Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Sang Pelindung


__ADS_3

"Pukkk... Pukkk... Pukkk..." Suara tepuk tangan terdengar keras di lokasi pertarungan. Suara itu tidak lain berasal dari Ketua Walang Jagad.


"Bagus Widura!" Lanjutnya.


"Sebenarnya setelah membunuh Pendekar Pedang Tujuh Naga, kami akan mencarimu untuk mengambil Jurus Pedang Bunga Seribu. Eh ternyata kamu sendiri yang datang. Sebaiknya serahkan kitab itu, aku akan memberikan kematian yang cepat dan tak menyakitkan untukmu." Ketua Walang Jagad menyeringai.


"Ambil kalau kau bisa!" Widura mendengus kesal karena dia merasa diremehkan oleh Ketua Walang Jagad.


"Kenapa kau marah begitu Widura. Yang kukatakan itu benar. Kau lihat, Pendekar dengan nama besar seperti dia saja tidak bisa mengalahkanku, apalagi dirimu." Ketua Walang Jagad berkata tegas sambil tersenyum lebar.


Widura merapatkan bibirnya dan menoleh ke arah Arga, "Saudara Arga, aku akan menahan mereka untuk membukakan jalan untukmu. Pergi dari sini dan balaskan dendamku suatu saat nanti." Ucap Widura sambil menoleh Arga dengan penuh harap.


"Tidak saudara Widura, kau hanya perlu menahan mereka beberapa saat. Kita akan melawan mereka berdua setelahnya." Arga menepuk pundak Widura.


"Percakapan yang mengharukan. Tapi kami tidak punya waktu untuk mendengarkannya lebih lama." Ketua Walang Jagad mulai melangkah.


"Sebenarnya kau memang kuat seperti yang kudengar anak muda, tetapi kesalahanmu adalah belum lama melihat dunia jadi belum punya pengalaman yang banyak walaupun dirimu sudah cukup banyak mengalami pertarungan hidup dan mati.


Mungkin karena aku akan membunuhmu, jadi ku beritahu satu hal kepadamu. Kesalahanmu adalah tidak menggunakan kekuatan terbaikmu. Dan tanpa kau sadari sejak awal aku sudah menggunakan racun untuk melumpuhkanmu diam-diam.


Ah, tampaknya aku sudah banyak bicara, sebaiknya jangan melawan lagi dan biarkan aku memotong kepala kalian." Setelah itu Ketua Walang Jagad terbang ke arah Widura dan Arga berada.


"Tahan dia sebentar!" Setelah berkata demikian, Arga mundur beberapa meter untuk menelan obat yang diberikan Widura sebelumnya.


"Jangan pikir bisa melakukannya!" Suara lantang tiba-tiba terdengar dan sesosok pria sepuh menghampiri Arga. Ya, dia adalah Wakil Ketua Jabar.


Arga mendengus kesal melihat hal itu, dengan terpaksa dia menyambut serangan pria sepuh itu.


"Aku tak bisa mati disini. Bagaimana dengan Nila?!" Pikiran Arga terpecah, dia jadi kurang fokus menghadapi Wakil Ketua Jabar. Walaupun demikian, dia masih mampu menangkis serangan-serangan yang dilancarkan oleh pria sepuh itu.


Sementara itu di sisi lain, Widura sedang berhadapan dengan Ketua Walang Jagad.

__ADS_1


Tidak seperti Arga yang masih bisa bertarung dengan imbang terlepas dari racun yang menyerangnya, Widura tidak bisa dikatakan sama.


Baru beberapa bertukar serangan, dia sudah merasakan Kekuatannya jauh di bawah Ketua Walang Jagad.


Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar lima menit Ketua Walang Jagad berhasil mendaratkan pukulan telak ke perut Widura dan membuat pemuda itu terpental hingga puluhan meter dan mendarat membentur pohon.


"Arghhh." Teriak Widura kesakitan.


Setelah melihat Widura tidak bisa bangkit lagi, Ketua Walang Jagad mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan Arga dan Wakil Ketua Jabar berada. Setelah itu dia melesat terbang ke arah mereka.


*****


Serangan demi serangan tercipta antara Arga dan Wakil Ketua Jabar, sudah puluhan jurus bertukar antara keduanya tetapi belum ada satupun serangan Wakil Ketua Jabar yang mendarat di tubuh Arga. Sedangkan Arga sendiri sudah berhasil mendaratkan dua pukulan ke Wakil Ketua Jabar.


"Mengatasi bocah yang sudah terkena racun saja tidak bisa." Ketua Walang Jagad mendengus kesal menatap ke arah Wakil Ketua Jabar berada.


"Maaf Ketua, tetapi Anda tahu sendiri pemuda yang ku hadapi bukan pemuda biasa." Wakil Ketua Jabar hanya bisa menunduk tidak berani bersikap lancang kepada Ketua Walang Jagad.


"Sebaiknya kita selesaikan dengan cepat." Ketua Walang Jagad maju menyerang Arga di susul Wakil Ketua Jabar di belakangnya.


Di sisi lain juga staminanya sekarang sudah hampir mencapai batasnya. Arga menebak bahwa dia hanya bisa menahan serangan kedua pria sepuh itu beberapa saja sebelum dia dikalahkan.


Arga tidak punya pilihan, dia tidak bisa menggunakan pedangnya karena menggunakan pedang itu membutuhkan tenaga dalam yang besar.


Arga hanya bisa menyesali keputusannya, dan dia berjanji jika dia selamat hari itu, dia tidak akan pernah menganggap remeh musuhnya dan selalu menggunakan segenap kemampuannya.


Sebenarnya Arga bukan meremehkan lebih tepatnya ingin bersikap seperti Pendekar sejati, oleh sebab itu dia tidak menggunakan pedangnya karena ingin menghargai Ketua Walang Jagad yang hanya menggunakan tangan kosong saja.


Tetapi tidak ia sangka, ternyata pria sepuh itu tidak seperti yang dia kira, pria sepuh itu sudah menggunakan racun dari awal pertarungan mereka.


Saat Arga berpikir nyawanya tidak akan selamat, tiba-tiba Ketua Walang Jagad dan Wakil Ketua Jabar tidak bergerak dari tempatnya begitupun dengan anggota perguruan Sanca Hitam.

__ADS_1


Arga bertanya-tanya apa yang terjadi dalam hatinya, tetapi tentu saja itu bukan waktunya, melihat Ketua dan Wakil Ketua serta anggota perguruan Sanca Hitam tidak bergerak dari tempatnya, Arga memilih kabur membawa Widura dari sana.


Arga melesat kencang dan menggendong Widura, lalu melesat pergi dari lokasi pertarungan.


"Siapapun itu aku berterima kasih telah menolong kami." Arga berkata dalam hatinya. Memang sesaat sebelum dia melihat anggota perguruan Sanca Hitam tidak bergerak, dia merasakan ada kekuatan yang sangat dahsyat yang melewati tubuhnya.


*****


Anuman adalah Siluman Kera yang selalu mengikut Brama Sakti sejak mereka bertemu saat Brama Sakti masih muda. Setelah itu, mereka memutuskan untuk selalu bersama. Bahkan saat Brama Sakti akan moksa, Anuman duduk di dekat Pendekar sepuh itu.


Tetapi setelah kedatangan Arga beberapa waktu lalu dan mempelajari kitab Ajian Serat Jiwa, Anuman ditugaskan Brama Sakti untuk menjaga pemuda itu.


"Kau harus menjaganya, tetapi cukup dari jauh. Kau tidak boleh ikut campur urusannya kecuali dia akan kehilangan nyawanya." Begitulah pesan Brama Sakti kepada Anuman.


Sebenarnya Anuman enggan meninggalkan Brama Sakti, karena keduanya sudah seperti saudara, bahkan lebih dari saudara, bisa di bilang tidak ada di dunia ini hubungan yang sangat erat seperti hubungan keduanya.


"Anuman, kalau kau menganggap aku saudaramu, maka turutilah perintahku." Brama Sakti terus membujuk Anuman dan pada akhirnya Anuman menurutinya.


Anuman mulai mengikuti Arga semenjak pemuda itu berada di perguruan Bambu Kuning saat mengikuti Turnamen Pemuda Putih.


Saat Kerajaan Kalingga di serang, Anuman juga sudah menyaksikannya dari jauh, tetapi seperti pesan Brama Sakti sebelumnya, Anuman tidak boleh ikut campur kecuali Arga hampir mati.


Tidak disangka olehnya, hari ini dia akan membantu pemuda itu.


Saat dia melihat Arga tidak mengeluarkan pedangnya, Anuman sudah menggelengkan kepalanya dan menganggap pemuda itu salah mengambil keputusan.


Setelah melihat Arga sudah mencapai batasnya, Anuman mengeluarkan aura bertarungnya yang ditujukan kepada Ketua, Wakil Ketua dan anggota perguruan Sanca Hitam.


Tidak hanya itu, dia menjentikkan jarinya dan seketika itu juga waktu berhenti. Dia menggunakan jurus 'Pengendali Waktu'. Itulah yang membuat anggota perguruan Sanca Hitam tak bergerak dari tempatnya.


Setelah Anuman melihat Arga dan Widura sudah pergi cukup jauh, dia menarik kembali aura bertarungnya serta menarik jurus 'Pengendali Waktunya'. Lalu, dia pergi meninggalkan tempat itu dan mengikuti Arga kembali.

__ADS_1


Sementara para anggota perguruan Sanca Hitam baru tersadar, "Apa yang terjadi? Dimana mereka?" Ketua Walang Jagad begitu murka saat melihat ke lokasi Arga dan Widura sebelumnya dan mendapati mereka tidak ada.


Dia merasakan sedikit pusing dan memutuskan untuk mencari dua pemuda itu dengan mengerahkan seluruh anggota sementara dia dan Wakil Ketua Jabar kembali ke perguruan.


__ADS_2