
Pertempuran antara kerajaan Kalingga melawan kerajaan Jenggala dan sekutunya tidak bisa dielakkan lagi.
Kerajaan Jenggala dan sekutunya bergerak maju menyerang ke arah kerajaan Kalingga, sedangkan kerajaan Kalingga sendiri memilih untuk bertahan. Kerajaan Kalingga membuat formasi trisula, dimana para prajurit yang memakai tombak dan tameng berada di garis depan dengan membentuk formasi seperti trisula dengan arah masuk pintu depan istana sebagai kepalanya.
Formasi trisula ini menitikberatkan pada pertahanan, dimana prajurit yang memegang tameng akan menjadi pertahanan sedangkan di belakangnya prajurit yang memegang tombak untuk menghalau musuh yang ingin menembus pertahanan.
Para punggawa-punggawa dari pihak kerajaan Kalingga maupun pihak musuh memilih untuk mengamati keadaan terlebih dahulu dan memikirkan strategi yang berikutnya akan digunakan. Begitupun dengan pendekar-pendekar yang ikut dalam peperangan itu, mereka memilih untuk menonton terlebih dahulu.
Sekitar satu jam lamanya formasi trisula dapat bertahan dan sudah banyak memakan korban. Tetapi tentu saja pihak korban yang lebih banyak jatuh kepada pihak musuh. Jika dibandingkan, korban yang jatuh dari pihak kerajaan Kalingga dengan pihak musuh adalah satu berbanding tiga.
Tetapi tentu saja itu belum cukup, bagaimanapun juga musuh yang menyerang kerajaan Kalingga terdiri lebih dari 10 kerajaan yang mana kerajaan Jenggala dan Singaparna yang menjadi pemimpinnya saja jika digabungkan sudah setara dengan pasukan kerajaan Kalingga.
Setelah melihat formasi yang mereka terapkan tidak lagi efektif, Raja Jatmiko berteriak lantang, "Pasukan mundur." Semua pasukan kerajaan Kalingga mundur mengambil jarak dari pasukan musuh.
Melihat hal tersebut, pasukan pihak musuh maju menyerang kerajaan Kalingga karena mereka berpikir bahwa pasukan kerajaan Kalingga ingin menyerah.
Tidak diduga sedikitpun oleh pasukan musuh, ternyata itu adalah jebakan, saat mereka hampir sampai di depan gerbang istana kerajaan Kalingga, tiba-tiba saja ribuan anak panah meluncur dengan cepat ke arah mereka.
Karena terkejut dan tidak siap dengan serangan yang tiba-tiba itu, banyak pasukan musuh yang tewas terkena anak panah itu.
Kini giliran pihak kerajaan Jenggala yang memundurkan pasukan mereka.
*****
Ratu Sri Dewi Wijaya terus menyaksikan partarungan antara pasukannya dan sekutunya menghadapi pasukan kerajaan Kalingga dari waktu ke waktu.
Saat dia melihat pasukan kerajaan Kalingga mundur, sebenarnya dia sudah menduga akan suatu yang janggal. Ketika dia ingin memperingatkan dan menarik mundur pasukannya itu sudah terlambat dan dia hanya bisa mendengus kesal dan murka melihat pasukannya dan sekutu banyak yang tewas terkena anak panah.
__ADS_1
"Sudah kuduga, kerajaan Kalingga tidak semudah itu ditaklukkan." Ratu Sri Dewi Wijaya seperti berbicara kepada dirinya sendiri, tetapi sebenarnya dia sedang berbicara kepada Patih Ringkih.
"Benar Yang Mulia, jika mereka akan mudah ditaklukkan, tentunya kerajaan kita selama ini tidak akan tunduk dibawah kekuasaan Mereka." Balas Patih Ringkih sambil tersenyum kecut.
"Sebab itulah kali ini kita harus menaklukkan mereka." Sebuah sinar merah muncul dari kedua mata Ratu Sri Dewi Wijaya.
"Jurus Tapak Wangi." Gumam pelan Patih Ringkih melihat cahaya merah di mata Ratunya tersebut.
Jurus Tapak Wangi adalah jurus pamungkas yang dimiliki keturunan Raja maupun Ratu dari kerajaan Jenggala. Jurus ini adalah jurus turun temurun keluarga kerajaan.
Jurus Tapak Wangi juga merupakan jurus yang bisa menyerang musuhnya dari jarak jauh dengan mengeluarkan cahaya berwarna merah dari telapak tangannya.
Jurus Tapak Wangi sangat dahsyat, apabila orang terkena jurus ini maka tubuhnya dalam hitungan menit akan menghitam dan setelahnya akan membusuk.
Jurus Tapak Wangi ini juga tidak bisa dikeluarkan sembarangan, karena akan menguras tenaga dalam yang cukup besar dan selain itu jika jurus ini sudah dikeluarkan maka harus dipukulkan ke objek dengan cepat atau akan menyerang pemiliknya sendiri.
Sebenarnya Ratu Sri Dewi Wijaya bisa saja memukulkannya ke arah pasukan kerajaan Kalingga, tapi setelah dia pikir-pikir bahwa bukan pasukan dari kerajaan itu saja yang akan jadi korban, melainkan dari pasukannya dan sekutunya juga akhirnya dia melepaskannya ke pohon.
Dentuman keras langsung mengisi udara setelah Ratu Sri Dewi Wijaya melepaskan Tapak Wangi itu, membuat semua orang melihat ke arahnya.
Yang pertama kali bereaksi tentu saja Patih Ringkih yang ada didekatnya. Dia tersenyum kecut melihat kedahsyatan jurus itu.
Sebenarnya Ratu Sri Dewi Wijaya tidak ingin mengeluarkannya sekarang, tetapi setelah dia melihat pasukannya banyak yang menjadi korban membuat emosinya meningkat dan dengan refleks dia mengeluarkan jurus itu.
"Dengan Yang Mulia mengeluarkan jurus itu maka para pendekar dari pasukan kerajaan Kalingga akan mencoba menyerang Yang Mulia." Patih Ringkih berpendapat. Menurutnya sebenarnya Ratu Sri Dewi Wijaya terlalu gegabah dengan mengeluarkan jurus pamungkas tidak tepat seperti itu. Tetapi dia tidak bisa apa-apa dan hanya bisa mencoba melindungi Ratu Sri Dewi Wijaya dari pihak kerajaan Kalingga.
Di sisi lain setelah melihat Jurus yang dikeluarkan Ratu Sri Dewi Wijaya, Mawar Bidara yang bereaksi dan tersenyum canggung sambil berkata, "Tidak kusangka, setelah lama tidak muncul dan ikut campur urusan duniawi, aku akan disambut dengan jurus yang melegenda."
__ADS_1
"Hehehe."
"Hehehe."
"Hehehe." Mawar Bidara tertawa lantang, menurutnya Ratu Sri Dewi Wijaya adalah orang yang menarik. Mawar Bidara memutuskan untuk mencoba ilmu kanuragan Ratu Sri Dewi Wijaya itu.
"Arga, Nenek ingin merenggangkan otot-otot Nenek. Nenek akan ambil bagian melawan Ratu itu." Setelah berkata demikian, Mawar Bidara melesat terbang meninggalkan Arga dan yang lainnya.
Arga hanya menggeleng pelan sambil tersenyum kecut. Menurutnya Gurunya ini adalah pendekar yang unik.
"Nila, mari kita ikuti Guru, Aku tidak ingin ada yabg mengganggu pertarungannya." Arga melesat mengikuti Mawar Bidara dan di susul Nilawati dibelakangnya.
*****
"Izinkan wanita tua itu mencoba se jurus dua jurus ilmu Yang Mulia Ratu Sri Dewi Wijaya yang tersohor ini." Mawar Bidara sudah sampai di hadapan Ratu Sri Dewi Wijaya dan Patih Ringkih. Tidak butuh waktu lama bagi pendekar tingkat tinggi seperti dirinya.
"Dari pakaian dan Bunga Nawar yang terletak di telingamu. Aku menebak Kau adalah Nyai Mawar Bidara yang tersohor." Ratu Sri Dewi Wijaya hanya pernah mendengar nama Nawar Bidara waktu dia masih muda dan itu tidak lama karena Mawar Bidara memutuskan meninggalkan urusan duniawi. Tidak disangka olehnya, dia akan menghadapi Pendekar nomor satu pada masa lalu.
"Tidak ada alasan lain untukmu membantu kerajaan Kalingga dan turun gunung, selain membantu muridmu." Ratu Sri Dewi Wijaya kembali berkata.
"Kau benar Yang Mulia! Muridku adalah harta berharga untukku." Setelah berkata demikian dia maju menyerang Ratu Sri Dewi Wijaya, "Mari temani aku bermain-main."
*****
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.
__ADS_1