Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih II


__ADS_3

Mata semua orang membesar ketika melihat Arga bisa membuat Cesena terpental hanya dengan satu serangan.


Para penonton langsung bersorak sorai gembira, terutama orang-orang yang memasang taruhan.


Sementara itu, Lodaya, Ketua Perguruan Bambu Kuning terkejut melihat serangan Arga. Dia juga bisa melakukan hal itu tetapi untuk orang yang seumur Arga rasanya cukup sulit kecuali dia memiliki kemampuan serta tenaga dalam yang dahsyat.


Yang membuat Lodaya terkejut lagi, karena lawan dari Arga bukanlah orang sembarangan, walaupun Cesena berasal dari perguruan kecil tetapi tetap saja pastinya ia menguasai jurus-jurus dan mempunyai tenaga dalam yang cukup.


Lodaya bukanlah satu-satunya orang yang bereaksi seperti ini, semua orang yang berada disana bereaksi yang sama terutama para ketua-ketua perguruan.


Bahkan Pendekar Pedang Sunyi pun mengerutkan dahinya. Matanya melotot melihat kejadian itu.


Cesena bangkit, dia mengelap darah dari pinggir bibirnya. Setelah itu dia meludah dan berkata, "Cih... Kau bisa membuatku seperti itu karena Aku belum siap." Cesena berpikir bahwa dia melakukan kesalahan.


"Kalau begitu tunjukkan kemampuanmu." Arga berkata lantang. Memang terkadang orang yang congkak dan sombong sesekali harus dibalas dengan hal yang sama untuk menjadi pelajaran kedepannya.


Cesena menjadi geram mendengar hal itu. Dia langsung memasang kuda-kuda dan bersiap mengeluarkan jurusnya. Tetapi sebelum Cesena bergerak, Arga berkata lagi dengan lantang yang membuat semua orang terkejut sekaligus terpana.


"Ingin menyerangku dengan Jurus Tapak Serampang Dua Belas. Terlalu cepat untuk jurus yang masih jauh dari kata sempurna." Arga ternyata sudah menggunakan Jurus Desendria nya. Dia langsung memeragakan Jurus itu dengan sempurna.


"Ba... Bagaimana bisa kau melakukannya seperti itu?" Cesena tidak bisa tidak terkejut, bahkan bukan hanya dia yang terkejut tetapi semua orang yang ada disana terkejut melihat Arga memperagakan Jurus Tapak Serampang Dua Belas dengan sempurna. Setahu Cesena hanya satu orang yang bisa melakukan hal itu, yaitu ketua perguruannya.


Jika semua peserta kagum dengan kemampuan Arga, di sisi lain semua ketua perguruan yang ada disana berpikir hal yang sama yaitu hanya satu yang bisa menjelaskan situasi seperti ini. Arga bisa menggunakan Jurus Desendria!


"Anak ini sangat menarik!" Lodaya bergumam dalam hatinya.


"Pemuda misterius, dia bisa menggunakan Jurus Desendria, Jurus yang telah lama hilang." Pendekar Pedang Sunyi yang menjadi wasit pertandingan itu juga membatin.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa pemuda ini?" Semua orang bertanya-tanya di dalam hatinya masing-masing.


Sementara itu ada tiga orang yang sedang tersenyum melihat hal itu. Ketiganya adalah Dewa Obat, Tumenggung Bedul dan Lasmini. Mereka mengetahui benar bahwa itu adalah Jurus Arga.


"Hem, ternyata Arga berada disini. Tetapi kenapa dia menyamar?" Tumenggung Bedul bertanya-tanya dalam hatinya alasan dari Arga melakukan hal seperti ini.


Sementara itu Dewa Obat berkata dalam hatinya, "Arga... Arga... Ternyata kau semakin bertambah kuat."


Dan di sisi lain Lasmini berkata, "Jika Arga berada disini, maka Nilawati pasti juga berada disini." Lasmini langsung melihat-lihat ke arah sekelilingnya dan tak lama kemudian dia menemukan sosok wanita yang memakai topeng sama seperti Arga. Dia menebak bahwa itu adalah Nilawati.


Lasmini berjalan ke arah Nilawati dan setelah sampai disana dia berkata, "Hai, Nila...!" Suaranya pelan yang hanya bisa didengar oleh Nilawati saja.


"Eh..." Nilawati terkejut, dia langsung mengalihkan pandangannya yang sebelumnya ke arah Arga menjadi ke arah suara yang menyapanya tadi.


Dia bisa melihat orang yang menyapanya itu adalah seorang gadis yang tidak jauh lebih tua daripadanya.


"Tentu saja dari Jurus yang dikeluarkan Arga." Jawab lugas Lasmini sambil tersenyum tipis. Dia tidak pernah melupakan Jurus yang dipakai Arga saat membunuh kedua Kakaknya.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk mengobrol, karena sudah lama mereka tidak bertemu.


*****


Cesena menjadi sangat geram karena dipermalukan oleh Arga. Dia menjadi murka dan mengeluarkan semua Jurusnya. Tetapi dia juga merasakan frustasi karena setiap Jurusnya bisa Arga tiru dengan mudah bahkan lebih sempurna daripadanya.


Tidak butuh waktu lama, Arga bisa menaklukkan Cesena dan membuat pemuda itu pingsan tidak sadarkan diri. Dengan demikian Arga memenangkan pertandingan itu. Dia turun dari arena dan berjalan ke arah Nilawati yang sedang berbincang dengan Lasmini.


"Selamat, Arga!" Nilawati langsung mendekati Arga dan memeluknya. Di sisi lain Arga membalas pelukan Nilawati dan juga mencium kepala gadis itu.

__ADS_1


"Pertarungan yang kau tunjukkan sangat bagus dan menarik, Arga." Lasmini juga mendekati Arga dan memberi selamat padanya.


"Terima kasih, Lasmini!" Balas Arga.


Di sisi lain sembilan pasang orang juga sedang bertanding di arenanya masing-masing. Sebenarnya pertandingan mereka cukup seru dan berimbang, tetapi karena kemampuan Arga, pertarungan mereka tertutupi dan tidak terlalu diperhatikan. Akhirnya sembilan dari delapan belas orang itu menang dan maju ke babak selanjutnya. Ada yang menang karena membuat lawannya pingsan, ada juga yang membuat lawannya keluar dari arena dan ada juga yang membuat lawannya menyerah.


Akhirnya dua puluh orang lainnya maju dan melakukan pertandingan yang kedua. Dalam pertandingan itu salah satunya adalah Nilawati. Dia akan menghadapi seorang pemuda dari perguruan tinggi aliran putih, perguruan Elang Hitam. Pemuda itu adalah Priamitra, adik dari Sumitra sekaligus Cucu dari ketua perguruan Elang Hitam.


"Semangat Nila! Aku tahu kau pasti bisa mengalahkannya." Arga menyemangati Nilawati, tetapi tentu saja perkataannya itu hanya bisa terdengar oleh Nilawati dan Lasmini yang berada di dekat mereka.


"Ayo Nila, tunjukkan kemampuanmu!" Lasmini juga memberikan semangat kepada Nilawati.


"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan cepat." Jawab Nilawati, setelah itu dia berjalan menuju arena.


"Gendis memberi hormat. Semoga saudara bisa menunjukkan semua kemampuan dan memberikan petunjuk kepada saudari ini." Nilawati menunduk memberi hormat kepada lawannya.


"Priamitra dari perguruan Elang Hitam memberi hormat kepada saudari Gendis. Tentu saja aku akan mengeluarkan segenap kemampuanku." Priamitra langsung mengeluarkan pedangnya. Dia tidak ingin membuang waktu lama.


Wasit yang memimpin pertandingan itu langsung memulai pertandingannya.


Priamitra langsung bergerak cepat, dia langsung menyerang Nilawati dengan pedangnya. Serangan-serangan dari Priamitra teratur dan berpola. Serangannya cukup sulit untuk dihindari Nilawati.


Tetapi siapa Nilawati? Dia bukanlah gadis sembarangan. Dia merupakan salah satu gadis dengan kemampuan yang tinggi. Walaupun serangan Priamitra bisa menyulitkannya, tetapi belum ada satupun yang bisa mendarat di tubuhnya.


Keduanya mengambil jarak, mereka membaca kekuatan masing-masing.


"Gadis yang menarik dan juga cantik!" Batin Priamitra. Dia tersenyum lebar ke arah Nilawati. Walaupun Nilawati menggunakan topeng, tetapi Priamitra bisa menebak bahwa Nilawati adalah gadis yang cantik.

__ADS_1


Di sisi lain Nilawati juga berhasil membaca kekuatan Priamitra, "Tenaga dalamnya dibawahku, tetapi kemampuan pedangnya cukup tinggi."


__ADS_2