
Widura dan Arga saat ini tengah berdiskusi, sebelumnya Pangeran Rendra sudah mengatakan maksud dan tujuannya mendatangi Widura.
Yang pertama, dia menanyakan perihal kematian anggota perguruan Sanca Hitam ada hubungannya dengan Widura atau tidak, tetapi Widura langsung menjawabnya dengan gelengan karena dia sendiri penasaran.
Yang kedua adalah pangeran Rendra meminta Widura sekaligus Arga menjadi pengawalnya untuk menyeberangi Selat Madura.
Widura tidak langsung menolaknya, dia meminta untuk Pangeran Rendra mempersilahkan dirinya dan Arga untuk mendiskusikan hal ini.
Pangeran Rendra tidak menolak, menurutnya memang permintaannya bukanlah hal yang mudah karena mereka akan melewati daerah kekuasaan Kelompok Paus Darah.
Kelompok Paus Darah adalah sekumpulan pendekar yang menjadi perompak di Selat Madura.
Kelompok itu terkenal kejam, mereka tidak segan-segan untuk membunuh dan menenggelamkan kapal orang-orang yang melintasi daerah mereka, jika tidak menuruti keinginan mereka.
Setelah hampir lima belas menit, akhirnya Widura kembali mendekati Pangeran Rendra dan pengawalnya.
"Baiklah kami akan menjadi pengawal pangeran untuk melewati Selat Madura ini. Kebetulan kami juga ingin menyeberang kesana." Sebelumnya, Arga dan Widura sepakat untuk menerima tawaran Pangeran Rendra.
Mendengar hal itu, baik Pangeran Rendra maupun kesepuluh pengawalnya menjadi bernafas lega. Menurut mereka dengan keberadaan Arga dan Widura maka keselamatan mereka semakin tinggi.
"Terima kasih sudah memberi muka untukku Pendekar Widura!" Pangeran Rendra memberi hormat tulus kepada Widura. Memang Arga menyuruh Widura untuk menyelesaikannya, Arga lebih memilih untuk tidak terlalu jauh terlibat.
"Kita akan berangkat saat matahari berada di atas kepala." Pangeran Rendra mengatakan, mereka akan berangkat siang itu juga.
"Baik Pangeran!" Jawab Widura, kemudian dia meninggalkan Pangeran Rendra dan pengawalnya.
"Segera siapkan semua barang bawaan dan masukkan ke dalam kapal. Jangan ada yang tersisa, terutama harta yang akan diberikan kepada calon mertuaku!" Setelah memberi titah itu, Pangeran Rendra kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Sedangkan sepuluh pengawalnya menyiapkan semua barang-barang bersama para prajurit.
*****
"Bagaimana?" Arga menanyakan kapan mereka akan berangkat.
"Kita akan berangkat hari ini juga." Jawab Widura.
Arga mengangguk, kemudian dia kembali memejamkan matanya untuk bersemedi. Sementara Widura memilih untuk keluar penginapan karena dia masih penasaran dengan pelaku pembunuhan anggota perguruan Sanca Hitam.
__ADS_1
Sesampainya di luar, Widura menemukan seorang pria paruh baya bertubuh gempal sedang berada di tengah kerumunan warga. Melihat dari situasinya, pria paruh baya itu sedang menenangkan para warga.
Karena penasaran, akhirnya Widura mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.
*****
"Tenang... Tenang saudara-saudara!" Ternyata sosok pria paruh baya bertubuh gempal itu tidak lain adalah Lodeh, seorang walikota Kota Pelabuhan.
Saat dia mendengar kabar penemuan mayat anggota perguruan Sanca Hitam, beliau langsung bergegas mendatangi lokasi kejadian.
"Bagaimana ini?"
"Siapa yang akan bertanggung jawab atas hal ini?"
"Pak Walikota, Anda harus segera mendapatkan pelaku pembunuhan anggota perguruan Sanca Hitam ini!"
Berbagai macam umpatan terdengar dari para warga. Mereka sangat ketakutan, karena mereka tahu, kalau tidak menemukan pelakunya, maka mereka yang akan menjadi sasarannya.
Ki Lodeh hanya bisa menenangkan para warga, diapun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya dia memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak penginapan Rumah Teratai Putih untuk memberi penjelasan dan kompensasi yang memuaskan untuk perguruan Sanca Hitam.
Ki Lodeh menghela nafas setelah melihat kepergian para warga. Dia hanya berharap, penjelasan yang mereka terangkan bisa memuaskan perguruan Sanca Hitam.
Widura sendiri meninggalkan lokasi itu setelah mengetahui kejadiannya. Dia memutuskan untuk kembali ke dalam penginapan dan mempersiapkan diri untuk pergi.
Di sisi lain, Arga sedang menutup matanya, tetapi senyuman merekah di bibirnya.
"Perguruan Sanca Hitam tidak akan berani mengganggu para warga kota ini. Tentunya mereka tidak ingin berhadapan denganku lagi!" Gumam Arga dalam hati.
Pemikiran Arga memang tepat, karena disaat yang sama, Ketua Walang Jagad dan Wakil Ketua Jabar dari perguruan Sanca Hitam sedang mendengarkan informasi dari salah satu anggotanya yang mengabarkan bahwa sepuluh orang yang mereka kirim untuk membunuh Arga malah tewas di tangan pemuda itu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ketua?" Tanya Wakil Ketua Jabar.
"Tidak perlu melakukan apa-apa. Kita tidak akan mengganggu dan mencoba mengusik Pendekar Arga lagi. Kita sudah banyak kehilangan, bisa dikatakan kekuatan kita berkurang sampai sepuluh persen.
Membunuhnya sekalipun tidak akan bisa mengembalikan anggota kita yang tewas. Bahkan bisa lebih banyak korban lagi." Jelas Ketua Walang Jagad. Matanya memancarkan kemarahan yang sangat dahsyat.
__ADS_1
"Siap Ketua!" Wakil Ketua Jabar memberi hormat dan meninggalkan Ketua Walang Jagad sendirian.
Setelah melihat dia tinggal sendirian, Ketua Walang Jagad menghela nafas panjang, "Pendekar Arga ya!" Senyuman pahit menghiasai bibir Ketua Walang Jagad.
*****
Siang hari tiba, tepat matahari bersinar di atas kepala, terlihat di pinggir pelabuhan rombongan Arga sedang bersiap-siap untuk menaiki kapal.
Kapal itu sendiri adalah kapal terbesar yang ada di pelabuhan itu. Pangeran Rendra memesannya menggunakan kekuasaannya.
"Mari Pendekar Arga, Pendekar Widura." Ajak Pangeran Rendra dengan sopan.
Baik Arga maupun Widura mengangguk, tetapi mereka mempersilahkan Pangeran Rendra untuk naik terlebih dahulu. Kemudian diikuti Arga dan Widura, baru di belakangnya sepuluh pengawal Pangeran Rendra dan para prajurit.
Setelah semuanya sudah berada di dalam kapal, akhirnya sang nahkoda melayarkan kapalnya.
Arga dan Widura sendiri diberikan masing-masing satu kamar pribadi untuk mereka. Memang di dalam kapal yang begitu luas dan besar itu, terdapat banyak kamar-kamar yang disediakan.
Demi menghormati Pangeran Rendra, baik Arga maupun Widura memutuskan untuk menemaninya berbincang-bincang. Karena sebelumnya, Pangeran Rendra mengatakan ingin menjamu mereka.
Ketiganya berbincang di bagian yang cukup luas dari kapal sambil ditemani beberapa guci arak dan makanan lezat.
Arga menceritakan bahwa tujuannya ke pulau seberang untuk mencari tanaman yang bisa menyembuhkan nyawa istrinya.
"Semoga berhasil Pendekar Arga!" Ucap Pangeran Rendra setelah mendengar cerita Arga.
"Pangeran, sebaiknya Anda cukup memanggil nama hamba. Tidak perlu di tambah pendekarnya." Arga merasa kurang nyaman dengan panggilan itu.
"Mana berani saya Pendekar Arga. Begini saja, kalau Pendekar Arga tidak ingin dipanggil demikian, bagaimana jika aku memanggilmu Saudara Arga dan kau juga tidak perlu memanggilku Pangeran. Cukup panggil namaku saja atau Saudara Rendra."
"Baiklah, sesuaikan saja dengan yang membuat Anda nyaman." Balas Arga dengan lembut.
"Baiklah, mulai sekarang kita adalah saudara. Kapanpun Saudara Arga dan Saudara Widura membutuhkanku, kalian cukup datang ke kerajaan Samudra, maka aku akan membantu semampuku." Pangeran Rendra tersenyum puas, menurutnya membuat relasi dengan sosok penting seperti Arga dan Widura akan sangat menguntungkan di kemudian hari.
Ketiganya menghabiskan hari itu dengan membincangkan banyak hal hingga larut malam.
*****
__ADS_1
Jangan lupa kunjungi karya terbaruku POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho!