Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Makan Pertama Di Pulau Dewata


__ADS_3

Arga dan Widura menghentikan langkah mereka setelah cukup jauh dari rombongan Pangeran Rendra.


Keduanya memilih untuk mencari warung makan untuk sekedar mengisi perut dan mencari informasi keberadaan Lembah Iblis.


Walaupun Widura mengetahui tempatnya, tetapi dia mengetahuinya secara samar-samar karena dia sudah lama sekali saat mengunjunginya.


Arga setuju, keduanya akhirnya mencari sebuah warung.


*****


Sesampainya di sebuah warung makan, keduanya di sambut seorang gadis yang berusia tidak jauh dari mereka.


Gadis itu mempenalkan dirinya sebagai anak dari pemilik warung sekaligus yang bertugas melayani para pengunjung.


"Mau pesan apa Pendekar?" Gadis yang bernama Malika itu bertanya dengan sopan.


Baik Arga maupun Widura terkejut saat Malika memanggil mereka Pendekar, padahal keduanya hanya terlihat seperti warga biasa. Hanya Widura membawa pedang di pinggangnya, tetapi itu ditutupi dengan kain. Tidak akan banyak yang mengira itu adalah sebuah pedang.


Karena penasaran, Widura menanyakannya, "Nona, darimana Anda tahu bahwa kami berdua adalah pendekar?" Tanya Widura sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Oh itu, tampaknya kedua pendekar adalah orang baru di Kota ini?! Saya mengetahuinya karena memang warung makan kami ini khusus untuk para pendekar!" Jawab Malika sambil tersenyum tipis.


Mendengar hal itu, Arga menepuk jidatnya, sementara Widura terbatuk-batuk pelan.


Wajar saja saat keduanya memasuki tempat ini, keduanya merasakan banyak tatapan mengarah ke arah mereka dan juga mereka merasakan aura yang kuat terpancar. Ternyata semua orang disini adalah pendekar!


Merasa malu, Arga dan Widura akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka dengan memesan makanan terbaik yang disediakan warung itu.


"Baik pendekar! Selagi kami menyiapkannya, silahkan kedua pendekar mengambil tempat duduk yang paling nyawan!" Gadis yang bernama Malika itu meninggalkan Arga dan Widura untuk kembali ke dapur.


Arga dan Widura menatap ke segala arah warung itu. Akhirnya keduanya melihat sebuah meja yang kosong berada di sudut ruangan. Keduanya memutuskan untuk mengambil tempat itu.


Sesampainya disana, Arga dan Widura tidak menunggu waktu lama, keduanya langsung duduk dan menunggu makanan datang.


Tetapi baru beberapa detik mereka duduk, tiba-tiba saja ada sekelompok orang menghampiri mereka.

__ADS_1


Baik Arga maupun Widura dapat melihat sekelompok orang ini berjumlah lima orang sambil membawa sebila golok di pinggang mereka masing-masing.


"Hei, kalian bedua! Sebaiknya kalian pindah dari sini karena kami yang ingin duduk disini!" Ucap salah satu dari mereka. Pria itu bertubuh pendek dan memiliki luka di bagian Pipinya. Di bagian kepalanya terikat sebuah ikat kepala berwarna merah seperti ikat kepala khas yang dipakai orang-orang di pulau Dewata. Ikat kepala itu sendiri biasa dikenal dengan sebutan Udeng.


"Maafkan kami Kisanak! Tetapi seperti yang kalian lihat, kami yang sudah terlebih dahulu menduduki meja ini!" Balas Widura, tetapi ucapannya tetap sopan.


Mendengar jawaban itu membuat seorang yang lain dari mereka berteriak kencang, "Lancang!" Kali ini terlihat seorang pria gemuk yang mengangkat suaranya.


"Kalian berdua sudah bosan hidup atau memang tidak mengetahui siapa kami?!" Sambungnya dengan suara meninggi dan murka.


"Maafkan kami jika telah menyinggung para Kisanak. Seperti yang kalian lihat, kami tidak mengetahui siapa para Kisanak, karena aku dan saudaraku ini baru saja tiba disini!" Arga mengangkat suaranya. Selain itu dia juga mengeluarkan aura kekuatan untuk mengintimidasi lima orang itu.


"Oh, ternyata ada jagoan disini. Berani-beraninya menunjukkan aura seperti itu kepadaku. Nyalimu cukup besar, tapi tidak cukup untuk membuatku gentar!" Kali ini, pria yang paling tengah yang membuka suaranya.


Arga menduga pria itu adalah pemimpin dari lima orang tersebut.


Dugaan Arga sangat tepat, pria itu memang adalah pemimpin dari lima orang itu. Dia bernama I Made Ketut, tubuhnya kekar dan tinggi serta memiliki mata yang tajam seperti mata elang.


"Maafkan kami Kisanak, tetapi kami tidak ingin mencari keributan di tempat ini." Balas Arga dengan santai.


Arga menggelengkan kepalanya pelan, menurutnya pendekar-pendekar di Pulau Dewata ini tidak kalah bermasalahnya dari pendekar-pendekar di pulau Jawa.


'Apakah di setiap Pulau seperti ini?' Batin Arga. Menurutnya jika dia sudah mendapatkan Bunga Mawar Hitam untuk menyembuhkan Nilawati, dia harus lebih banyak mengembara ke luar pulau Jawa untuk mencari pengalaman.


Tetapi setelah baik Arga maupun Widura tidak mempermasalahkannya lebih jauh, karena keduanya sudah melihat Malika menuju meja mereka sambil membawa makanan yang mereka pesan.


"Silahkan dicoba Pendekar!" Malika menghidangkan makanan di meja.


Arga dan Widura tidak menjawab, mereka hanya mengangguk karena sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan di pulau Dewata ini.


"Enak!" Widura menyampaikan penilaiannya.


"Benar, ini enak. Rasanya cukup berbeda dengan tempat kita." Balas Arga.


Keduanya memberikan penilaian seperti ini karena Malika yang memintanya sebelumnya. Karena keduanya baru pertama kali makan di warung itu!

__ADS_1


Malika sendiri belum meninggalkan keduanya karena ingin mendengarkan penilaian dari keduanya. Mendengar Arga dan Widura suka dengan makanan mereka, membuat hati Malika lega.


"Nona Malika, kalau kau ada waktu kami ingin meminta beberapa informasi darimu setelah kami selesai makan." Widura menyampaikan niatnya untuk mencari informasi kepada Malika, "Tentu kami tidak akan meminta informasi cuma-cuma. Kami akan membayarnya!" Sambungnya.


"Baiklah Pendekar, aku akan memberikannya nanti. Aku permisi dulu karena harus melayani Lima Pendekar dari Gua Rang Reng." Balas Malika.


Setelah itu dia meninggalkan Arga dan Widura.


"Oh ternyata mereka berlima punya julukan khusus. Lima Pendekar dari Gua Rang Reng." Gumam Widura pelan.


Walaupun Arga seperti acuh, tetapi dia juga mendengarkan secara seksama.


"Lima Pendekar dari Gua Rang Reng? Mereka mengingatkanku kepada Lima Iblis dari Bukit Jali.' Pikir Arga.


"Apa harus aku melenyapkan mereka juga?" Gumamnya pelan.


"Kau tadi bicara apa Saudara Arga, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas? Bisa kau ulangi?" Tanya Widura. Dia menduga Arga sedang berbicara kepadanya.


"Tidak ada Saudara Widura, aku hanya mengatakan bahwa mereka berlima adalah Pendekar yang tangguh!" Jawab Arga.


Memang keduanya berbicara dengan berbisik-bisik agar tidak ada yang mendengarnya.


"Tentu saja, aku juga berpikiran yang sama!" Balas Widura sambil menatap ke arah lima orang yang sebelumnya mencari gara-gara dengan mereka.


Selepas itu, keduanya memilih untuk tidak memusingkannya. Keduanya akan menghadapi semua masalah yang mendatangi mereka.


Keduanya menyantap makanan itu sampai habis, "Grgrhh!" Terdengar suara sendawa dari Widura membuatnya tersenyum canggung.


"Maaf Saudara Arga, aku terlalu kekenyangan!" Ucap Widura tampak malu-malu.


"Tidak perlu sungkan, Saudara Widura!" Balas Arga tertawa kecil. Menurutnya Widura ini sangat unik.


*****


Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho

__ADS_1


__ADS_2