Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Menolong Putri Raja Siluman Buaya


__ADS_3

"Jurus yang akan ku turunkan kepadamu bernama 'Jurus Bayangan Kegelapan'!" Ucap Segoro Jaya sambil meletakkan kedua tangannya di belakang Arga yang sedang duduk bersila.


Arga tidak menjawab, tetapi dia mendengarkannya dengan seksama.


Sambil terus berbicara, Segoro Jaya juga mengalirkan tenaga dalamnya ke kedua tangannya.


Di putarnya kedua tangan itu dan di letakkannya lagi di punggung Arga.


Arga menjerit, tetapi dia tidak melawan. Arga bisa merasakan sesuatu mengalir ke dalam tubuhnya.


Selama beberapa hari lamanya proses itu, akhirnya Segoro Jaya berdiri dari tempat duduknya.


"Aku sudah menurunkan jurus itu kepadamu. Yang harus kau lakukan adalah mempelajarinya dengan baik.


Aku tidak bisa berlama-lama, ku harap kau bisa menjalankan takdirmu!" Tanpa menunggu jawaban Arga maupun reaksi pemuda itu, Segoro Jaya menghilang dari tempat tersebut.


Arga masih memulihkan tubuhnya, butuh waktu sekitar lima belas menit untuknya menstabilkan tubuhnya.


Arga menghela nafas, "Terima kasih kakek Goro. aku akan memenuhi takdir itu!" Setelah itu, Arga melangkahkan kakinya untuk menemui Widura.


*****


"Saudara Widura, terima kasih kau sudah bersedia menunggu selama ini!" Arga tersenyum hangat saat melihat Widura sedang berdiri tegak di tempat yang sebelumnya dia berpisah dengannya.


Memang Widura bisa merasakan kedatangan Arga, jadi dia sudah menunggunya.


"Tidak perlu sungkan, saudaraku. Jadi kemana kita sekarang?" tanya Widura sambil membalas senyuman Arga.


"Kita akan ke kerajaan Siluman Buaya. Aku ada janji dengan mereka." jawab Arga sambil menggosok cincin yang ada di jarinya.


Mendengar itu, Widura menaikkan alisnya, dia tidak paham dengan yang dimaksud Arga.


Tetapi itu tidak berlangsung lama karena dalam beberapa tarikan nafas selanjutnya, tiba-tiba ada sebuah lubang hitam dan setelahnya keluar sosok pria paruh baya dari lubang itu.


"Raja Amung Bumi!" Arga memberi hormat.


"Pendekar Arga, terima kasih sudah memenuhi permintaanku! Kerajaan siluman buaya berhutang besar kepada pendekar!" Raja siluman buaya tersenyum lebar.


"Itu kita bahas nanti saja. Lagipula aku belum melakukan apa-apa untuk kalian." balas Arga dengan sopan.


"Oh iya, perkenalkan ini adalah Widura, saudara angkatku!" Arga tidak lupa memperkenalkan Widura.


"Salam Pendekar!" Raja siluman buaya memberi hormat kepada Widura.


"Salam Yang Mulia!" Balas Widura.


Setelah berbincang sejenak untuk berbasa-basi, Raja siluman buaya mengajak keduanya ke istana kerajaan siluman buaya yang ada di dasar danau.


Tetapi sebelumnya, raja siluman buaya telah memberikan beberapa tanaman ginseng air.

__ADS_1


Dia mengatakan bahwa ginseng air itu bisa membuat manusia yang mengkonsumsinya akan mampu bertahan hidup cukup lama di dalam air.


*****


Ketiganya sampai di dasar danau. Arga dan Widura terpana melihat kerajaan siluman buaya yang cukup besar dan megah, tidak kalah dari kerajaan manusia di daratan.


Tidak ingin membuang-buang waktu, raja siluman buaya langsung mengajak Arga dan Widura menemui putrinya yang membutuhkan pertolongan.


"Tuan Pendekar, putriku sudah menderita penyakit ini selama sepuluh tahun lebih. Kami tidak bisa menyembuhkan walaupun sudah banyak cara yang kami lakukan. Mohon Tuan Pendekar memeriksanya." Raja siluman buaya juga menjelaskan bahwa mereka mendapatkan petunjuk bahwa yang bisa menyembuhkan putri raja siluman buaya adalah seorang manusia yang memiliki Ajian Gineng.


Saat itulah siluman buaya selalu mengutus anggotanya untuk muncul kepermukaan dan mencari sosok yang di maksud.


Tetapi apapun yang dilakukan, mereka tidak menemukannya.


Merasa yang mereka lakukan sia-sia, akhirnya mereka hanya menunggu ada keajaiban dan takdir langit.


Tidak di sangka, hari itu tiba juga. Dan sosok yang dimaksud adalah Arga. Raja siluman buaya yakin bahwa Arga bisa menyembuhkan putrinya.


Arga mengangguk, dia mengatakan bahwa dia tidak berjanji bisa menyembuhkan penyakit putri raja siluman buaya tetapi dia akan mengerahkan seluruh kemampuan yang dia punya.


Arga langsung memeriksa tubuh putri raja siluman buaya itu.


Saat dia memeriksanya, Arga terkejut bukan main, hanya ada jantung yang berfungsi selain itu tidak ada lagi yang berfungsi dari organ gadis tersebut.


Arga tidak mengetahui penyakit tersebut, tetapi dia menggunakan Ajian Ginengnya. Seketika itu cahaya berwarna hijau muncul di seluruh tubuhnya.


Tidak ada yang menduga, cara itu berhasil. Tubuh gadis siluman itu perlahan-lahan mulai membaik dan akhirnya membuka matanya.


Melihat anaknya membuka matanya, raja siluman buaya begitu kegirangan. Dia mendekati putrinya dan memeluknya.


"Kirana Larasati! Kau sembuh anakku!" Ucap raja siluman buaya.


"Ayahanda, apa yang terjadi kepadaku sebelumnya dan siapa mereka!" Kirana tidak mengingat apa yang terjadi kepadanya. Hanya saja dia begitu kebingungan saat melihat ayahnya sedang berada di kamarnya bersama dua pemuda yang berasal dari bangsa manusia ada di kamarnya.


Arga dan Widura hanya tersenyum canggung dalam situasi seperti ini.


"Tuan Pendekar ini adalah dewa penolongmu."


Raja siluman buaya menjelaskan, ternyata sepuluh tahun yang lalu ada seorang pemuda dari bangsa siluman ular yang datang ke kerajaan mereka. Pemuda itu merupakan putra mahkota dari kerajaan siluman ular.


Kedatangannya bertujuan untuk menjadikan Kirana Larasati menjadi istrinya.


Tentu raja siluman buaya menolak hal tersebut. Bagaimana seorang siluman buaya bisa menikah dengan siluman ular. Tentu tidak masuk akal bukan. Masih bisa di mengerti jika seorang manusia yang menikahi bangsa siluman.


Tetapi ternyata putra mahkota siluman ular itu tidak menerima penolakan itu. Tidak ada kata-kata yang dikeluarkannya. Tetapi beberapa hari selanjutnya, Kirana Larasati menjadi seperti yang sebelumnya di obati Arga.


Bangsa siluman buaya tentu menyadari bahwa itu kelakuan bangsa siluman ular. Tetapi mereka tidak memiliki cukup bukti. Sebab itulah mereka tidak bisa menyerang kerajaan siluman ular.


Lagipula, kerajaan siluman ular yang paling kuat di antara siluman penguasa perairan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan itu, Kirana Larasati akhirnya bisa mengingatnya juga walaupun dengan samar-samar.


Dia mengepalkan tangannya dan berjanji akan menuntut balas terhadap putra mahkota siluman ular itu.


*****


Setelah Kirana menstabilkan tubuhnya, raja siluman buaya mengajak Arga dan Widura menuju ruangan khusus ybg yang biasa digunakan raja siluman buaya untuk menyambut para tamunya.


"Tuan Pendekar, aku tidak tahu harus dengan apa membayar pertolongan Tuan." Ucap raja siluman buaya.


"Hanya ini yang bisa kami berikan!" Dia menyodorkan sebuah peti yang cukup besar. Raja siluman buaya memang sebelumnya sudah memerintahkan putranya untuk mengumpulkan semua barang berharga yang mereka miliki.


Arga tidak langsung menerimanya, dia menyuruh Widura untuk yang mengambilnya.


Ternyata di dalam peti itu terdapat tumpukan koin emas dan juga tanaman obat yang langkah.


"Bukankah ini terlalu banyak!" Ucap Arga, setelah Widura menunjukkan isinya kepadanya menurutnya hadiah itu terlalu berlebihan.


"Tidak Pendekar! Malah, hadiah ini masih terlalu kecil untuk membalas pertolongan Pendekar." Raja siluman buaya tidak berbohong, menurutnya nyawa putrinya sangat berharga dibandingkan yang diberikannya kepada Arga.


Tidak ingin membuat raja siluman buaya berhutang budi, Arga menyimpannya menggunakan jurus Ndhelikake Soko.


Setelah semuanya selesai, raja siluman buaya mengatakan dia ingin menjamu Arga dan Widura untuk beberapa waktu.


Tetapi permintaan itu langsung Arga tolak dengan halus.


Menurutnya dia harus secepatnya kembali ke pulau Jawa untuk menyerahkan Bunga Mawar Hitam itu.


Tidak ingin membuat Arga tersinggung, akhirnya raja siluman buaya tidak bersikeras.


Dia memberikan masing-masing Arga dan Widura cincin yang bisa digunakan untuk menghubunginya.


Saat Arga dan Widura membutuhkan bantuannya, maka raja siluman buaya akan langsung membantu mereka.


Setelah berbincang-bincang sejenak, Arga dan Widura pamit untuk kembali ke daratan.


Beberapa tarikan nafas Arga dan Widura pergi, Kirana Larasati menemui raja siluman buaya.


"Ayah, kemana dua pendekar itu?" Tanya Kirana Larasati. Dia sebenarnya ingin berterima kasih kembali kepada Arga. Tetapi selain itu sebenarnya ada keinginan lain di hatinya.


Walaupun dia tidak mengatakannya, raja siluman buaya sudah mengetahuinya.


"Kau menyukai Pendekar yang menolongmu bukan? Kejarlah dia, ayah akan merestuimu."


"Ayah aku-!" Kirana tidak menyelesaikan kata-katanya.


Menurutnya raja siluman buaya benar, dia harus mengejar cintanya itu.


Setelah memberi hormat, Kirana Larasati pergi meninggalkan kerajaan siluman buaya!

__ADS_1


__ADS_2