
Setiap kali Arga berhasil memojokkan Cakra Buana, maka Jago Langit akan menyerangnya, hal itu membuat Arga berdecak kesal sekaligus kagum, menurutnya kedua lawannya ini sudah sering melakukan kombinasi seperti ini.
Walaupun demikian, tetap saja Arga adalah pendekar dengan banyak kemampuan. Dia menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat keempat : Ajian Serat Gulung Jagad, gerakan ini sangat cocok untuk melawan musuh dalam jumlah lebih dari satu ataupun banyak.
Arga bergerak dengan cepat dan gesit, gerakannya sangat sulit ditebak maupun di hadapi membuat Cakra Buana dan Jago Langit harus menggunakan segenap kemampuannya.
Bukkk
Arga berhasil mendaratkan satu pukulannya ke dada Jago Langit membuat pria itu terpental ke dalam kapal.
Aargh
Jago Langit menjerit keras dan memegangi tulang rusuk sebelah kanannya, Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua : Ajian Serat Wadag Brajawesi yang membuatnya tubuh sangat keras.
Jago Langit merasakan beberapa tulangnya patah sebab itulah dia menjerit keras.
Tetapi, Jago Langit langsung menelan sebuah pil untuk menghentikan pendarahannya. Walaupun begitu, dia belum bisa bergerak dengan leluasa, dia harus memulihkan kondisinya terlebih dahulu.
Arga tentu saja tidak melewatkan kesempatan itu, dia langsung mengeluarkan pedangnya dan menyerang Cakra Buana.
Dalam waktu singkat, Cakra Buana yang sudah mulai kehabisan nafas, akhirnya mendapat tiga goresan luka di bagian tangan, perut dan punggungnya.
Dengan luka yang cukup dalam tersebut membuat Cakra Buana tidak bisa bergerak leluasa seperti sebelumnya.
Menyadari nyawanya dalam bahaya, Cakra Buana mencoba peruntungannya.
"Tunggu Pendekar Arga, aku tidak ingin bertarung lagi. Aku akan membawa pasukan ku meninggalkan kalian." Cakra Buana berlutut di atas air. Memang dia memiliki ilmu yang bisa berdiri dan berjalan di atas air tanpa tennggelam.
"Hmph," Arga mendengus kesal, "Untuk apa aku membiarkan kalian pergi, tidak ada untungnya." Balas Arga dan langsung hendak bergerak, tetapi langkahnya kembali terhenti saat Cakra Buana kembali bersuara.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Pendekar Arga!" Tubuh Cakra Buana bergetar hebat, jika Arga menyerangnya sekali lagi maka dia tidak akan bisa mempertahankan nyawanya lebih lama.
"Kau mengancam ku?" Tanya Arga sambil menaikkan alisnya.
"Bukan... Bukan begitu maksudku Pendekar Arga." Cakra Buana tersedak nafasnya sendiri karena perkataannya di salah artikan oleh Arga.
"Aku bisa memberikanmu kompensasi setelah ini!" Cakra Buana terus menjadi berkomunikasi dengan Arga.
"Hmph kompensasi?" Arga terlihat berpikir sejenak.
"Mungkin aku akan mengampuni kalian!" Jawab Arga setelahnya.
Mendengar hal itu membuat Cakra Buana antusias, tetapi setelah dia tersedak nafasnya sendiri saat Arga kembali bersuara.
"Tapi Bohong!" Teriak Arga dengan lantang.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan kalian satupun, jika kalian masih hidup maka laut ini tidak akan pernah aman."
Walaupun pengalamannya di dunia persilatan masih terbilang hijau, tetapi dia sudah banyak bertemu dengan pendekar-pendekar terutama pendekar aliran hitam dan menghadapinya.
Dia mengetahui betul, bahwa mereka akan sangat sulit berubah karena kejahatan sudah mendarah daging di tubuh mereka.
Arga pernah mengampuni nyawa musuhnya bukan hanya sekali bahkan dua kali, yaitu Seta. Tetapi kebaikannya tidak dihiraukan malah semakin menjadi-jadi. Berbekal pengalaman itu, Arga tidak akan membiarkan musuhnya lolos atau nyawanya akan kembali terancam.
"Pergilah kalian ke dunia seberang dan pertanggungjawabkan kelakuan kalian selama ini!" Arga bergerak maju dengan pedangnya melesat ke arah Cakra Buana.
Cakra Buana mendengus kesal kerena caranya tidak berhasil. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati dan menyambut serngan Arga dengan kekuatan yang tersisa.
Kurang dari satu menit, Cakra Buana tidak bisa lagi menahan serangan Arga.
Darah sudah mengalir di sekujur tubuhnya dan berlutut.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menebas leher Cakra Buana dan membuat pria itu tewas.
Jago Langit yang menyaksikan dari tadi ketakutan, tubuhnya bergetar hebat karena pasti Arga akan membunuhnya juga.
Dengan kekuatan yang tersisa, Jago Langit mencoba kabur, tetapi tentu saja usahanya tidak berjalan dengan lancar. Dalam hitungan detik, Arga sudah berada di depannya.
"Maafkan aku, Pendekar Arga. Jika kau melepaskanku, aku akan bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik. Aku juga akan meninggalkan dunia persilatan dan menjadi seorang nelayan!" Jago Langit memohon ampunan kepada Arga yang seperti malaikat pencabut nyawa baginya.
Mendengar hal itu Arga tidak bergeming, pada tarikan nafas selanjutnya, tubuh Jago Langit sudah terpotong menjadi dua dan jatuh ke dalam laut.
Saat sudah mendekati kapal, Arga melihat Widura sedang bertarung dengan sengit melawan seseorang.
*****
"Kau pikir akan dengan mudah mengalahkanku?" Lawan Widura mendengus kesal melihat Widura menyerangnya dengan kekuatan penuh.
Walaupun demikian, pemuda itu sanggup meladeni permainan Widura.
Pedang keduanya bertemu membuat suara keras menggema di udara.
Widura bergerak dengan cepat dan lincah, di sisi lain pemuda itu juga sama.
Widura menyerang ke bagian lehernya, tetapi pemuda itu menangkisnya dengan cepat.
Widura menyerang ke arah perutnya, lagi-lagi pemuda itu bisa menangkisnya.
"Sesuai kabar, murid perguruan Angin Kencana sangat hebat!" Puji Widura.
Pujian itu di balas dengan dengusan, "Aku bukan anggota perguruan itu lagi!" Jawab pemuda itu dengan keras. Terlihat sekali kebenciannya saat mendengar nama perguruan Angin Kencana.
__ADS_1
Serangan demi serangan kembali tercipta di antara keduanya, tetapi tiba-tiba ada seseorang pemuda mendekati mereka yang membuat keduanya mengambil jarak.
Widura mengenali pemuda itu, senyuman merekah di bibirnya. Di sisi lain, lawan Widura juga mengenali pemuda itu, tetapi membuatnya bergetar hebat dan berdecak kesal. Pemuda itu tidak lain adalah Arga.
Arga mendarat tidak jauh dari keduanya sambil tersenyum lebar.
"Tenang saja, aku tidak akan ikut campur pertarungan kalian berdua!" Arga bisa melihat wajah lawan Widura begitu buruk saat melihat Arga.
"Sebaiknya kau fokus menghadapi saudara Widura atau kau akan menjadi mayat seperti Cakra Buana dan Jago Langit!" Arga terkekeh-kekeh.
Lawan Widura tidak menjawab, walaupun Arga tidak mengatakannya dia sudah mengetahui bahwa dua orang itu sudah tewas di tangan Arga. Kalau tidak bagaimana Arga bisa disini?!
"Kalian lanjutkan saja! Aku ingin bermain-main dengan yang lain!"
Arga meninggalkan keduanya dan melaju ke arah anggota Kelompok Paus Darah.
"Dia..."
"Pendekar Arga!"
"Pendekar Pedang Tujuh Naga!"
"Kemana Ketua dan Jago Langit!"
Berbagai suara terdengar dari anggota Kelompok Paus Darah. Tetapi hanya satu reaksi yang mereka tunjukkan, ketakutan!
Jika mereka sudah melihat Arga berada disini, tentu saja Arga sudah membunuh Cakra Buana dan Jago Langit. Tidak mungkin bukan, Arga melepaskannya?
Melihat kedatangan Arga, para prajurit kerajaan Samudra antusias, begitu juga dengan pangeran Rendra dan sepuluh pengawalnya.
Tetapi tidak dengan anggota Kelompok Paus Darah, mereka menjadi kehilangan semangat bertarung.
"Sebaiknya kalian tidak melawan lagi. Aku akan membunuh kalian dengan cepat dan tanpa rasa sakit." Seru lantang Arga membuat tubuh mereka bergetar hebat.
Mendengar tidak akan ada pengampunan untuk mereka, semuanya memutuskan untuk melakukan perlawanan sampai mati.
Arga sudah menduganya, sebab itulah dia sudah mempersiapkannya.
"Ajian Serat Jiwa : Ajian Bayu Bajra!"
Ajian Serat Jiwa tingkat kedelapan itu bisa membuat angin topan yang kencang. Seketika itu juga tubuh semua anggota Kelompok Paus Darah terlempar keluar dari kapal.
Disaat mereka sedang melayang di udara, Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat ketujuh : Ajian Tapak Saketi. Seketika api menyambar keluar dari tangan Arga dan dalam hitungan detik semua anggota Kelompok Paus Darah terbakar dan meledak.
Disaat bersamaan, Widura juga berhasil membunuh lawannya.
__ADS_1
*****
Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho