Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Pergi Ke Istana


__ADS_3

Saat mereka ingin mencari jawaban dari ketiga orang itu, mereka bertiga langsung mengakhiri nyawanya sendiri dengan menusukkan golok ke dada mereka masing-masing.


Arga begitu kesal, karena mereka tidak bisa mencari tahu asal ketiga mata-mata itu. Tetapi tiba-tiba Jagad berkata dari balik belakangnya "Jangan-jangan ini berhubungan dengan sepuluh orang yang kau kalahkan tadi siang Arga." Jagad yakin bahwa ketiga orang itu adalah teman dari sepuluh orang pemeras yang tadi siang Arga kalahkan.


"Itu masuk akal." Ayu menimpali perkataan Jagad. Dia juga berpikiran seperti apa yang dipikirkan oleh Jagad.


"Kalau begitu, masalah ini tidak akan selesai sampai disini saja. Mereka pasti akan mengirim orang-orang lainnya. Kita semua harus berhati-hati." Arga membalas dengan anggukan sambil menaikkan kedua alisnya.


"Hoam". Bedul menguap dengan keras.


"Ayo tidur lagi, aku masih ngantuk Toh mereka udah ****** semua. Besok baru kita pikirkan jalan keluarnya." Sambungnya sambil berjalan kembali ke kamarnya.


Arga, Nilawati, Ayu dan Jagad mengangguk. Akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing dan melanjutkan untuk tidur.


Keesokan harinya, penghuni penginapan berkumpul di halaman penginapan dan memperlihatkan wajah yang panik, karena melihat 3 mayat yang ditemukan di halaman sekitar penginapan. Yang membuat mereka lebih panik lagi adalah disana terlihat sekelompok orang yang mereka kenal. Kelompok itu adalah Werku Alit dan anak buahnya. Di halaman itu juga terlihat pemilik penginapan yang sedang berlutut menghadap ke arah Werku Alit dengan wajah yang takut dan panik.


"Ampun tuan, kami tidak tahu siapa yang membunuh anak buah tuan." Ucap pemilik penginapan, dia terlihat sangat ketakutan dan panik. Wajahnya sudah memerah dan terlihat bekas pukulan.


Saat Werku Alit ingin melampiaskan kemarahannya kepada pemilik penginapan, tiba-tiba ada 5 orang pemuda-pemudi yang terbang dari dalam penginapan. Kelima orang itu adalah Arga dan yang lainnya.


"Berhenti, jangan kau teruskan." Teriak Arga menghentikan pukulan Werku Alit yang mengarah ke pemilik penginapan.


"Aku yang membunuh anak buahmu. Lepaskan dia, dia tidak tahu apa-apa." Arga menunjuk ke arah Werku Alit sambil menatap dingin pria paruh baya itu.


"Oh ternyata ini pendekar yang diceritakan oleh anak buahku." Balasnya meremehkan Arga dan yang lainnya.


"Cih..." Dia meludah, "Rupanya hanya sekumpulan cecunguk yang masih bau kencur." Werku Alit tersenyum sinis ke arah Arga dan yang lainnya.


"Aku sudah mendengar kehebatanmu, hari ini aku mau melihatnya sendiri. Ayo bertarung denganku satu lawan satu." Teriak Werku Alit dengan wajah yang sombong.


"Taruhannya apa?". Balas Arga.


"Kau mau apa?". Jawab Werku Alit.

__ADS_1


"Jika kau kalah kau harus pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu pedagang disini." Ucap Arga.


"Aku setuju! Bagaimana jika kau kalah." Werku Alit balik bertanya kepada Arga.


"Terserah kau mau apa." Arga menjawab dengan lantang dan percaya diri.


"Baiklah aku setuju." Jawab Werku Alit.


Setelah mengatakan hal itu Werku Alit langsung maju menyerang Arga dengan golok ditangannya.


Arga hanya menerima serangan Werku Alit dengan tangan kosong. Dia mengeluarkan jurus cakar besi mengoyak langit. Setelah golok Werku Alit bertemu dengan tangan Arga, Arga sudah bisa mengukur kemampuan dari Werku Alit.


"Tenaga dalamnya jauh di bawahku." Gumam Arga di dalam hatinya.


Werku Alit pun sama dengan Arga, dia juga sudah bisa mengukur kemampuan dari Arga.


"Sialan, tenaga dalam pemuda ini sangat tinggi, aku tidak akan sanggup melawannya. Bahkan aku tidak akan sanggup menghadapinya lebih dari sepuluh jurus." Werku Alit membatin dalam hati.


Setelah bertukar 3 jurus, Werku Alit memundurkan langkahnya dan mengatur nafasnya. Ketidaksenangan terlihat di wajahnya.


Arga yang melihat hal itu langsung berseru lantang "Ada apa pak tua, apakah kau takut setelah mengetahui kemampuanku?". Arga memprovokasi Werku Alit sambil tertawa terbahak-bahak.


"Cih." Werku Alit berdecak kesal.


"Dia meremehkanku, tapi memang itu kenyataannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Werku Alit berkata dalam hatinya.


"Baiklah anak muda, aku menyerah. Aku akan memenuhi perjanjian kita." Werku Alit sadar bahwa dia tidak akan bisa menang melawan Arga.


"Baguslah kalau begitu, kuberi waktu sampai sore, aku tidak mau melihat kau dan anak buahmu disini."


"Sialan, tunggu saja aku akan membalas penghinaan ini."


"Tentu, kami akan segera pergi."

__ADS_1


"Ayo." Werku Alit mengangkat tangannya menandakan ke semua anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu.


Setelah Werku Alit dan anak buahnya pergi, semua orang yang ada disana akhirnya bisa bernafas lega.


"Terima kasih pendekar." Pemilik penginapan yang terlebih dahulu menghampiri dan berterima kasih kepada Arga.


"Terima kasih pendekar." Disusul semua yang ada disana.


Arga hanya menganggukkan kepalanya dan dia berjalan ke arah keempat temannya.


"Ayo kita pergi ke istana untuk memberikan titipan dari paman Dewa Obat." Arga mengajak keempat temannya untuk langsung pergi ke istana.


Setelah sampai di depan pintu gerbang, kelimanya dihentikan oleh beberapa prajurit.


"Berhenti, ada keperluan apa kalian kemari?". Tanya salah satu prajurit yang menghentikan mereka.


"Kami kesini untuk menemui yang mulia raja. Ada yang harus kami berikan kepadanya." Balas Arga.


"Kalau begitu kalian harus menunggu, kami akan mengabarkannya terlebih dahulu". Ucap salah satu prajurit itu.


Arga mengangguk, dia mengajak keempat temannya untuk menunggu terlebih dahulu.


Prajurit yang memegang tombak itu masuk ke halaman istana, untuk memberitahukan kedatangan Arga dan yang lainnya. Dia menghadap ke Patih yang dia temui.


"Ampun Gusti Patih, di depan ada 5 orang pemuda-pemudi yang seperti pendekar ingin bertemu dengan yang mulia raja." Prajurit itu membungkuk memberi hormat kepada orang yang di panggilnya Patih Itu.


"5 orang pemuda-pemudi? Pendekar?". Patih itu mengelus-elus dagunya sebelum berkata "Baiklah tunjukan padaku dimana mereka, aku yang akan menemuinya."


"Baik Gusti Patih."


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ada seseorang yang menemui mereka. Orang itu terlihat berusia sekitar 40 tahunan dan memiliki paras yang tampan serta berwibawa. Ya dia adalah Patih dari kerajaan Kalingga. Patih itu bernama Angga Reksadana.


Patih Angga Reksadana adalah seorang pendekar tingkat tinggi. Beliau adalah sepupu dari yang mulia raja Kartikeyasinga. Selain sebagai sepupu dari raja, Patih Angga Reksadana adalah teman terbaik dari yang mulia raja. Patih Angga Reksadana terlihat sangat gagah dan berwibawa dengan sebilah keris terselip di pinggangnya. Badannya kekar dan berotot serta memiliki kumis yang tebal dan lebat. Sekali dia berkata, maka akan membuat seorang orang menjadi segan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2