
Ajian Serat Jiwa adalah Ajian yang menyerap tenaga dalam dan jiwa seseorang sampai orang itu menghitam dan menjadi abu. Ajian Serap Jiwa, hanya membutuhkan penggunanya bersentuhan dengan musuhnya di bagian mana saja, maka tenaga dalam musuhnya akan terhisap dan jiwanya juga. Begitulah yang Arga ketahui dari cerita Mawar Bidara.
Dari obrolan mereka juga Arga mengetahui bahwa kitab itu belum ditemukan, tetapi mereka kabarnya kitab itu berada di daerah Bukit Duri.
Arga menatap ke arah Nilawati dan Nilawati mengangguk, dia mengetahui maksud dari tatapan Arga itu.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sampai dihadapan mereka, keduanya menyantap makanan itu dengan lahap dan setelah selesai keduanya melanjutkan perjalanan mereka.
*****
Hari itu cuaca sangat cerah, matahari pun mulai menunjukkan kekuasaannya, Arga dan Nilawati sedang berjalan di sebuah hutan. Sehari sebelumnya mereka mendapatkan sebuah informasi tentang kitab pusaka Ajian Serap Jiwa.
Arga dan Nilawati berjalan berdampingan, keduanya terlihat sangat gagah dan berani. Langkah kakinya tidak terdengar karena ilmu meringankan tubuh mereka yang tinggi.
Arga dan Nilawati membutuhkan kurang lebih tiga hari untuk sampai di Bukit Duri. Keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah Desa yang ada di dekat sana.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Arga bangun terlebih dahulu setelah itu dia membangunkan Nilawati. Keduanya melanjutkan perjalanan mencari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa itu. Mereka tidak ingin keduluan dari orang lain.
Beberapa jam dalam perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuh akhirnya Arga dan Nilawati sampai di hutan yang mengitari bukit Duri itu. Keduanya melangkah tanpa rasa takut sedikitpun, padahal pada saat mereka memasuki hutan itu keduanya merasakan ada yang menatap mereka sampai-sampai membuat tubuh mereka bergidik dan bulu kuduk mereka merinding.
Benar saja, saat keduanya sudah cukup jauh memasuki hutan itu keduanya dihadang oleh puluhan setan dengan tubuh hitam semuanya dan memiliki taring yang cukup panjang.
Tanpa pikir panjang, Arga dan Nilawati langsung menyerang setan-setan yang ada sekitar 20 itu. Arga dan Nilawati menyerang dengan gesit dan lincah. Arga langsung menggunakan pedangnya sedangkan Nilawati menggunakan kipasnya, mereka tidak ingin membuang-buang waktu.
Sekitar 15 menitan, akhirnya Arga dan Nilawati berhasil menyapu bersih setan-setan itu. Akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan, tetapi tidak berselang waktu lama, keduanya kembali di hadang. Kali ini keduanya di hadang oleh siluman kera.
__ADS_1
Siluman kera itu berjumlah sekitar 10 orang, mereka menyerang Arga dan Nilawati dengan pola yang teratur dan sulit di tebak. Tetapi Arga dan Nilawati tidaklah kesulitan, karena mereka juga sudah pengalaman dalam bertarung. Sekitar 30 menit, keduanya berhasil mengalahkan semuanya dan mereka menghilang tanpa jejak.
Keduanya meningkatkan kewaspadaannya, mereka sudah dalam puncak kesiagaan. Keduanya berjalan menyusuri jalanan pada akhirnya mereka sampai di dekat sebuah jurang. Saat keduanya ingin berbalik arah, tiba-tiba ada seseorang yang misterius menghadang jalannya.
Sosok misterius itu terlihat seperti seorang pria tua dari bentuk tubuhnya. Dia menggunakan pakaian berwarna hitam-hitam dan menggunakan topeng.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Sosok misterius itu bertanya kepada Arga dan Nilawati. Walaupun dia menggunakan topeng tapi Arga dan Nilawati mengetahui bahwa sosok itu sedang tersenyum kepada keduanya.
Saat Arga ingin membuka suaranya, tiba-tiba sosok misterius itu menyerang Arga dan Nilawati.
Arga dan Nilawati yang tidak menduga bahwa sosok misterius itu akan menyerang mereka, akhirnya walaupun bisa menangkisnya tetapi tidak bisa menangkis serangan itu dengan sempurna.
Arga dan Nilawati terpental mundur, walaupun keduanya menggunakan tenaga dalam yang cukup besar untuk menangkis serangan itu tetapi Keduanya tetap mengeluarkan darah segar dari pinggir bibirnya.
"Luar biasa! Hanya satu serangan saja, dia berhasil berbuat seperti ini kepadaku dan Nilawati. Tenaga dalamnya sangat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada Nenek Mawar Bidara." Arga membatin, baru kali ini dia menghadapi orang sekuat ini. Arga menduga, tenaga dalam sosok misterius itu setara dengan Ki Joko Samudro yang ditemuinya sebelumnya.
"Hehehe... Ayo anak muda, bangkitlah! Mari temani aku bermain-main." Sosok misterius itu terkekeh.
"Cih..." Arga dan Nilawati kembali bangkit, keduanya menyerang sosok misterius itu.
Serangan Arga dan Nilawati menjadi gesit dan lincah, tetapi sosok misterius itu menyambutnya dengan tertawa dan meremehkan Arga dan Nilawati.
Tapak demi tapak dari Arga dan Nilawati berbenturan dengan tapak sosok misterius itu menghasilkan suara-suara yang keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.
"Bukkk..." Nilawati terkena satu pukulan dari sosok misterius itu. Dia terpental dan tak lama kemudian pingsan.
__ADS_1
Arga yang melihat hal itu menjadi murka, dia mengeluarkan Pedang Tujuh Naga dari sarungnya.
"Hehehe, kau lumayan menarik anak muda. Pedang Tujuh Naga yang ada ditanganmu itu sangat dahsyat." Perkataan sosok misterius itu membuat Arga menghentikan langkahnya, dia tidak menduga sosok itu mengenali pedangnya.
"Ba... Bagaimana Anda mengenali Pedangku?" Arga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Baru kali ini dia merasakan hal yang seperti itu selama berhadapan dengan musuhnya.
Sosok misterius itu menanggapi Arga dengan menggelengkan kepalanya, dia tidak berniat menjawab pertanyaan Arga. Sosok itu melainkan maju menyerang Arga.
Serangan demi serangan tercipta, Arga menggunakan pedangnya sedangkan sosok misterius itu hanya menggunakan tangan kosong menanggapi serangan Arga.
Jantung Arga berdegup kencang, baru kali ini dia merasakan takut di dalam dirinya. Dia takut bila dia mati, maka Nilawati akan mati juga. Dia takut bila dia mati, dia tidak bisa menumpas lagi kejahatan.
Saat Arga masih memikirkan hal itu, "Bukkk..." Dadanya terkena pukulan dari sosok misterius itu dan membuatnya terpental.
Sosok misterius itu mendekati Nilawati dan menggendongnya di atas pundaknya sambil berkata, "Jika kau ingin temanmu ini selamat, kau harus menemukan kitab yang kau cari." Setelah sosok misterius itu berkata demikian, dia menghilang dari pandangan Arga.
Arga hanya bisa mengumpat kesal, saat ini dia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Arga hanya bisa pasrah dan membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian dia tertidur di tempat itu karena menahan kesakitan.
Saat Arga terbangun, hari sudah mulai gelap. Sinar rembulan dan bintang-bintang sangat terang malam itu. Arga menggerakkan tubuhnya, walaupun masih terasa sakit tetapi dia sudah bisa menggerakkannya.
Arga kemudian mengingat pertarungannya dan Nilawati dengan sosok misterius siang tadi. Dia mengepalkan tangannya, dia berjanji akan menyelamatkan kekasihnya itu dan menemukan kitab Ajian Serat Jiwa. Arga berpikir bahwa sosok misterius itu membawa Nilawati untuk di tukar dengan kitab pusaka itu. Arga berdiam diri dan memutuskan untuk beristirahat malam itu.
*****
**N.A
__ADS_1
Jangan lupa StayAtHome semuanya. Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat muslim**.