Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Mengamuk


__ADS_3

Arga terus memeluk tubuh Nilawati di pangkuannya, tidak lupa juga dia terus mengalirkan tenaga dalamnya, berharap paling tidak bisa memperlambat proses penyebaran racun itu.


Tidak lama kemudian, Dewa Obat pun sampai ke lokasi Arga berada, Dewa Obat langsung memeriksa tubuh Nilawati di bagian leher, tangan dan hidungnya. Dewa Obat sedang memeriksa apakah Nilawati masih bernyawa atau tidak.


Setelah beberapa saat, Dewa Obat menghela nafas panjang, tetapi dari helaan nafasnya itu terlihat dia cukup bersyukur karena saat ini Nilawati masih bernafas.


"Istrimu masih hidup Arga, tetapi racun di dalam tubuhnya sudah menyebar ke berbagai sarafnya."


"Apakah Nilawati tidak bisa tertolong paman?" Arga tidak berbasa-basi, tubuhnya masih bergetar hebat sampai saat itu.


"Beruntunglah kau cepat-cepat mengalirkan tenaga dalammu kepadanya. Aku merasakan sendiri tenaga dalam asing itu di dalam tubuh Nila, jadi dia masih bisa selamat. Tapi..." Dewa Obat menghentikan perkataannya, dia bimbang antara memberitahukan kebenarannya kepada Arga atau tidak.


Arga tentu saja menyadari ada yang Dewa Obat tutupi, dengan tenang dia mengatakan, "Aku tahu apa yang Paman pikirkan, tenang saja aku akan menerima semua kenyataannya." Arga tersenyum tipis, tapi dari senyumannya itu tampak kesedihan yang mendalam.


Mendengar Arga siap dengan apa yang akan disampaikannya, Dewa Obat akhirnya langsung mengatakannya.


"Yang pertama, Nilawati masih bisa selamat karena kau dengan cepat mengalirkan tenaga dalammu kepadanya.


Yang kedua, kau harus mencari tanaman yang dibutuhkan untuk membuat penawar racun ini.


Penawar Racun Kelabang Hijau hanya bisa dibuat dengan campuran Mawar Hitam, Brotowali, dan Jamur Kehidupan.


Untuk Brotowali dan Jamur Kehidupan masih bisa ditemui di hutan dekat perumahan paman, tetapi untuk Mawar Hitam, sangat sulit ditemui apalagi di daerah kerajaan Kalingga ini." Dewa Obat menjelaskan semuanya.


"Jadi, dimana aku bisa menemukan tumbuhan Mawar Hitam itu paman?"


"Kau harus pergi ke pulau seberang, keluar dari pulau ini Arga. Kau harus pergi ke arah Timur, maka kau akan menemukan lautan dan kau harus menyeberang kesana." Dewa Obat mengatakan bahwa Bunga Mawar Hitam hanya bisa ditemui di luar pulau tempat mereka duduki saat ini.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengambilnya Paman." Arga hendak berdiri dari tempatnya, tetapi Dewa Obat menahannya.

__ADS_1


"Arga ,Kau harus tahu Bunga Mawar Hitam itu belum pernah ada yang menemukannya. Paman hanya pernah mendengar tentangnya di dalam buku obat. Selain itu, jikapun ada, tanaman itu dijaga oleh kekuatan yang sangat dahsyat." Dewa Obat menjelaskan.


"Bunga Mawar Hitam sama saja bentuknya dengan Bunga Mawar Merah maupun Putih, hanya warnanya saja yang berbeda." Dewa Obat menyambung penjelasannya.


"Aku akan mencarinya Paman, walaupun Paman bilang tanaman itu adalah legenda, tetapi ada asap pasti ada api Paman. Bunga Mawar Hitam itu bisa dikatakan ada berarti pasti ada yang pernah menemukannya.


Walaupun ke ujung dunia sekalipun, jika itu bisa menyembuhkan Nila, aku akan mencarinya." Arga dengan mantap mengatakan hal itu. Kata-katanya terlihat sungguh percaya diri.


Ya begitulah, jika orang yang kita sayangi dalam bahaya pasti hati dan perasaan kita akan ikut merasakannya.


Mendengar Arga sudah memantapkan pilihannya, Dewa Obat mengangguk dan berkata, "Baiklah kalau begitu pergilah Arga, tapi ingat, waktumu hanya setengah tahun, aku bisa meringankan beban kesakitan Nilawati, tetapi dia tidak akan sadar selama itu.


Jika kau tidak menemukan Bunga Mawar Hitam dalam setengah tahun itu, kau pasti tahu apa yang akan terjadi.


Pergilah, aku berharap kau bisa menemukannya."


"Baiklah Paman, aku mempercayakan istriku kepadamu, tetapi sebelum aku pergi, aku akan meringankan beban Kerajaan Kalingga ini." Setelah berkata demikian, Arga terbang ke arah kerumunan pasukan kerajaan Kalingga dan musuhnya.


*****


Setelah pasukan kerajaan Kalingga mundur, Arga langsung mengeluarkan pedangnya dan berkata, "Naga Bergola Biru mengamuk lah." Selesai Arga mengatakan hal itu, dia melemparkan Pedangnya ke udara dan tak lama kemudian muncul sosok Naga berwarna biru yang tidak lain adalah Naga Bergola Biru.


"Hamba laksanakan Tuan." Naga Bergola Biru tidak menunggu waktu lama, dia terbang ke udara dan langsung mengeluarkan api yang sangat besar dari mulut dan kedua kakinya.


Mungkin serangan itu tidak sanggup membunuh para pendekar, tetapi para prajurit? Mereka hanya manusia biasa yang dilatih ilmu silat bukan ilmu tenaga dalam, tentu saja serangan itu dapat membunuh mereka dalam sekejap.


Hanya butuh tujuh kali semburan api dari Naga Bergola Biru, tempat yang semula banyak pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya rata, yang tersisa hanyalah bekas abu dari tubuh mereka.


"Yang masih ingin hidup segera tinggalkan tempat ini. Dan ingatlah jangan pernah kembali kesini untuk meruntuhkan kerajaan Kalingga selama aku masih hidup." Setelah berkata demikian, Arga menarik kembali Naga Bergola Biru dan menjadi pedangnya.

__ADS_1


Setelah itu dia pergi meninggalkan tempat itu, karena dia ingin segera mencari Bunga Mawar Hitam.


*****


Melihat pasukan kerajaan Jenggala habis tanpa sisa, Raja Jatmiko dan pihak kerajaan Kalingga menahan nafas mereka.


Begitupun dengan pihak kerajaan Jenggala dan sekutunya, mereka menahan nafas mereka.


Bagaimana tidak, yang bukan Pendekar disana tewas semua tanpa meninggalkan jasad sedikitpun, hanya meninggalkan abu nya saja.


Baik Raja maupun Ratu dari pihak musuh kerajaan Kalingga ketakukan, walaupun mereka juga seorang pendekar, tetapi mereka tidak bisa melakukan hal seperti yang Arga lakukan.


Tidak ada yang berani tinggal disana lebih lama, semuanya lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.


Begitupun Patih Ringkih, dari kerajaan Jenggala. Walau begitu, dia masih sempat membawa Ratu Sri Dewi Wijaya yang sampai saat itu belum sadarkan diri.


*****


Di sisi lain, tidak ada kesenangan dari pihak kerajaan Kalingga walaupun mereka berhasil memenangkan pertarungan. Karena bagaimanapun juga dari pihak mereka mengalami korban yang tidak sedikit.


"Yang Mulia, apakah kita harus mengejar Mereka?" Patih Angga Reksadana mendekati Raja Jatmiko.


"Tidak Paman Patih, mereka pergi karena takut kepada saudara Arga, jika kita mengejar Mereka, mereka pasti akan menyerang kita." Raja Jatmiko tentu tidak mau gegabah, dia memahami musuh mereka takut kepada Arga bukan kerajaan Kalingga.


Raja Jatmiko hanya bisa bernafas lega, karena kerajaan Kalingga berhasil menghadapi pemberontakan untuk kedua kalinya.


Raja Jatmiko juga memahami yang dilakukan Arga ada hubungannya dengan Nilawati.


Pemikiran Raja Jatmiko tidaklah salah, sebenarnya Arga ingin mengamuk menghadapi Gading Koneng, Nyai Parwati dan Sembada, serta menghabisi semua musuh kerajaan Kalingga, tetapi setelah dia pikir lagi, akhirnya dia mengurungkan niatkan.

__ADS_1


Sebenarnya dalam hati kecil Arga, dia tidak mau mengeluarkan Naga Bergola Biru dan membuat pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya habis tanpa sisa, tetapi hal itu tertutupi oleh kemurkaannya karena istrinya menjadi korban dari pertarungan itu.


Arga hanya bisa menghela nafasnya, dia siap menghadapi karma dari pembunuhannya itu dan siap menerima hukuman suatu saat nanti.


__ADS_2