Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga VS Sepuluh Anggota Perguruan Sanca Hitam


__ADS_3

Malam itu udara di luar dingin sekali, sementara Arga memilih untuk bermeditasi di sudut ruangan yang sebelumnya tempat mereka menyantap makanan. Di sisi lain, Widura sedang tidur tidak jauh darinya.


Di sana bukan hanya terdiri dari Arga dan Widura saja, tetapi para prajurit kerajaan Samudra juga ikut tertidur.


Sementara pangeran Rendra serta para petinggi dan pendampingnya berada di kamar mereka masing-masing.


Saat Arga sedang melakukan meditasi mendalam, pikirannya tiba-tiba terganggu, karena dia merasakan ada aura membunuh yang samar-samar, selain itu dia juga mendengar suara langkah kaki, bukan hanya satu, tetapi Arga menghitung, "Satu... Dua... Tiga... Ada sepuluh orang!" Arga mendengarkan dengan seksama suara langkah kaki itu, tetapi dia tidak bergerak dan masih tetap dalam posisi seperti sebelumnya.


Selain itu, Arga juga merasakan ada asap yang tak kasat mata memasuki ruangan mereka.


"Ini obat tidur!" Gumam Arga dalam hati. Dia langsung mengalirkan tenaga dalam yang cukup untuk membuat dirinya tidak terkena obat tidur itu.


Shuuuttt


Shuuuttt


Arga mendengar dan merasakan ada sekitar sesuatu mengarah kepadanya bukan hanya satu melainkan sepuluh, walaupun demikian dia tetap tenang dan masih tidak beranjak dari tempat duduknya sambil menutup matanya.


Saat Arga merasakan sesuatu itu hanya beberapa senti dari tubuhnya, dia segera mengibaskan tangannya dengan cepat, seketika itu juga, kesepuluh sesuatu itu kembali kepada pengirimnya.


Arga bisa mendengar setelah, ada beberapa suara yang terkejut, "Apa? Bagaimana bisa?" Suara itu berasal dari luar bangunan.


Arga membuka matanya dan melihat sekelilingnya, semua orang sedang tertidur pulas tidak terkecuali Widura.


"Tampaknya mereka berhasil terkena obat tidur itu!" Arga menarik kesimpulan.


Karena penasaran, dia bergerak keluar. Benar saja, dia sedang menyaksikan sepuluh orang yang hendak pergi meninggalkan tempat itu.


"Berhenti!" Teriak Arga, seketika itu juga dia sudah berada di hadapan kesepuluh orang itu.


*****


Sebelumnya, saat sore hari beberapa anggota perguruan Sanca Hitam menghadap kepada Ketua Walang Jagad. Mereka ingin menyampaikan bahwa mereka sudah menemukan lokasi dua pemuda yang mereka cari, yang tidak lain adalah Arga dan Widura.


Mendengar hal itu, Ketua Walang Jagad langsung mengirim sembilan murid berkemampuan paling tinggi di perguruan mereka serta satu Tetua.


Ketua Walang Jagad mengirim mereka karena dia mengetahui bahwa Arga masih terkena Racun Sanca Hitam Terkutuk.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, keputusan itulah yang akan membuat kesepuluh orang yang dikirimnya celaka, karena sebelumnya Arga sudah memulihkan kondisinya berkat pil yang diberikan Widura.


*****


Sembilan orang anggota perguruan Sanca Hitam dan salah satu Tetua mengerutkan dahi mereka saat melihat Arga berhasil menangkis senjata rahasia mereka.


Sebelumnya, kesepuluh orang ini sangat percaya diri dengan kemampuan mereka. Karena sejauh ini, dari sepuluh kali mereka menyerang musuh dengan senjata rahasia itu, delapan diantaranya berhasil.


Yang lebih membuat mereka terkejut lagi, bukan hanya menangkis serangan itu, tetapi Arga juga berhasil menyerang balik mereka.


"Apakah dia sudah menyadari kedatangan kami sebelumnya?" Pikir Tetua itu.


"Bagaimana bisa dia tidak terkena obat tidur!" Salah satu anggota perguruan Sanca Hitam terkejut saat melihat Arga seperti tidak terkena dampaknya.


Kesepuluh nya menghindari senjata rahasia yang dikembalikan Arga dengan susah payah karena mereka tidak siap dan berpikir itu tidak akan terjadi.


Setelah itu keduanya berniat lari, tetapi saat mereka hendak pergi, tiba-tiba saja Arga sudah berada di hadapan mereka.


*****


"Apa mau kalian?" Arga bertanya sambil menaikkan alisnya. Selain itu tatapannya tajam dan membuat udara menjadi dingin serta mengeluarkan aura bertarungnya yang membuat kesepuluh orang itu bergetar hebat.


Melihat tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Arga kembali berkata.


"Kalian memang suka mencari masalah! Jangan berpikir lagi untuk kembali, karena malam ini adalah malam terakhir kalian menarik nafas." Selesai berkata demikian Arga langsung melesat menyerang ke arah sepuluh orang itu.


Kesepuluh orang itu menyambut serangan Arga, menurut mereka jalan satu-satunya untuk selamat adalah mengalahkan Arga lebih baik lagi membunuhnya.


Untuk pergi tanpa mengalahkan Arga, mereka merasa mustahil karena kesepuluh orang itu sendiri sudah pernah melihat kemampuan Arga dan mengetahui kekuatannya.


Sebenarnya mereka saat ini sedang ketakutan menghadapi Arga, tetapi karena mereka mengira Arga masih terkena efek Racun Sanca Hitam Terkutuk, membuat mereka sedikit berani.


Arga bergerak dengan cepat, dalam beberapa tarikan nafas tapaknya sudah berbenturan dengan tapak kesepuluh orang itu.


Tetapi tentu saja kesepuluh orang itu menahannya tanpa kesulitan. Bagaimanapun juga sembilan dari mereka adalah murid dengan kemampuan tinggi yang dimiliki oleh perguruan Sanca Hitam sedangkan satunya adalah Tetua yang tidak mengkin memiliki kemampuan rendah.


Dalam kurun waktu singkat, antara Arga melawan kesepuluh orang itu sudah bertukar puluhan jurus, tetapi Arga belum terkena satupun serangan mereka. Sementara dua orang dari mereka terkena tapak Arga yang cukup telak dengan mendarat ke dada mereka. Hal itu membuat keduanya terpental dan mengeluarkan darah segar dari pinggir bibir mereka.

__ADS_1


Tentu saja Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia kembali menyerang delapan orang yang masih sehat, sedangkan dua orang lainnya masih terlihat mengatur nafas mereka.


Beberapa menit kemudian, Arga mengambil jarak dari mereka, karena dia merasakan delapan orang itu menggunakan racun.


Menyadari hal itu, Arga langsung menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua, Ajian Serat Wadag Brajawesi yang membuat tubuhnya kebal. Walaupun tidak kebal terhadap racun, paling tidak bisa menahan pukulan dan senjata lawannya.


Setelah itu, dia juga menggunakan Jurus yang diturunkan mendiang Pendekar Pelukis yaitu Jurus Membelah Diri.


Dengan beberapa gerakan, Arga berhasil menciptakan enam tubuh tiruannya dan dia sebagai pelengkap untuk yang ketujuhnya.


"Bagaimana dengan ini?" Arga tersenyum lebar, "Aku rasa cukup adil bukan?"


Melihat Arga menjadi tujuh, kesepuluh orang itu mengumpat dalam hati. Menghadapi satu orang sepertinya saja sudah merepotkan, apalagi sekarang ada tujuh. Walaupun mereka tahu itu hanyalah tiruan, tetapi tetap saja berbahaya, pikir mereka.


Sebenarnya untuk mengalahkan sepuluh orang ini cukup mudah selama Arga menggunakan Pedangnya, tetapi itu tidak bisa dilakukannya sekarang. Karena menggunakan Pedang Tujuh Naga membutuhkan tenaga dalam yang besar, sedangkan Arga baru saja sembuh dari kondisinya, jadi dia harus menstabilkannya terlebih dahulu.


Walaupun demikian, menurutnya ini lebih dari cukup untuk menaklukkan kesepuluh orang itu.


Arga tidak menunggu waktu lama, dia sudah bersiap-siap untuk kembali menyerang. Sementara lawannya, dua orang yang sebelumnya terkena pukulan Arga kini sudah bisa bertarung lagi.


"Gunakan Formasi Lima Bintang Mengurung Bulan!" Teriak Tetua itu.


Segera saja mereka membentuk formasi mengelilingi Arga dengan masing-masing dua orang saling berdekatan.


Selain itu, mereka juga mengeluarkan senjata mereka. Sebuah cemeti yang panjang berkisar satu meter segera tergenggam di tangan mereka masing-masing.


"Menarik!" Ucap Arga sambil tersenyum lebar.


*****


**Hai para readers, kali ini Author mau kasih tahu, author sedang mengerjakan novel bergenre Xianxia seperti JTI karya Shujinkouron.


Silahkan mampir, judulnya POISON KING KULTIVATOR, di jamin kisahnya cukup menarik untuk kalian baca.


Jangan lupa like, komen, share, rate bintang 5, dan favorit ya.


Tenang aja, Novel Pendekar Pedang Tujuh Naga masih akan update seperti jadwal biasanya.

__ADS_1


So Enjoy**


__ADS_2