Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga VS Seta


__ADS_3

Dua jam berlalu, Abimanyu masih berhadapan dengan Pemuda misterius yang datang sebelumnya dan mengatakan akan membunuh para peserta Turnamen.


Tetapi setelah hampir tiga jam akhirnya Abimanyu terbaring lemas di atas arena dan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya setelahnya.


Pemuda Misterius itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia berniat membunuh Abimanyu. Tetapi saat Abimanyu sudah memejamkan matanya untuk berpasrah, tiba-tiba seorang pria tua menghalangi jalan Pemuda misterius itu.


Dia adalah ketua perguruan Bambu Kuning, setelah melihat Abimanyu terbaring tak berdaya, dia memutuskan untuk membantu murid kesayangannya itu.


"Kau terlalu berlebihan anak muda." Ketua perguruan Bambu Kuning menunjuk ke arah pemuda misterius itu dan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat.


Tetapi di sisi lain, bukannya takut pemuda misterius itu malah tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Oh ternayata para sepuh ingin ikut campur. Tidak kusangka ketua perguruan Bambu Kuning yang terhormat akan bersila seperti ini." Dia tertawa mengejek ketua perguruan Bambu Kuning.


"Tidak apa-apa, mungkin ini ada bagusnya. Jika aku membunuhmu maka tidak akan ada lagi ketua perguruan lain yang akan ikut campur." Pemuda Misterius itu menunjuk ke arah Ketua Perguruan Bambu Kuning.


Yang dikatakan pemuda misterius itu tidaklah salah. Jika dia bisa membunuh ketua perguruan Bambu Kuning maka tidak akan ada ketua lain yang ikut campur.


Alasan Turnamen Pemuda Putih dilaksanakan di dekat perguruan Bambu Kuning bukan tidak punya alasan. Perguruan Bambu Kuning selain adalah perguruan tinggi aliran putih tetapi juga ketua perguruan itu adalah orang terkuat nomor satu di daerah itu.


"Lancang, Kau akan ku kubur disini." Ketua perguruan Bambu Kuning murka, dia tidak menyangka setelah dia turun tangan bukannya takut pemuda misterius itu malah menghinanya. Dia menjadi semakin penasaran dengan pemuda misterius itu.


Di sisi lain para ketua perguruan berbisik-bisik sesama mereka. Tentu mereka tidak menduga ada pemuda yang berani meremehkan ketua perguruan Bambu Kuning.


Ada yang merespon bahwa pemuda misterius itu telah menggali lubang kuburannya sendiri. Tetapi ada juga yang merespon bahwa perkataan pemuda misterius itu bukanlah bualan semata.


Sementara Arga masih menyaksikan pertarungan itu, "Sebelumnya dia tidak memiliki ilmu seperti itu." Arga membatin, dia menangkap sebuah keanehan dari pemuda misterius itu.


*****


Tanpa menunggu waktu lama, ketua perguruan Bambu Kuning yang sudah murka akhirnya menyerang pemuda misterius itu.


Tidak tanggung-tanggung, dia langsung menggunakan tongkat terbaiknya untuk menyerang pemuda misterius itu.


"Terima jurusku ini anak muda," Ketua Perguruan Bambu Kuning berkata lantang, "Jurus Tongkat Sakti Meruntuhkan Gunung." Ketua perguruan Bambu Kuning berteriak dengan keras.


Penonton yang mendengar jurus yang baru saja dikeluarkan ketua perguruan Bambu Kuning mengira bahwa itu adalah akhir dari hidup pemuda misterius itu.


Bagaimana tidak? Itu adalah jurus pamungkas yang dimiliki Ketua Perguruan Bambu Kuning.

__ADS_1


Tetapi sungguh diluar perkiraan semuanya, bukannya mati, pemuda misterius itu malah masih berdiri tegak dan kokoh setelah mendapatkan pukulan yang sangat dahsyat dari tombak Ketua Perguruan Bambu Kuning.


"Apa? Bagaimanakah bisa? Kau bukan manusia?!" Ketua perguruan Bambu Kuning tidak bisa tenang. Jurus pamungkas yang selama ini dia bangga-banggakan dan menemaninya mencapai tingkat seperti sekarang ini hanya seperti pukulan biasa saat melawan pemuda yang ada dihadapannya itu.


"HAHAHA..." Aku tidak akan berani mengacau disini jika aku belum siap semuanya Pak Tua." Pemuda Misterius itu tertawa lantang dan meremehkan ketua perguruan Bambu Kuning.


"Dari tadi aku hanya bermain-main dengan muridmu. Jika aku mau, dia bisa kukalahkan dalam sepuluh jurus." Perkataan pemuda misterius itu tentu saja membuat orang yang mendengarnya menjadi kesulitan bernafas.


Para penonton kini hanya bisa berpikir untuk menyelamatkan nyawa mereka secepat mungkin. Mereka tidak ingin mati sia-sia ditangan pemuda misterius itu.


Sementara itu para ketua perguruan dan para peserta juga menahan nafas mereka. Tidak ada satupun yang berani bernafas maupun bersuara.


Di sisi lain Arga sedang bertarung dengan hatinya, "Apakah ini saatnya aku menunjukkan jati diriku?"


Arga berpikir sejenak, kemudian menghela nafas panjang. Dia telah memutuskan untuk bergerak sekarang.


"Nila, kau tunggu disini, aku akan menghadapi dia. Andaikan aku kalah, kau harus pergi menyelamatkan diri." Arga berkata demikian bukan tidak memiliki alasan. Dia sudah melihat sendiri bahwa kekuatan pemuda misterius itu meningkat dengan pesat beberapa waktu terakhir ini.


"Arga, " Nilawati tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena Arga sudah terbang ke atas arena.


*****


Tetapi saat dia hendak maju, tiba-tiba terdengar suara lantang menggema terdengar di seluruh penjuru.


"Berhenti ketua Lodaya," Sontak saja ketua perguruan Bambu Kuning menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara itu.


"Biarkan Aku yang melawannya." Ternyata suara itu berasal dari Arga.


Di sisi lain Pemuda misterius itu kembali tertawa lantang saat melihat kedatangan Arga.


"Bagus... Akhirnya kau memutuskan untuk melawanku juga. Untung saja kau cepat mengambil keputusan. Kalau tidak semua orang disini akan mati ditanganku." Teriak lantang pemuda misterius itu. Dia tersenyum penuh kepercayaan diri yang tinggi.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Seta." Balas Arga.


"Setelah kubiarkan kau hidup setelah 2 kali pertarungan kita. Bukannya berubah kau malah menjadi semakin parah dan tak terkendali."


Perkataan Arga itu membuat semua orang terkejut dan membelalakkan mata mereka. Walaupun belum pernah bertemu tetapi mereka sudah mendengar sepak terjang dari nama yang Arga sebutkan sebelumnya.

__ADS_1


"Seta....?!"


"Apa? Seta...?!"


"Bukankah, nama itu adalah nama pemuda dari aliran hitam yang sangat terkenal beberapa waktu yang lalu?"


"Seta, Murid Pendekar Pencabut Nyawa, Gading Koneng."


Semua orang memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda. Tetapi hanya satu yang bisa menggambarkan situasi mereka sekarang, terkejut! Itulah yang mereka tunjukkan. Mereka tidak menyangka akan menghadapi Seta.


"HAHAHA..."


"Arga... Arga... Kau pikir aku yang memintamu melepaskanku? Tidak bukan?" Seta berkata dengan angkuh dan menunjuk ke arah Arga.


Perkataan Seta yang dianggapnya biasa-biasa saja, malah mendapat reaksi yang berbeda dari semua orang yang ada disana.


"Apa, Raga adalah Arga?"


"Arga? Bukankah itu nama Pendekar yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga?"


Semua orang bereaksi yang sama seperti ketika bereaksi saat mendengar nama Seta.


Sementara orang yang sudah mengenal dan menebaknya sebelumnya akhirnya tersenyum tipis karena tebakannya benar.


Sebenarnya semua orang ingin memastikan kebenaran dari ucapan kedua orang pemuda yang sedang berhadap-hadapan itu. Tetapi tentu mereka mengetahui bahwa ini bukanlah waktu yang tepat. Akhirnya mereka hanya bisa diam dan menyaksikan pertarungan dahsyat yang sebentar lagi akan terjadi.


*****


"Aku lihat kekuatanmu meningkat dengan pesat dari terakhir kita bertemu." Arga berkata dengan suara pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh semua orang.


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku akan membunuh semua peserta Turnamen ini dan seluruh yang ada disini. Tanpa terkecuali Kau!" Seta menunjuk Arga dan penuh amarah serta kebencian.


Arga hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Baiklah kalau begitu mari kita akhiri ini." Arga maju menyerang Seta dengan tangan kosong.


*****


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2