Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Siluman Buaya


__ADS_3

Melihat semakin lama serangan siluman buaya itu sulit untuk dihindari, dengan cepat Arga memutuskan untuk menggunakan Ajian Gineng. Seketika itu juga, seluruh tubuhnya di lapisi cahaya berwarna kehijauan.


Widura yang melihat hal itu hanya bisa terpana, dia baru pertama melihat seseorang bisa mengeluarkan cahaya seperti itu.


Widura menilai, bahwa Arga seperti raja atau anggota kerajaan yang berwibawa dan berkarisma.


Di sisi lain siluman buaya yang melihat penampilan Arga menjadi tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama.


"Ajian Gineng!" Seru buaya itu di dalam hatinya. Tentu semua siluman mengetahui Ajian itu. Yang mana bisa membuat penggunanya bisa berbicara dengan hewan dan dihormati para siluman.


Tetapi keterkejutan siluman buaya itu tidak berlangsung lama, karena beberapa tarikan nafas selanjutnya, siluman buaya itu menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Arga yang sudah bersiap-siap untuk menyerang akhirnya mengurungkan niatnya. Tetapi dia tetap waspada dan berhati-hati serta melirik kanan kirinya.


Setelah memastikan siluman buaya itu telah pergi sepenuhnya, Arga mengalihkan pandangannya kepada Widura.


"Saudara Widura, mari!" Ajak Arga untuk menyeberangi danau. Menurutnya itu adalah waktu yang tepat sebelum siluman buaya itu kembali ataupun membawa pasukan lebih banyak.


Widura tersadar dari lamunannya, sejak tadi dia masih menatap Arga dengan kagum dan penasaran. Karena Widura baru pertama kali melihat seseorang yang bisa mengeluarkan cahaya seperti itu.


"Ah iya, mari!" Jawabnya sambil tersenyum canggung.


Tidak membuang-buang waktu lagi, Arga dan Widura melesat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh menyeberangi danau itu.


*****


Di dasar danau, tepatnya di alam siluman terlihat seorang pemuda sedang bersujud kepada seorang pria paruh baya.


Pemuda itu memakai pakaian berwarna hijau dengan mahkota kepala buaya berwarna emas menghiasi kepalanya.


Sementara pria paruh baya itu memakai pakaian berwarna hitam gelap dan mahkota kepala buaya berwarna emas juga menghiasi kepalanya.


"Maafkan ananda, Ayahanda!" Pemuda itu menjura memberi hormat kepada pria paruh baya yang dipanggilnya Ayah tersebut.


"Apa yang ingin kau sampaikan, Amung Langit!" Balas pria paruh baya itu.


Ternyata pemuda itu bernama Amung Langit yang tidak lain adalah putra mahkota kerajaan siluman buaya sekaligus anak tertua pria paruh baya yang ada dihadapannya itu.


Sementara pria paruh baya itu bernama Amung Bumi. Seorang raja dari kerajaan siluman buaya.


"Ayahanda, tampaknya dewa penolong Dinda Kirana Larasati sudah tiba!" Jawab Amung Langit kepada raja Amung Bumi

__ADS_1


"Maksudmu? Coba jelaskan lebih jauh!" titah raja Amung Bumi.


"Ayahanda, baru saja Ananda berhadapan dengan seorang pendekar dari golongan manusia yang memiliki Ajian Gineng!"


Amung Langit lalu menjelaskan lebih detail pertemuan serta pertarungannya dengan Arga.


Hal itu membuat senyuman merekah di bibir raja Amung Bumi.


"Kalau begitu antarkan Ayahanda menemuinya. Kita akan bernegosiasi dengannya untuk kesediaannya membantu Ananda Kirana."


Amung Langit mengangguk, keduanya lalu berubah menjadi sebuah cahaya berwarna keemasan dan melayang di udara.


*****


"Apakah benar ini tempat yang kita cari, Saudara Widura?


Arga menaikkan alisnya saat melihat sebuah lembah dihadapannya. Tetapi yang membuat waspada dari tempat itu adalah sebuah tekanan yang sangat besar yang dikeluarkan dari dalam sebuah gua yang tersembunyi di balik lembah itu.


Arga bisa merasakan kekuatan itu setara atau sedikit di bawah tekanan yang dikeluarkan oleh Anuman.


Widura tidak menjawab, tetapi dia menganggukkan kepalanya. Dia mengingat betul bahwa inilah tempatnya.


Saat Widura sedang melirik ke arah kanan dan kirinya, tiba-tiba dia mendengar suara Arga berseru kepadanya.


"Hati-hati Saudara Widura. Walaupun tempat ini terlihat tenang, tetapi aku yakin tempat ini menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat." Arga memperingatkan Widura.


"Kau benar Saudara Arga. Aku juga bisa merasakannya!" Jawab Widura. Kali ini dia menambah kewaspadaannya sampai tingkat maksimal.


Penasaran dengan apa yang berada di dalam gua itu, Arga mengajak Widura untuk memasukinya.


Setelah berjalan beberapa langkah, Arga mengehentikan gerakannya. Dia merasakan tekanan itu bertambah kuat saat didekati.


Semakin mendekat maka kekuatan yang dipancarkan tempat itu semakin sulit untuk di tahan.


Beruntung Arga memiliki tenaga dalam yang banyak, sebab itulah dia bisa mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan kekuatan itu.


Tetapi tidak demikian dengan Widura. Semakin mendekati tempat itu, semakin pula sesak nafasnya. Menurutnya jika dia terus memaksakan diri, maka dia bisa kehilangan kesadarannya bahkan kehilangan nyawanya karena tidak sanggup menahan kekuatan itu lagi.


Dengan perasaan bersalah dan campur aduk, akhirnya Widura berkata kepada Arga, "Saudara Arga, tampaknya aku tidak kuat lagi untuk mendekati tempat itu."


"Kalau begitu kau tunggulah aku disana!" Arga menunjuk tempat yang cukup jauh dari gua.

__ADS_1


"Aku akan pergi memasuki gua ini sendiri!"


Dengan perasaan malu dan bersalah, Widura akhirnya mengikuti perkataan Arga. Dia memilih untuk menunggu Arga dan menjaga dari luar.


Melihat Widura yang sudah cukup jauh, Arga kembali memfokuskan perhatiannya pada gua itu.


Semakin dekat dengan gua, semakin banyak pula tenaga dalam yang harus Arga gunakan untuk menekan kekuatan itu.


Berkat kegigihan dan kemampuan serta rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya bisa sampai di pintu gua tersebut.


Anehnya, saat dia sudah di depan pintu gua, tekanan yang sangat dahsyat sebelumnya menghilang begitu saja.


Melihat hal itu, Arga menyimpulkan bahwa kekuatan itu hanya menekan orang yang berada dalam jarak jauh dengannya. Sementara untuk jarak dekat, kekuatan itu tidak berfungsi.


Tidak ingin ada sesuatu hal lain yang menghalanginya, Arga langsung melangkahkan kakinya ke dalam gua.


Ternyata di dalam gua itu tidaklah gelap. Karena di beberapa sisinya terdapat cahaya terang yang didapatkan dari pantulan cahaya matahari.


Tidak merasakan kekuatan yang memancar kuat sebelumnya. Arga berteriak keras, dia ingin mencari tahu lebih apa yang terjadi.


Setelah cukup lama, tidak ada satupun balasan dari tempat itu membuatnya berpikir untuk keluar dan kembali menemui Widura.


Tetapi saat dirinya beberapa langkah lagi dari luar gua, tiba-tiba saja Arga melihat dua buah cahaya berwarna keemasan menghampirinya.


"Siapa kalian?" Arga menjadi waspada. Dia sudah memasang kuda-kudanya bersiap menyerang dua cahaya itu.


Tetapi setelah melihat kedua cahaya itu tidak berniat menyerangnya. Arga pun tidak melancarkan serangan. Dia hanya berdiam diri dan terus menyaksikan pergerakan dua cahaya itu sampai akhirnya, tiba-tiba berubah menjadi dua sosok yang menyerupai manusia. Tetapi Arga mengetahui bahwa keduanya adalah siluman.


"Ada apa kalian para siluman buaya mendatangiku? Apakah kalian tidak terima karena aku melewati tempat yang kalian jaga?" Tanya Arga sambil menaikkan alisnya.


"Maafkan kelancangan kami pendekar. Perkenalkan namaku Amung Bumi, raja dari kerajaan siluman buaya sekaligus penghuni dan penguasa danau ini!" Amung Bumi membuka identitasnya.


"Namaku Amung Langit, putra mahkota dari kerajaan siluman buaya sekaligus yang bertanggung jawab berhadapan dengan kalian sebelumnya." Amung Langit juga memperkenalkan dirinya.


Melihat dua orang dihadapannya ini tidak berniat jahat, Arga akhirnya menurunkan kewaspadaannya dan bersikap lebih tenang.


"Namaku Arga seorang pendekar pengembara. Aku tidak mengetahui apa yang kalian inginkan dariku!" Balas Arga dengan dingin. Walaupun dia sudah menurunkan kewaspadaannya tetapi tetap saja dia berhati-hati.


*****


Hai guys saya disini, saya cuman ingin memberitahukan bahwa jam rilis Pendekar Pedang Tujuh Naga berubah ya,dari jam 21:00 pindah ke jam 23:00. So Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2