Nilawati menjerit sekeras-kerasnya, sedangkan Nyai Parwati mengambil jarak dari Nilawati.
Setelah itu Nyai Parwati berteriak keras, "Kakang Gading Koneng, Kakang Sembada mari pergi dari sini." Setelah berteriak seperti itu, Parwati langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak jauh dibelakangnya, Gading Koneng dan Sembada juga menyusulnya.
*****
Setelah tubuhnya kembali seperti semula, Arga langsung terbang ke arah Nilawati, dia tidak menghiraukan lagi Gading Koneng dan Sembada yang sudah pergi meninggalkan pertarungan.
"Nila," Arga memegang tubuh istrinya itu, saat ini tubuh Nilawati sudah berwarna hijau.
Arga langsung mengingat, Nilawati saat ini terkena Racun Kelabang Hijau, yang dalam pemberontakan sebelumnya berhasil merenggut nyawa mendiang Raja Kertikeyasinga.
"Kakang," Nilawati masih bisa mempertahankan kesadarannya.
Melihat hal tersebut, perasaan Arga tidak tenang, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya dan juga bersuara kencang sampai-sampai bisa terdengar dari luar.
"Kenapa wajahmu seperti itu Kakang?" Nilawati mencoba mengangkat tangannya pelan-pelan, kemudian dia membelai wajah Arga.
"Kenapa kau juga meneteskan air mata?" Nilawati melihat Arga meneteskan air matanya. Bagaimana tidak? Sekarang Arga sedang melihat istrinya, orang yang sangat disayanginya dan orang yang selalu mendampinginya sedang tidak berdaya, menangis adalah satu-satunya tindakan yang tepat.
__ADS_1
"Sayang, kau pasti selamat!" Setelah berkata demikian, Arga mengalirkan tenaga dalamnya kepada Nilawati, dia berharap bisa menghentikan peredaran racun itu.
Tetapi, Arga menjadi semakin cemas saat tiba-tiba, Nilawati memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri.
"Nila? Sayang?" Arga menggoyang-goyangkan tubuh Nilawati.
"Nila..." Arga terus menggoyangkan tubuh istrinya itu.
"Nilawati." Arga berteriak histeris, dia tidak bisa menahan dirinya.
Semua orang mendengar jeritan Arga, semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Arga.
Semua orang menghentikan aktivitas mereka, tidak ada yang saling menyerang satu sama lain.
Seakan-akan alam bisa merasakan perasaan Arga, tiba-tiba saja langit yang tadinya cerah menjadi mendung dan beberapa saat kemudian hujan turun deras.
Udara juga yang tadinya biasa-biasa saja, kini menjadi lebih dingin dan membuat semua orang mengigil karenanya.
Waktu pun seolah-olah berhenti, seakan-akan tidak mau bergerak lagi.
Arga masih terus memandangi tubuh Nilawati yang sekarang sudah pucat Pasih dan berwarna hijau.
"Deg...Deg...Deg..." Jantung Arga tidak bisa berhenti berpacuh kencang.
Tapi sesaat kemudian, pikirannya menjadi jernih, dia memeriksa tubuh Nilawati dan ternyata dia masih bisa merasakan istrinya itu bernafas.
"Nila... Kau pasti selamat sayang." Melihat masih ada peluang menyelamatkan Nilawati, Arga tiba-tiba berteriak kencang, "Paman Dewa Obat, aku butuh bantuanmu." Waktu kembali bergerak seperti biasanya.
*****
Dewa Obat yang sedang berhadapan dengan salah satu Patih dari kerajaan yang bersekutu dengan kerajaan Jenggala mendengar teriakkan Arga.
"Kita tunda dulu pertarungan ini, aku punya urusan yang lebih penting." Dewa Obat mendengus kesal ke arah Patih dari kerajaan kecil tersebut.
"Enak saja, kau pikir bisa datang dan pergi seenaknya." Patih dari kerajaan kecil itu tidak ingin membiarkan Dewa Obat pergi.
Tetapi tetap saja Dewa Obat meninggalkan pertarungan itu, dia bergerak dengan cepat menuju ke tempat Arga.
__ADS_1
Sebenarnya Patih itu ingin menghentikan Dewa Obat, tetapi dia tidak punya keberanian untuk bertindak gegabah. Patih itu hanya bisa berdecak kesal dan membiarkan Dewa Obat pergi.